
Tiara menjatuhkan dirinya di atas kasur sambil terus memegangi dadanya yang masih berdebar Hebat.
"Padahal aku sudah sampai sini, kenapa dada ini masih terus berdebar,"gumam Tiara.
Setelah beberapa menit ia berbaring, Tiara kembali beranjak dan menuju Kamar mandi.
"Sepertinya aku harus mengguyur kepala ku ini dengan air dingin, agar pikiran ku juga bisa ikut dingin,"gumam Tiara dan langsung menyalakan Shower di bilik mandi itu.
*
*
*
π
Tak jauh berbeda dengan Tiara, Arkan pun merasakan debaran hebat di dadanya.
Ia bahkan sampai berkaca karena heran kenapa wajahnya sejak tadi senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"Kenapa bibir ku tidak bisa berhenti tersenyum! Bukankah aku tengah kesal dengannya,"gumam Arkan yang masih menatap dirinya di cermin.
"Lebih baik aku mandi sekarang, agar otak dan badan ku bisa kembali dingin,"gumam Arkan dan ia pun masuk ke bilik Mandi.
Suhu tubuhnya meningkat, paskah berdekatan dan berciuman dengan Tiara.
Membuat dia harus benar-benar mendinginkan kepala dan badannya itu.
*
*
*
πππ
Jay yang merasa khawatir dengan Tiara nekat mendatangi Hotel tempat Tiara tinggal sekaligus bekerja.
Dan saat ini ia sudah sampai di depan pintu Kamar Tiara, dan langsung menekan Bel di sana.
Tapi bukannya Tiara yang keluar, ia malah kepergok Arkan yang juga bermaksud ingin ke Kamar Tiara.
Setelah mengguyur air lelaki itu terlihat nampak segar dan siap untuk bertemu dengan istrinya, tapi wajah segar itu kini kembali ditekuk karena ia melihat Jay ada di depan Kamar istrinya.
"Si brengsek itu! dia masih berani menemui Tiara!".
Arkan sudah mengeluarkan 2 tanduk di kepalanya, bertanda siap untuk bertarung dengan lelaki itu.
"JAY!"panggilnya dengan suara sedikit berteriak.
Jay menoleh, dan Ia pun sangat terkejut karena melihat Arkan ada di sana.
"Arkan! Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Hahaha,"Arkan tertawa terbahak-bahak,"kenapa aku bisa ada di sini! Pertanyaanmu itu sungguh tidak berguna, jelas saja aku disini karena aku ingin membawa pulang istriku."
Jay melengos mendengar ucapan Arkan.
"Istri! Lebih tepatnya mantan istri,"kata Jay.
"Jay! Sepertinya kau terlalu berharap jika Tiara akan menjadi mantan istriku, dan sayang sekali harapanmu itu tidak akan pernah tercapai bahkan sampai kau mati pun."
Jay melangkahkan kakinya untuk lebih mendekati Arkan.
Dan ketika sudah berada di hadapan Arkan, Jay mengusap-ngusap pundak Arkan sambil berkata.
"Arkan, aku tahu Tiara sudah melayangkan surat gugatan cerai padamu, dan sebagai lelaki sejati seharusnya kau segera melepaskan Tiara karena istrimu itu sudah tidak lagi menginginkanmu, dia tidak bahagia denganmu selama ini, dan kau harus tahu itu, Tuan Arkan!"
"Bedebah!"Arkan menepis tangan Jay, lalu mengulurkan tangannya untuk mencekram kerah kemeja lelaki itu.
"Dengar brengsek, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Tiara, dan lebih baik kau kubur dalam-dalam harapanmu yang ingin memiliki Tiara, karena itu tidak akan pernah terjadi bahkan hanya dalam mimpi sekalipun."Tegas Arkan.
"Apa kau meragukanku?"tantang Jay seraya melepaskan cengkeraman tangan Arkan.
Arkan menatap Jay sinis, dan tentu tatapan itu dibalas tidak jauh lebih sinis daripada Arkan.
"Kita lihat saja nanti, Tiara lebih memilih aku atau dirimu, suaminya tapi sudah seperti musuhnya, sedangkan aku teman tapi sudah seperti kekasihnya!"Kata Jay, yang semakin memancing emosi Arkan.
"Brengsek!"Arkan mencengkram kembali Jay,
tapi kali ini bukan kerah bajunya melainkan lehernya langsung.
Jay yang tak terima langsung membalas Arkan dengan mendorong kuat lelaki itu.
Hingga pertarungan antara Arkan dan Jay pun tidak dapat terelakkan di sana.
__ADS_1
*
*
Mereka saling mencekram satu sama lain, dan saling memukul wajah.
BUG!
Jay jatuh tersungkur ketika Arkan memukul wajahnya dengan sangat kuat, dan di kesempatan itu, Arkan langsung bertumpu di atasnya lalu menghajar wajahnya sampai beberapa kali.
BUG!
Jay tentu tak mau kalah, meskipun ia di bawah kendali Arkan, tapi Jay masih bisa menggerakkan tangannya dan mendorong Arkan sampai terjungkal.
Sama seperti Arkan, Jay juga mengambil kesempatan itu untuk bertumpu di atas tubuh Arkan dan langsung melayangkan beberapa pukulan di sana.
BAG!
BUG!
*
"Brengsek!"
"Sialan!"
"Bedebah!"
Suara-suara pukulan dan umpatan saling bersahutan di sana.
*
*
Dan!
BYUUUR....!
Seorang wanita Tua keluar dari Kamarnya dan langsung mengguyur dua lelaki yang tengah baku hantam itu, dengan seember air.
Uhuk!
Uhuk!
"Sial, saipa yang berani menyiramkan air di wajah ku, aku tidak akan memaafkannya!"maki Jay.
"Dan lihat saja, akan ku kirim ke hutan Amazon, orang yang berani menyiramku seperti ini."sahut Arkan.
"Lakukan! Kalian ingin mengirim saya ke hutan Amazon!"bentak seorang wanita Tua yang tengah memegang ember berwarna biru.
Arkan dan Jay langsung membuka lebar matanya, dan menatap wanita yang sudah memiliki umur banyak dan rambut yang berubah warna menjadi putih.
"Apa dia yang menyeramkan air?"tanya Jay pada Arkan.
"Sepertinya iya,"sahut Arkan.
"Lalu, apa kau berani mengirimnya ke hutan Amazon?"
"Entahlah!"
Mereka masih menatap wanita tua itu, sambil terus melakukan tanya jawab.
BUG!
Wanita tua itu melayangkan embernya di punggung Arkan dan Jay.
"Apa kalian ini tidak tahu malu! Kalian bukan anak kecil kan! Yang harus membuat keributan di depan kamar orang, Jika kalian ingin bertarung dan pamer kekuatan, lebih baik kalian pergi ke Ring Tinju, bukan di sini!" Maki wanita tua itu.
Dan kembali melayangkan pukulan di punggung kedua lelaki itu.
BUG!
BUG!
"Aawwww, sakit sekali!"pekik Arkan dan Jay.
"Sakit! baru seperti ini saja kalian bilang sakit."
Wanita tua itu sekali lagi melayangkan ember birunya di punggung Arkan dan Jay.
BUG!
BUG!
"Apa kalian masih ingin berkelahi!"bentaknya dengan mata menyala.
__ADS_1
"Ti.... Tidak!"sahut Arkan dan Jay secara bersamaan.
"Kalau begitu cepat pergi dari sini!"
"Ba..Ba...baik!"
Arkan dan Jay, segera berlari meninggalkan wanita tua yang marah-marah itu.
*
*
Arkan jadi teringat dengan Mamahnya yang ketika marah sudah seperti Singa, dan Arkan melihat raut wajah Tri ketika melihat wanita tua yang marah-marah itu. Dan itulah yang paling di takuti Arkan dari dulu sampai sekarang.
Begitupun dengan Jay.
Ia paling takut Ketika ibunya marah padanya.
Dan Jay tiba-tiba melihat raut garang ibunya di wajah wanita tua itu, sehingga membuatnya tidak dapat berkutik selain mengangguk dan kabur.
*
*
*
π
"Apa kita sudah cukup jauh dari wanita tua itu?"tanya Arkan.
"Aku rasa sudah!"sahut Jay.
"Untung saja dia tidak mengejar kita."
"Dia persis seperti Ibuku ketika sedang marah,"kata Jay.
"Dia juga tidak kalah menyeramkan dari Mamahku,"sahut Arkan.
Hahaha....
Dan tiba-tiba mereka tertawa bersama.
Tapi!
"Sial! kenapa kau menggenggam tanganku!" Maki Jay!
"Cih! tentu aku tidak sudi menggenggam tanganmu, kau yang lebih dulu meraih tanganku Berengsek!"sahut Arkan, tak terima.
"Sepertinya kita harus melanjutkan pertarungan kita,"tantangan Jay.
"Tentu saja, akupun sudah tidak sabar ingin membuat wajah mu di balut perban,"sahut Arkan.
Kedua lelaki itu sudah memasang kuda-kuda siap untuk menyerang.
Tapi!
"Jay! kau lihat itu!"tunjuk Arkan, pada seseorang yang ada di belakang Jay, namun posisinya cukup jauh.
Jay menoleh!
"Astaga! apa dia belum puas, dan tengah mengejar kita?"
"Sepertinya begitu."
"Baiklah, kita lanjutkan pertarungan ini lain kali, sekarang aku harus segera pergi dari sini."ucap Jay.
"Ok! dan sepertinya kita harus melanjutkan pertarungan kita di Ring Tinju,"sahut Arkan.
Dengan gerakan secepat kilat!
Arkan langsung kembali ke Kamarnya.
Dan Jay, keluar Hotel menuju parkiran.
Dan kedua lelaki itupun memilih untuk mengakhiri pertarungan yang belum selesai, karna mereka melihat wanita tua tadi menuju ke arah mereka.
πππππππππππππ
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya ya π
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini ππ€
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈ
__ADS_1