
Herman benar-benar membawa Intan dari Sekolah tanpa sepengetahuan Lastri.
"Ayo Yah hubungi dulu Ibu aku takut Ibu khawatir jika aku tidak langsung pulang ke Rumah,"pinta Intan pada Herman.
"Iya kau tenang saja Ayah akan segera menghubungi Ibumu," Herman segara mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengetik pesan pada Lastri.
Ia juga memfoto Intan yang tengah duduk di mobilnya.
Lastri yang berada di Rumah Arkan sangat terkejut melihat pesan Teks di lengkapi dengan foto yang dikirim oleh Herman.
"Ada apa Mbak?" Tanya Tri yang juga terkejut dengan kepanikan Lastri.
"Herman membawa Intan."
"Apa! Herman membawa Intan!"Tri tambah terkejut setengah mati dan ia melihat ponsel dari tangan Lastri yang ternyata itu pesan dari Herman, yang mengatakan jika ia membawa intan pulang ke Rumahnya.
Dengan tergesa-gesa Lastri keluar dari Rumah Arkan.
"Mau kemana Mbak?"
"Aku harus segera ke Rumah si brengsek itu, dia berani sekali mengambil Intan dengan cara seperti ini, aku harus memberinya pelajaran,"sahut Lastri sambil terus berjalan menuju ke depan.
Tri mengejarnya.
"Tunggu dulu Mbak!"
Lastri menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang menatap Tri yang mencegahnya.
"Kita pergi bersama-sama ke sana!"kata Tri, dan ia segera memanggil Asistennya yaitu Tina.
Dengan cepat ke 3 Orang itu segera meluncur ke Rumah Herman dan Merlin.
🍂❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🍂
Arkan sudah sampai dan saat ini ia tengah memeluk erat istrinya.
"Sudah! Aku sulit untuk bernafas,"kata Tiara yang mencoba mengurai pelukan Arkan.
"Sebentar lagi, aku masih sangat merindukanmu."
"Padahal baru satu hari saja tidak bertemu."
"Apa ada yang mengganggumu ketika aku pergi?"tanya Arkan yang masih memeluk Tiara.
"Tidak ada! Memangnya siapa yang akan menggangguku."
"Baguslah, jika sampai ada yang menggangu apa lagi yang mendekatimu aku akan menghajarnya habis-habisan."
"Kenapa Kau terdengar kejam sekali?"
"Aku memang harus kejam agar tidak ada yang berani mendekatimu."
"Sudahlah! Apa kau lapar?"
Arkan mengangguk.
"Tentu saja aku sangat lapar, aku juga sangat merindukan masakanmu, tapi sebelum kita makan, bagaimana kalau kita...!"Arkan menggantungkan ucapannya.
"Kalau apa?"
Arkan melepaskan pelukannya, dan ia beralih meraih wajah Tiara lalu mengecup bibirnya.
"Mamah dan Ibu menitipkan pesan untuk mu, dan pesan itu, harapan mereka yang ingin segera memiliki seorang Cucu. Jadi bagaimana kalau kita berusaha untuk itu dulu sebelum makan."
"Apa ada pesan seperti itu?"
"Tentu saja ada sayang!"Arkan langsung mengangkat Tiara menuju Ranjangnya.
Dan merebahkan wanita itu di kasur empuk dengan kualitas terbaik yang ada di Hotel itu.
"Mamah sudah sangat menginginkan seorang Cucu, begitupun denganku yang sangat menginginkan anak dari mu,"kata Arkan yang tengah mengungkung Istrinya.
Tiara mengulas senyum, dan ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Arkan.
"Apa kau sangat menginginkan seorang Anak?"
"Tentu! Sangat menginginkannya, dan aku ingin hanya kau yang melahirkan anak-anak ku, tidak banyak cukup 7 orang saja."
Tiara tertawa.
"7 Anak kau bilang tidak banyak!"
"Kenapa kau tertawa! Itu memang sedikit kan?"
__ADS_1
"Itu banyak!"
"Benarkah! kalau begitu, katakan padaku, kau ingin anak berapa?"
Namun.
Belum sempat Tiara menjawab pertanyaan itu, Arkan sudah lebih dulu menyerangnya.
Dan melakukan apa yang ingin ia lakukan.
🍂❤️❤️❤️❤️🍂
"Hermaaan!"teriak Lastri yang kini sudah berada di depan Rumah Pria itu.
"Maaf Bu, anda tidak diizinkan masuk jika tidak berkepentingan dengan Tuan Herman atau Nyonya Merlin,"cegah penjaga Rumah Merlin.
"Saya ingin bertemu dengan Herman!"
"Ibu bisa tunggu di sini, saya akan meminta izin dulu pada Nyonya Merlin apakah beliau menerima tamu atau tidak."
"Sombong sekali wanita itu."kata Tri kesal,"saya juga tidak sudi menginjakkan kaki di Rumah ini kalau bukan karena Pria itu membawa anak kami."
Mendengar suara keributan di luar, Herman dan Merlin keluar dari Rumah besar itu.
Merlin menatap sinis ketiga wanita yang tengah berdiri di depan Rumahnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Apa kalian semua tidak mempunyai sopan santun! Berteriak-teriak di depan Rumah orang, atau memang kebiasaan kalian seperti ini! seperti di Hutan saja,"kata Merlin dengan sini.
"Jaga mulutmu wanita binal,"kata Tri yang memang sudah sangat geram dengan wanita itu.
"Apa yang kau ucapkan! Sepertinya sambutanku ini terlalu baik dengan padamu Nyonya Tri."
"Saya tidak butuh penyambutan darimu."
"Tenangkan diri Anda Nyonya,"kata Tina menenangkan.
"Sungguh aku tidak bisa tenang jika dihadapkan dengan wanita seperti dia rasanya aku ingin menjambak dan merobek mulutnya itu."Gumam Tri.
"Kau bicara apa? Kau kira saya tidak mendengarnya?"dan ternyata Merlin mendengar gumaman itu.
"Baguslah jika kau mendengarnya secara langsung, jadi saya tidak perlu bergumam lagi."
"Kurang ajar!"Merlin sudah memajukan langkahnya ingin meraih Tri.
Namun secepat mungkin Tina menghalanginya.
Merlin tak terima dengan ancaman Asisten Tri, dia ingin kembali menjambak Tri yang sudah berani menjelek-jelekkannya.
Namun Herman segera mencegahnya.
"Sudah Mah! Ada Intan di dalam, kalian jangan bertengkar seperti ini."
"Herman! kami tentu tidak akan sudi datang ke Rumahmu ini, apalagi membuat keributan di sini jika kau tidak membawa Intan secara diam-diam, apa kau sudah berbakat menjadi seorang penculik anak!"kata Lastri.
"Penculik! Apa saya tidak salah dengar, Mbak, Intan itu anak saya jadi tidak ada orangtua yang menculik anaknya."
"Kalian sudah kalah dari persidangan lalu kalian mengambil cara seperti ini, itu sama saja kau menculik Intan, dan jika kau tidak mengembalikan Intan saat ini juga saya akan melaporkan perbuatanmu ini pada Polisi,"ancam Tri.
"Sekali lagi saya katakan, saya tidak menculik Intan, anak itu yang mau ikut dengan saya, kalau kalian tidak percaya kalian bisa menanyakannya sendiri pada Intan."
Tri dan Lastri saling pandang.
Mana mungkin Intan yang menginginkan ikut dengan lelaki jahat itu.
"Apa kalian tidak percaya!"Merlin menatap kedua wanita itu, dia tahu kalau Tri dan Lastri tentu tidak akan percaya dengan apa yang dikatakan Herman,"baiklah, kalian tunggu di sini saya akan memanggil Intan di dalam."
Merlin kembali masuk ke dalam Rumahnya dan membawa anak itu keluar.
Sesampainya di luar Intan segera memeluk Ibu Lastri.
"Ayo nak kita pulang sekarang!"
Namun jawaban Intan sungguh sangat mengejutkan Tri dan Lastri.
"Tidak Bu! Aku mau di sini saja, aku mau tinggal bersama ayah untuk beberapa hari."
"Ayah!"Lastri terkejut dengan sebutan yang keluar dari bibir Intan untuk pria jahat itu.
Intan mengangguk.
"Iya Bu! Bapak Herman ternyata benar-benar Ayahku, kenapa Ibu tidak mengatakan dari awal kalau bapak Herman benar-benar Ayah kandungku?"
Lastri menghela nafas berat, dia yakin pasti Herman sudah bicara yang tidak-tidak pada Intan.
"Intan sayang, ayo kita pulang!"ajak Lastri yang tak menanggapi pertanyaan anak itu."
__ADS_1
"Kenapa kau tidak mau menjawab pertanyaan Intan! apa kau malu dengan dirimu sendiri yang sengaja memisahkan Ayah dan putrinya!"tiba-tiba Merlin menyahut.
Seperti Api yang bertemu dengan Bensin seketika mengobarkan api kemarahan di dada Lastri.
"Jaga mulutmu!"
"Kenapa saya harus menjaga mulut saya, saya hanya berkata kebenaran, kenapa kau memisahkan dan melarang Intan untuk bertemu dengan Ayahnya, bukankah setiap Anak berhak mengetahui siapa Ayah kandungnya! bahkan setiap anak, bukankah lebih baik untuk tinggal dengan Orangtua kandungnya, dari pada Bibirnya,"kata Merlin yang lagi-lagi menyudutkan Lastri di depan Intan.
Tri dan Lastri sudah tidak tahan dengan mulut lancang wanita itu.
Tapi mau bagaimana lagi, di sini ada Intan tentu mereka tidak boleh melakukan kekerasan di depan anak di bawah umur.
"Intan kita pulang ya nak, besok kakakmu akan kembali. Apa kau tidak ingin menyambut kakak Tiara?"Lastri hanya bisa membujuk anak itu dengan lembut.
Namun Intan menepis tangan wanita yang sudah merawatnya dari bayi itu.
"Tidak Bu, aku mau tinggal di sini dulu bersama Ayah, tolong izinkan aku untuk tinggal bersama ayah,"pinta Intan.
Merlin tersenyum puas.
Sementara Tri dan Lastri hanya menatap Intan, bingung harus berbuat apa.
"Tidak nak! pokoknya kau harus pulang kau tidak boleh tinggal di sini, jangankan untuk beberapa hari bahkan untuk satu jam saja Ibu tidak mengizinkanmu untuk tinggal di Rumah ini."
"Kenapa Bu? Kenapa aku tidak boleh tinggal bersama Ayah kandungku sendiri?"
"Karena dia....!"
Lastri tak melanjutkan perkataannya, karena Merlin menyentuh lengannya.
Dia mengisyaratkan Lastri untuk tidak mengatakan apapun, apalagi tentang keburukan Herman.
Karena saat ini Intan benar-benar tengah dilanda kebahagiaan karena bertemu dengan ayah kandungnya.
Jadi, mau bicara apapun Lastri tentang Herman, apalagi tentang keburukannya, Intan tidak akan mempercayainya.
Lastri terdiam, ia hanya bisa menahan sesak di dadanya.
"Sayang! Ikutlah pulang bersama ibu, Kakak mu besok akan pulang,"Lastri hanya bisa kembali membujuk anak itu.
Namun, seperti yang Tri duga.
Seperti apapun Lastri membujuk Intan, ia tetap menggelengkan kepalanya.
Anak itu tetap pada pendiriannya ingin tinggal bersama Herman.
Intan kesal karena Lastri terus saja membujuknya untuk pulang.
Ia segera masuk ke dalam Rumah tanpa menghiraukan Ibunya lagi.
"INTAN! Ayo kita pulang Nak!"teriak Lastri.
Ia melangkahkan kaki ingin memasuki Rumah Merlin untuk mengejar putrinya itu.
Namun sedetik itu juga Merlin merentangkan tangannya menghalangi wanita itu.
"Saya tidak menerima tamu hari ini."
"Jangan kurang ajar kau Merlin!"teriak Tri.
Namun wanita itu hanya mengulas senyum.
"Ini Rumah saya, saya bebas untuk melarang siapapun masuk kedalam Rumah saya. Dan saya tidak menerima kalian untuk menginjakkan kaki di dalam Rumah saya, jadi cepat pergi dari sini."
"Kurang ajar!"Tri sudah maju beberapa langkah dan langsung menjambak rambut Merlin.
"Lepaskan saya! Kurang ajar!"pekik Merlin yang kesakitan karena rambutnya dijambak oleh Tri dengan sekuat tenaga.
"Saya tidak akan melepaskan mu wanita jahat!"
Dengan cepat, Tina menarik Nyonya.
"Tolong hentikan Nyonya, jangan seperti ini. Jika sampai ada yang tahu anda melakukan kekerasan pada Nyonya Merlin, itu akan menjadi masalah besar. Kita gunakan cara yang lain untuk melawan wanita licik seperti dia,"bisik Tina di telinga Tri.
Tri segera melepaskan tangannya.
Tina benar, butuh cara yang lain untuk melawan wanita licik seperti Merlin.
🍂❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🍂
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya ya 🙏
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya 🤗
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️