
Dan ternyata lelaki itu adalah Herman Ayah kandungnya.
Herman menatap Tiara lekat, ada sekelebat rasa yang menusuk di hatinya ketika memandang wajah putrinya itu.
Putri yang ia tinggalkan 10 tahun yang lalu kini sudah tumbuh dewasa dengan wajah yang cantik persis seperti ibunya Rossa.
Ingin sekali Herman memeluknya menuangkan kerinduannya 10 tahun ini.
Tapi ia cukup tau diri untuk tidak melakukan itu, lagi pula tujuannya menemui Tiara bukanlah untuk menuangkan rasa rindu atau kangen-kangenan.
"Untuk apa Anda datang ke sini?"tanya Tiara dengan raut wajah tak bersahabat yang seketika menusuk hati Herman.
Bukan ekspresinya yang membuat hati Herman sedikit terluka, tapi sebutan yang diucapkan Tiara yang membuat hatinya sedikit nyeri.
Tiara tidak lagi menyebutnya ayah!
Ya!
sebutan itu sudah hilang 10 tahun yang lalu.
"Tiara, Ayah ingin bicara denganmu!"
"Ayah!"Tiara tersenyum kecut mendengar sebutan itu.
"Anda sungguh tidak pantas menyandang gelar sebagai seorang ayah, jadi jangan memaksa saya untuk memanggil anda dengan sebutan ayah."
"Terserah padamu tapi beri Ayah waktu 10 menit untuk bicara denganmu."
"Butuh waktu 10 tahun untukku menunggumu, tapi kau hanya butuh 10 menit!".
ππππ
Saat ini Tiara dan Herman saling berhadapan.
Ayah dan anak yang dipisahkan dengan cara yang menyakitkan dan menyisakan luka yang dalam kini bertemu kembali dan saling berhadapan setelah 10 tahun lamanya.
"Cepat katakan ada apa, aku tidak punya banyak waktu!"ucap Tiara membuka pembicaraan mereka.
Saat ini Tiara berada di sebuah tempat yang jauh dari keramaian tapi tidak terlalu jauh dari kontrakannya, Tiara sengaja mengajak Herman ke tempat seperti ini karena ia mewaspadai Jika ia emosi dengan lelaki ini lalu berteriak-teriak histeris memaki ayahnya.
Dan jika itu terjadi tidak ada orang lain yang mendengarnya.
"Tiara, tolong tinggalkan Arkan!"
DEG!
"Jadi dia kesini hanya untuk Untuk Berlian."
"Apa Berlian yang memintamu?"
"Tiara, kau sudah menyadari kan jika Berlian adalah saudarimu."
"Aku tidak menginginkannya bahkan dalam mimpi pun aku tidak pernah menginginkan mempunyai saudara seperti dia."
"Apapun yang kau katakan Berlian tetaplah saudaramu, jadi mengalah sedikit untuknya."
Hati Tiara sudah terasa diremas dengan kuat, mendengar kata mengalah lah untuk saudarimu.
Kurang mengalah apa dia selama ini? Bahkan Berlian sudah memiliki kasih seorang ayah sepenuhnya sedangkan ia!
Ia harus menderita selama hidupnya dan penuh penyesalan karena ditinggal ayah dan ibunya.
"Kenapa kau repot-repot menemui ku seperti ini, kau minta saja Putri tersayang mu itu untuk menyuruh Arkan cepat-cepat menceraikan ku."
"Tiara, dari awal Arkan memang kekasih Berlian kan?"
__ADS_1
"Aku tahu itu, dan Apa kau ingin bilang kalau aku yang merebut Arkan dari tangan putrimu itu?"
Herman terdiam tak menimpali perkataan Tiara.
"Kau tenang saja tuan Herman, aku bukanlah Nyonya Merlin yang mampu merebut kebahagiaan orang lain, dengan cara apapun."
"Kau jangan bicara seperti itu Tiara, biar bagaimanapun juga Merlin juga mamahmu."
Lagi-lagi Tiara di buat tercengang dengan penuturan Herman yang mengatakan jika Merlin adalah mamahnya.
"Sudahlah! sepertinya pembicaraan kita cukup sampai di sini aku harus pergi,"Tiara melirik jam di pergelangan tangannya.
Dia rasa hanya membuang-buang waktu dan menambah rasa sakit hatinya saja jika berlama-lama berbicara dengan Herman.
Bagaimana tidak!
10 tahun sudah lelaki itu meninggalkan putrinya begitu saja dengan sejuta luka.
Dan sekalinya dia datang,
bukannya memeluk dan menanyai kabar putrinya dia malah memojokkan,
dan meminta putrinya untuk meninggalkan suaminya demi saudaranya.
Bahkan yang lebih parahnya ia meminta Tiara untuk mengakui wanita yang sudah menghancurkan keluarganya dan menganggapnya sebagai Mamah.
"Tunggu Tiara Ayah belum selesai bicara!"
Dengan tidak tahu malunya Herman masih menyebut dirinya ayah, sebutan yang sungguh tidak pantas disandang oleh lelaki tak bertanggung jawab seperti Herman.
Sementara di balik tembok ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka.
Dia adalah Ken dan Arkan.
Dua lelaki itu sudah sampai ke kontrakan Tiara, dan mendapati Tiara tidak ada di sana lalu teman Tiara mengatakan jika Tiara dikunjungi dengan seorang pria tua,
karena khawatir Arkan pun segera menuju ke lokasi dan dia cukup terkejut karena yang menemui Tiara adalah Herman ayahnya sendiri.
Arkan sejak tadi sudah ingin menghampiri kedua orang itu tapi Ken melarangnya.
"Berikan waktu kepada mereka berdua tuan, biar bagaimanapun mereka adalah ayah dan anak mereka harus berbicara secara pribadi."
Dan Arkan pun mengiyakan perkataan Ken, dia hanya memperhatikan perdebatan antara Tiara dan Herman.
Tiara berbalik menatap Herman lekat, dan dengan tegas ia berkata pada pria itu.
"Jangan pernah menyebut dirimu sebagai ayah di depanku, karena sesungguhnya ayahku sudah mati 10 tahun yang lalu."
"Tiara! Kau tidak pantas bicara seperti itu pada ayahmu yang jelas-jelas masih hidup!"Bentak Herman.
"Terserah jika kau menganggap dirimu masih hidup tapi saya sudah menganggap ayah ku mati, dia sudah mati setelah mengkhianati ibuku dan pergi bersama wanita lain."
"TIARA!"
Herman semakin meninggikan suaranya!
Dan itu semakin memicu Tiara untuk memaki melampiaskan semua kemarahan dan kekecewaan yang sudah ia pendam selama 10 tahun ini.
"Kenapa! kau tidak terima dengan sebutan itu? Kau tidak terima jika putrimu ini menganggap mu sudah mati? Jika kau memang belum mati ke mana kau selama ini? Apa kau pernah memikirkan putrimu ini? Apa pernah kau merindukan putrimu? Apa pernah kau menanyakan kabarku dan Intan!
Tidak! Bahkan kau tidak tahu dengan Intan,
kau sudah meninggalkan Intan sejak dia masih berada di dalam kandungan ibu. Kau bahagia dengan keluarga barumu kau bahagia dengan istri dan anakku, sementara aku! selama 10 tahun hidupku hanya dipenuhi dengan penyesalan dan kesedihan atas kematian Ibuku!"
JLGEER.....
__ADS_1
Bagai disambar petir!
Herman seketika membisu dan merasakan sakit di dadanya, ketika mendengar kata Kematian Ibuku.
Ya!
Selama ini Herman tidak tahu jika Rossa sudah meninggal dunia,
wanita yang ia nikahi dengan cinta dan kasih sudah meninggal dunia dengan membawa luka dan kekecewaan yang mendalam.
Tiara sampai tak kuasa meneteskan air matanya, bukan untuk menangisi lelaki kejam ini,
tapi ia mengingat almarhumah ibunya.
"Jadi Rossa meninggal?"suara Herman yang bergetar.
"Iya! Dan kaulah penyebabnya."
Herman menatap Tiara, terlihat sekali kebencian yang menyeluruh memenuhi bola mata putrinya itu.
"Kau yang menyebabkan ibuku meninggal, kau pria kejam yang tega mengkhianati ibuku yang sudah mencintaimu dengan sepenuh jiwanya,
kau kejam!
Kau jahat!
Kau penghianat!
Bahkan kau lebih kejam dari seorang iblis, Aku membencimu, sangat membencimu! Bahkan seumur hidupku akan aku habiskan hanya untuk membencimu..!"
PLAK.
Satu tamparan menghentikan Histeris Tiara!
Gadis itu tersadar lalu tersenyum kecut sambil menahan perih di pipinya.
Tidak!
Hatinya lah yang jauh lebih perih dan hancur lebur saat ini.
Sakit di pipinya karena tamparan Herman tidaklah seberapa dengan sakit hatinya selama ini atas perbuatan pria itu.
Arkan yang dari tadi memperhatikan mereka sudah mengepalkan tangannya dengan kuat! menahan amarah yang sudah memuncak seperti Gunung Bromo.
Dia menepis tangan Ken yang dari tadi memeganginya.
Dan melangkah cepat menghampiri Herman.
BUG!
Herman tersungkur di depan Tiara, karena Arkan memukulnya dari samping dengan sekuat tenaga.
Bukan hanya itu.
Arkan sampai memposisikan dirinya bertumpu di atas Herman lalu menghajar Wajah pria itu bertubi-tubi dan membabi buta.
Tanpa rasa, karena rasanya sudah dipenuhi dengan amarah.
πππππππππ
Terimakasih sudah mau membaca cerita ini π
Mohon dukungannya ya π
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya π€
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈ