
"Saran saya kita hadapi tuan Herman Dengan cara yang baik-baik terlebih dahulu tuan, dan saya juga menyarankan lebih baik Bu Lastri dan Nona Intan tinggal di sini, saya yakin jika mereka tinggal di sini baik tuan Herman atau Merlin akan berpikir dua kali untuk melakukan sesuatu pada Nona Intan."
"Kau benar, tapi bagaimana cara ku untuk mengajak mereka tinggal di sini, kau taukan saat ini Ibunya Tiara tengah membenciku bahkan ia tidak mau menemuiku," kata Arkan.
"Itu urusan anda tuan, karena anda Menantunya."
"Itu memang benar, tapi setidaknya kau beri aku sedikit solusi atau saran."
"Saya rasa anda harus bisa mengambil hati Ibu Lastri juga."
"Mengambil hati! Caranya bagaimana?"
Ken mengedikan bahunya.
"Itu juga menjadi urusan anda tuan, saya lelah sudah seharian bekerja sendiri selama beberapa hari ini, dan ketika malam hari, saya tidak mau menggunakan kembali otak saya untuk memikirkan bagaimana cara meluluhkan hati mertua Anda, karena meluluhkan hati seorang wanita jauh lebih sulit dari meluluhkan berkas-berkas yang menumpuk di meja kerja anda."
"Kau menyebalkan sekali Ken."
Namun perkataan Arkan sudah tidak lagi di gubris oleh Ken, ia pamit undur diri.
"Saya permisi tuan, karena saya harus beristirahat cukup malam ini."
"Pergilah!"usir Arkan.
*
*
Tapi.
Tiba-tiba Ken menghentikan langkah kakinya.
Ia mengingat sesuatu yang penting dan harus di tanyakan malam ini juga.
Ken berbalik dan menatap Arkan.
"Tuan!"
Arkan melihat dan ikut menatap Ken.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"
Tap.
Tap.
Ken maju dan semakin mendekat pada Arkan.
"Ada apa?" Tanya Arkan, yang mulai merasa aneh pada Sekertarisnya itu.
"Tuan!"
"Apa! Dari tadi Tuan-tuan, kau mau bicara apa?"Arkan mulai kesal.
Namun kekesalan Arkan tidak di gubris oleh Ken.
Lelaki itu malah menatap Arkan dari ujung kaki sampai ujung rambut, lalu memicingkan mata menatap lekat wajah Arkan.
Arkan reflek menutup semua anggota tubuhnya meskipun ia tau kalau itu sia-sia.
Lalu
PLAK!
Arkan melemparkan buku tepat di wajah Ken, dan berkata.
"Apa yang kau lakukan Ken! Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau sudah beralih Gender! Ingat Ken aku ini Bos mu, dan aku sudah mempunyai Istri."Crocos Arkan.
Ken tak perduli meskipun wajahnya sudah di terjang sebuah buku, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya masih dengan menatap Arkan.
"Ken, sekali lagi kau menatapku penuh nafsu seperti itu, bukan hanya buku yang mampir di wajah mu, tapi meja ini pun akan aku layangkan di wajahmu!"kesal Arkan, tapi ia sedikit takut karena Ken menatapnya seperti itu.
Hahaha..
Tiba-tiba
Ken tertawa terbahak-bahak.
"Selain sudah berubah Gender, rupanya kau juga sudah Gila, makanya Jangan suka bermain wanita Ken!" Maki Arkan, yang sudah benar-benar kesal dengan Sekertarisnya itu.
"Tuan!"panggil Ken, yang sudah menghentikan tawanya.
"Sekali lagi kau masih mengeluarkan kata Tuan dan tuan, aku benar-benar akan melayangkan meja ini ke wajah mu!"
Ken mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Maaf tuan, saya hanya tengah bahagia."
__ADS_1
"Dia benar-benar sudah Gila!"umpat Arkan.
"Tuan, sekarang ceritakan pada saya?"
Arkan bingung.
"Apa yang harus aku ceritakan, sialan!"
"Tentu saja tentang pengalaman pertama anda?"
Arkan mengerutkan keningnya ia tengah mencerna apa yang dimaksud oleh Ken.
Dan Ken kembali berucap.
"Tuan, tentu anda berhasilkan?"
"Berhasil apa? Jangan membuatku bingung Ken."
Ken mendekat.
"Melewati malam pertama dengan Nona Tiara!"bisik Ken.
"Jadi karena itu kau terlihat seperti orang Gila sampai menatapku dengan penuh Hasrat."
"Tentu saja! Karena saya merasa ada sesuatu yang lain dari aura anda, aura seseorang yang sudah melakukan sesuatu yang sudah lama tertahan, dan ini untuk yang pertama kalinya."
Arkan duduk di kursi mendengarkan bualan Ken.
"Tuan, benar kan jika anda sudah melewati malam itu bersama Nona Tiara?"
"Tentu saja!"jawab Arkan bangga sambil mengangkat kedua kakinya di atas meja.
PROK!
PROK!
Ken bertepuk tangan menyambut pengakuan Arkan itu.
"Selamat! Tuan,"ucapnya dengan bangga.
Akan membalas ucapan selamat dari sekretarisnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Sepertinya Anda belum melupakan malam itu Tuan."
"Kau salah Ken!"
"Iya, kau salah, aku tidak melakukan malam pertama dengan Tiara."
Ken yang tadinya senang menekuk wajahnya.
"Kenapa?"
"Karena aku melakukannya di pagi hari, bukan di malam hari."
Ken menghembuskan nafasnya.
"Bukankah itu sama saja."
"Tentu saja beda Ken, yang aku lakukan itu pagi hari bukan malam hari, tapi kau jangan khawatir malam ini aku akan melakukannya lagi! Baru bisa disebut malam pertama,"kata Arkan tak tahu malu, sambil menggoyang-goyangkan kakinya di atas.
Sekarang Ken yang mulai merasa kesal dengan Tuannya itu.
"Terserah pada anda saja tuan, mau pagi, siang atau malam anda melakukannya yang jelas itu adalah pengalaman pertama anda. Dan bisakah anda menceritakan pengalaman itu kepada saya?"
Arkan menurunkan kakinya dari meja dan ia bangkit dari duduknya.
Lalu menarik kursi dan meminta Ken yang duduk di sana.
"Duduklah Ken!"
Ken antusias, dan tanpa berpikir lagi ia langsung duduk di kursi milik Tuanya Itu,
Iya berfikir jika Arkan benar-benar akan bercerita padanya oleh sebab itu ia dipersilakan duduk agar nyaman mendengarkan cerita pengalaman pertama Arkan.
"Apa kau ingin mendengar ceritaku?"
Ken mengangguk antusias!
Arkan menarik nafasnya dalam-dalam siap untuk mengeluarkan kata-kata.
"Tapi sayang Ken, Aku tidak mau menceritakannya padamu,"kata Arkan yang sontak membuat Ken kecewa.
"Kenapa?"
"Tidak mau saja, karena itu akan menjadi rahasiaku bersama Tiara."
"Anda curang tuan, padahal saya sudah menceritakan semua pengalaman pertama saya dengan Gadis-gadis yang saya kencani."
__ADS_1
"Tiara bukan seperti Gadis-gadis yang kau kencani, jadi tidak perlu di ceritakan pada lelaki sepertimu."kata Arkan.
Ken memasang wajah kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sudahlah Ken, kau jangan terlalu banyak menyita waktu ku, karena Aku harus kembali ke kamar, Tiara pasti sudah menungguku di sana."Arkan berlalu terlebih dahulu meninggalkan Ken di Ruang kerja itu.
"Sepertinya mulai dari sekarang saya harus merahasiakan tentang petualangan saya bersama gadis-gadis yang saya kencani pada Anda tuan,"Gumam Ken.
Ya!
Selama ini, Ken selalu menceritakan pengalamannya dengan Gadis-gadis yang ia kencani bahkan Ken juga memberikan beberapa foto dan video Syur pada atasannya itu,
tujuannya! untuk memberikan edukasi kepada Bos sekaligus temannya itu.
Tapi entah kenapa berkali-kali Arkan disuguhkan dengan cerita panas dan foto-foto panas dari Ken, tapi lelaki itu sama sekali tidak tergoda, bahkan dengan wanita cantik dan seksi seperti Berlian pun ia tidak mau melakukannya.
Arkan selalu mengatakan, aku tidak bisa melakukan itu Ken.
Bahkan Arkan terlihat seperti fobia bila terlalu dekat dengan seorang wanita.
*
*
*
π
Arkan kembali ke Kamarnya.
Dan karena terlalu lama ia mengobrol dengan Ken, membuat Tiara tidur terlebih dahulu.
"Ini semua gara-gara sialan Ken, Tiara jadi tidur,"umpat Arkan pada Sekretarisnya itu.
Tapi Arkan tidak mau melewati malam ini begitu saja, seperti apa yang ia katakan pada Ken,
Ia akan mengulanginya malam ini dan itu baru akan disebut malam pertama yang akan ia banggakan di hadapan Sekretarisnya itu.
Sebelum menaiki Ranjang Arkan berlalu terlebih dahulu menuju Kamar mandi untuk membersihkan diri.
*
*
*
πππππππ
Di tempat lain.
Merlin tengah murka karena dua orang yang ia suruh gagal untuk membawa Intan.
"Dasar bodoh! Percuma aku bayar mereka mahal-mahal ujung-ujungnya mereka tertangkap juga,"umpat Merlin.
"Kau kenapa Mah tengah malam begini marah-marah?"tanya Herman.
"Apalagi Pah, kalau bukan karena anakmu itu."
"Mah, sudah papah bilang jangan lakukan apapun pada Intan."
"Memangnya kenapa Pah, Mamah hanya ingin memiliki anak itu!"
"Jika Mamah sangat ingin memiliki Intan, papa punya cara lain untuk mendapatkan Intan."
"Cara lain?"Merlin menatap Herman lekat.
"Iya, papa akan menempuh jalur Hukum untuk mendapatkan hak asuh Intan, Intan masih anak di bawah umur dan tentu pengadilan akan menyarankan Intan untuk tinggal bersama orang tuanya daripada Kakak dari ibunya."
Merlin tersenyum senang, karena pada akhirnya Herman mau bertindak juga.
"Papah jangan khawatir! Mamah akan menyewa pengacara terbaik, dan memastikan kalau hak asuh Intan akan jatuh ke tangan papah."
"Tapi mah, Papah ragu dan takut jika tidak bisa memenangkan hak asuh Intan, karena Papah dulu pernah menelantarkan."
"Papa tidak usah memikirkan itu, karena Mamah yang akan mengaturnya semuanya."
Kata Merlin dengan sangat yakin, karena ia sudah menyusun rencana terbaik dengan pilihan Herman yang memutuskan untuk menempuh jalur hukum agar bisa mendapatkan hak asuh Intan.
Dan tentu saja ia melakukan semua ini karena ada sesuatu yang ia tuju dengan menggunakan Intan sebagai umpannya.
ππππππππππππ
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya ya π
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya π€
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ