
"Lalu kenapa selama beberapa bulan ini kau menghilang, bahkan Tiara sampai mencarimu kemana-mana?"
Pertanyaan Arkan membuat Wina bingung, ia tidak tahu harus menjawab apa pada Arkan, sekilas Wina melirik pada Berlian, tapi gadis itu langsung membuang wajahnya.
"Kenapa kau malah diam!"bentak Arkan.
"Maaf tuan, saya....!"
"Cukup!"potong Arkan,"kau terlalu banyak mengucapkan maaf, sepertinya Ken lebih cocok untuk mengintrogasimu."
"Apa!"kejut Berlian,"kenapa harus Ken, kita tidak perlu melibatkan Ken, semua sudah jelas kan Ar?"
"Tentu saja belum, aku Ingin Lebih jelas lagi, dan aku yakin Ken pasti bisa memperjelas semuanya,"kata Arkan dan Ia pun segera menghubungi Ken, untuk datang ke sana.
"Tuan Tolong jangan lakukan apapun pada saya, saya sudah memberi keterangan dengan jelas jadi tolong lepaskan saya,"Wina mengatupkan kedua tangannya ia benar benar takut jika lelaki itu melakukan hal yang kejam padanya.
"Hahaha,"Arkan tertawa terbahak-bahak,"membebaskanmu! Memangnya kau pikir semudah itu membebaskan orang yang sudah berani membuat masalah dengan saya, bahkan untuk menyerahkanmu pada polisi pun itu rasa tidak cukup bagi saya."tegas Arkan, dengan mata tajamnya menatap Wina, yang semakin takut sampai membuat Gadis itu gemetar.
"Ar, apa ini tidak berlebihan, lebih baik kita lepaskan saja dia karena yang harus bertanggung jawab itu Tiara dan mamamu yang sudah menyuruhnya,"bela Berlian untuk Wina.
"Kau tenang saja Ber, aku pasti akan menghukum semua yang terlibat dengan kejadian malam itu, bahkan Mamahku sendiri tidak akan bisa lepas dari hukuman ku, jika terbukti bersalah,"tegas Arkan.
Beberapa menit berlalu, Ken datang dan akan segera membawa Wina entah kemana.
"Tuan, tolong jangan bawa saya tuan, saya sudah berkata dengan jujur, Nona Berlian tolong saya! Anda berjanji akan membebaskan saya jika saya sudah mengatakannya pada tuan Arkan," Wina histeris, ketika Ken sudah menarik lengannya dan memaksa untuk masuk kedalam mobil.
Berlian gelisah, ia mungkin kasihan pada Wina, atau ada sebab lain.
"Ar, apa harus seperti ini?"
"Tentu saja harus seperti ini, karna dia sudah membuat aku malu atas kejadian malam itu."
Ken benar-benar membawa Wina.
Sedangkan Arkan masih berada di Rumah Berlian.
Setelah sedikit tenang, Berlian mulai mendekati Arkan, ia tidak mau lagi membahas soal Wina, karna itu akan membuat Arkan kesal jika terus di tentang.
"Ar, apa kau Lelah? Aku buatkan minum untukmu ya?" Tawar Berlian.
"Tidak perlu Ber, aku harus segera pulang ini sudah malam."
"Plis Ar, sebentar saja,"Berlian selalu seperti ini memasang wajah imut dan mengiba, tentu membuat Arkan tidak tega.
"Baiklah, hanya sebentar saja."
Berlian tersenyum puas.
"Tunggu sebentar ya,"ia segera berlalu ke dapur membuatkan minum untuk Arkan.
πππππ
Di mobil.
__ADS_1
"Tuan, tolong lepaskan saya, saya benar-benar tidak tau apa-apa lagi selain keterangan yang saya berikan pada tuan Arkan dan Nona Berlian." Wina masih saja terus meminta dan memohon kepada Ken, agar bersedia melepaskannya.
"Kau jangan takut seperti itu, saya tidak akan melakukan apapun pada mu, asal kau bisa di ajak kerjasama."
"Kerja sama?"
"Iya, Kerja sama, Karna saya sangat yakin jika yang kau katakan pada tuan Arkan tidak benar adanya, begitupun tuan Arkan, dia sampai menyuruh saya untuk mengintrogasimu karena ia tidak percaya dengan keterangan mu tadi."
Wajah Wina seketika pucat.
Astaga! jadi sebenarnya tuan Arkan tidak percaya, lalu apa yang harus aku lakukan? kabur! ya, aku harus bisa kabur dari lelaki ini.
"Percuma Nona, anda tidak akan bisa kabur!" Kata Ken, yang seperti mendengar suara hati Wina.
Apa dia mendengar suara hatiku!
ππππ
Kembali pada Arkan dan Berlian.
Arkan meminum minuman yang di sajikan Berlian.
Dan Berlarian mendekatkan diri pada Arkan yang tengah duduk di sofa.
"Ar!" Kau tau aku sangat merindukan momen seperti ini, tapi setelah kau menikah, jangankan untuk seperti ini bertemu dengan mu saja sangat sulit bagiku,"Berlian menyandarkan kepalanya di lengan Arkan,"Ar, pada malam itu kejutan apa yang ingin kau berikan padaku? Sampai kau memesan kamar Hotel untuk kita bertemu?"
Uhuk.. Uhuk.. Arkan terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Berlian.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya teringat jika masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,"Arkan segera bangun dari duduknya.
"Ar!" Berlian menarik tangan Arkan, sampai membuat lelaki itu kembali duduk di sofa.
"Ar, kau belum menjawab pertanyaan ku, kejutan apa yang akan kau berikan padaku di malam itu?"
Wajah Arkan memucat, karna sebenarnya malam itu ia berniat memberikan seluruh jiwa dan raganya pada Berlian, dan mereka akan menghabiskan malam bersama dan itu untuk yang pertama kalinya bagi Arkan, tapi untuk saat ini Arkan sudah tidak berniat lagi untuk melakukan itu, bahkan ia sangat ingin menghindarinya.
"Tidak Ber, aku hanya ingin memberi kejutan seperti biasanya,"kilah Arkan.
"Benarkah?"
"Tentu saja!"
"Kau tidak sedang membohongiku kan?" Berlian mulia mengaktifkan tangannya, ia mengangkat tangan putih mulus itu untuk meraba-raba kancing kemeja Arkan.
Semakin Aktif dan lebih aktif lagi, tangan Berlian sudah mulai membuka kancing kemeja Arkan, dengan senyum manis, mata sayu dan indah, Berlian mulai memainkan jari-jarinya di dada Arkan yang masih terbungkus kemeja karna Berlian belum sepenuhnya membuka kancing itu, tentu lelaki manapun tidak akan menolak jika di suguhi wanita cantik, dan keaktifan tangan mulus itu.
Perlahan tapi pasti dan sepertinya Arkan pun sudah mulai terbawa suasana.
Bukan hanya meraba-raba tapi,
Berlian mendekatkan wajahnya pada Arkan dan dalam hitungan detik wajah cantik itu semakin mendekat di wajah Arkan, dan hanya berjarak beberapa Centimeter saja.
Bukan hanya wajah, tapi Berlian lebih mendekatkan bibirnya pada bibir Arkan, tentu kalian sudah tau apa yang Akan Berlian lakukan.
__ADS_1
Gadis itu memejamkan matanya ketika bibir mereka hampir menyapa.
Tapi Arkan seperti melihat Tiara di ruangan itu tengah berdiri memperhatikan mereka.
Reflek! lelaki itu mendorong kuat badan Berlian yang sudah hampiri mendaratkan bibirnya.
"Aawwww.... Ar, apa yang kau lakukan?" Pekik Berlian, yang menahan sakit karna punggungnya membentur sisi sofa.
"Maaf Ber, aku tidak senaja."
"Kenapa kau mendorong ku?"
"Aku bilang aku tidak senaja."
Arkan Segera bangun dari duduknya dan ingin melangkah kakinya.
"Ar, kau mau kemana?" Berlian kembali mencegah lelaki itu,"apa kau gugup? Aku tau ini pertama kalinya bagimu, dan aku akan mengajarimu." Kata Berlian, sambil kembali mengusap-usap dada Arkan.
"Maaf Ber aku tidak bisa,"Arkan melepaskan tangan Berlian yang terus menggerayangi nya.
"Aku akan pelan-pelan Ar, kau sudah sering menolak ku seperti ini, dengan alasan kau belum pernah melakukannya, dan sekarang tolonglah jangan tolak akau lagi." Pinta Berlian.
"Aku bilang tidak bisa Ber,"Arkan menepis tangan Berlian dan menjauhkan gadis cantik itu dari tubuhnya,"aku harus segera pulang."
"Ar!" Teriak Berlian yang melihat Arkan mulai menjauh darinya.
Arkan berbalik.
"Beristirahat Ber, mungkin kau terlalu leleh," kata Arkan dan langsung keluar dari Rumah Berlian.
Ini memang bukan pertama kalinya kau menolak ku Ar, tapi kau tidak pernah menolak ciuman ku, kau berubah! dan ini pasti karna Tiara, wanita itu memang selalu menjadi benalu di hidupku baik dulu ataupun sekarang.
πππ
Arkan sudah ada di dalam Mobilnya, dan saat ini ia tengah menepi setelah tancap gas dari Rumah Berlian.
ia tengah mengatur nafasnya.
"Astaga! hampir saja, tapi kenapa tiba-tiba aku melihat Tiara."Gumam Arkan.
Setelah tenang ia kembali melajukan Mobilnya.
Arkan teringat dengan keterangan yang diberikan Wina.
"Apa mungkin Tiara dan mamah yang melakukan itu, aku harus menemui Tiara, dan bertanya langsung padanya, jika dia tidak mau mengaku aku akan mengancamnya."
ππππππππππ
Terimakasih sudah mau membaca cerita ini ππ€.
Mohon dukungannya ya ππ.
Se
__ADS_1