
Beberapa tahun silam.
Arkan yang pulang dari pesta dalam keadaan mabuk parah menjadi bulan-bulanan Tri, bukan hanya Arkan bahkan Ken, Bi Imah, dan Wilson pun ikut kena imbasnya.
Tri sampai menutup Hotel tempat diselenggarakan pesta, dan Tri menghukum semua teman-teman Arkan yang terlibat dalam pesta itu.
Mengingat kejadian mengerikan itu bi Imah mengangguk, Ia pun tidak mau terkena imbas kemarahan sang nyonya besar.
"Baiklah, saya akan merahasiakan ini dari Nyonya Tri."
Ken tersenyum lega.
"Terima kasih Bi!"
πππππππππ
Keesokan harinya.
Dengan wajah murung Tiara menyiapkan sarapan pagi.
"Nona, apa hari ini anda akan pergi bekerja?"tanya Bi Imah dengan hati-hati.
"Iya Bi," sahut Tiara singkat.
"Tidak bisa kah jika Nona libur untuk hari ini saja, karena tuan Arkan sedang sakit."
"Sakit! Bisa sakit juga dia,"cetus Tiara, membuat bi Imah bengong.
"Maaf Bi aku hanya bercanda."
"Memangnya Arkan sakit apa?"
"Semalaman Tuan Arkan muntah-muntah dan sekarang badannya panas."
"Mungkin dia masuk angin karena pulang larut."
"Sepertinya begitu non,"tentu Bi Imah tidak mungkin mengatakan jika Arkan pulang dalam keadaan mabuk parah sampai membuatnya sakit seperti ini, lebih-lebih lagi Bi Imah tidak akan mengatakan jika Arkan semalam pergi bersama mantan kekasihnya.
"Apa Bibi tahu dia dari mana semalam?"
DEG.
Mendapat pertanyaan seperti itu bi Imah menjadi gugup.
"Tentu saja bekerja Non."
"Sampai subuh begitu?"
"Betul non, Tuan Arkan memang pekerja keras." Bohong Bi Imah, dan Tiara hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Baiklah aku akan membuatkan bubur untuknya."
"Terimakasih Non!"
Setelah bubur siap Tiara dengan penuh keberanian mengantarkan sendiri bubur itu ke kamar Arkan.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Tok.
"Ini aku, Aku hanya ingin mengantarkan bubur untukmu sarapan, Bi Imah Tengah sibuk di dapur, aku hanya akan meletakkan bubur ini di mejamu lalu dengan cepat akan keluar kembali dari kamar mewahmu ini,"cerocos Tiara yang masih berdiri di depan pintu kamar Arkan.
CKLEK.
Pintu terbuka, tapi Ken yang muncul dari sana.
"Kenapa kau ada di kamar Arkan?"kaget Tiara,"Apa yang kau lakukan di dalam?"Tiara bertanya tapi dengan sorot mata penuh curiga.
Karena Ken hanya berdua saja di dalam kamar itu bersama Arkan.
"Saya sedang membantu Tuan Arkan untuk membersihkan diri."
"Apa!"jawaban Ken, semakin membuat Tiara terkejut,"membersihkan!"
"Nona, kau Jangan berpikir yang tidak-tidak, apa sebaiknya Anda saja yang membantu Tuan akan untuk membersihkan diri?"
"Tidak! Tidak!"tolak Tiara dengan cepat,"kau saja yang melakukannya Aku hanya ingin mengantarkan bubur untuk Arkan sarapan."
Tiara menyerahkan nampan berisi satu mangkuk bubur yang masih panas di depan wajah.
"Nona, lebih baik anda sendiri yang membawa bubur itu, bila perlu suapin Tuan Arkan, karena beliau kesulitan dalam bergerak."
"Apa separah itu?"
Ken mengangguk.
Tiara berpikir sejenak.
Tawaran berharga untuk mu, tapi tidak untuk ku.
Ken, membuka pintu kamar lebar-lebar, mengisyaratkan agar Tiara segera masuk ke dalam.
"Baiklah! Aku akan masuk,"Tiara mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Arkan.
Arkan yang terlihat lemah karena tengah sakit hanya bisa bersandar di ranjangnya sambil menatap Tiara yang semakin dekat dengannya.
"Selamat pagi! Kau sedang sakit kan jadi stop dulu untuk marah-marah." Tiara meletakkan mangkuk bubur di atas meja samping ranjang yang ditiduri Arkan.
"Karena aku sedang bahagia, aku tidak akan marah padamu untuk hari ini,"sahut Arkan, dengan suara seraknya.
"Apa karena kau sakit jadi bahagia! Aku tahu maksud mu, dengan sakit seperti ini Kau pasti bisa izin untuk tidak bekerja, dan itulah yang membuatmu bahagia iya kan?"
Hahaha, Arkan tertawa kecil,"Kau pikir aku ini sepertimu yang harus menggunakan alasan sakit hanya karena ingin bolos bekerja, aku ini presider aku bebas bekerja dan libur kapanpun aku mau dan tidak ada satu orang pun yang memarahi atau melarangku,"bangga Arkan dengan sombong.
"Terserah kau saja, ini makanlah sarapanmu selagi buburnya masih hangat."
Arkan meraih bubur yang ada di meja dan mulai memakannya.
Tumben sekali dia Antang pagi ini, apa karena dia sedang sakit?
Kalau begitu lebih baik dia sakit terus agar rumah ini tentram.
Astaga! Apa yang kau katakan Tiara? Kau tidak boleh menumpahinya seperti itu!
__ADS_1
Tiara merutuki dirinya sendiri.
"NONA ANDA TIDAK BOLEH MASUK!"
Suara teriakan dan panik Bi Imah terdengar jelas dan menarik perhatian 3 orang yang ada di kamar Arkan.
"Arkan!"
Semua mata terbelalak melihat wanita yang tengah berdiri di ambang pintu.
Arkan sampai menghentikan makannya sedangkan Tiara masih menatap heran dan bertanya siapa wanita itu.
"Maaf tuan, Bibi sudah coba menghalanginya tapi....!"
"Tidak apa-apa bi,"potong Arkan,dan sukses menghadirkan senyum di wajah wanita yang tak lain adalah Berlian.
Gadis itu nekat mendatangi Rumah Arkan bahkan sampai menerobos kamar lelaki itu meskipun Bi Ima menghalanginya.
"Nona Berlian, untuk apa Anda datang ke sini Tuan Arkan sedang sakit dan ini semua pasti karena anda,"ucap Ken, yang dengan langsung menunjukkan rasa tidak sukanya pada Berlian.
"Ken, kau jangan bicara seperti itu padanya,"sahut Arkan.
Sedangkan Tiara masih bingung dan menduga-duga siapa wanita itu, kenapa Arkan sangat membelanya.
"Ber, Kenapa kau datang ke sini, padahal aku bisa ke tempatmu."
"Tentu karena aku mengkhawatirkanmu Ar,"Berlian mendekat dan kini ia berdiri tepat di hadapan Tiara.
Tanpa rasa canggung Berlian mengulurkan tangannya pada Tiara.
"Perkenalkan namaku Berlian kekasih Arkan!"
DEG!
Kekasih Arkan!
Jadi ini kekasihnya? Sungguh sangat-sangat cantik_Tiara.
Tiba-tiba hati Tiara menjadi panas, tapi secara bersamaan Ia juga seperti mendapat hembusan angin sejuk dan mampu menghilangkan rasa panas di dadanya.
Kekasih, jadi dia masih berhubungan dengan kekasihnya, apa ini akan menjadi jalan HOKI untukku! Tentu wanita cantik yang ada di hadapanku ini tidak sudi jika kekasihnya sudah mempunyai istri kan? Dengan begitu ia akan meminta Arkan untuk segera mengakhiri pernikahan Drama ini_Tiara.
Bi Imah yang melihat Tiara terdiam sambil menatap Berlian menjadi iba, ia mengira jika Tiara Tengah bersedih dan kecewa dalam hatinya, padahal Tiara Tengah menyusun rencana dengan kehadiran Berlian.
Kasihan sekali Nona Tiara.
Tapi melihat keangkuhan di wajah Berlian, Tiara ingin memberi sedikit sentilan untuk wanita itu.
Sambil menyinggungkan senyum di ujung bibirnya, Tiara membalas uluran tangan Berlian.
"Namaku Tiara, istri dari Arkan Argani."
Perkenalan diri dari Tiara sontak membuat Berlian malu, ia memperkenalkan diri sebagai kekasih Arkan pada wanita yang berstatus sebagai istri Arkan.
πππππππππππππ
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini ππ€
__ADS_1
Mohon dukungannya ya ππ€
β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈππ»