
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya Berlian sampai di kediaman Arkan.
Ia ragu untuk melangkahkan kaki dan masuk ke rumah itu mengingat semua apa yang sudah ia lakukan pada Tiara.
Namun Berlian harus tetap menemui Tiara.
Penjaga yang memang bertugas di depan gerbang mendapati Berlian yang sedang berdiri mematung menatap dekat rumah itu.
"Nona Berlian, apa yang anda lakukan di sini?"tanya penjaga yang memang mengenali Berlian.
"Aku ingin bertemu dengan Tiara."
"Maaf Nona, saat ini Nona Tiara tidak bisa ditemui karena beliau sedang beristirahat."
"Tolong katakan padanya aku ingin bertemu dan bicara dengannya sebentar saja, aku berjanji hanya sebentar saja."pinta Berlian.
Wajah pucat dan lesu dari Berlian membuat bapak penjaga gerbang tidak tega.
Dan ia pun menyampaikan pada Bi Imah jika ada Berlian di depan gerbang yang ingin bertemu dengan Tiara.
Bi Ima pun segera menuju ke kamar Nona dan tuannya untuk menyampaikan itu.
"Apa! Berlian datang ke sini?"
"Iya Nona, Nona berlian meminta untuk bertemu dengan anda sebentar saja."
"Tidak bisa! Tiara sedang beristirahat tidak boleh ada yang mengganggunya, bilang saja pada wanita itu jika dia tidak bisa menemui Tiara dan suruh dia pergi dari sini,"sahut Arkan yang memang beberapa hari ini tengah menemani Tiara di rumah.
"Baik Tuan."Bi Imah mengangguk dan melangkahkan kaki keluar dari kamar Arkan dan Tiara.
Tapi dengan cepat Tiara mencegahnya.
Tiara meminta pada suaminya agar mengizinkan ia untuk bertemu dengan Berlian sebentar saja.
Biar bagaimanapun juga Gadis itu adalah saudarinya.
Tiara sudah mendapat kabar jika Marlin telah meninggal dunia di tangan ayahnya dan pria yang membunuh Merlin itu tengah buron.
Sudah pasti kondisi Berlian sangat terguncang, ia pasti sedih dengan kenyataan yang menimpa keluarganya Ia baru saja ditinggalkan oleh ibunya dan ayahnya.
Dengan terpaksa dan berat hati akhirnya Arkan pun mengijinkan Tiara untuk bertemu saudarinya itu.
__ADS_1
Tapi tentu tidak sendiri karena ia pun ikut menemani Tiara menemui Berlian.
Bi Imah keluar dari kamar Tiara ia segera meminta Berlian untuk menunggu di ruang tamu.
Beberapa menit kemudian Tiara dan Arkan datang di ruangan itu.
Berlian menatap Tiara dengan mata yang berkaca-kaca kemudian ia melangkah perlahan dengan tubuh yang bergetar menahan tangis yang tidak kuasa ia tahan.
Ia langsung berhambur memeluk kakaknya itu, ia menangis menumpahkan semua air mata yang ia tahan selama beberapa Minggu ini.
Tiara tertegun dengan aksi tak terduga dari Berlian.
Ia bisa merasakan kesedihan yang luar biasa di hati Berlian, oleh sebab itu Tiara membiarkan Berlian memeluknya dan menangis di dalam pelukannya.
Arkan yang ingin memisahkan pelukan itu dicegah oleh Tiara, melihat wajah bahagia istrinya Arkan pun membiarkan itu.
Tiara mengangkat tangannya perlahan dan mulai menepuk punggung adiknya dengan lembut memberi ketenangan agar Berlian merasa nyaman.
Beberapa menit Berlian tenggelam di pelukan kakaknya akhirnya ia mampu menguasai emosi dan menguraikan pelukannya.
Berlian tertunduk tak mampu menatap wajah Tiara, ia berkata.
"Maafkan aku Tiara, Maafkan semua kesalahanku padamu. Dan aku datang ke sini atas nama Mamahku Merlin untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu, aku minta maaf aku benar-benar bersalah aku bersalah padamu Mamahku bersalah padamu aku minta maaf Tiara,"racau Berlian dengan suara serak karena tak kuasa menahan tangis.
"Tenanglah, jangan menangis!"
Lalu Tiara membawa gadis untuk duduk di sofa.
"Berlian, Aku turut berduka cita atas apa yang terjadi pada Mamahmu."
Berlian mengangguk dan kembali mengucapkan kata maaf pada Tiara.
"Tidak apa-apa lupakan semua itu, aku sudah memaafkan Mamahmu, aku juga minta maaf padamu, karena apa yang terjadi pada keluargaku bukanlah salahmu."
"Tiara, maukah kau menganggapku sebagai saudarimu! maukah kau menganggapku sebagai adikmu sama seperti Intan?"
Tiara terdiam.
Dan diam nya Tiara membuat Berlian sadar diri bahwa ia tidak pantas meminta itu pada Tiara.
Ia menundukkan kepala dan memasang wajah sedih.
__ADS_1
"Maafkan aku yang lancang meminta ini pada mu Tiara, aku memang sungguh tidak tahu diri berani memintamu untuk menganggapku sebagai adik sama seperti Intan,"kata Berlian dengan mata yang mengalirkan bulir bening membasahi pipinya.
Tiara langsung meraih adiknya itu membawa ke dalam pelukannya.
"Aku akan menganggapmu sebagai adik! Tentu saja aku akan menganggapmu sebagai adik karena kau memanglah adikku, aku akan menganggapmu sama seperti Intan, kita bertiga bersaudara."Kata Tiara.
Berlian tersenyum haru mendengar perkataan kakaknya itu.
Ia menangis tapi tentunya menangis bahagia karena Tiara menerimanya sebagai saudara.
"Terimakasih Tiara, maksudku Kak Tiara."
Kedua kakak beradik itu mengulas senyum bahagia.
Berlian memang tidak salah dalam hal ini, dia hanyalah seorang anak yang dilahirkan dari wanita yang dengan tega merusak kebahagiaan rumah tangga orang lain.
Dan hal itulah yang membuat Berlian seringkali mendapatkan Bulian karena ibunya yang merebut suami orang.
Dan karena itu jugalah yang menimbulkan rasa benci Berlian pada Tiara dan keluarganya.
Tapi semua itu kini sudah berlalu, mereka saudara mereka keluarga,
dan ikatan darah di antara kedua Gadis itu sangatlah kental.
Dan saat ini Tiara benar-benar akan menjadi kakak dari Berlian dan akan memperlakukan dan menyayangi Gadis itu sama seperti ia menyayangi Intan, begitupun sebaliknya Berlian berjanji akan menghormati dan menyayangi kakaknya dengan sepenuh hati.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏🙏
Tinggal 1 Episode lagi cerita ini akan Tamat!
Terimakasih sudah menemani Mak Ntor, Arkan dan Tiara selama beberapa bulan ini.
Tanpa kalian pembaca setia Arkan dan Tiara, Mak Ntor tidak akan mungkin bisa menyelesaikan Novel ini.
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️.
Jika berkenan mampir ke Novel ke 4 Mak ya 🤗🤗
👇
__ADS_1