Suami Antagonis

Suami Antagonis
Bab 43. Dia Datang Untukku!


__ADS_3

"Tiara kau kenapa?"tanya Bulan yang persis berada di samping Tiara,"Apa kau menangis?"Bulan sedikit panik karena melihat wajah Tiara yang memerah dan di ujung matanya basah.


"Tidak! aku baik-baik saja"sahut Tiara namun dengan suara yang sangat bergetar.


"Apa kau yakin! tapi kenapa mata mu merah kau seperti sedang menangis?"


"Tiba-tiba aku merasa tidak enak badan dan mata ku sakit, tapi aku tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir."


"Tunggulah sebentar, acara puncak mungkin sebentar lagi berakhir dan kau bisa beristirahat."


Tiara mengangguk.


Di ujung sana


Arkan yang sejak tadi memang tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun pada Tiara, menyadari jika terjadi sesuatu pada Tiara.


"Ken, dia kenapa?"


"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Nona Tiara tuan."


"Apa karna mereka?"


" Nona Berlian belum melakukan apapun, anda saja masih di sini, mungkin Nona Tiara hanya merasa tidak nyaman."


Arkan berpikir sejenak.


"Kau salah Ken, Berlian tentu sudah melakukan sesuatu."


Lalu pandangannya beralih pada Herman.


Ya!


Tiara tiba-tiba menjadi gelisah, ketika Herman muncul di sana,


dan Arkan sangat yakin jika ada sesuatu di antara mereka.


"Ken!"


"Iya tuan?"


"Cepat kau cari tahu latar belakang Tiara dan Om Herman."


Ken, sedikit terkejut!


Dan bingung dengan perintah Arkan, tapi ia cepat paham dan segera undur diri untuk menghubungi seseorang yang bisa diandalkan untuk melakukan tugas ini.


"Tiara kau yakin tidak apa-apa?"tanya Bulan yang masih merasa khawatir pada sahabatnya.


"Aku tidak apa-apa kau tenang saja."


Sedangkan di depan sana!


Berlian, Merlin dan Herman masih terus bercengkrama.


Pria itu masih belum menyadari jika putrinya yang 10 tahun lalu ia tinggalkan begitu saja kini tengah menatapnya dengan getir.


Tiara mencoba untuk tetap kuat menyaksikan kebahagiaan keluarga kecil itu.


Ia sekuat tenaga menahan air matanya yang bodoh! karena rela tumpah begitu saja untuk Pria kejam seperti Herman.


Sedangkan berlian,


ia tersenyum puas! inilah kejutan pertama yang ia lemparkan bagai Bom atom tepat di jantung Tiara.


Berlian sudah mengetahui dari awal jika ia dan Tiara memiliki Ayah yang sama.


Dan Berlian sangat membenci Tiara setelah mengetahui kenyataan jika Tiara juga Putri dari Herman.


Berlian juga membenci Tiara dan ibunya.


Karena Ibu Tiara lah mamah Merlin selalu disebut wanita perebut suami orang,


dan itu yang membuat Tri sangat membenci Merlin hingga menentang hubungan asmara Arkan dan dirinya.


Dan saat ini.


Berlian Tengah menunjukkan pada Tiara jika ialah pemenangnya, ia akan memiliki semua yang Tiara miliki


"Hahaha... Ini baru kejutan awal tapi kau sudah rapuh seperti itu, simpan air matamu karna masih ada satu kejutan besar lagi untukmu."


Arkan sangat yakin jika Tiara tidak baik-baik saja, bahkan ia melihat Tiara mengusap ujung matanya.


"Apa dia menangis!"


Arkan dengan cepat bangun dari kursinya berniat untuk menghampiri Tiara.


"Tuan Anda mau ke mana?"


"Tentu saja ke sana memang ya ke mana lagi! Kau tidak lihat Tiara menangis di sana."


"Tunggu sebentar lagi tuan, sekarang belum saatnya anda muncul."


"Tapi Ken!"


"Anda jangan khawatir, Nona Tiara wanita kuat dia pasti bisa menghadapi itu sementara waktu."

__ADS_1


Benar saja.


Tiara kuat dan masih bisa menyaksikan keluarga bahagia yang sudah menghancurkan hidupnya selama 10 tahun ini.


Berlian kesal karena Tiara masih bertahan,


hingga ia menyuruh MC untuk mengajukan satu pertanyaan pada Herman


Pertanyaannya adalah!


Herman memiliki berapa putri?


Dan dengan lantang Pria itu menjawab.


"Putriku hanya Berlian, dan aku hanya memiliki satu orang putri."


Sebenarnya Tiara sudah tidak peduli dengan itu.


karena pada kenyataannya pun Tiara sudah menganggap Herman mati 10 tahun yang lalu


Namun tetap! hati kecil Tiara tetap tidak bisa membohongi perasaannya.


Jika ia sebenarnya terluka dan sakit hati, sekaligus sedih ketika ayahnya secara langsung tidak mengakui keberadaan anaknya yang lain.


Berlian sukses mengguncangkan Hati dan emosi Tiara.


Bahkan ini jauh lebih menyakitkan dari bayangan Tiara yang melihat Arkan bersanding dengan Berlian.


Tiara sudah tidak bisa menahan emosinya lagi,


bukan untuk memaki dan marah.


Tapi ia sudah tidak tahan dengan manusia munafik yang ada di hadapannya.


Tiara melangkahkan kakinya dan keluar dari barisan Timnya.


" Tunggu! kau tidak boleh meninggalkan barisan di saat acara puncak masih berlangsung," cegah Berlian yang dengan suara lantang.


ia sengaja ingin membuat Tiara malu di depan ratusan orang.


Tiara menghentikan langkah kakinya untuk sesaat dan menatap Berlian.


" Tiara kembalilah ke barisanmu," bisik pak Gandi tapi dengan nada yang sangat kesal.


"Pak, Tiara sepertinya kurang sehat, tolong biarkan Tiara pergi untuk beristirahat," Bulan ikut berbicara membela Tiara.


" Tidak bisa, cepat kembali ke barisanmu Jangan membuat kita malu."


Jay,


dari kejauhan melihat jika Tiara sedang dalam masalah, ternyata benar!


.


Untuk saat ini ia tidak bisa membela Tiara.


Tiara tidak memperdulikan omongan Pak Gandi maupun Berlian,


Ia tetap melangkah keluar dari barisan dan berniat meninggalkan Aula itu


" TIARA! "


Suara dari Berlian yang begitu keras membuat semua orang menatap Tiara.


Sungguh gadis itu akan benar-benar dipermalukan saudarinya sendiri.


" Apa kau tidak mendengar kata- kataku, tetap di barisanmu dan jangan pernah meninggalkan Aula ini,"tegas Berlian.


" Saya permisi ke belakang sebentar Nona Berlian,"Akhirnya Tiara membuka suara.


" Apa kau tidak mendengar kata-kata anakku? Kau tahu aku pemilik pesta di sini kan! dan kau hanya pelayan di sini, apa itu tidak merasa membuatmu Terhormat dengan aku yang mengijinkanmu masuk ke Aula ini!" Kata Merlin begitu menusuk ke hati.


Gema Riuh!


Dan bisik-bisik Tetangga, kini mulai terdengar dari para bibir merah puluhan wanita di sana.


Mereka mencemooh dan mengolok-olokkan Tiara sebagai pelayan yang tidak tahu malu dan tidak mempunyai sopan santun.


Arkan dan Jay sudah mengepalkan tangannya dengan kuat.


Bahkan darah di dalam tubuh Arkan sudah sangat panas dan mendidih, tapi! meskipun sudah mendidih tidak ada yang berniat untuk memasukkan Mie rebus ke dalamnya.


"Sabar tuan," bisik Ken.


Dan seperti apapun Mereka mencemooh Tiara, Gadis itu tetap melangkah sampai membuat Berlian benar-benar murka.


" PELAYAN TIARA. Siapa yang mengizinkanmu untuk meninggalkan Aula ini?"


Jay sudah melepaskan Apronnya,


tentu ia tidak terima jika sang Pujaan Hati dipermalukan seperti itu.


DAN.


"Dia tidak butuh izin dari siapapun untuk masuk dan keluar dari Aula ini!"

__ADS_1


Suara yang menggema!


Dari seorang lelaki memenuhi Aula.


Lelaki itu keluar dari balik kerumunan manusia,


yang sedang menonton pertunjukan, yang tak layak tonton.


Dan lelaki itu adalah Arkan!


Jay,


yang sudah maju beberapa langkah kini kembali memundurkannya.


Ya!


Dia kalah cepat dengan lelaki yang merupakan sahabatnya itu.


Arkan berjalan dengan penuh pesona.


Meskipun wajahnya sangat merah karena menahan marah di dalam dadanya.


Semua orang tercengang.


Terbengong.


Dan, Terkesima melihat kemunculan Arkan yang dramatis dan tiba-tiba.


Apalagi Berlian.


Gadis itu serasa tak mempunyai tulang karena lemas di sekujur tubuhnya, tapi matanya terbuka selebar-lebarnya menyaksikan langkah Arkan yang mendekati Tiara.


Tiara menoleh dan ia pun terkejut dengan kedatangan Arkan.


"Arkan! dia datang! apa dia datang untuk ku?"


Arkan berdiri tepat di hadapan Tiara.


" Kau ini kenapa diam saja, Kenapa kau tidak melawan! naik ke sana dan terekam orang-orang itu, "bisik Arkan di telinga Tiara.


Karena Arkan menundukkan sedikit badannya dan mendekatkan wajahnya pada Tiara.


Membuat Berlian murka!


Tiara mengusap ujung matanya ia terharu karena Arkan datang, benar-benar untuknya.


"Dia datang untukku!"


Arkan meraih tangan Tiara dan membawa Gadis itu dalam pelukannya.


" Sudahlah! Jangan menangis, jika denganku kau galak sekali, tapi kenapa kau takut dengan orang-orang di sini," kata Arkan yang kembali berbisik.


"ARKAN! APA YANG KAU LAKUKAN! "teriak Berlian Menggema! sampai urat nadinya menonjol.


Arkan menguraikan Pelukannya, lalu ia berbalik menatap Berlian.


Ken dan Jay menatap serius!


Mereka ingin tahu, apa bisa Arkan bertindak tegas pada Berlian.


"Arkan Apa yang kau lakukan!" Berlian kembali mengulangi pertanyaannya, namu denger Volume yang sudah di turunkan.


"Apa kau tidak melihat! aku sedang memeluknya," sahut Arkan dengan santai lalu menarik pinggang Tiara agar lebih dekat dengannya.


Arkan membelai rambut Tiara, sambil berkata.


"Siapa tadi yang memaki dan mengatakan Tiara Pelayan?"


"Ken!" Panggil Arkan dengan suara nyaring.


"Siap Tuan! " Ken muncul dari kerumunan orang-orang.


"Catat semua nama orang-orang yang tadi berbisik mencemooh Tiara, terutama yang menyebutnya sebagai Pelayan dan berani menghentikan langkah kaki sampai membentak Istriku ini." kata Arkan sambil melirik Merlin.


DUAAAAR.....


Bagai letusan Gunung Berapi.


Hati Berlian hancur lebur ketika mendengar Arkan mengatakan dengan lantang dan mengakui jika Tiara adalah istrinya.


"Astaga! jadi dia istri Tuan Arkan kenapa aku sampai tidak mengenalinya."


"Matilah aku!"


"Habis sudah hidup kita jika seperti ini!"


"Aku harus segera pergi ke luar negeri atau ke hutan belantara untuk mengungsi sebelum Arkan menemukanku."


Suara hati saling bersahutan dari orang-orang yang Tengah memprediksi nasib mereka setelah mencemooh Tiara.


πŸ‚πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ‚πŸ‚


Terimakasih sudah mau membaca cerita ini πŸ™πŸ™


Mohon dukungannya ya πŸ™

__ADS_1


Tolong koreksi dan segera sampaikan pada Ntor jika ada kesalahan dalam tulisan ini, agar Ntor bisa segera memperbaikinya πŸ€—πŸ€—


Love banyak-banyak untuk semuanya ❀️❀️❀️


__ADS_2