
"Terima kasih bi,bibi terlalu memuji."
Memeng benar! Tiara Sangat nampak berbeda jika mengenakan gaun seperti itu, selain hari pernikahan inilah pertama kalinya Tiara mengenakan gaun.
Di kesehariannya ia lebih sering mengenakan kemeja polos, hoodie dan seragam di Restoran ketika sedang bekerja, bahkan ketika menghadiri pesta temanya pun Tiara selalu berpenampilan seperti sehari-hari, jelas jika Tiara mengenakan gaun seperti itu akan nampak sangat berbeda, dia terlihat lebih anggun dan manis.
"Ayo kita berangkat!"ajak Tiara, tapi ajakan itu ia tunjukkan pada Ken, bukan pada Arkan, karena Tiara masih menyimpan marah pada lelaki itu.
"Tunggu!
Tiara menoleh pada sumber suara yang ternyata miliki Tina.
Siapa dia? kenapa aku baru menyadari jika ada orang lain di sini, batin Tiara.
Bagai seorang cenayang, Tina mendekat dan mengulurkan tangan pada Tiara.
"Selamat malam nona! Perkenalkan nama saya Tina, asisten pribadi Nyonya Tri."
Tiara mengangguk dan membalas uluran tangan Tina dengan senyum ramah.
"Saya Tiara, senang bertemu dengan anda."
Meski sudah 2 bulan lebih Tiara menikah dengan Arkan, tapi baru kali ini ia bertemu dengan Tina asisten pribadi Tri, yang sangat ditakuti Ken dan sangat dihindari Arkan.
"Apa Anda tidak menggunakan riasan di wajah anda?"tanya Tina yang memperhatikan wajah Tiara.
"Tidak!"sahut Tiara.
"Mari Nona ikut dengan saya,"ajak Tina dan kembali masuk ke dalam kamar Tiara.
"Kau mau apa lagi? Kita harus segera berangkat Jangan membuang-buang waktu,"protes Arkan.
"Hanya 10 menit tuan!"sahut Tina.
ππ
10 menit kemudian.
Tiara dan Tina keluar dari kamar, kalau tadi semua mata terpesona dengan penampilan Tiara yang memakai gaun indah di tubuhnya, kini mereka jauh lebih terpesona lagi dengan kecantikan yang sangat natural dari Tiara, Tina merias wajah Tiara dengan sangat natural dilengkapi dengan lipstik berwarna peach di bibirnya, serta rambut yang ditata dengan rapi hingga memperlihatkan leher jenjang Tiara.
Ken sampai melongo tak berkedip melihat gadis yang bagaikan seorang bidadari di matanya.
Aku baru menyadari, jika ternyata selama ini Nona Tiara, adalah permata yang tertutup debu.
Arkan yang menyadari Ken benar-benar terpesona dengan kecantikan Tiara menjadi gusar.
Ia mencubit dengan kuat pinggang Ken sampai lelaki itu mengaduh.
"Jangan melihatnya seperti itu,"bisik Arkan di telinga Ken.
"Memangnya kenapa Tuan, aku hanya mengagumi Nona Tiara,"sahut Ken yang juga berbisik di telinga Arkan.
"Dia itu istri orang!"
"Apa! istri orang! Aah... Anda benar juga, tapi hanya satu tahun saja setelah itu dia akan menjadi janda, dan akulah orang pertama yang akan mendekatinya."
__ADS_1
"Aaaawwh..!"
Setelah membisikan itu tiba-tiba Ken mengadu kembali tapi kali ini dengan suara yang nyaring karena Arkan menginjak dengan kuat kakinya.
"Kau kenapa Ken?"tanya Bi Imah yang tengah asik memperhatikan percakapan Tiara dan Tina.
"Tidak apa-apa bi, tadi hanya ada tikus yang tiba-tiba melintas di kakiku."
"Tikus!"bingung semua.
Mana mungkin rumah semewah dan sebesar itu ada tikus di dalamnya.
"Ya sudah ayo kita berangkat jangan terlalu lama berbasa-basi,"ketus Arkan.
Kemudian ia berbisik kembali pada Ken.
"Ken, awas kau berani mengataiku tikus, aku akan memotong setengah gaji mu bulan ini."
Wajah Ken seketika berubah menjadi pias karena mendengar gajinya akan dipotong.
Iya bergegas mengejar Arkan yang sudah berlalu menyusul Tiara dan Tina, yang sudah keluar rumah terlebih dahulu.
πππ
Mereka berangkat menggunakan satu mobil yang sama.
Tina dan Ken duduk di depan , sedangkan Arkan duduk bersebelahan dengan Tiara di kursi Tengah, keduanya sedang sibuk dengan ponsel masing-masing.
Tapi sepertinya Arkan Tengah gelisah, biarpun tangannya fokus pada ponsel tapi ia mencuri-curi pandang melirik Tiara yang ada di sampingnya.
Arkan semakin intens memperhatikan garis wajah Tiara hingga tanpa sadar dalam hati kecilnya bergumam.
Semakin lama di perhatikan, ia jadi semakin Cantik.
KRING....
KRING....
Suara ponsel kembali menyadarkan Arkan dari keterbuayan memandang wajah Tiara, dan ternyata ponsel yang berbunyi itu miliknya.
(BERLIAN CALLING)
Arkan kembali menetralkan pikiran dan hatinya kemudian ia menjawab panggilan yang ternyata dari sang kekasih.
"Halo! Iya Ber, ada apa?"tak lama, karena Arkan melirik Tina yang menoleh dan memelototinya,"maaf Ber Aku tidak bisa, karena aku sedang ada acara keluarga."dan Arkan pun memutuskan panggilan itu, karena ia takut jika Tina mengadu pada Mamahnya.
Tina Kembali ke tempat semula dengan senyum simpul di ujung bibirnya.
Setelah dirasa aman, Arkan diam-diam mengirim pesan pada Berlian.
{Maafkan aku Ber, aku tidak bisa menemanimu malam ini, karena Mamah menyuruhku menghadiri pesta ulang tahun rekan bisnis papah}
Ternyata Berlian meminta Arkan untuk menemaninya ke pesta juga.
{Baiklah! Tapi kau harus menebus ketidakbisaanmu malam ini, besok kita habiskan waktu bersama} balas Berlian.
__ADS_1
Dan dijawab {baiklah!} Oleh Arkan.
Tiara yang tahu jika yang menghubungi Arkan adalah berlian merasa sedikit tidak nyaman di hatinya, ia melirik Arkan yang tengah fokus pada ponselnya dan Tiara sudah bisa menduga dengan siapa akan berkirim pesan.
πππππ
Dengan menempuh perjalanan selama 40 menit akhirnya mereka sampai di sebuah gedung tempat pesta diselenggarakan.
Dengan cepat Ken membuka pintu untuk sang tuan, dan Tina membuka pintu untuk sang nona.
Arkan dan Tiara berjalan masing-masing, namun mereka Langsung mendapat tatapan protes dari Tina dan dengan terpaksa mereka memasuki gedung dengan saling bergandeng tangan.
"Tunjukkan senyummu pada semua orang, jangan cemberut seperti itu mereka akan mengira kau istri yang mengalami tekanan batin jika menunjukkan wajah seperti itu,"protes Arkan yang berbisik di telinga Tiara.
"Aku tahu!"sahut Tiara.
Dan dengan senyum mengembang dan indah pasutri ini memasuki dan berjalan di tengah-tengah keramaian pesta, puluhan pasang mata menatap dan memperhatikan kedatangan mereka berdua.
"Itu Tuan Arkan, Apa itu istrinya! Dia sangat cantik."
"Iya dia sangat cantik."
"Tapi yang aku dengar dia hanya gadis biasa, sangat jauh berbeda dengan Tuan Arkan."
"Benarkah! Sayang sekali Tuan Arkan yang sempurna seperti itu harus menikah dengan gadis biasa."
"Benar! Padahal kekasih Tuan Arkan sangat cantik dan dia dari keluarga berada."
"Tapi Gadis itu juga sangat cantik, dan Sepertinya dia sangat baik, melihat mereka berjalan berdampingan seperti itu, aku rasa mereka sangat cocok dan serasi."
Itulah beberapa celaan dan pujian yang saling bersahutan menyambut kedatangan Arkan dan Tiara.
Banyaknya pasang mata yang memperhatikan, Tiara menjadi gugup dan grogi ia tidak biasa menghadiri pesta seperti ini, dan sebab ini pula Tiara merasa sangat tidak nyaman dan ingin segera pergi dari pesta itu.
Ditambah lagi dengan tatapan sinis dan menghina dari para gadis-gadis pemuja Arkan mengiringi langkah kakinya sungguh ia merasa tidak ada apa-apanya jika di sandingkan dengan Arkan seperti ini.
Arkan yang menyadari Tiara tidak nyaman menggenggam erat tangan Tiara yang mulai terasa dingin.
"Angkatlah wajahmu, kau ini istri dari Arkan Argani, tidak boleh menundukan kepala pada siapapun, Jangan khawatir tidak akan ada yang berani mencelamu selama ada aku disini,"bisik Arkan di telinga Tiara, dan Tiara mengangguk.
Tiara sudah bisa mengontrol dirinya untuk tidak gugup dan malu, masih dengan posisi bergandengan mereka menyapa para tamu undangan yang juga rekan bisnis Arkan.
"Arkan!"
Tiba-tiba ada suara memanggil lelaki itu.
πππππππππ
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya ya ππ€
Untuk Like, Vote dan tinggalkan komentar, agar Ntor semangat Update terus.
Dan Terimakasih untuk yang sudah memberikan itu semua πππππ
__ADS_1