
Setelah bersepakat dengan Jay, Tiara pun langsung berpamitan dan kembali pulang karena ia harus menemani Arkan untuk berbelanja.
πππ
Sampai di rumah ternyata Arkan sudah siap, lelaki itu Tengah menunggunya pulang.
"Kenapa kau lama sekali?"protes Arkan.
"Iya maaf, Aku ada urusan dan jalanan pun sedikit macet."
π
Setelah Tiara berganti pakaian mereka bergegas berangkat menuju Supermarket terdekat, dan setelah menempuh perjalanan selama 20 menit akhirnya mereka pun sampai.
Tiara dan Arkan langsung mengambil troli belanja dan berkeliling untuk mencari daftar belanja yang ada di tangan masing-masing, agar menghemat waktu Tiara meminta mereka berpencar.
"Aku ke tempat bahan makanan dan kau ke tempat keperluan lainnya saja bagaimana?"usul Tiara.
"Tidak! Karena aku tidak mengerti apa yang ada di kertas ini, kita cari sama-sama saja agar aku bisa bertanya ini apa,"tolak Arkan.
"Baiklah!"
Dengan cekatan dan cepat! karena Tiara sudah terbiasa apalagi di jenis makanan itu memang sudah keahliannya, ia memasukkan semua jenis sayur dan bahan lainnya yang ia rasa cukup bagus dan baik ke dalam troli yang didorong Arkan.
"Aku mau itu?"tunjuk Arkan tiba-tiba.
Tiara menoleh pada Arkan yang ada di belakangnya.
"Apa?"
"Itu yang tadi kau pegang!"
"Ini!"Tiara menunjukkan satu ikat sayur hijau yang mempunyai nama kangkung, dan Arkan mengangguk.
"Ok!"Tiara memasukkan beberapa ikat sayur itu ke dalam troli.
Tidak terasa sudah lebih dari 15 menit mereka berkeliling, dan selama waktu itu mereka berdua terlihat sangat akrab tidak seperti biasanya, mereka terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya bahkan sesekali mereka tertawa kecil dan berdiskusi, tentang barang yang akan mereka ambil dan pertanyaan-pertanyaan dari Arkan.
"Garam!"gumam Arkan ketika membaca kertas yang ada di tangannya, Arkan mengedarkan pandangannya pada rak-rak yang berisi aneka bumbu dapur, ia memilah bungkusan yang bertuliskan Garam dengan plastik transparan.
"Aku menemukannya!"bangga Arkan, tapi "ini juga garam,ini juga! Arkan memilih dan ternyata ada 3 Garam dengan Brand yang berbeda di sana.
"Lalu aku harus ambil yang mana?"bingung Arkan.
Daripada salah Arkan mendekat pada Tiara.
"Tiara!"panggilnya.
"Iya?"Tiara langsung menoleh.
"Menurutmu dari ke 3 Garam ini mana yang memiliki kualitas yang bagus atau premium?"tanya Arkan sambil menunjukkan 3 bungkus Garam di tangannya.
Tiara mengerutkan keningnya lalu ia berkata.
"Yang mana saja."
"Kenapa yang mana saja?"
"Ya memang yang mana saja, yang penting Garam dan itu sama saja."
"Bagaimana bisa sama saja! Ini Garam dengan 3 kemasan yang berbeda dan dari PT yang berbeda pula, jadi tidak mungkin memiliki kualitas yang sama, pasti di antara ke 3 Garam ini ada yang lebih unggul dari kualitas dan cita rasa yang premium,"protes Arkan.
"Arkan, semua garam itu rasanya sama, yaitu Asin, jika kau ingin memilih diantara ke 3 Garam itu, kau pilih saja yang Expired nya masih lama,"jelas Tiara.
__ADS_1
Arkan memperhatikan ke 3 label Expired pada bungkus Garam tersebut, dan semua sama-sama aman, masih sekitar 2 tahunan lagi, dan membuat Arkan semakin bingung harus memilih yang mana dan Ia memutuskan, kembali bertanya pada Tiara.
"Tiara!"panggilnya kembali pada Tiara yang tengah memilih ikan, karena saat ini Tiara sudah berpindah tempat dari rak sayuran ke freezer yang berisi ikan segar, sementara Arkan masih sibuk dengan Garamnya.
"Iya?"sahut Tiara.
"Kalau dari Expired semua sama-sama aman."kata Arkan.
"Bagus dong kalau begitu,"timpal Tiara.
"Lalu aku harus pilih yang mana?"
Tiara meletakkan seekor ikan yang sudah ada di tangannya, iya menatap Arkan!
"Kau jangan memasang wajah kesal seperti itu, kau ini kan Koki, jadi pasti tahu kualitas bahan makanan yang terbaik jadi aku harus bertanya padamu."kata Arkan, yang melihat wajah Tiara mulai kesal.
"Baiklah! Yang ini saja,"jawab Tiara masih sabar sambil menunjuk salah satu Garam yang masih ada di tangan Arkan.
"Kau yakin? Apa tidak ingin mencobanya terlebih dahulu?"Arkan memastikan.
"Arkan, kau tahu kan Aku ini seorang Koki yang kehebatannya sudah tidak perlu diragukan lagi, jadi! Hanya dengan menyentuhnya saja aku sudah tahu kualitas bahan tersebut."
"Waaaah...Kau hebat juga,"puji Arkan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,"baiklah kalau begitu yang ini saja."sambungnya, sambil memasukkan Garam yang dipilih Tiara ke dalam troli.
Tapi Arkan kembali ragu karena kemasan dari Garam itu tidak meyakinkan.
"Tiara!"
"Apalagi?"
"Apa kau tidak mau merekomendasikan yang ini saja?"Arkan menunjukkan bungkusan garam yang lebih menarik karena garam itu bermerek kan Mahkota, sedangkan yang dipilih Tiara tadi bermerek 2 mangkuk.
Tiara mulai prustasi, ia memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing tapi lagi-lagi ia harus sabar.
"Kalau begitu Kau pilih saja semuanya!"
"Lalu kau mau pilih yang mana?"Tiara sudah mulai emosi.
"Kenapa kau marah-marah? Aku hanya bertanya."
"Kau lihat ini?"Tiara menunjukkan jam di pergelangan tangannya,"kau sudah menghabiskan berapa puluh menit hanya untuk memilih sebuah Garam, kalau begini kapan kita selesai belanjanya! Dan coba kau lihat Sudah berapa barang yang kau beli dari kertas catatan itu?"
"Baru 2,"jawab Arkan.
"Baru 2! Sedangkan kau sudah menghabiskan waktu lebih dari 30 menit hanya untuk dua barang itu,"Tiara menggeleng.
"Kau benar!"sadar Arkan yang telah membuang banyak waktu hanya karena sebuah Garam, "kalau begitu aku ikuti saranmu saja membeli semua Brand Garam ini,"yakin Arkan.
Kenapa tidak dari tadi, membuatku kesal saja.
Masalah garam selesai.
Dan mereka kembali berkeliling, sudah lebih dari 2 jam Tiara berkeliling.
"Akhirnya selesai juga,"seru Tiara sambil mencoret daftar belanja terakhir di kertasnya,"ayo kita ke kasir!"ajak Tiara.
"Tapi punyaku belum selesai."sahut Arkan.
Tiara melihat kertas di tangan Arkan dan ternyata separuh dari daftar pun belum terbeli oleh Arkan.
"Ini masih banyak sekali!"ucap Tiara.
"Kalau begitu Kau lanjutkan saja sendiri."sambung Tiara.
__ADS_1
"Eeeh... Tidak bisa!"Arkan menarik lengan Tiara yang ingin berlalu,"kau harus menemaniku untuk mencari barang-barang ini?"
"Tidak bisa, itu kan tanggung jawabmu di awal kita sudah membagi tugas untuk ini."
..."Tidak ada penolakan pokoknya kau harus menemaniku."...
Menyerah! Tiara pun menyerah dan kembali berkeliling untuk menemani Arkan.
Karena asyik berbelanja, memilih dan berdebat, membuat Arkan melupakan sesuatu.
ππππππ
Di Tempat lain.
"Astaga Arkan! Kenapa tidak mengangkat teleponku, bukankah sore ini kita sudah berjanji akan berkencan,"gumam Berlian sambil terus mencoba menghubungi sang kekasih.
"Menyebalkan sekali!"Berlian melemparkan ponselnya ke atas kasur karena ia kesal sudah 10 kali panggilannya tidak dijawab Arkan dan pesannya pun tidak kunjung di baca apa lagi di balas.
ππππ
Kembali di Supermarket.
"Aku lapar dan haus!"keluh Tiara yang sudah lelah berkeliling.
"Kalau begitu kita makan dan minum dulu,"ajak Arkan.
Dan mereka segera menuju ke tempat-tempat yang menjual makanan.
Kakiku terasa mau copot Karna lama berkeliling, aku bisa terkena Osteoporosis dan darah tinggi jika harus belanja tiap bulan bersamanya.
Batin Tiara yang saat ini tengah duduk di kursi sambil memijit-mijit kaki yang terasa pegal.
"Apa kau Lelah?" Tanya Arkan.
"Tentu Saja."
"Kalau begitu setelah ini kita pulang saja."
Tak lama makanan dan minuman disajikan, tanpa basa-basi Tiara langsung menyantapnya.
"Makanlah dengan pelan-pelan, kau bisa tersedak Jika seperti itu,"ucapkan Arkan.
Mereka berdua menikmati makanan sambil mengobrol kecil, dan Arkan mulai bertanya tentang pekerjaan dan keseharian Tiara sebelum mereka menikah.
π
Sore sudah terlewati dan kini hari sudah mulai senja menjelang malam, Arkan dan Tiara baru keluar dari Supermarket.
Butuh waktu setengah hari untuk mereka berbelanja di sana.
ππ
Sampai di rumah Arkan dan Tiara, langsung masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan diri di atas kasur untuk meluruskan kaki yang terasa pegal dan kaku.
Arkan yang baru sadar, kalau seharian ini ia belum membuka ponselnya segera merogoh saku untuk mencari benda pipih itu.
"Astaga! Berlian,"Kejut Arkan yang melihat lebih dari 10 panggilan dan 15 pesan dari gadis itu,"aku lupa kalau ponselku dalam mode Silent dan yang lebih bodohnya lagi, aku lupa kalau punya janji dengannya,"gumam Arkan, dan ia segera menghubungi kekasihnya itu.
πππππππππππ
Terimakasih sudah mau membaca cerita ini ππ€
Mohon dukungannya ya ππ
__ADS_1
Untuk Like dan tinggalkan komentar ππ€
πππππ