Suami Antagonis

Suami Antagonis
Bab 27. Arkan Yang Aneh!


__ADS_3

"Kau mau apa?"tanya Tiara yang mulai gugup.


"Menurutmu!"sahut Arkan sambil menyeringai.


"Jangan berani macam-macam denganku,"Tiara langsung mendorong tubuh lelaki itu menjauh dari hadapannya.


"Kau berani mendorongku?"Arkan mulai kesal, karena baru kali ini ada wanita yang berani mendorongnya ketika ia mendekat, padahal di luar sana para wanita berlomba-lomba untuk mendekatinya termasuk Berlian.


"Kenapa tidak!" Jawab Tiara yang tak kalah kesal.


"Kau!" Arkan sudah ingin kembali mendekati Tiara, tapi niatnya diurungkan karena pintu kamar Tiara ada yang mengetuk.


Tiara dengan cepat membuka pintu.


CKLEK...


"Tiara, Selamat pagi! Aku tau kau belum sarapan oleh karena itu aku membawakan sarapan untukmu,"seorang lelaki manis berkacamata, membawakan nampan berisi sarapan untuk Tiara, ia bernama Satria rekan kerja Tiara.


"Terima kasih banyak! Kau tahu saja kalau aku belum sarapan,"dengan girang Tiara meraih nampan itu.


Arkan yang mendengar suara laki-laki menjadi kepo, ia pun ikut menampakan diri.


"Tiara! Siapa dia? Kenapa ada lelaki di kamarmu?" Tanya Satria sedikit cemas, setelah melihat Arkan muncul dari kamar Tiara.


"Dia ...!"


"Aku suaminya, Kau mau apa!" Jawab Arkan dengan membuka lebar matanya.


"Suami! Kau bilang datang ke sini hanya seorang diri, tapi kenapa ada suamimu di sini?" Satria yang masih terus bertanya pada Tiara, tak memperdulikan ucapan Arkan.


"Memangnya kenapa? Apa kau merasa keberatan?" Dan Arkan yang kembali menjawab pertanyaan Satria, tapi ia menjawab diiringi dengan nada yang menantang.


"Tidak! Aku hanya bertanya saja!" Balas Satria yang mulai ciut melihat Arkan yang sepertinya marah!,"Ya sudah Tiara, kalau begitu aku pergi dulu ya selamat menikmati sarapannya, oh ya! itu aku yang membuatnya sendiri loh." Kata Lelaki itu sambil tersenyum manis pada Tiara.


Dan Tiara membalas senyum lelaki itu.


"Iya terima kasih Satria, aku pasti akan memakannya."


Satria berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Mana ada lelaki yang memasang wajah imut seperti itu!"ketus Arkan.


"Memangnya kenapa? Lelaki seperti itu yang banyak di sukai wanita, karna dia tipe lelaki setia." Sahut Tiara asal.


Tapi di anggap serius oleh Arkan.


Jadi lelaki seperti itu yang menjadi idaman mu.


Tiara kembali masuk sambil membawa nampan berisi sarapan untuknya.


"Waaaah... Ini pasti enak sekali, Satria itu koki terbaik di Restoran dengan masakannya yang super-super enak,"gumam Tiara, sambil meneliti makanan yang tersusun rapi di nampan itu, bahkan Satria sampai membuatkan telur ceplok berbentuk hati untuk Tiara,"Astaga! Dia manis sekali sampai membuat bentuk telur seperti ini,"sambung Tiara sambil menangkupkan kedua tangan di pipinya.


Arkan yang melihat kelakuan Tiara mendengus kesal.


Manis apaan, itu malah terlihat seperti bekal untuk anak TK .


Ketika Tiara siap untuk menyantap makanan istimewa itu.


Tiba-tiba Arkan merebutnya.


"Kau mau apa? Itu makananku."


"Aku lapar, Aku juga ingin makan."


"Tapi Satria memberikannya untukku bukan untukmu,"Tiara coba merebut kembali makanannya.


"Apa bedanya!" Kilah Arkan dan langsung menyantap makanan itu, tapi ia terlebih dahulu mengacak-ngacak telur berbentuk hati yang mengganggu pemandangannya itu.

__ADS_1


Tiara semakin kesal dengan kelakuan Arkan, sudah dia datang dengan tiba-tiba nyelonong masuk ke kamarnya tanpa permisi, merebut makanannya pula, hancur sudah harapan Tiara yang bisa tenang dari bayang-bayang Arkan ketika pergi keluar kota.


"Apa kau belum sarapan?" Tanya Arkan, di sela-sela makanya yang hampir tandas.


"Bagaimana aku bisa sarapan, sedangkan makananku kau habiskan."kesal Tiara.


"Apa di hotel ini tidak memberi makan?"


"Tidak!"sahut Tiara ketus.


"Makanya kalau sewa kamar Hotel itu Yang VIP, agar kau dapat sarapan di pagi hari, tapi jangan khawatir! suamimu yang kaya raya ini akan memesankan makanan enak untukmu, kau mau makan apa?"


"Tidak usah! Aku sudah kenyang."


"Kenyang! Kau bahkan belum makan apapun?"


"Aku bilang sudah kenyang, berarti sudah kenyang!" Kesal Tiara.


"Kenapa kau malah marah-marah! Kau sering sekali marah-marah padaku?"


Tapi Arkan tetap mengeluarkan ponselnya dan memesan makanan untuk Tiara.


"Apa kau bisa keluar sekarang?"pinta Tiara.


"Kau mengusirku lagi?"


"Bukan mengusir, tapi ini sudah jam 08.00 aku harus bersiap-siap karena satu jam lagi acaranya akan dimulai."


"Ya sudah! silakan untuk bersiap-siap,"kata Arkan tapi ia masih tidak beranjak dari duduknya di atas kasur.


"Aku minta kau keluar dulu, karena aku mau mandi."


"Kau mandi di kamar mandi kan? Bukan di sini, jadi silakan mandi Aku tidak akan mengganggu mu."


Tingkatkan lagi kesabaran mu Tiara, hanya tinggal beberapa bulan saja.


"Dia galak sekali,"gumam Arkan, sambil mengusap dadanya, yang terkejut!


Tok


Tok


Tok


"TIARA!"


Terikaan seseorang dari luar kembali mengganggu Arkan.


"Siapa lagi! Memangnya mereka pikir ini hutan sampai berteriak-teriak seperti itu,"kesal Arkan, dan langsung membukakan pintu.


Seseorang yang ada di luar sana ternyata teman Tiara.


"Kau siapa! Astaga! Anda tuan Arkan," histeris wanita itu setelah mengetahui siapa yang ada di kamar Tiara.


Aku memang sangat terkenal di kalangan para gadis.


"Ada apa?"tanya Arkan dengan merendahkan suaranya, menjaga imagenya.


"Saya hanya ingin mengatakan kepada Tiara bahwa acaranya dimajukan 30 menit,"ucapnya dengan terbata-bata, karena gugup berhadapan langsung dengan lelaki yang populer itu.


"Baik! Saya akan mengatakannya."


"Terima kasih tuan!" Wanita itu mengangguk dan berlalu, tapi hatinya sangat girang karena bisa langsung bertemu dengan lelaki yang menjadi pujaan para gadis itu.


"Bagaimana mungkin Tiara masih bisa bernafas sampai saat ini, padahal setiap hari ia selalu melihat dan memandang wajah lelaki tampan dan sempurna itu, Jika Aku jadi Tiara, pasti setiap hari aku sudah pingsan dan oleng karena selalu terpesona dengan ketampanan Tuan Arkan, aah... semoga masih ada satu stok lagi lelaki seperti itu di dunia ini." Gumam gadis itu, sambil berjalan dengan senyum-senyum sendiri.


πŸ‚

__ADS_1


Arkan mengetuk pintu kamar mandi.


"Ada apa lagi?"teriak Tiara dari dalam.


"Tadi temanmu datang, dan menyampaikan jika acaranya dimajukan 30 menit."


"Apa!" Dimajukan 30 menit,"Tiara panik dan ia segera keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk saja.


Tanpa memperdulikan Arkan yang terus memandanginya, Tiara menuju koper tempat baju-bajunya disimpan.


Ia mengambil satu setel baju kebanggaannya, dan bermaksud ingin kembali ke dalam kamar mandi untuk memakainya.


Tapi Arkan sudah lebih dahulu menutup pintu kamar mandi itu.


"Apa yang kau lakukan cepat buka pintunya?"teriak Tiara, karena ia Tengah panik karena setengah jam lagi acara akan dimulai, sedangkan dia masih ada di sini.


Arkan masih saja memandangi Tiara dari atas sampai bawah tanpa mengedipkan matanya sedikitpun.


Tiara yang kesal Langsung melempar Arkan dengan bantal sampai lelaki itu mengaduh, dan mengusap wajahnya.


Dan Tiara kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah beberapa menit akhirnya Tiara keluar dengan rapi, lengkap dengan seragam kebanggaannya selama ini.


Waaaah.. dia keren juga.


Gumam Arkan.


"Apa kau mau langsung pergi?"tanya Arkan.


"Iya!"


"Kau tidak sarapan dulu makananmu sudah datang?"


"Tidak, terimakasih, aku buru-buru."


Tiara yang sudah mau melangkah keluar kembali berbalik kepada Arkan.


"Apa kau akan tetap di sini? Kau bilang ada pekerjaan?"


Arkan kalap dan bingung harus jawab apa, karena sesungguhnya tidak ada pekerjaan apapun di Kota Ini.


"Nanti siang aku baru menemui klien ku."jawab Arkan berbohong.


"Jadi kamu tetap di sini? Tidak ingin ikut ke acaraku?"tawar Tiara, berbaik hati.


"Tentu saja tidak! memangnya kau pikir aku tidak punya pekerjaan, harus membuang-buang waktu untuk menghadiri acara seperti itu."sahut Arkan sekenanya.


"Baiklah kalau begitu! Aku pergi dulu, jika kau pergi sebelum aku kembali, tolong titipkan kunci kamar ini kemeja Resepsionis." Pinta Tiara, dan ia segera berlalu dari kamar itu meninggalkan Arkan.


Setelah beberapa menit kepergian Tiara, Arkan menjadi bosan.


Bertepatan dengan itu sang kekasih menghubunginya.


"Berlian!"


Tapi Arkan enggan mengangkat telepon dari Berlian, ia justru menonaktifkan ponselnya, dan keluar dari kamar itu.


Langkah kakinya berjalan menuju seberang jalan, tempat acara amal di selenggarakan.


πŸ‚πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ‚


Trimakasih sudah mau membaca cerita ini πŸ™πŸ€—


Mohon dukungannya ya πŸ™πŸ™


untuk meninggalkan jejak setelah selesai membaca 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2