
Jay, yang tengah bersembunyi di balik tembok, secara jelas ia mendengar percakapan singkat antara Arkan dan Tiara.
Ia merasa kasihan pada Gadis itu jika harus terjebak di kehidupan Arkan yang tidak mungkin lepas dari masa lalunya dan itu semua berhubungan dengan Berlian.
πππ
Tiara sudah berada di Taksi untuk kembali lagi ke Rumah, tatapannya kosong meskipun matanya tengah memandang jalanan dari balik kaca mobil.
Ternyata seperti itu yang mereka lakukan,apa mereka bertemu di kantor dan berduaan di ruang kerja Arkan setiap hari, sungguh manis sekali, dan semoga saja pernikahan ini segera berakhir.
ππππ
"Ber, Aku minta kau pulang sekarang dan tolong jangan pernah datang ke kantorku lagi,"pinta Arkan yang saat ini sudah kembali berada di ruangannya.
"Kenapa Ar? Apa karena Tiara?"
"Bukan itu Ber, kau jangan selalu menyangkut pautkan semuanya dengan Tiara, kau harus bisa menjaga sikapmu dan sebelumnya kau pun menyetujui untuk menyembunyikan hubungan kita kan?"
"Tapi aku tidak bisa jika harus kucing-kucingan seperti ini Ar, aku ini kekasihmu mu, Aku sedih dan terpukul karena kau menikah dengan wanita lain apa kau tidak mengerti itu Ar?"
"Cukup Ber, aku minta kau cepat keluar dari ruanganku."Tegas Arkan.
"Kau mengusirku?"Berlian memasang wajah iba.
Sebelum Berlian berkata macam-macam lagi, Ken segera bertindak, ia tahu jika makin banyak ucapan yang keluar dari Berlian akan semakin membuat Arkan tidak bisa tegas dengan wanita ini.
"Nona, ini jam kerja, jadi tolong tinggalkan kantor ini jangan mengganggu kami yang sedang bekerja,"ucap Ken dan segera menarik lengan Berlian agar keluar dari ruangan Arkan.
Berlian kesal! Ia ingin sekali memaki Ken yang berani menyeretnya keluar dari ruangan Arkan, tapi Berlian tidak boleh gegabah, ia harus tetap terlihat seperti Berlian yang lugu dan baik di depan Arkan.
Untuk sementara Aku mengalah dulu, aku yakin jika perubahan Arkan ada hubungannya dengan Tiara, aku harus cepat bertindak sebelum semuanya terlambat_batin Berlian.
Dan dengan terpaksa Berlian pun keluar dari ruangan Arkan.
.
"Tuan, Apa Anda sudah bicara dengan Nona Tiara?"tanya Ken.
"Sudah, tapi sepertinya dia salah paham."
"Sepertinya Anda harus segera menjelaskannya pada Nona Tiara."
Arkan diam saja tak menyahut perkataan Ken, ia sendiri Tengah bingung dengan hatinya, untuk apa dia memberi penjelasan pada Tiara, dan kenapa tadi ia mengusir Berlian bukankah gadis itu kekasihnya?
Arkan mengacak-ngacak rambutnya, sungguh ia tengah bimbang dengan hatinya sendiri.
πππππ
Jam 02.00 siang.
Tiara pun berangkat ke luar kota bersama rekan kerjanya di Restoran, semoga saja perjalanan ini bisa melupakan semua masalah dan persoalan hidupnya.
ππππ
"Tuan, ini waktunya nona Tiara berangkat ke luar kota, Apa anda tidak ingin menghubunginya untuk mengatakan sesuatu?"
Arkan menggeleng.
"Anda yakin tidak ingin mengatakan apapun pada Nona Tiara?"
Kali ini lelaki itu malah diam tak menjawab pertanyaan Ken.
Ken tahu apa yang Arkan pikirkan, lalu ia menyerahkan ponselnya pada lelaki itu.
"Apa kau memaksaku untuk menghubunginya?"tanya Arkan yang melihat Ken menyodorkan ponselnya.
"Baiklah jika anda tidak mau,"Ken menarik kembali ponselnya dan ingin memasukkan ke dalam saku.
__ADS_1
Tapi dengan cepat tangan Arkan menahan.
"Kau sudah meminjamkannya, dan aku harus menghargai itu,"Arkan meraih ponsel yang ada di tangan Ken.
Ken tersenyum, iya tahu jika sebenarnya Arkan gelisah dengan keberangkatan Tiara ke luar kota yang memakan waktu selama satu minggu.
Dengan ragu-ragu Arkan mulai menekan nomor Tiara, tapi sayang sekali ponsel Gadis itu sepertinya tidak aktif karena sudah beberapa kali Arkan menghubunginya tidak tersambung.
"Apa dia mematikan ponselnya?"tanya Arkan pada Ken.
"Belum tentu tuan, mungkin baterai ponselnya yang sudah lowbat dan Nona lupa untuk mengisi daya, Anda bisa menghubunginya beberapa menit lagi,"saran Ken untuk menenangkan tuannya.
"Tuan, janganlah anda terpaku dengan masa lalu anda pada Nona Berlian, Karena semua itu bukan salah anda."tiba-tiba Ken berkata seperti itu pada Arkan.
"Apa maksudmu?"
"Saya rasa anda mengerti apa yang saya katakan tuan."
Arkan terdiam, ia merenungi masa lalunya, yang membuatnya harus tetap bersama dan menjaga Berlian.
πππππ
Sore hari, dan sampai di waktu ini pula, ponsel Tiara masih belum aktif.
Arkan sudah pulang dan saat ini ia berada di kamarnya, ia Tengah kesal karena ternyata Tiara menghubungi Bi Imah dengan nomornya yang baru.
"Kenapa dia malah mengabari Bi Imah, padahal aku yang sejak siang tadi menghubunginya sampai puluhan kali,"grutu Arkan.
Karna tak terima,
Arkan meraih ponselnya untuk kembali menghubungi nomor baru Tiara dia ingin melakukan protes pada istrinya itu.
KRING......
Tapi ponselnya sudah terlebih dahulu berdering.
Ya! yang menghubunginya adalah Berlian.
"Halo Ber, ada apa?"
("Ar, aku sudah tahu siapa yang menjebakmu malam itu dan ternyata dugaanku benar!") Suara Berlian dari seberang sana.
"Siapa?" Antusias Arkan, yang tak sabar ingin mendengarnya.
("Tiara")
"Apa! Tiara, Apa kau tidak salah?"ragu Arkan.
("Tidak, aku punya semua buktinya, aku bertemu dengan teman Tiara yang membantunya untuk memuluskan kejadian di Hotel itu.")
"Kau yakin?"
("Aku sangat yakin, dan untuk memastikannya kau datanglah ke rumahku aku sudah menahan teman Tiara.")
"Baiklah aku ke sana sekarang."
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arkan segera pergi menuju rumah Berlian.
"Tuan Anda mau ke mana, bukankah anda baru pulang?"tanya Bi Imah yang mendapati Arkan kembali turun dari kamarnya.
"Aku ada urusan sangat penting Bi."
Dan setelah menjawab pertanyaan Bi Imah Arkan keluar dari rumah dengan mengemudi mobilnya tanpa Ken.
ππππ
Tak butuh waktu lama ia sampai di rumah Berlian dan Gadis itu sudah menunggu di luar.
__ADS_1
"Ar!"wajahnya terlihat sangat bahagia melihat kedatangan Arkan.
"Di mana dia?"
"Ada di dalam."
Di dalam, teman Tiara tengah meringkuk di sofa, ia ketakutan ditambah lagi dengan kedatangan Arkan semakin membuatnya takut.
Arkan meneliti gadis yang tengah meringkuk di sofa itu.
"Siapa namamu?"tanya Arkan dengan kasar.
"Nama saya Wina, tuan."sahutnya tanpa berani mengangkat kepala.
"Apa benar kau teman Tiara?"
Wina mengangguk.
"Benar tuan, saya sahabat dari Tiara."
"Cepat katakan apa yang kau lakukan malam itu?"Arkan sudah memberatkan suara dan menajamkan matanya.
"Maafkan saya tuan, saya hanya disuruh!"
"Saya tidak butuh maafmu, cepat katakan apa yang kau lakukan malam itu?"Arkan mulai marah.
"Maaf tuan, saya terpaksa melakukan itu karena Tiara yang meminta bantuan pada saya."
DEG!
"Apa, Tiara!"
Jadi benar Tiara yang melakukan semua itu.
"Cepat jelaskan semuanya jangan membuang-buang waktu,"sahut Berlian yang tak sabar.
"Pada sore itu, Tiara meminta saya untuk membantunya membuat anda tidak sadarkan diri, dan Saya menyarankan Tiara untuk meminta bantuan pada teman saya yang bekerja di Hotel itu, minuman yang dibawa petugas Hotel sudah dicampur dengan obat tidur dan saat anda tidak sadarkan diri, dengan bantuan dari karyawan Hotel, Tiara masuk ke kamar anda."
"Untuk apa Tiara melakukan itu?"Arkan masih menyimpan keraguan.
"Karena ibu anda yang meminta Tiara untuk melakukan itu, dan karena dirasa berat, Tiara meminta bantuan pada saya, dan tujuannya adalah! agar anda dan Nona Berlian berpisah."
"Kau dengar Ar! Selama ini dugaanku benar, jika Tiara dan mamamu lah yang ada di balik semua ini,"kata Berlian.
Wajah Arkan memerah, mungkin juga darah di dalam tubuhnya sudah mendidih karena teramat marahnya dia dengan Tiara dan Mamanya, tapi Arkan merasa ada yang aneh dengan keterangan dari Wina.
Arkan memajukan beberapa langkah kakinya untuk mendekati Wina.
"Angkat wajahmu!"kata Arkan.
Karena sejak tadi Wina masih saja menundukan wajahnya, bahkan saat memberi penjelasan pun Gadis itu sama sekali tidak menatap Arkan dia selalu menunduk sambil *******-***** jari tangannya.
"Cepat angkat wajahmu! Apa kau ingin saya yang memaksa mengangkat wajahmu itu?"teriak Arkan memenuhi ruangan.
"Tidak tuan, maafkan saya,"dengan perlahan Wina mulai mengangkat wajahnya menatap Arkan.
Arkan mendapati ada beberapa luka lebam di wajah Gadis itu dan dari matanya ia sangat gelisah dan ketakutan.
"Apa kau memukulnya?"tanya Arkan pada Berlian.
"Bukan memukul Ar, aku hanya memberi sedikit pelajaran pada dia, agar dia mau berkata jujur,"jawab Berlian.
ππππππππππ
Terimakasih sudah mau membaca cerita iniππ€
Mohon dukungannya ππ€
__ADS_1