
Merlin semakin memasang wajah marah pada Herman.
"Kenapa kau menatapku seperti itu pah! Apa kau tak terima jika aku menamparmu?"
Herman membuang wajahnya.
Pria itu marah sungguh sangat marah tapi apa daya ia tidak bisa melampiaskan emosinya pada istrinya itu.
Sedangkan
Berlian, berlalu masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci diri di dalam sana.
Iia mengacak-ngacak semua benda yang ada di dalam kamarnya, sambil berteriak histeris dan terus memanggil nama Arkan.
"Arkan!"
"Kenapa kau meninggalkanku!"
"Bukankah dulu aku wanita yang paling kau cintai tapi kenapa sekarang kau malah memilih wanita itu Arkan, aku tidak terima sungguh tidak terima.. Aaaaakh!"
BRAK!
BUG!
PRANK!
Mendengar suara gaduh dari dalam kamar Berlian, Merlin segera berlari.
"Sayang! Berlian, buka pintunya Nak!"Merlin terus menggedor pintu kamar putrinya itu karena ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada Berlian.
"Berlian, jangan membuat mamah takut dan khawatir sayang! tolong buka pintunya."
Namun Berlian tidak mau membuka pintu kamarnya, ia seperti tidak mendengar suara teriakan Merlin.
Berlian malah semakin histeris dan memecahkan cermin besar yang ada di kamar itu hingga suara pecahan kaca memenuhi seisi ruangan.
Dan hal itu semakin membuat panik Merlin.
Merlin mendorong dan menggedor pintu kamar itu namun masih tidak terbuka.
"Barlian! kau tidak apa-apa kan sayang! buka pintunya ijinkan mamah masuk , mamah bisa melakukan apapun untukmu!"
Namun Merlin sudah tidak mendengar suara apapun lagi dari dalam sana, membuat Merlin bergetar dan semakin takut.
Merlin segera berlari menghampiri Herman di ruangan depan tapi pria itu sudah tidak ada di sana entah ke mana dia pergi.
Ia kembali berlari menuju ke kamarnya mungkin saja Herman ada di sana, tapi Merlin masih tidak menemukan Herman ada di sana.
"Ke mana kau pah! Di saat genting seperti ini kau malah pergi."Kata Merlin dengan nafas yang memburu karena panik.
lalu Merlin berlalu ke halaman depan untuk menemui satpam.
"Cepat kemari!"teriak Merlin memanggil satpam yang berjaga di depan rumahnya.
"Iya nyonya!"
"Cepat ikut saya."
Pria itu pun segera mengikuti Merlin dari belakang dan menuju kamar Berlian.
"Cepat dobrak kamar ini."
"Baik Nyonya!"
BRAK!
BRAK!
Hanya dengan dua kali dorongan pintu itu terbuka sempurna.
Merlin segera masuk dengan sedikit berlari ia melihat keadaan putri kesayangannya.
"BERLIAN! TIDAK!"Merlin berteriak histeris ketika melihat berlian tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir di pergelangan tangannya.
Ya.. Gadis itu baru saja melakukan diskon nyawa.
Dengan menggunakan pecahan cermin yang beberapa menit lalu ia hancurkan.
__ADS_1
"Berlian!"Merlin semakin histeris lalu mengangkat kepala putrinya itu dan ia letakkan di pangkuannya.
"Bangunan nak! apa yang kau lakukan! kenapa kau bisa seperti ini, bangunlah cepet bangun."
Berlian sudah tidak sadarkan diri darah semakin mengalir deras di pergelangan tangan yang ia sayat.
"Kenapa kau malah diam di situ! Cepat panggil Ambulan."
"Baik nyonya,"satpam itu segera berlalu dan menelpon Ambulan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Keesokan harinya.
Berlian masih berada di ruangan khusus yang ada di Rumah sakit.
Ia masih tidak sadarkan diri pasca apa yang ia lakukan semalam.
Merlin tengah menggenggam erat tangan putrinya itu sambil terus menangis meminta Berlian untuk membuka matanya.
Sementara Herman,
Ia hanya berdiri di belakang istrinya dengan mata yang berkaca-kaca ia sangat sedih melihat Merlin terbaring seperti itu.
Nyaris saja nyawa Berlian tak tertolong untung saja Merlin segera membawa Berlian ke Rumah sakit hingga Berlian segera di tangani dan tidak terlalu banyak kehabisan darah. Tapi meskipun begitu, Berlian masih Kritis.
"Ini semua gara-gara putrimu pah!"kata Merlin di sela-sela kesedihannya.
"Kenapa kau selalu menyalahkan Tiara, ini semuanya salah Arkan."
"Jika saja Tiara tidak hadir di tengah-tengah hubungan Berlian dan Arkan pasti putri kita tidak akan seperti ini."
❤️❤️❤️❤️❤️
Berita percobaan bunuh diri Berlian sampai di telinga Tiara, Arkan dan Bu Lastri.
Mereka sangat terkejut dengan aksi nekad gadis itu.
"Apa dia sudah tidak waras!"kata Arkan. Yang saat ini tengah berada di meja makan.
Baru beberapa detik yang lalu, Ken menyampaikan kabar buruk itu.
Selain mendapatkan kabar dari Ken.
Ternyata Tiara mendapatkan kabar juga dari Herman yang mengatakan jika kondisi Berlian saat ini tengah kritis.
Dia mengirim pesan teks pada Tiara.
Herman menjelaskan jika Berlian melakukan semua itu karena ia frustasi setelah Arkan pergi meninggalkannya.
Herman meminta pada Tiara untuk menjenguk saudarinya itu.
Namun dengan cepat Tiara menghapus pesan teks yang dikirim oleh ayahnya itu, dia tidak mau peduli lagi apapun tentang Berlian dan keluarganya.
Karena Tiara sudah bertekad akan membuka lembaran baru di hidupnya dan melupakan semua tentang orang-orang yang menyakitinya di masa lalu.
Tapi.
Di saat Tiara ingin tak perduli dan menjauh dari keluarga ayahnya itu hatinya semakin tergerak dan merasa tidak tega, biar bagaimanapun juga Berlian adalah saudarinya. Ya... Tiara masih menganggap gadis itu saudari.
Saat ini Arkan dan Ken sudah berangkat ke kantor.
Dan hari ini juga Bu lastri beserta Intan kembali ke kampung halaman mereka.
Diantar oleh Tina.
"Aku ingin sekali ikut Ibu pulang,"kata Tiara yang bergelayut di lengan ibunya itu.
"Kau bisa pulang kapanpun kau mau, tapi ingat! sekarang kau sudah mempunyai suami, dan suamimu lah yang lebih kau utamakan. Jika Arkan sudah tidak sibuk kau pulanglah bersama Arkan."
Tiara mengangguk dan membiarkan ibunya itu pulang bersama Intan.
Tapi sebelum Bu Lastri benar-benar pergi ia mengatakan sesuatu pada Tiara.
"Sayang, biar bagaimanapun juga Berlian adalah saudarimu, doakan dia agar dalam keadaan baik-baik saja."
"Iya Bu."
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️
Selepas kepulangan Bu Lastri dan kepergian Arkan menuju kantornya.
Tiara masuk ke dalam kamar.
Pikirannya berkelana ke mana-mana termasuk pada Berlian.
Tiara memikirkan keadaan saudarinya itu ia teringat dengan pesan Herman yang mengatakan jika Berlian saat ini dalam kondisi kritis
Dan seperti apa yang di katakan ibunya, Tiara memanjatkan doa untuk kesembuhan Berlian.
Tok!
Tok!
"Non! Non Tiara!"
Suara bi Imah terdengar jelas dari balik pintu kamar Tiara.
Ia bergegas membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Bi?"
"Nona, ada tuan Herman di bawah dan beliau ingin bertemu dengan anda."
"Apa!"
Tentu saja itu sangat membuat Tiara terkejut.
Apa yang membawa pria itu datang menemuinya, bukankah putri kesayangannya tengah terbaring di Rumah sakit! lalu untuk apa dia datang.
Tiara terdiam sejenak.
"Bagaimana Non! Apa nanti tidak mau menemuinya? Jika Nona Tiara keberatan untuk menemui tuan Herman. Bibi akan memintanya pergi dari Rumah ini."
"Aku akan menemuinya."kata Tiara.
"Baik non."
Tiara menutup pintu kamarnya dan turun melewati anak tangga dengan diikuti oleh Bi Imah di belakang.
Setelah sampai di ruangan depan Tiara tidak melihat ada Herman di sana dan ternyata pria itu masih berada di luar Rumah.
Itu karena Bi Imah tidak cukup berani mengijinkan pria itu masuk, kedalam Rumah tanpa ijin tuan dan nonanya.
"Untuk apa anda datang kemarin?"tanya Tiara ketika sampai di teras berhadapan dengan Herman.
Terlihat sekali dari raut wajah Herman jika pria itu tengah bersedih mungkin saja ia semalaman tidak tidur dan menangis sehingga membuat wajah dan matanya sembab seperti itu.
Tentu saja dia akan menangis dan bersedih karena peristiwa itu menimpa putri kesayangannya. Coba kalau kejadian itu menimpa padaku apa dia akan terlihat sedih seperti ini! Batin Tiara.
"Tiara, tolong beri Ayah waktu 10 menit untuk bicara dengan."
Meskipun Tiara kesal tapi ia tidak bisa menolak, Tiara ingin tahu apa yang ingin dibicarakan oleh ayahnya itu.
Tanpa mempersilakan pria itu masuk ke dalam.
dan tanpa berbasa-basi lagi, Tiara menanyakan apa maksud kedatangan pria itu menemui.
"Katakan apa yang membawa anda datang ke sini?"
"Tiara, Berlian kritis di Rumah sakit karena ia mencoba melakukan tindakan bunuh diri."
"kau sudah mengatakan itu padaku lewat pesan teks jadi kau tidak perlu mengulanginya lagi bahkan sampai datang kemari hanya untuk menyampaikan itu karena aku sudah tahu."
"Lalu, kenapa kau tidak merespon pesan dari ayahmu ini? kau tahu jika saudarimu tengah terbaring lemah di rumah sakit."
"Bukankah itu salahnya sendiri! Lalu apa urusannya denganku! apa kau ingin menyalahkan ku lagi, dengan apa yang di lakukan anakmu itu?"
🍂❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🍂
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏🤗
Mohon dukungannya ya 🙏🤗
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya 🤗🤗
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️