
"Apa ini! kenapa dia mencium ku! ya Tuhan ini ciuman pertama ku, kenapa harus di rebut dengan lelaki jahat ini."
Tiara tersadar dan ia kembali mencoba untuk melepaskan diri dari rengkuhan Arkan.
Namun tentu itu hanya sia-sia belaka, karena semakin Tiara ingin melepaskan diri semakin kuat lelaki itu merengkuhnya.
Masih dengan posisi bertautan, Arkan menyusupkan tangan ke sela-sela rambut Tiara menuju tengkuk, dan menekan kuat dengan tujuan memperdalam ciuman mereka.
Arkan benar-benar sudah gila! ciuman yang tadi biasa-biasa saja kini menjelma menjadi luar biasa dan terkesan brutal!
Dengan Arkan yang semakin bernafsu dan memburu sesuatu di dalam sana, ia semakin kehilangan akal dan membuat Tiara sampai kesulitan untuk menghirup oksigen karena ciuman yang memaksa itu.
Arkan semakin terpancing karena Tiara enggan membuka bibirnya apalagi membalas ciuman itu.
Hingga akhirnya!
"AAAKKH!" Pekik Arkan dan melepaskan ciuman brutalnya.
Lelaki itu menyentuh bibirnya yang ternyata terluka dan mengalirkan darah segar.
Rupanya Tiara menggigit bibir lelaki itu dengan sangat kuat sampai membuat bibir Arkan terluka.
Itu semata-mata ia lakukan untuk melindungi diri dari kematian yang di sebabkan kehabisan Oksigen Karna Arkan membungkam mulutnya.
Arkan menatap tajam Tiara.
Tiara yang semakin ketakutan mengambil langkah seribu!
Melarikan diri.
Namun.
Lagi-lagi pergerakan Arkan jauh lebih cepat darinya.
Dengan mudah lelaki itu menarik pinggang Tiara dan kembali menghimpit tubuh kecil Tiara.
"Arkan, sadarlah!"Tiara ketakutan.
"Apa kau kira aku ini kesurupan?"
Ia melepaskan cengkeramannya dari pinggang Tiara tapi masih tetep menatap lekat gadis yang semakin memundurkan wajahnya.
Deru nafas Arkan yang meniup wajahnya semakin membuat Tiara takut dan gugup.
Arkan kembali menunduk dan mendekatkan wajahnya.
Mungkin dia belum puas dengan ciuman tadi.
Tapi kali ini Tiara tidak tinggal diam, dia harus memberontak!
Lelaki jahat ini sudah mencuri ciuman pertamanya yang ia jaga selama 23 tahun, jangan sampai ia melakukan lebih dari itu.
BUG.
"AAAKKH!" Arkan kembali memekik, sambil mengibaskan kakinya yang ternyata di injak kuat-kuat oleh Tiara.
"Tenaganya kuat juga."
Kesempatan emas bagi Tiara ketika suaminya masih tertunduk meneliti kakinya yang berharga dan istrinya injak begitu saja.
Ia mendorong tubuh Arkan sampai lelaki itu membentur tembok.
Dan secepat kilat ia lari menuju pintu keluar.
Tapi Naas!
Kali ini Dewi keberuntungan benar-benar tidak berpihak pada Tiara.
Karna terburu-buru.
kakinya membentur kaki lemari yang berdiri kokoh di dalam kamar itu.
"AAAAWWH!" Tiara langsung merintih dan berjongkok memegangi kakinya yang terasa nyeri sampai ke ulu hati.
__ADS_1
"Aku akan mengutuk siapapun yang meletakkan lemari di sini."
Melihat Tiara yang kesakitan Arkan segera menghampirinya.
"Tiara!" Wajah Arkan seratus delapan puluh derajat berubah drastis.
Wajah tampan yang beberapa saat lalu di kuasai api kemarahan kini menjadi panik dan ketakutan, ketika ia melihat kaki Tiara yang terluka.
"Apa ini sakit?"Arkan menyentuh kakinya.
Namun Tiara menepis kuat-kuat tangan Arkan.
"Menyingkir Lah!"
Tiara kembali bangun dan berniat kabur dari kamar itu.
Tapi Arkan menahannya.
"Kau diam dan jangan banyak bergerak,"Arkan membopong Tiara dan membawanya ke atas kasur.
"Arkan, turunkan! aku mau keluar!" Pinta Tiara.
"Kau ini keras kepala sekali, aku bilang diam di sini dan jangan banyak bergerak."
Setelah mendudukkan Tiara di tepi kasur
Arkan Meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
Tak berapa lama.
Pintu kamar di ketuk dan ternyata itu petugas Hotel yang membawakan Kotak berisi obat-obatan.
"Apa ada lagi yang anda butuhkan tuan?"
"Tidak! Terimakasih."
Setelah petugas Hotel itu berlalu Arkan mengunci pintu dan kembali pada Tiara.
Ia berjongkok dan mulai mengobati luka di kaki Tiara.
Tiara menatap lekat Arkan.
"Kenapa dia semakin membuat ku takut, tadi sia seperti orang kesetanan dan sekarang kenapa dia seperti malaikat!"
Tatapan Tiara beralih pada bibir Arkan yang terluka dan masih menyisakan darah di sana.
"Apa aku menggigitnya terlalu kuat! itu salah dia sendiri, dia pantas mendapatkannya, karna dia hampir membuat ku mati karna ciumannya."
Selesai mengobati luka di kaki sang istri.
Arkan kembali bangun dan menatap lekat Tiara sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
"Kau sudah mengigit ku, menginjak kakiku dan mendorongku sampai membentur tembok, apa masih ada lagi yang ingin kau lakukan dengan kaki terluka itu?" Kata Arkan, mengungkit.
Namun Tiara tidak perduli dengan kata-kata Arkan.
"Lihat ini!" Tunjuk Arkan pada bibirnya.
Namun Tiara malah membuang wajahnya.
Arkan meraih dagu Tiara dan mengarahkan wajah manis itu untuk melihatnya.
"Kau sudah membuat ku terluka seperti ini, mana pertanggungjawaban mu?"
"Itu semua ulah mu sendiri yang memaksa ku." Bela Tiara.
"Seharusnya kau bangga jika aku mau mencium mu, kau tau! Di luar sana banyak wanita yang mendambakan bibir ku ini."
"Dan aku bukan wanita-wanita yang ada di luar sana"
KRING!
Ponsel Tiara yang tergeletak di lantai berdering, mengalihkan fokus Arkan.
Arkan sudah menajamkan matanya dan segera meraih ponsel itu.
__ADS_1
"Jika panggilan ini dari si brengsek itu, aku akan memecahkan ponsel ini."
IBU Calling!
"Ini ibu mu!" Arkan menyerahkan ponselnya pada Tiara.
Dan ia pergi menuju kamar mandi.
"Halo ibu?"
(" Tiara, bagaimana dengan kabar mu nak? Kenapa akhir-akhir ini kau tidak mengunjungi bahkan menghubungi ibu mu ini? Apa kau terlalu sibuk dengan suami mu?")
"Maafkan aku Bu, aku sedang banyak pekerjaan dan sekarang aku sedang di luar kota, jadi belum sempat untuk pulang? Apa ibu dan Intan baik-baik saja?"
("Ibu dan adik mu sangat baik, lalu bagaimana dengan mu? Apa kau bahagia dengan pernikahan mu, dan apa suamimu memperlakukan mu dengan baik?")
Tiara terdiam.
Ia bingung harus menjawab apa, apa dia harus bilang jika ia tidak bahagia dan Arkan tidak memperlakukannya dengan baik.
Dan suami yang di maksud diam-diam mendengar pembicaraan Tiara dan ibunya, ia menempelkan telinganya di cela pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
Ia ingin tau apa Tiara akan mengadukan perbuatannya pada sang ibu.
Dengan LoudSpeaker di ponselnya, Arkan jadi bisa mendengar dengan jelas pembicaraan ibu dan anak itu.
"Aku baik-baik saja Bu, dan Arkan, dia juga selalu bersikap baik pada ku, aku bahagia dengan pernikahan ini."
Dan inilah faktanya.
Seorang istri akan selalu menutupi seburuk apapun kelakuan suaminya pada Keluarganya, terutama orangtua.
Tapi ketika istri tidak sanggup dan menyerah.
Ia akan pulang dan mencurahkan semua kesedihan dan kekecewaan pada orangtuanya dan di sinilah pintu hatinya benar-benar sudah tertutup.
Apakah Tiara akan sampai ke tahap itu?
Arkan tertegun mendengar pengakuan Tiara yang di luar dugaannya.
("Syukurlah kalau kau bahagia, ibu senang mendengarnya, jika Arkan menyakiti mu biar ibu yang akan memberikan dia pelajaran dan kau bersikap patuhlah pada suami mu.")
"Iya Bu."
("Tiara, jika kau dan suamimu ada waktu, Minggu depan pulang lah Sepupumu akan menikah!")
"Baik Bu, akan ku usahakan untuk pulang, ibu jangan terlalu lelah, dan istirahatlah yang cukup, Lusa aku akan mengirim uang untuk ibu dan biaya sekolah Intan."
("Mengirim uang? Bukankah kamu beberapa hari yang lalu sudah mengirimkan uang pada ibu?")
"Tidak, aku kan belum gajian!"
("Tapi lelaki yang bernama Ken, sudah mengirim uang pada ibu untuk biaya sekolah adik mu dan kebutuhan kita berdua di sini, dan dia bilang itu uang dari mu.")
Tiara sekarang mengerti dan tau siapa yang mengirim uang untuk ibunya.
"Ooh... Iya Bu, aku lupa."
Dan ia harus kembali berpura-pura.
("Kau ini masih muda sudah pelupa.")
Setelah berbincang selama lebih dari 10 menit, Tiara mengakhiri panggilan dan matanya menatap pintu kamar mandi.
ππππππππππ
Trimakasih sudah berkenan mampir ke cerita ini π
Mohon dukungannya ya.
Jika ada kesalahan dalam tulisan ini.
Tolong koreksi dan sampaikan pada Ntor, agar Ntor bisa segera memperbaikinya.
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈππβ€οΈ
__ADS_1