
Arkan bangun dari tidur singkatnya.
Semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan Tiara.
"Apa aku kesiangan!"gumamnya.
Benar saja karena saat ini sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi.
Setelah mandi Arkan segera turun ke bawah.
Dan hal yang pertama ia lakukan di bawah sana adalah mengetuk pintu kamar Tiara.
namun tidak ada sahutan apapun dari dalam.
"Apa dia masih tidur!"
"Tuan!"
Bi Imah muncul dari belakang dan menyampaikan jika Tiara pergi pagi-pagi sekali.
"Pergi! Kemana?"
"Nona bilang ingin ke kontrakannya karena ada beberapa barang yang ingin diambil."
"Apa Bibi melihat dia baik-baik saja?"
Bi Imah mengangguk.
Tentu saja Tiara akan terlihat baik-baik saja, dan Gadis itu pun memutuskan untuk melupakan kejadian semalam termasuk tentang Arkan yang menciumnya, anggap saja itu hanya bala bantuan dari Arkan agar ia bisa menghindar dari si jahat Berlian dan Merlin.
Tiara pun sudah tidak mau mengingat apapun tentang Herman karena ia menganggap pria itu sudah mati.
Tapi Arkan masih terlihat khawatir.
Tentu saja Tiara tidak akan baik-baik menghadapi sebuah kenyataan ini! Itulah yang ada dalam pikiran Arkan.
Ia segera pergi bermaksud menyusul Tiara.
"Bi, katakan pada Ken jika hari ini saya tidak ke kantor."
"Baik tuan."
ππππ
"Pah, sekarang kau sudah tahu kan kalau Gadis itu putrimu, dan kau sekarang juga tahu kan kalau anak itu benar-benar benalu di keluarga kita, ia bahkan merebut kekasih saudarinya sendiri apa kau akan membiarkannya begitu saja?"Merlin Tengah mencecar Herman dengan ocehannya yang selalu menyudutkan Tiara.
"Lalu apa yang harus papah lakukan mah?"
"Ya papah harus tegas dong!"
"Maksudnya?"
"Temui Gadis itu dan minta dia untuk meninggalkan Arkan, kau Ayahnya kan! dia pasti mendengarkan mu pah!"
"Aku tidak yakin jika Tiara akan mendengarkan ku, bahkan! mungkin Tiara sudah tidak menganggap ku orangtuanya lagi."
"Ayo dong pah Kenapa kau diam saja! Ini semua demi kebahagiaan Berlian, kau lihat! semalaman Putri kita menangis Dan ini semua gara-gara putrimu itu."
"Baik mah, papah akan temui dan bicara dengan Tiara."
Meskipun ragu jika Tiara akan mendengarkannya apalagi mengiyakan permintaannya,
tapi Herman tetap mengiyakan permintaan Merlin.
ππ
Tiara sampai di Rumah kontrakan kecil yang ia sewa selama beberapa tahun ini.
Meskipun ia tinggal di rumah besar Arkan Tapi Tiara tetap masih menyewa kontrakan itu.
"Tiara Kau dari mana saja? Kau jarang sekali pulang ke sini semenjak menikah!"
Sapa teman Tiara yang ada di kontrakan.
"Iya, Resto tempatku bekerja akhir-akhir ini sedang ramai jadi aku tidak sempat untuk pulang ke kontrakan,"balas Tiara.
Dan ia langsung berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya.
Di sana Tiara merebahkan diri menikmati ketenangan yang sudah lama tidak ia dapatkan.
Di sinilah ia merasa nyaman dan bisa melupakan semua masalahnya.
Baru saja Tiara akan memejamkan mata,
ia dibangunkan dengan dering ponsel di dalam tasnya.
"Iya Bu!"
("Tiara, apa besok kau bisa pulang adikmu sudah sangat merindukanmu!)
__ADS_1
"Iya Bu besok pagi aku akan pulang."
("Apa suamimu juga akan ikut?")
"Sepertinya tidak Bu, dia orangnya sangat sibuk!"
Hanya itulah yang bisa Tiara katakan
ia tidak mungkin kan mengajak Arkan pulang ke desanya, karena sudah pasti lelaki itu akan menolak mentah-mentah.
("Baiklah yang penting kau pulang")
Meskipun ada sedikit kekecewaan di suara Bu Lastri, tapi ia memahami itu semua karena menantunya itu orang besar sudah pasti sangat sibuk.
Tiara kembali meletakkan ponselnya ke dalam tas dan ia merebahkan diri untuk tidur sesaat.
Tiara memutuskan untuk libur selama beberapa hari dari Restonya
untuk menghindari beberapa pertanyaan dari rekan kerja dan sahabatnya Bulan.
Ia ingin menenangkan diri.
Tok.
Tok.
Tok
Suara ketukan pintu yang
Lebih terdengar seperti gedoran kembali membangunkan Tiara yang baru saja memejamkan matanya.
Tiara mengira jika itu Ibu kontrakan yang menagih uang bulanan.
Dengan mata yang mengantuk Tiara menyeret kakinya untuk membuka pintu.
"Arkan!"
Mata mengantuk Tiara seketika terbuka lebar setelah melihat Arkan di depan pintu kontrakannya.
"Apa yang kau lakukan di sini!"
"Kau pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu pada ku."
"Apa hanya karena itu dia sampai ke sini!"
"Kau bisa kan mengirim pesan, menelpon atau pengetuk pintu kamarku!"
Arkan bicara dengan suara keras hingga menarik perhatian penghuni di sana.
Tiara menutup pintu.
Arkan menahan.
"Kenapa kau menutupnya? Aku ingin bicara denganmu!"
"Iya aku tahu, ayo kita bicara di luar saja."
"Aku ingin bicara di dalam!"
Arkan sudah memaksa masuk dan mendorong kembali pintu itu namun Tiara menahan tangannya.
"Tidak bisa, di luar saja, lelaki tidak boleh masuk di sini."
"Untuk lelaki lain memeng tidak boleh masuk! Bahkan aku akan mencabut nyawanya jika berani masuk, tapi aku ini suamimu."
"Sama saja, kau lelaki juga."
Hingga sedikit perdebatan yang lebih terdengar seperti keributan terjadi di sana dengan Arkan yang kekeh ingin masuk dan Tiara yang melarangnya.
"Ada ada apa ini ribut-ribut!"
Seorang wanita bertubuh gempal, dengan Roll rambut memenuhi kepalanya.
Wanita itu menaikkan kedua tangannya di pinggang menatap lelaki yang sedang memaksa masuk ke kamar Tiara.
Arkan dan Tiara menoleh secara bersamaan.
Wajah marah siap menerkam dari ibu pemilik kontrakan seketika berbinar dan tersenyum ramah.
"Tuan Arkan!"
Lelaki populer itu tentu dikenali banyak orang karena wajahnya sering muncul di berbagai koran dan majalah.
Arkan mengulum senyum. "Aku sungguh terkenal di kalangan wanita," lagi-lagi lelaki itu membanggakan kepopulerannya.
Wanita itu segera menghampiri Arkan dan Tiara.
"Tiara, Tuan Arkan ini suamimu kan?"
__ADS_1
Dan Arkan yang menjawab pertanyaan itu.
"Benar nyonya, dan apakah boleh saya masuk ke dalam?'
"Tentu saja sangat boleh! Anda mau masuk ke manapun tentu sangat boleh tidak akan ada yang melarang anda,"sahut wanita itu antusias.
"Terima kasih!"
Dan Arkan langsung menarik Tiara masuk ke dalam.
π
"Kenapa di sini sempit sekali!"keluh Arkan setelah ia masuk ke dalam kamar kontrakan Tiara.
"Kau tahu ini sempit kan? Cepat keluar dari sini."
Tiara merasa tidak nyaman jika harus satu kamar dengan Arkan, ditambah lagi atas kejadian semalam.
"Aku ingin bicara denganmu!"
"Baiklah, cepat katakan!"
"Apa di sini tidak ada kursi?"
"Sudah jangan minta yang macam-macam mau bicara saja Apa perlu memakai kursi?"Kesal Tiara.
"Tapi aku pegal jika harus berdiri seperti ini."
Lalu Tiara mendudukkan dirinya di atas kasur busa yang terletak di lantai.
"Duduk seperti ini bisa kan!"
"Baiklah!"Pasrah Arkan.
Dan Arkan pun duduk di sebelah Tiara.
Lelaki itu mulai bertanya tentang Herman.
Dengan getir Tiara pun menceritakan semuanya pada Arkan.
"Jika saja lelaki itu membawa ibu ke rumah sakit, mungkin ibuku masih hidup sampai sekarang."
Arkan mengerti perasaan Tiara, dan ia hanya mendengarkan gadis itu bercerita.
"Apa kau tidak bekerja?" Tanya Tiara yang menyudahi ceritanya, ia tidak mau kembali mengenakan kesedihan yang sudah susah paya ia lupakan selama 10 tahun.
"Tidak!"
"Lalu untuk apa kau kesini! Hanya untuk membicarakan itu?"
"Tidak juga, sebenarnya aku ingin....!"
"Apa?"
"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?"
Tiba-tiba kata itu keluar dari Arkan.
"Jalan-jalan!"
"Apa dia tidak salah!"
"Ayo cepat!"ajak Arkan yang sudah bangun dari duduknya dan segera keluar dari kamar kontrakan Tiara terlebih dahulu, karna gugup.
Hati Lelaki itu Tengah berdebar-debar dengan wajah yang memerah menahan gugup, karena baru pertama kalinya dia mengajak seorang gadis untuk jalan-jalan.
Sebenarnya ia ingin menyebutkan kata Kencan! Tapi mulutnya terasa berat hingga dia mengucapkan kata jalan-jalan.
Tapi apapun namanya itu,
Arkan tetap menganggap kalau ini adalah Kencan pertamanya dengan Tiara.
π
Dan merekapun berjalan menikmati pemandangan Kota.
Dengan hati yang berbunga-bunga, namun masih saling malu untuk mengekspresikan kebahagiaan.
πππππππππ
Terimakasih sudah mau membaca cerita ini ππ€
Mohon dukungannya ya π
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya π€
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1