Suami Antagonis

Suami Antagonis
BAB 87.Melawan Merlin


__ADS_3

Merlin dan Herman bergegas keluar Rumah untuk melihat siapa yang berani berteriak-teriak di depan Rumahnya.


"Kalian! Untuk apa kalian datang ke Rumah saya, dengan membuat keributan seperti ini apa kalian tidak punya malu!"maki Merlin kepada tiga orang tamunya.


Arkan mendengus kesal, ingin rasanya ia menyumpal mulut wanita itu dengan sepatunya, tapi mengingat betapa mahalnya sepatu yang ia pakai membuat Arkan mengurungkan niatnya itu.


"Saya ingin menjemput Intan,"kata Tiara mengutarakan maksudnya datang ke Rumah wanita itu.


"Apa! Menjemput Intan, haa haha!"Merlin tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan dari Tiara.


"Kenapa kau malah tertawa seperti itu?"tanya Tiara tak suka.


"Sepertinya dia sudah gila!"sambung Arkan.


"Kemarin ibumu yang datang ke sini memaksa agar Intan pulang bersamanya, tapi apa Ibumu ini tidak bicara padamu kalau Intan tidak mau ikut bersama kalian karena dia lebih memilih tinggal bersama kami di sini."jelas Merlin.


"Aku tidak percaya."


"Itu benar Tiara, Intan memang tidak ingin ikut dan tinggal bersama kalian karena Intan lebih memilih tinggal bersama kami di sini, jadi lebih baik kalian pulanglah dan jangan pernah datang ke sini lagi dan berharap untuk membawa Intan kembali bersama kalian,"sahut Herman.


"Si Tua bangka ini, selalu saja bikin aku kesal,"umpat Arkan yang ia tunjukkan pada Herman.


"Dasar kau tidak punya sopan santun bicara seperti itu pada orang yang lebih tua!"kesal Herman, pria itu memang sudah sangat kesal pada Arkan semenjak kejadian beberapa waktu lalu ketika ia dihajar habis-habisan oleh menantunya itu.


"Sudahlah Herman, Merlin, kalian tidak perlu banyak bicara dan menghalangi kami seperti ini. Lebih baik cepat serahkan Intan kepada kami dan setelah itu kami tidak akan pernah datang atau menginjakkan kaki lagi di Rumahmu ini karena kami pun tidak Sudi menginjakkan kaki di Rumahmu ini,"kata Lastri yang sudah tidak tahan dengan sikap angkuh Herman dan Merlin.


"Sudah kubilang Mbak jika Intan yang tidak mau ikut kalian pulang bahkan sekarang pun dia tidak mau menemui kalian,"kata Herman.


"Kalau begitu aku ingin bertemu dengan Intan aku ingin bicara dengannya apa benar dia tidak mau ikut pulang bersama kami atau kalian yang memaksa dia agar tinggal di sini,"kata Tiara.


"Tiara, Ayah sudah bilang jangan...!"


"Stop!"Tiara mengangkat tangannya menandakan agar pria itu berhenti bicara,"jangan pernah menyebutkan dirimu sebagai Ayah di depanku."


"Dasar anak durhaka!"sahut Merlin.


"Jaga mulutmu,"Arkan tak terima.


Merlin melengos kesal.


Dan karena tidak mau membuang-buang waktu Arkan masuk meskipun tidak diizinkan oleh sang pemilik Rumah.


"Jangan berani-berani kau menginjakkan kakimu di dalam rumahku Arkan!"teriak Merlin dengan suara lantangnya, namun Arkan tidak peduli ia tetap memaksa masuk ke dalam sana diikuti dengan Tiara dan lastri di belakangnya.


Dengan cepat Merlin mencekal tangan Lastri.


"Sekali kau menginjakkan kakimu di Rumahku, aku tidak akan segan-segan untuk melukai anakmu yang ada di sini,"ancam Merlin.


Namun ancamannya itu terhenti ketika Tiara menepis kuat tangannya dan mendorong wanita itu.


"Sekali lagi kau menyentuh dan mengancam Ibuku aku tidak akan segan-segan melukaimu!"


"Kau mengancam ku?"


"Kenapa tidak! kau bisa mengancam Ibuku kenapa aku tidak bisa mengancam mu!"

__ADS_1


"Kau semakin berani padaku Tiara, apa karena sekarang kau adalah istri Arkan, jadi kau semakin berani padaku? kau tidak tahu siapa aku?"


"Tentu saja aku tahu siapa dirimu, Merlina, wanita sosialita yang sangat terkenal dan tersohor yang sudah merebut suami dari Ibuku."


"Jaga ucapanmu! Siapa yang merebut suami Ibumu, Ibumu saja yang tak pandai menjaga suami hingga suaminya bisa beralih kepada wanita lain yang lebih cantik darinya."


Tiara mendengus kesal.


"Bukan Ibuku yang tak pandai menjaga suaminya, tapi kaulah yang tak pandai dan tak mampu mencari lelaki single lainnya hingga merebut suami orang dengan cara apapun. Kasihan sekali, walaupun kau terkenal, kaya raya, glamour dan tersohor, tapi kau tidak bisa mendapatkan laki-laki single yang tak beristri, apa kau tidak laku di kalangan lelaki singgel? hingga membuatmu mencari sisa wanita lain."


"Kurang ajar!"Merlin mengangkat tangannya dan ia layangkan tepat di wajah Tiara.


Tapi dengan cepat Tiara menahan tangan yang hampir menyentuh wajahnya itu.


"Kau ingin bermain kekerasan nyonya Merlin! Tentu saja aku akan menyambutnya dengan senang hati,"kata Tiara lalu mendorong kuat wanita itu sampai tersungkur di lantai.


Merlin mengaduh kesakitan dan itu memancing Herman mendekatinya.


"Tiara apa yang kau lakukan!"bentak Herman yang ingin segera menghampiri Tiara.


Namun secepat kilat Arkan menahan pria itu.


"Sudahlah Tuan Herman, anda jangan ikut campur urusan wanita biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri,"kata Arkan yang saat itu sudah tahu jika Tiara pasti bisa melawan Merlin tanpa bantuannya.


"Kurang ajar kau Arkan!"


"Kenapa anda jadi marah padaku?"


Herman sudah benar-benar tidak tahan amarahnya sudah memuncak dengan kelakuan Arkan, di tambah lagi ia memang menyimpan dendam pada lelaki itu.


Dia berteriak ke seluruh ruangan sambil memanggil nama Gadis kecil itu.


"Intan!'


"Intan!"


"Intan! Di mana kamu nak ayo kita pulang kakakmu sudah kembali."


Namun, bukannya Intan yang keluar.


malah Berlian yang keluar dari Kamarnya karena mendengar suara keributan dan yang membuat ia keluar sebenarnya adalah, suara Arkan, gadis itu mendengar suara Arkan yang ada di dalam Rumahnya, dan untuk memastikan Berlian keluar dari Kamarnya.


Wajahnya berbinar ketika melihat Arkan benar-benar ada di Rumahnya.


Berlian yang saat itu memang sedang kehilangan akal, karena pikirannya yang selalu dipenuhi dengan Arkan dan Arkan menjadi bahagia ketika melihat lelaki itu ada di hadapannya saat ini.


"Arkan!"panggil Berlian dan dia segera berlari menghambur dan langsung memeluk Arkan.


"Aku sangat merindukanmu Ar, aku tahu kau pasti akan datang ke sini untuk menemuiku kan? aku tahu kau merindukanku kan? oleh sebab itu kau datang ke sini untukku kan! Aku merindukanmu Ar."


Semua menatap Berlian.


Terutama Tiara, ia sangat kesal karena wanita itu sudah berani memeluk suaminya, namun ia tetap membiarkan itu.


Merlin tersenyum meledek, setelah ia bangun dari lantai karena tersungkur akibat dorongan dari Tiara.

__ADS_1


"Tiara, kau janganlah cemburu dengan pemandangan seperti itu, karena pada kenyataannya adalah. Arkan itu memang kekasih Berlian sejak dulu."kata Merlin mencoba memanas-manasi wanita yang ada di hadapannya.


Tiara tersenyum sama sepertinya. Senyum meledek.


"Ternyata benar kata pepatah. Jika buah jatuh memang tidak akan jauh dari pohonnya,"sahut Tiara.


Merlin melototi Tiara, dia sangat paham maksud dari ucapan Tiara yang sangat jelas menyindirnya.


Sementara Arkan, dia masih berusaha melepaskan pelukan Berlian, namun wanita itu semakin kuat merangkul Arkan.


"Lepaskan! Berlian, apa kau tidak tau malu bertingkah seperti ini!"kesal Arkan, yang dengan sekuat tenaga melepaskan rengkuhan Berlian darinya.


Berlian mulai berkaca-kaca.


"Kenapa Ar? kenapa kau terus menolakku, bukankah dulu kau sangat mencintaiku?"


"Berlian cukup!" kali ini Herman yang membentak gadis itu,"kau jangan pernah memohon pada lelaki brengsek seperti dia."


"Papah! kenapa kau malah membentak Berlian?"Merlin tentu tidak terima, jika putri kesayangannya di bentak seperti itu.


"Biar dia sadar mah, kalau dia tidak harus memohon pada lelaki seperti Arkan."


Tanpa mereka sadari. Tiara dan Bu Lastri sudah menemukan Intan yang ada di kamarnya, tapi pintu kamar itu di kunci hingga mereka tidak bisa membukanya.


Bahkan Intan pun berteriak dari dalam minta di bukakan pintu kamarnya.


"Tolong bantu aku membuka pintu kamar Intan, dia di kunci di sana."Kata Tiara yang menghampiri Arkan. sedangkan Merlin masih terlibat Cekcok dengan suaminya perkara Herman yang membentak putri kesayangannya.


Tiara kembali melihat adu mulut antara kedua orang itu.


Tapi Arkan segera menariknya.


"Sudah biarkan saja mereka berperang, kita bawa Intan sekarang."


"Arkan tunggu!"cegah Berlian yang ingin menahan Arkan.


Tapi Tiara menghalanginya, lalu ia melirik Arkan.


"Kau pergilah, tolong buka pintu kamar Intan, biara aku yang menahannya."


Arkan mengangguk dan berlalu dari sana.


Berlian menatap panas Tiara


begitupun sebaliknya, Tiara menatap panas Saudarinya itu.


πŸ‚β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ‚


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini πŸ™πŸ€—


Mohon dukungannya ya πŸ™


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya πŸ€—πŸ€—


Love banyak-banyak untuk semuanya ❀️❀️❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2