
Mereka sampai di Bandara dan sudah ada Ken yang menunggu mereka di sana.
"Selamat datang Tuan, Nona."
"Hai Ken! Bagaimana dengan kabarmu?"tanya Tiara.
"Saya baik Nona."
"Sudah! Kau jangan terlalu banyak bicara dengan Ken, ayo kita segera kembali ke Rumah."Kata Arkan, dan segera menggandeng tangan istrinya.
Ken mengarahkan jalan pada Arkan dan Tiara untuk menuju parkiran, dan mereka pun segera menuju pulang ke Rumah.
ππππ
Tak lama.
Mereka sampai di Rumah.
Dan Tri, bersama Bi Ima sudah menunggu di depan pintu.
"Selamat datang menantu mamah tersayang!"Tri berhambur dan langsung memeluk Tiara.
"Mama apa kabar!"
"Mamah tentu tidak baik-baik saja karena kau pergi begitu saja tanpa pamit, tapi sekarang Mamah bahagia karena kau kembali, Terimakasih sayang sudah mau kembali pada kami,"sahut Tri sambil membelai rambut Tiara.
Tiara tersenyum dan ia berbalik menyapa bi Ima.
"Apa kalian lapar? Mamah dan Bi Ima sudah menyiapkan makanan kesukaan kalian,"kata Tri dan langsung menuntun menantunya itu ke meja makan.
"Terimakasih banyak mah, tapi mama seharusnya tidak perlu repot-repot memasak seperti ini untukku."
"Apanya yang repot, Mamah justru senang bisa memasak untuk menantu kesayangan Mamah."
Tri asik memanjakan menantunya sampai ia melupakan putra semata wayang yang menjadi kesayangannya selama 30 tahun lebih.
Tapi kini lelaki itu diabaikan karena mamanya telah memiliki menantu kesayangan.
"Sepertinya Mamah melupakan anak kesayangannya ini,"ketus Arkan seraya menarik bangku lalu duduk di sebelah Tiara.
"Hey, kenapa kau bicara seperti itu sayang, apa kaucemburu dengan Tiara?"
"Tidak mah!"
"Kau sudah dewasa jangan seperti anak kecil lagi Ar."
"Iya ma aku mengerti, lagi pula aku sudah tidak perlu dimanjakan Mamah sekarang, karena mulai sekarang Tiara yang akan melakukannya,"Arkan Melirik Tiara lalu tersenyum,"iya kan Sayang!"
Tiara hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Arkan.
"Kenapa kau hanya tersenyum, jawab iya dong,"rengek Arkan.
"Iya!"Sahut Tiara.
*
*
*
Mereka pun makan malam bersama dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan.
Arkan sempat menanyakan keberadaan Papahnya yang tidak datang, dan Tri mengatakan jika Wilson tengah berada di luar Kota untuk mengurus beberapa proyek yang ada di sana dan baru kembali besok pagi.
*
*
*
Selesai makan malam, mereka duduk di Ruang keluarga sambil berbincang hangat.
Tri kembali mengucapkan permintaan maafnya atas segala perbuatan buruk Arkan pada menantunya.
Dan Tiara pun melakukan yang hal yang sama.
__ADS_1
Tri mengatakan jika sebenarnya Lastri dan Intan ingin sekali datang untuk menyambut kepulangan Tiara, tapi kondisi Intan tidak memungkinkan karena baru tadi sore ia melakukan kontrol dan Dokter menyarankan agar Intan harus beristirahat cukup dan tidak berpergian ke mana-mana.
"Intan baik-baik saja kan mah?"raut cemas sudah terlihat di wajah Tiara.
"Tentu sayang, Intan baik-baik saja. Dokter hanya menyuruhnya banyak beristirahat makanya Bu lastri tidak mengizinkan Intan untuk ikut mama ke sini."
"Besok aku ingin ke Rumah ibu."
"Pergilah, Arkan akan menemani mu, dan menginaplah untuk beberapa hari di Rumah ibumu, adikmu pasti sangat senang,"ujar Tri.
"Terimakasih mah."
*
*
Karena ini sudah larut malam.
Tri tidak pulang ke Rumahnya, dan ia menginap di Rumah Arkan.
Ia berpamitan pada menantu dan anaknya untuk beristirahat terlebih dahulu karena usianya yang sudah tidak muda lagi membuatnya harus beristirahat dengan cukup.
"Kalian juga istirahatlah, kalian pasti lelah,"ucap Tri dan berlalu dari Ruang keluarga.
"Baik mah, selamat beristirahat!"sahut Tiara.
Selepas berlalunya Tri menuju Kamar, Tiara pun ikut berlalu menuju ke Kamarnya.
"Kau mau ke mana!"cegah Arkan yang melihat langkah Tiara menuju ke kamarnya yang dulu.
"Mau ke kamar, aku mau tidur ini sudah tengah malam,"sahut Tiara.
Arkan beranjak dari duduknya dan menghampiri istrinya itu.
"Aku tahu kau mau beristirahat dan tidur, tapi kamarmu bukan di sana."
"Aku ingat kalau kamarku di sana! Mana mungkin aku bisa lupa hanya pergi kurang dari 1 bulan saja."
"Sayang, sekarang kamarmu di atas bukan lagi di sana."
*
Ceklek....
Arkan membuka pintu Kamarnya dan langsung membawa Tiara masuk ke dalam.
"Di kamarmu?"bingung Tiara.
"Tentu saja! Mau di kamar mana lagi,"Sahut Arkan.
"Dulu dia mengusir ku dari sini."
Arkan mendekati istrinya.
"Maafkan aku yang dulu pernah mengusir mu dari kamar ini, tapi sekarang aku memintamu untuk menemaniku selama-lamanya di Kamar ini."kata Arkan, lalu mengecup singkat bibir Tiara.
"Apa dia bisa mendengar suara hatiku!"
"Kalau begitu, aku mau mengambil pakaianku dulu yang ada di Kamar ku."
"Tidak perlu! Bi Imah sudah memindahkan semua barang-barang mu di sini."
"Ternyata dia sudah mempersiapkan semuanya."
"Sekarang mandilah, aku keruang kerja dulu sebentar,"kata Arkan.
Tiara mengangguk.
Dan segera berlalu ke bilik mandi.
Sedangkan Arkan, ia keluar dari Kamar dan menuju ke Ruang kerjanya, karena sejak tadi Ken memberinya kode kalau ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
*
*
__ADS_1
*
"Ada apa?"kata Arkan yang saat ini sudah memasuki Ruang kerjanya dan sudah ada Ken di sana.
"Tuan, ada yang ingin saya sampaikan."
"Apa itu sangat penting!"
"Iya!"
"Katakan."
"Ada dua orang yang mencoba memaksa masuk ke Rumah ibu Lastri untuk mengambil nona Intan."
Arkan sudah mengeraskan rahangnya.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Anda jangan khawatir tuan, orang-orang yang kita utus untuk menjaga ibu Lastri dan Intan tentu sudah menangkap kedua orang itu terlebih dahulu sebelum mereka berhasil memasuki Rumah, tapi masalahnya."
"Apa!"
"Kedua orang itu adalah suruhan Merlin."
"Aku sudah menduganya."
"Tapi tuan, di sini juga tuan Herman ikut andil."
"Maksudmu! Pria tua itu ingin mengambil Intan juga?"
"Benar tuan."
"Lakukan saja jika dia bisa, memangnya dia siapa, berani mengambil anak yang sudah ia tinggalkan bahkan sebelum anak itu lahir."
"Tuan Herman sepertinya tidak main-main tuan, karena dia memilih untuk menempuh jalur hukum untuk mengambil hak asuh atas Intan."
Arkan terbahak-bahak mendengar perkataan itu.
"Apa dia menantangku?"
"Iya tuan, bahkan tuan Herman juga meminta anda untuk meninggalkan Nona Tiara, karena ia berkata, tidak Sudi mempunyai menantu seperti anda."
Arkan memicingkan matanya.
"Berani sekali si tua itu, apa dia merindukan pukulan ku tempo hari." Geram Arkan.
Arkan mendekat pada Ken.
"Ikuti permainan si tua itu, dan jika dia berbuat curang dan berani macam-macam, tentu kau tahu kan apa yang harus kau lakukan."
"Tapi tuan."
"Apalagi? Kenapa kau terlihat ragu seperti ini? Apa kau takut dengan dia?"
"Bukan begitu tuan, biar bagaimanapun juga Tuan Herman adalah ayah kandung Nona Tiara, jika kita sampai melakukan hal-hal yang buruk pada tuan Herman apalagi sampai melakukan hal fatal padanya, tentu itu akan membuat Nona Tiara sedih."
"Kau tenang saja Ken, Tiara tidak akan sedih, dia justru sangat membenci Pria itu."
"Tapi anda tidak tahu kan isi hati nona Tiara seperti apa? Apakah dia benar-benar membenci ayahnya dari lubuk hatinya, dia membenci hanya karena rasa kecewanya selama ini? Biar bagaimanapun juga tidak ada seorang anak yang mau orang tuanya celaka, begitu pun dengan Nona Tiara. Nona Tiara gadis yang baik, saya yakin sebenci apapun Nona Tiara pada ayahnya, tapi dia tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Tuan Herman."
Arkan terdiam mendengar penjelasan dari Ken, ia merasa kalah karena belum mengenal Tiara lebih jauh, mungkin saja yang dikatakan Ken benar.
Tiara hanya mengucapkan benci dan marah di bibir saja, tapi ia tidak tahu isi hatinya seperti apa, biar bagaimanapun juga Herman adalah Ayah kandungnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"tanya Arkan.
πβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπ
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita iniππ
Mohon dukungannya π
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya π
Love Banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1