
Dengan berat hati dan karena terpaksa Lastri pun membiarkan Intan berada di Rumah Herman dan Merlin, tapi ia berjanji akan segera membawa anak itu keluar dari Rumah mereka.
"Tenanglah Mbak, untuk saat ini kita mengalah dulu pada mereka, tapi aku berjanji akan segera mengambil kembali Intan dari mereka."Kata Tri.
Dan mereka pun segera kembali ke Rumah.
🍂❤️❤️❤️❤️❤️❤️🍂
Keesokan harinya.
Tiara tengah menatap dirinya di depan cermin, ia sangat gugup, dangan hati yang berdebar.
Karena hari ini adalah hari penentuan.
Final dari kompetisi yang ia ikuti.
Tiara meyakinkan diri dengan sepenuh hati bahwa ia mampu melewati babak final ini, meskipun ia sangat gugup tapi ia berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan hasil terbaik di kompetisi itu.
Walaupun nanti ia tidak dinobatkan sebagai juara pertama, tapi ia sudah sangat bersyukur bisa masuk ke final dari ratusan peserta yang lainnya.
"Kau kenapa! Apa kau merasa gugup?"kata Arkan yang berdiri tepat di belakang Tiara, ia menyadari dari raut wajah istrinya, jika Tiara sangat gugup dan itu terlihat sekali dibalik cermin.
"Sedikit!"
Arkan membalik tubuh Tiara untuk menghadap dirinya lalu ia merapikan rambut istrinya itu.
"Jangan gugup! Kaulah yang terbaik diantara mereka semua, aku yakin kau pasti bisa melewati dan melakukan yang terbaik."
Tiara mengangguk.
"Terimakasih!"lalu ia langsung memeluk Arkan.
"Jika di saat kau berkompetisi dan membutuhkan ketenangan agar tidak gugup aku siap datang untuk memelukmu."
"Apa itu bisa di lakukan!".
Tiara semakin mengeratkan pelukannya, Arkan benar dia merasa tenang jika dipeluk dengannya seperti ini.
Perlahan, kegugupan Tiara memudar.
30 menit lagi ia akan berangkat, tapi Tiara meminta pada Arkan Jika ia ingin menghubungi Ibunya.
Arkan tengah mencari alasan agar Tiara tidak jadi menghubungi Ibunya, Arkan sudah mendapatkan kabar tentang permasalahan yang ada di Rumah.
Tapi Lastri dan Tri meminta Arkan untuk tidak mengatakan apapun pada Tiara sebelum ia melewati final kompetisinya.
"Sayang, di mana ponselku?"tanya Tiara yang melirik meja tidak mendapati ponselnya di sana.
"Itu..! Tadi ponselmu aku pinjam, dan aku lupa mengisi daya lalu ponselmu mati kehabisan baterai."kata Arkan.
Arkan sengaja melakukan itu, agar Tiara tidak menghubungi Ibunya, bukannya tidak boleh! atau, bisa saja Lastri berbohong pada istrinya itu, jika di sana akan baik-baik saja.
Tapi Tiara sangatlah peka, hanya dengan mendengar suaranya Ibunya saja ia akan tahu jika ibunya tengah dalam masalah, apa lagi jika ini menyangkut Intan adik kesayangannya. Sudah pasti Tiara akan panik jika tahu bahwa Intan bersama Herman.
Oleh sebab itu Lastri meminta Arkan untuk tidak memberitahu apa-apa pada Tiara dan jangan sampai Gadis itu menghubunginya.
"Bagaimana kalau aku pinjam ponselmu?"pinta Tiara.
"Sayang! Ponselku dipegang oleh Ken, semalam aku lupa mengambilnya oleh sebab itu aku meminjam ponselmu tadi, kau tenang saja nanti aku akan segera mengambil ponselku dari Ken, dan setelah kau mengikuti kompetisi itu kau bisa langsung menghubungi Ibu Lastri di sana."
Tiara mengangguk meskipun dalam hatinya tetap ingin menghubungi Ibunya terlebih dahulu sebelum ia memulai kompetisi itu.
Tapi apa boleh buat saat ini ia belum bisa menghubungi Ibunya dan dia baru akan menghubungi wanita itu setelah dia menyelesaikan tugasnya.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Ken.
Menekan bel pintu Kamar mereka.
Dan itu berhasil menyelamatkan Arkan agar dia tidak membuang-buang waktu di kamar yang hanya akan membuat Tiara terus meminta untuk menghubungi Ibunya.
Dengan langkah cepat Arkan membuka pintu.
"Tuan. Sudah saatnya kita berangkat,"kata Ken yang tengah berdiri di depan pintu dan menundukkan kepalanya Arkan membuka pintu itu.
"Iya aku dan Tiara sudah siap, kau tunggulah di parkiran aku akan segera menyusul,"sahut Arkan.
Ken mengangguk dan segera pergi dari Kamar Arkan.
🍂❤️❤️❤️❤️❤️❤️🍂
Arkan menggandeng Tiara keluar dari Hotel dan segera menuju ke Lokasi.
🍂❤️❤️❤️❤️🍂
Sampai di Lokasi.
Arkan sangat terkejut karena ada Jay di sana. Dan yang lebih membuat lelaki itu terkejut! Jay menjadi Juri di sana.
Arkan mendengus kesal ketika mata mereka bertemu.
Dan dengan cepat Jay menghampiri sahabatnya itu.
"Apa kabar Ar! Sudah lama kita tidak bertemu?"Jay menyapa dengan menepuk pundak Arkan.
"Tentu kabarku akan sangat baik, tidak ada alasan untuk tidak baik, karna saat ini aku tengah berbahagia bersama Istriku,"sahut Arkan, dengan penuh arti.
"Sepertinya kau terlihat senang sekali,"balas Jay sambil mengulas senyum kecut.
"Hai Tiara! Bagaimana dengan kabarmu hari ini?"
"Aku baik-baik saja,"balas Tiara dengan ramah.
"Mungkin hari ini akan sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya karena persaingan di sini jauh lebih ketat dan penilaian pun jauh lebih kritis. Tapi aku harap kau tidak gugup untuk melewatinya. Karena seperti yang sudah aku katakan padamu dan peserta yang lainnya untuk tetap tenang dan fokus, dan tetap melakukan yang terbaik,"kata Jay.
"Apa Taira sudah tau jika Jay menjadi Jurinya! tapi kenapa ia tidak mengatakannya padaku!"
"Kau tidak perlu menasehati atau memberinya semangat, karena aku sudah memberikan itu semua untuk Istriku,"sahut Arkan dengan melingkarkan tangannya di pundak Tiara.
Sepertinya lelaki itu ingin memamerkan kebahagiaan dan kemesraan pada Jay.
Jay hanya mengulas senyum sambil membuang wajah ke kiri dan ke kanan, sesungguhnya lelaki itu juga sangat kesal dengan temannya itu.
"Tidak apa-apa. Terimakasih Jay untuk semangatnya,"kata Tiara,"kalau begitu aku permisi dulu aku harus segera bersiap-siap."
Arkan mengangguk.
"Aku akan menunggumu di sana,"katanya sambil mengusap rambut Tiara dan merapikan baju istrinya itu.
"Terimakasih" Tiara segera berlalu dan kebetulan Bulan juga sudah ada di sana tengah bersiap-siap.
"Aku sangat gugup sekali Tiara,"kata Bulan yang mengatupkan kedua tangannya lalu meletakkan ke dada.
"Kau pikir aku tidak gugup! Tapi tenang Bulan, jangan pikirkan kita harus menjadi juara, tapi yang kita pikirkan kita harus memberikan hidangan yang terbaik di sini, karena ini hari terakhir kita di Galeri jadi kita harus memberikan yang terbaik agar mereka tidak melupakan hidangan yang pernah kita sajikan."
"Kau benar. Semangat!"sahut Bulan.
"Semangat!"
❤️❤️
__ADS_1
"Bagaimana dengan kabar Berlian sekarang?" Tanya Jay tiba-tiba.
"Memangnya kau pikir aku ini Ibunya!"sahut Arkan dengan kesal.
"Aah... Aku lupa, jika sekarang kau bukan lagi tameng Berlian, tapi setidaknya kau perhatikanlah mantan kekasihmu itu, aku takut kalau dia Frustasi."
"Itu bukan urusanku."
"Sepertinya kau kesal sekali dengan mantan kekasihmu itu. Apa kau juga akan tambah kesal dan marah kalau tahu jika Berlian lah yang menjebak Tiara untuk masuk ke kamar Hotelmu di malam penggerebekan itu."
Akan terkejut mendengar perkataan Jay.
"Kau jangan terkejut seperti itu dong, harusnya kau bersyukur kan jika Berlian menjebak Tiara di waktu itu hingga pada akhirnya kau bisa bertemu bahkan menikah dengan Tiara. Aaah .. Andai saja waktu itu aku menerima tawaran Berlian, mungkin aku yang akan menikah dengan Tiara," kata Jay.
Yang semakin membuat Arkan terpancing untuk bertanya lebih jauh.
"Apa maksudmu mu? Jadi kau juga terlibat?"Tanya Arkan yang sudah memosting mode Singa di wajahnya.
Jay mengedikan bahunya.
"Aku....!"
"Chef Jayden!"
Seseorang memanggil Jay hingga lelaki itu tidak meneruskan perkataannya pada Arkan.
"Sorry Ar, sepertinya aku tidak bisa mengatakannya saat ini, karena kau tahu kan! aku juri di sini, dan aku harus membeli penilaian pada Istrimu yang tengah bertanding di sana."
Arkan menahan tangan Jay.
"Katakan brengsek!"
Jay melirik tangan Arkan yang mencengkram kuat lengannya.
"Kau bisa membuat kemeja ku kucel Ar."
"Aku tidak perduli, sekarang cepat katakan, apa kau dan Berlian yang merencanakan itu?"
"Maaf Chef Jayden. Acara akan segera dimulai, tolong anda kembali ke tempat anda!"
Ucap seorang wanita yang tadi memanggil Jay.
Jay mengangguk.
"Terimakasih, saya akan segera kembali."
Jay beralih menatap Arkan kembali.
"Sepertinya aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun padamu Ar, tapi jika kau sangat penasaran, kau bisa bertanya pada Mantan kekasihmu."
Jay pun pergi dari hadapan Arkan menuju ke kursi juri kembali.
"*Jadi si brengsek itu mengetahui semuanya! Berlian! apa tujuannya! kenapa dia menjebakku dan Tiara! hingga pada akhirnya dia menangis dan tidak terima pada malam itu!"
🍂❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🍂*
***Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏🤗
Mohon dukungannya ya 🙏🤗
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya 🤗
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️❤️***
__ADS_1