
Dirasa Tiara sudah tidak akan memberontak lagi Arkan melepaskan ikatan di tangannya.
Tentu saja sudah tidak perlu memberontak untuk menolak,
karena sudah tidak ada yang bisa ia pertahankan lagi,
ia hanya bisa pasrah dan menerima sekaligus menikmati sentuhan dari lelaki yang semakin lama kian lembut sampai menyentuh Lerung hatinya di sepanjang kegiatan.
Arkan secara sadar dan penuh dengan sungguh-sungguh mengatakan.
"Aku Mencintaimu Tiara, entah sejak kapan Cinta itu datang, karena selama ini aku hanya menganggapmu sebagai musuh, tapi aku tidak menganggapmu benar-benar sebagai musuh, aku melakukan itu karena aku takut jika aku berbuat baik padamu, aku akan jatuh cinta padamu, tapi ternyata sekuat apapun aku menahan dan mencegahnya aku tidak bisa membohongi diriku dan perasaanku sendiri. Bahwa aku benar-benar Mencintaimu, aku tidak bisa dan tidak mau kehilanganmu. Tolong jangan pergi tetaplah bersamaku, aku berjanji akan mengubah perlakuan buruk ku padamu, aku akan memperbaiki semua kesalahanku, tetaplah menjadi istriku aku berjanji tidak akan menjadi suami Antagonis untuk mu lagi, aku akan berusaha untuk menjadi suami terbaik mu."
Itulah kata panjang lebar yang Arkan ucapkan pada Tiara, dan wanita itu hanya mendengarkannya saja.
Setelah beberapa jam melakukan aktivitas pertamanya yang ia lakukan secara berulang-ulang kali.
Arkan menjatuhkan diri di samping Tiara yang sudah KO terlebih dahulu.
Wanita itu kelelahan dan saat ini sudah memejamkan matanya.
Arkan Menciumi seluruh wajah Tiara lalu ia menarik selimut dan menutupi tubuh polos istrinya.
*
*
Arkan melirik jam di Dinding,yang ternyata sudah menunjukkan pukul 15.00.
"Astaga! Ini sudah sore!"
Ya!
Lelaki itu baru menyadari jika ia sudah berjam-jam memperdaya istrinya.
Arkan kembali mencium Tiara dan mengusap rambutnya.
"Pantas kau sangat Lelah. Tapi mulai dari sekarang, kau harus terbiasa dengan ini Istriku Sayang,"ucapanya dengan senyum miring di ujung bibir, karena ia sudah menyusun sebuah rencana bulan madu yang panas dan romantis di otaknya.
*
Arkan beranjak dari kasur dan meraih telepon.
Memanggil petugas kebersihan, untuk membersihkan pecahan gelas dan piring yang masih berserakan di lantai, dan meminta dibawakan makanan, karena sejak pagi kedua manusia ini belum mengisi perutnya.
Sambil menunggu petugas datang, ia berlalu menuju Kamar mandi untuk membersihkan diri.
Karena sesuai rencana, hari ini juga ia akan membawa pulang Tiara.
*
*
*
ππ
Setelah beberapa menit menunggu.
2 petugas Hotel datang dengan membawa makanan yang dipesan Arkan,
Lalu mereka segera membersihkan pecahan beling yang berserakan.
2 petugas wanita itu nampak bingung dengan kondisi kamar yang berantakan, selain ia mendapati pecahan beling yang terdapat bercak darah di sana.(Darah dari luka kaki Arkan)
Petugas itu juga melihat baju yang sudah koyak beserta celana berwarna hitam dan pakaian dalam wanita yang berhamburan di lantai.
Ia juga melirik ke arah kasur melihat seseorang di sana, tapi petugas itu tidak dapat melihat dengan jelas karena orang itu dibungkus selimut dengan rapat.
"Apa di kamar ini telah terjadi tindakan kriminal! Dan wanita yang ada di atas Ranjang sana adalah korbannya! Apa aku harus segera melaporkan kejadian ini."
__ADS_1
Begitulah kira-kira isi hati kedua petugas Hotel yang tengah cemas, dan matanya sesekali melirik Arkan dan Tiara secara bergantian.
"Hei! Apa mata kalian ingin saya congkel?"Arkan menyadari kedua orang itu tengah mencuri-curi pandang pada istrinya,"cepat kerjakan saja apa yang menjadi tugas kalian tidak usah berpikir macam-macam, karena yang ada di atas Ranjang itu adalah Istri saya,"kata Arkan yang mungkin menyadari jika dua petugas itu berpikir buruk tentangnya.
"Maaf tuan, maafkan kami."
Dan dengan cepat kedua orang itu membersihkan kamar.
*
*
Setelah selesai mereka semua pergi dari sana tanpa berani berpikir macam-macam apalagi melapor pada atasan mereka.
*
*
*
Tiara masih belum membuka matanya, ia masih betah terlelap di bawah selimut sana.
Arkan kembali melirik Jam, dan waktu menunjukkan! bahwa sekarang benar-benar sudah sangat sore.
"Apa dia tidak mau bangun, apa jika dia tidur bisa selama ini!"
Arkan merangkak menaiki kasur dan ia juga ikut membaringkan diri di sana.
"Kau masih belum mau bangun!"bisiknya,
dan tidak ada respon dari yang dibisiki.
"Baiklah! Jika kau enggan untuk bangun, aku juga memilih untuk tidur lagi."
Arkan sudah menggerakkan tangan ingin mengangkat selimut yang menutupi tubuh Tiara,
Namun yang ada di dalam selimut sana dengan cepat menahan selimut itu.
Arkan semakin bersemangat ingin mengganggu istrinya.
Ia menyusupkan tangan di balik selimut dan mulai meraba-raba di sana.
Dengan cepat tangan Tiara mencengkramnya.
"Cukup Arkan!"kata Tiara di balik selimut.
Tiara sebenarnya sudah bangun sejak tadi, tepatnya di saat kedua petugas Hotel masuk, karena aroma masakan yang menggugah selera yang dibawa mereka membuat ia terbangun karena lapar.
Tapi ia mengurungkan niatnya untuk bangun setelah mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
Ia malu sekaligus kesal dengan Arkan, lalu memutuskan untuk pura-pura tidur sampai Lelaki itu keluar dari kamar.
Tapi bukannya keluar Arkan malah naik ke atas ranjang dan menggerayanginya.
"Kau sudah bangun sayang!"tanya Arkan sambil memeluknya,"jika kau malas untuk bangun tidak apa-apa bagaimana kalau kita lanjutkan kembali Ron...!"
GREB!
Dengan cepat.
Tiara membuka matanya dan langsung duduk.
"Aku sudah bangun dan sekarang aku mau mandi."
Arkan terkekeh.
"Kau ini lucu sekali Sayang!"
Tiara mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ada apa dengannya, kenapa dia aneh sekali! apa dia akan seperti ini jika sudah meniduri wanita! dia terlihat seperti anak kucing yang selalu bersikap manis, bahkan sudah puluhan kali ia memanggilku sayang!"
Tiara turun dari Ranjang tapi Arkan segera menahannya.
"Biar aku bantu,"tawarnya.
"Tidak! Terimakasih aku bisa melakukannya sendiri,"tolak Tiara.
Tapi penolakan itu malah membuat Arkan semakin bersemangat.
Dia beranjak terlebih dahulu dari Ranjang dan segera mengangkat tubuh Tiara dan membawanya menuju kamar mandi.
"Turunkan aku, kau mau apa? Aku bisa mandi sendiri."teriak Tiara.
"Aku hanya ingin membantumu saja masa tidak boleh."
"Tapi mandi bukanlah pekerjaan yang harus dibantu dengan orang lain."
"Orang lain! Kau bilang orang lain, aku ini suamimu bukan orang lain!"protes Arkan.
Setelah sampai di bilik mandi Arkan menurunkan Tiara di Bak mandi.
"Kau diam di sini aku yang akan memandikan mu."
"Memangnya dia kira aku ini Mayat yang harus di mandikan!" Kesal Tiara.
Namun ia tetap membiarkan Arkan melakukan apa yang inginkan lelaki itu lakukan.
*
*
*
ππ
Setelah 1 jam lamanya mereka keluar dari Kamar mandi.
Tiara mengenakan jubah mandi karena memang tak ada pakaiannya di kamar itu.
"Apa masih terasa sakit?"tanya Arkan di sela-sela pekerjaannya yang tengah mengeringkan rambut Tiara.
"Sedikit! Arkan aku bisa melakukannya sendiri,"pinta Tiara Sambil mencoba meraih handuk kecil dari tangan Arkan.
"Sudah kau diam saja, biar aku yang melakukannya! Setelah ini kau makanlah karena sebentar lagi kita akan pulang."
"Apa! Pulang?"Tiara terkejut!
"Iya tentu saja kita harus pulang kan!"
"Tidak bisa Arkan! Aku masih mau di sini."
"Kau Istriku dan harus tetap ikut pulang bersamaku, dan Apa kau tidak merindukan adikmu dan ibumu?"
Tiara terdiam!
Tentu saja dia sangat merindukan keluarganya, tapi dia juga ingin mengejar Cita-citanya di sini.
1 Minggu lagi kontes itu dimulai, dan dia harus mengikuti seleksi selama acara berlangsung dan itu memakan waktu selama 2 Minggu.
"Kenapa! apa ada sesuatu yang memberatkan mu untuk meninggalkan tempat ini?"
πππππππππ
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya ya ππ€
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya π€
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈπ