
Akhirnya Arkan menemukan Tiara.
Tapi penemuannya itu berhasil mendidihkan darah di tubuhnya.
Iya mengepalkan tangan sambil menatap Tiara bersama Jay yang tengah berbincang ria dengan para tamu undangan di sana.
"Dia masih bisa tersenyum di sana! Tanpa memikirkan aku sedikitpun,"gumam Arkan yang tanpa melepaskan pandangannya dari Tiara.
Ketika Arkan hendak mendekati Tiara, tiba-tiba ada seseorang yang membagikan Topeng.
"Silakan tuan! Kenakan ini karena pesta Dansa akan segera dimulai,"ucap seorang wanita sambil menyerahkan topeng berwarna hitam keabu-abuan pada Arkan.
"Apa ini?"tanya Arkan bingung sambil menatap benda yang ada di tangannya.
"Di Pesta ini akan mengadakan Dansa Misteri, Di mana para peserta tidak mengetahui pasangan yang menjadi teman Dansanya, karena setiap peserta di haruskan menutup sebagian wajahnya dan tanpa mengeluarkan suara."
Arkan sebenarnya tidak tertarik dan ingin kembali menyerahkan topeng itu, tapi setelah Ia berpikir sejenak!
Dan menyingkirkan senyum licik,
Sepertinya ia memiliki ide cemerlang dengan benda yang ada di tangannya.
"Apa semuanya akan ikut?"tanya Arkan memastikan.
"Semua tamu diwajibkan menutup sebagian wajahnya, dan secara acak mereka akan mencari pasangan Dansa masing-masing, dengan cahaya lampu remang-remang dan tanpa mengulurkan Suara, hanya akan alunan musik saja di saat Dansa berlangsung, dan setelah Dansa usai, para peserta harus menebak siapa pasangan mereka tadi, dan bagi siapapun yang berhasil, Tuan Raymond akan memberikan hadiah yang fantastis pada pasangan Dansa malam ini."jelas wanita itu.
"Aku tentu, tidak tertarik dengan hadiah Fantastis itu, karena aku jauh lebih tertarik dengan Permainannya.".
"Baiklah saya akan mengikutinya, terima kasih!"sahut Arkan.
πππππππππ
Di tempat lain.
Tok.
Tok.
Tok.
"Ibu ada tamu yang datang,"seru Intan memanggil Bu Lastri yang ada di dapur.
"Iya nak bisa tolong buka pintunya sebentar, dan lihat siapa yang datang!"sahut Bu lastri yang masih repot di dapur.
"Baik bu!"
Intan yang kondisinya sudah semakin membaik, beranjak dari kursinya dan membuka pintu.
CKLEK.
"Maaf! Bapak siapa? Apa bapak ingin bertemu dengan ibu?"tanya Intan pada seorang pria yang menjadi tamunya hari ini.
Dan pria itu adalah Herman.
Dengan wajah yang sangat pucat berbalut mantel dan Syal tebal di tubuhnya, Herman nekat mendatangi Bu lastri untuk bertemu dengan Intan.
"Cukup lama Herman menatap wajah gadis kecil itu, sampai ia tak menghiraukan pertanyaan dari Intan."
"Rossa, putri ke dua kita juga ternyata sangat mirip dengan mu."
__ADS_1
Secara refleks, Herman mengangkat tangannya dan mengulur ingin menyentuh wajah Intan.
Tapi.
PLAK!
Lastri datang dan langsung menepis kuat tangan Herman.
"Jangan kurang ajar anda, berani mengulurkan tangan kotor anda untuk menyentuh putri saya!"kata Lastri dengan suara tertahan karena menahan geram, dan ingin memaki pria yang ada di hadapannya, tapi ia tahan karena ada Intan di sana.
"Ibu dia siapa?"tanya Intan.
"Dia hanya orang asing yang datang jika ada kemauannya saja,"kata Lastri.
"Orang asing!"
Dan Lastri pun segera menyuruh Intan untuk masuk ke dalam kamarnya.
Setelah memastikan Intan benar-benar masuk ke dalam kamarnya Lastri menutup rapat pintu.
Dan mulai bertanya pada Herman.
"Untuk apa kau datang ke sini?"
"Mbak!"
"Jangan pernah menyebut saya Mbak, karena saya tidak sudi mempunyai adik sepertimu."
Herman masih bisa mengontrol emosinya.
"Saya ingin bertemu dengan Intan,"ucapnya langsung.
"Bertemu Intan! Apa karena operasi membuat otakmu menjadi tidak berfungsi!"
"Cukup Mbak Lastri, Mbak Lastri tidak bisa melarang saya untuk menemui Intan karena dia putri saya."
"Putrimu! Sepertinya kau benar-benar sudah kehilangan sebagian otakmu, ingat Herman! 10 tahun yang lalu semenjak kau meninggalkan Rossa begitu saja, yang tengah mengandung Intan, dan di saat itulah intan dan Tiara bukan lagi putrimu,"tegas Lastri.
"Mbak tidak bisa memutuskan jika saya bukan lagi Ayah dari intan dan Tiara, karena biar bagaimanapun juga hubungan darah di antara kami begitu kental, jadi Tiara dan Intan tetaplah Putri saya sampai kapanpun."
"Apa tujuanmu datang ke sini?"
Akhirnya Lastri menanyakan itu, untuk menghindari perdebatan, karena dia tahu Herman datang ke sini pasti ada maksud tertentu.
"Sudah saya bilang Mbak, saya ingin bertemu dengan Intan."
"Tidak! Saya tahu pasti, jika ada maksud lain yang membawa kakimu ke sini, sekarang cepat katakan sebelum saya mengusirmu dari sini."
Herman menghela nafas, dan berkata.
"Di mana Tiara?"
Benar saja!
Ternyata tujuan Herman datang ke rumah Lastri bukan semata-mata untuk bertemu dengan Intan, tujuan yang sebenarnya adalah mengorek informasi keberadaan Tiara saat ini.
Lastri mendengus kesal, karena ia tahu Herman menanyakan Tiara bukan karena ia khawatir atau ingin tahu kabar Putri sulungnya itu.
Tapi ini semua pasti karena Merlin dan Berlian.
__ADS_1
"Apakah wanita licik itu yang menyuruhmu untuk menanyakan keberadaan Tiara?"
"Sudah mbak, Saya tidak ingin berdebat! Sekarang cepat katakan di mana Tiara, karena saya ayahnya berhak mengetahui Di mana keberadaan Tiara."
Karena malas meladeni Herman.
Lastri beranjak dan menutup pintu, tak memperdulikan pria itu.
Tapi tak disangka ternyata Herman tidak datang seorang diri.
Ia membawa beberapa orang dengan setelan baju hitam dan langsung membuka paksa kembali pintu rumah Lastri.
"Apa yang kalian lakukan!"pekik Lastri, yang tangannya dicekal oleh dua orang pria.
"Saya sudah bilang sama mbak, saya hanya ingin bertemu dengan Intan. Dan ingin bertanya soal keberadaan Tiara, tapi Mbak selalu berbelit-belit dan terpaksa saya melakukan ini."
"Kurang ajar kau Herman!"
Lastri tak bisa berbuat apa-apa karena dua pria bertubuh besar itu menahan tangannya.
Sedangkan Herman berjalan dengan santai mengetuk pintu kamar Intan.
Intan yang ketakutan mendengar keributan di luar enggan untuk membuka pintu kamarnya.
Dan itu memancing emosi Herman.
"Cepat dobrak pintunya! Dan bawa dia keluar,"titah Herman pada seorang pria yang berada di belakang.
"Baik Pak!"
BRAK!
Pintu berhasil dibuka dan menampilkan Intan yang tengah meringkuk di pojok lemari sambil menutup kedua telinganya, anak itu sungguh tengah ketakutan setengah mati.
"Ayo nak! Jangan takut, ikutlah bersama Om,"ucap pria itu membujuk Intan agar bersedia ikut dengannya tanpa harus memaksa.
"Tidak! Saya tidak mau,"intan menggeleng dan semakin memojokkan tubuhnya.
"Jangan buang-buang waktu paksa dia."kata Herman yang tengah berdiri di ambang pintu kamar Intan.
Dan secara paksa Pria itu mengendong Intan.
"Tidak mau, jangan bawa saya, saya mau di sini saja bersama ibu,"histeris Intan.
"Herman! hentikan!"teriak Lastri.
Namun seperti apapun Lastri dan Intan berteriak, dan memohon untuk di lepaskan.
Herman tetep membawa Intan secara paksa.
Entah apa tujuan Herman, yang membawa Intan.
ππππππππππππ
Terimakasih sudah mau membaca cerita ini ππ€
Mohon dukungannya ya ππ€
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya π€
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ