
BUG!
BUG!
BUG!
Pukulan bertubi-tubi Arkan layangkan tanpa henti di wajah Herman sampai membuat pria itu babak belur.
"Brengsek! Kau berani memukul istriku dengan tangan kotor mu ini!"
"Memangnya Apa yang sudah kau berikan padanya sampai kau berani memukulnya!"
"Bahkan untuk menyebut namanya dan mengakuinya sebagai anak pun sungguh tidak pantas untuk pria brengsek sepertimu!"
"Kau lebih pantas tinggal di Neraka daripada di Dunia ini!"
"Dan dengan senang hati aku akan mengirim mu ke Neraka!"
Racau Arkan di sela-sela amarahnya memukuli Herman.
Ken berlari cepat untuk menghentikan kegilaan Arkan.
Ia takut jika Arkan benar-benar membunuh Ayah mertuanya itu.
"Tuan hentikan tuan!"Ken menarik pundak Arkan agar lelaki itu menghentikan serangannya.
"Lepaskan aku Ken, Aku akan mengirim si brengsek ini ke Neraka!"Arkan menepis kuat tangan Ken sampai ia terjengkang ke belakang.
Sementara Tiara,
ia hanya bisa menatap perih Ayahnya yang dipukuli dengan suaminya dengan sadis seperti itu.
Apa dia akan menghentikan kegilaan suaminya!
Entahlah! hati Tiara pun Tengah berdebat dengan pemandangan yang memilukan hatinya.
Di sisi lain ia puas melihat Arkan yang menghajar habis-habisan pria yang ia benci selama hidupnya ini,
bahkan ingin rasanya ia menjadi seperti Arkan yang bisa menghajar pria itu.
Tapi di hati kecilnya.
Tiara tidak tega melihat ayahnya dipukuli seperti itu.
"Tuan Arkan hentikan, Jika anda masih terus memukulnya dia akan mati!"
"Biar Ken, memang itu yang aku harapkan!"
"Jika dia mati anda akan masuk penjara!"
"Aku tidak perduli yang penting aku sudah mengirim si brengsek ini ke Neraka,"Arkan masih saja gila, ia tak henti-hentinya menghajar Herman.
Bahkan Ken sampai kewalahan bagaimana cara menghentikan tuannya itu.
Beginilah kalau Arkan sudah marah dia sangat sulit untuk dikendalikan.
"Tuan jika anda di penjara Lalu siapa yang akan menjaga Nona Tiara, dan anda harus tahu, jika anda di penjara itu sama saja dengan anda membuka peluang untuk Jay mendekati Nona Tiara. Dan tidak menutup kemungkinan jika Jay akan menggantikan posisi anda sebagai Suaminya!" Kata Ken di sela-sela kemurkaan Arkan, berharap bisa mengendalikan emosi.
Benar saja!
lelaki itu menghentikan pukulannya setelah mendengar posisinya akan digantikan oleh Jay kalau dia masuk Penjara.
Ken lega melihatnya.
"Tuan, lebih baik anda kejar saja Nona Tiara karena Nona Tiara berlari ke sana, biar saya yang mengurus pria ini."kata Ke sambil menunjuk Tiara yang hanya terlihat punggungnya saja.
Arkan yang masih dengan nafas memburu segera bangkit dan mengejar Tiara.
Sementara Ken, masih memperhatikan Herman yang sudah babak belur dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Kasihan sekali Anda tuan Herman, harus bapak belur di tangan Menantu sendiri."
π
"TIARA!"
Panggil Arkan yang berteriak sambil mengejar istrinya.
Namun Tiara tak menghiraukan panggilan itu ia terus saja berjalan cepat bahkan sedikit berlari untuk menghindari Arkan.
Namun tentu saja larinya tidak akan bisa disamakan dengan Arkan.
Arkan dengan mudah, menyusulnya dan menarik tangannya agar berhenti untuk berlari.
Lalu membawa Gadis itu ke dalam pelukannya.
Dengan nafas yang sama-sama memburu Arkan memeluk hangat Tiara bermaksud menenangkan wanita itu.
Dan tanpa disadari Tiara menangis tersedu di pelukan Arkan.
"Menangisi Lah jika itu bisa menenangkan hatimu."
Arkan tak mengatakan apapun dia hanya mengusap rambut Tiara dan membiarkan istrinya itu menangis menuangkan semua kesedihannya,
karena ada sebagian orang yang bisa sedikit merasa lega jika sudah menumpahkan kesedihannya dengan menangis.
Setelah beberapa menit.
Tiara sudah bisa menguasai emosinya.
"Apa kau sudah selesai memukulnya? Kenapa kau memukulnya? Dia pasti merasakan sakit bukan, dipukul dengan cara seperti itu?"Racau Tiara yang masih berada di pelukan Arkan.
"Dia pantas diperlakukan seperti itu, dia pantas menerima sakit yang tidak ada apa-apanya dibanding sakit hati yang ia ciptakan pada putrinya sendiri, dan jika Ken tidak menghentikan ku, mungkin aku sudah membuatnya tinggal nama, dia sudah berani memukulmu dan aku akan membalasnya sejuta kali lipat."kata Arkan sambil terus mengusap pundak Tiara.
Tiara menguraikan pelukannya.
"Akan aku patahkan tangan si brengsek itu."
"Apa ini sakit?"
Tiara menggeleng.
"Tidak!"
"Kau jangan bohong, ini pasti sangat sakit kan ayo ikut aku, kita obati."
Arkan menuntun Tiara dan mereka kembali ke kontrakannya.
Di sana Arkan sedikit terkejut karena melihat koper besar sudah terkemas dengan rapi, dan Arkan sangat yakin jika Tiara ingin pergi untuk waktu yang lama.
Tapi ia urungkan untuk bertanya,
karena saat ini ia harus mengobati pipi yang mulai memar itu.
Tanpa bicara apapun Arkan mengompres dan mengoleskan salep ke pipi Tiara.
ππ
Ken membawa Herman ke Rumah Sakit!
Biar bagaimanapun juga ia harus membawa pria itu ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pengobatan.
Jika Herman sampai tak bernyawa sudah pasti tuannya dalam masalah besar.
Merlin dan Berlian yang mendapati kabar jika Herma dihajar habis-habisan oleh Arkan menjadi murka.
Mereka bukan murka dengan Arkan melainkan dengan Tiara.
__ADS_1
Kadar kebencian Berlian dan Merlin meningkat 1000 kali lipat pada Tiara.
Berlian terus memegangi tangan Herman yang tidak sadarkan diri penuh dengan perban di wajahnya.
Sementara Merlin,
ia tengah menghubungi seseorang untuk mencari tahu seluk beluk Tiara dan Apa kelemahannya.
"Papa bangunlah! Kenapa papa bisa seperti ini? Ini semua salah Tiara kan, Arkan memukuli papah sampai seperti ini karena wanita itu."Berlian bersedih melihat papanya yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit.
πππ
Arkan membawa Tiara pulang ke rumahnya.
Dan Tiara pun mengurungkan niatnya untuk pulang ke Rumah ibunya hari ini.
Karena tidak mungkin Jika ia pulang dengan wajah seperti itu pasti membuat Lastri bertanya.
Tiara belum siap mengatakan pada ibunya Jika ia bertemu dengan Herman.
Karena pada kenyataannya, Lastri sangat membenci pria itu bahkan jauh lebih dari Tiara.
Dia sudah bersumpah akan membuat perhitungan dengan tangannya sendiri pada pria itu jika suatu hari nanti ia bertemu,
dan Lastri pun membenci semua yang berhubungan dengan Herman karena lelaki itulah yang membuat adiknya tercinta harus meninggal dunia dengan penuh kekecewaan.
"Kau istirahatlah di sini!" Kata Arkan sambil menuntun Tiara masuk ke dalam kamarnya.
Bi Imah yang melihat Tiara tidak baik-baik saja menjadi khawatir.
"Tuan Nona Tiara kenapa?"
"Pipinya terluka. Bi tolong temani Tiara saya harus keluar sebentar."
"Baik Tuan, ada jangan khawatir, Bibi pasti akan menemani Nona Tiara dengan baik."
Akibat ulahnya yang memukuli Herman membuat Arkan harus berurusan dengan Polisi, karena Merlin melaporkan perbuatannya itu pada pihak yang berwajib.
Arkan bersama Ken menuju Kantor Polisi.
Dan Bi Imah menyampaikan kabar ini pada Tri.
Dan tanpa membuang-buang waktu wanita itu segera meluncur ke Rumah Arkan untuk melihat kondisi menantu kesayangannya secara langsung.
"Kurang ajar! Berani sekali dia memukul menantuku dia belum tahu siapa aku sebenarnya."kesal Merlin yang saat ini sedang berada di dalam mobil.
"Sabar mah!"Wilson menenangkan istrinya.
Tri dan Wilson, lebih memilih melihat Tiara dulu daripada anaknya yang harus berurusan dengan Polisi.
Sampai rumah Arkan, ia langsung berhambur memeluk menantu kesayangannya itu.
"Sayang katakan pada Mamah mana yang sakit?"
"Aku tidak apa-apa mah."
"Tidak apa-apa bagaimana! wajahmu sampai memar seperti ini, apa sudah ada yang memanggilkan Dokter!" Teriak Tri.
Dua pelayan menunduk karena mereka belum ada yang memanggil Dokter.
"Cepat panggil Dokter!" Titah Tri.
"Baik Nyonya."
πππππππππ
Terimakasih sudah mau membaca cerita ini.
mohon dukungannya ya π
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya π€
Love banyak-banyak untuk semuanya