
Dan pada saat itu juga Tiara kembali teringat pada ibunya.
"Kau baik-baik saja! Jika kau tidak mau berlama-lama di sini ayo kita pulang,"kata Arkan yang menyadari jika Tiara tidak nyaman di kamar itu.
"Aku tidak apa-apa."
Herman yang merasa lega dan kembali mengulas senyum setelah beberapa detik yang lalu tegang karena Arkan mengajak Tiara pulang.
Tiara sebisa mungkin menguatkan hatinya untuk tetap bertahan di sana.
"Bagaimana dengan keadaannya?"tanya Tiara pada Herman.
Seketika Herman menundukkan wajah menunjukkan betapa sedih dirinya saat ini.
"Dokter, bilang jika kondisi Berlian semakin menurun."
Tiara lagi-lagi menahan sesek di dadanya.
"Kau begitu sedih dan terpukul, dengan kondisi Berlian saat ini, apa dulu kau juga akan terlihat menyedihkan seperti ini jika melihat kondisi ibu pada saat itu." batin Tiara.
"Kau jangan khawatir, aku yakin Berlian pasti akan baik-baik saja, putrimu akan baik-baik saja dan segera bangun."
"Terimakasih nak, terimakasih kau sudah mau mengunjungi saudarimu, lalu di mana Intan! Apa dia tidak ikut bersamamu?"
"Tidak! Bukankah Rumah sakit tidak baik untuk anak-anak."
"Kau benar, tapi ayah sudah sangat bahagia karena kau datang menjenguk Berlian."
Arkan masih memperhatikan gerak-gerik pria yang berstatus Ayah mertuanya itu.
Ia masih menyimpan rasa curiga pada Herman, jika pria itu tidak sungguh-sungguh bersikap baik seperti ini pada Tiara.
Tidak ada hal yang mencurigakan di obrolan keduanya, bahkan sejak tadi Merlin tidak mengeluarkan sepatah katapun, wanita itu tengah tenggelam dengan kesedihannya.
DREEEET....
Ponsel Arkan bergetar, dan mengharuskan lelaki itu keluar dari kamar rawat Berlian untuk menjawab panggilan dari Papahnya Wilson yang sudah ber Minggu-minggu tidak pulang.
Arkan ragu untuk keluar meninggalkan Tiara sendiri di antara kedua orang yang tidak dapat di percaya kebaikannya itu.
Tapi Tiara meyakinkan Arkan jika ia pasti akan baik-baik saja, dan meminta Arkan untuk menjawab panggilan dari Wilson.
"Aku akan segera kembali,"kata Arkan dan ia segera keluar dari kamar rawat Berlian.
❤️
Selepas kepergian Arkan dari kamar itu, Herman mendekati pada putrinya.
"Tiara!"panggilannya dengan penuh kelembutan.
"Iya!"
"Apa kau masih menganggap Pria tua ini sebagai ayahmu?"
DEG!
"Kenapa dia bertanya seperti itu!"
Tiara masih belum menjawab pertanyaan Herman, sampai lelaki itu kembali mengulangi pertanyaannya.
"Tiara apa kau masih menganggap ayah sebagai orang tuamu?"
__ADS_1
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Ayah hanya ingin memastikannya saja, jika kau masih menganggap ayah sebagai orang tuamu. Karna, jika tiba-tiba ayahmu ini sudah tidak ada lagi di dunia, ayah bisa tenang karna putri ayah masih mengakui ayahnya."
Tiara terenyuh mendengar ucapan Herman.
Tentu saja Tiara masih menganggap pria itu sebagai ayahnya,
terlepas dari apapun yang pernah di lakukan Herman pada dirinya dan ibunya. Tiara tetep menganggap Herman sebagai ayahnya.
Meskipun ia sering berkata bahwa ia sangat membenci Herman dan tidak mengakui pria itu sebagai ayahnya. Tapi percayalah sesungguhnya!
Di balik kemarahan dan kekecewaan Tiara, ia sangat merindukan pria itu, ia sangat merindukan ayahnya yang bertahun-tahun meninggalkannya. Ia merindukan ayahnya memanggil dia putriku.
Tiara merindukan ayahnya memeluk dengan penuh kasih sayang seperti dulu di saat Herman belum mengenal Merlin.
Karena pada kenyataannya. Cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya.
Dan yang namanya cinta pertama tentu sangat sulit dan tidak akan pernah terlupakan apalagi terhapus begitu saja.
"Kau kira, aku sampai datang kesini untuk apa! Jika bukan karena aku masih menghormati dan menganggapmu sebagai ayahku."Akhirnya! Tiara mengucapkan kata-kata yang sudah lama ia pendam, mengklaim jika pria itu adalah ayahnya.
Dan tentu saja pengakuan dari Tiara membuat Herman bahagia dengan senyum lebar yang terukir di dua sudut bibirnya.
Tiara pun merasakan lega di hatinya setelah mengatakan itu.
Ia melihat senyum tulus dan bahagia di wajah Herman.
Ia melihat mata pria itu berkaca-kaca, mungkin saja ia terlalu bahagia karna Tiara mengatakan jika ia ayahnya. Sampai membuat pria itu hampir menangis karena merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Dan Tiara mulai merangkai dan menyusun cerita indah yang akan terjadi kedepannya.
Tapi ia akan tetap bahagia karena orang-orang tersayangnya kembali.
Tiara berjanji pada hatinya jika ia akan melupakan semuanya, semua masa lalu dan kenangan buruk bersama Herman.
Ia akan memaafkan Herman, memaafkan semua kesalahan pria itu. Dan akan memulai lembaran baru bersama ayah dan keluarganya tanpa di bayang-bayangi masa lalu yang menyakitinya.
Bahkan saat ini Tiara akan membuka hatinya untuk menerima Berlian sebagai saudarinya dan akan menyayangi Berlian seperti ia menyayangi Intan.
Bahkan karena terlalu bahagianya saat ini. Tiara sampai berfikir akan mencoba menerima Merlin sebagai istri ayahnya.
Ya.. Hanya sebagai istri ayahnya, bukan pengganti ibunya.
Karena bagi setiap anak, tidak ada yang bisa menggantikan sosok seorang ibu di hatinya, sosok yang telah melahirkan dan merawatnya. Tidak akan pernah terganti.
Dengan apapun dan siapapun.
Herman membawa Tiara dalam pelukannya, ia mengusap lembut rambut putrinya itu.
Ini pertama kalinya Herman memeluk kembali Tiara setelah 10 tahun lebih ia mengabaikan putrinya.
Apa Tiara bahagia!
Tentu saja.
Ia sangat-sangat bahagia.
Ia bahagia, bisa kembali merasakan pelukan dari seorang ayah yang sudah sangat lama ia dambakan dan rindukan di setiap malamnya.
Tiara merasa semuanya sudah sempurna.
__ADS_1
Intan dinyatakan sembuh dari penyakitnya.
Ia memiliki suami yang begitu menyayangi dan mencintainya.
Memiliki mamah mertua dan ibu Lastri yang begitu menyayanginya dengan sepenuh hati. Dan ia juga akan bahagia karena memiliki saudari lagi, yaitu Berlian.
Dan ia pun tambah bahagia karena ayahnya kembali, kembali menyayanginya.
Tiara masih memeluk Herman, ia benar-benar sangat merindukan sosok ayahnya itu.
Bahkan ia sampai tak kuasa menahan tangisnya, tangis bahagia tentunya.
Arkan yang baru saja menyudahi panggilan pada Wilson segera kembali, karena ia khawatir jika Herman dan Merlin melakukan sesuatu yang buruk pada istrinya.
Arkan mendorong pintu dengan sangat pelan.
Ia tercengang, melihat pemandangan di sana.
Tiara tengah memeluk Herman.
Tangan Arkan sudah terkepal dan ingin segera memisahkan mereka, tapi Arkan menghentikan niatnya ketika melihat tangis bahagia dari Tiara.
Istrinya itu menangis!
Tapi bahagia, di pelukan ayahnya.
Dan Herman pun tengah mengusap lembut rambut Tiara.
Arkan jadi teringat dengan ucapan Ken.
Yang mengatakan.
Biar bagaimanapun juga kedua orang itu adalah ayah dan anak, sudah pasti memiliki ikatan batin yang kuat. Dan pasti saling menyayangi meskipun mereka terlihat tidak saling peduli.
Arkan ingin memberi ruang untuk Tiara dan Ayahnya.
Ia mundur, lalu kembali keluar dari kamar itu dan menutup pintu dengan pelan, karena tidak ingin mengganggu momen yang pasti sangat membahagiakan istrinya itu.
❤️❤️❤️
Beberapa menit kemudian.
Herman menguraikan pelukannya, ia mengusap air mata yang mengalir di wajah Tiara.
"Jangan menangis, tersenyumlah."
Setelah Tiara sudah bisa mengontrol hatinya yang terlalu bahagia, Herman mengajaknya untuk mendekat kepada Berlian.
Sementara Merlin, dari tadi wanita itu tidak melakukan dan mengatakan apapun.
Ia masih betah dengan dunianya sendiri.
🍂❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🍂
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya ya 🙏
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya 🤗
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1