Suami Antagonis

Suami Antagonis
Bab 57. Dansa


__ADS_3

Lastri menjatuhkan dirinya, dan menjerit histeris setelah Herman benar-benar membawa Intan pergi.


Secara bersamaan, Bulan datang.


Ia bergegas turun dari Motornya, dan menghampiri ibu Lastri.


"Ada apa bu? Apa yang terjadi?"


"Bulan, Intan."


"Ada apa dengan Intan?"


"Herman membawa paksa Intan."


"Apa! Om Herman membawa Intan?"Bulan Terkejut!


Bu Lastri mengangguk, tak mampu berkata apa-apa lagi.


"Ibu tenang, dan tunggu di sini, aku akan menghubungi Tiara."


"Jangan Nak," cegah Lastri,"jangan beri tahu Tiara, dia pasti akan panik mendengarnya, dan tidak menutup kemungkinan Tiara akan langsung pulang, ibu tidak mau jika Tiara bertemu kembali dengan Arkan."


Bulan diam.


Gadis itu merasa sangat bersalah pada Bu Lastri, karna kecerobohannya yang terperdaya oleh Rio,


Dan membuat Ken memanfaatkan kelemahannya, hingga tanpa sadar ia menceritakan semua rahasia besar nya pada lelaki itu.


"Maafkan aku Bu Lastri, sepertinya Arkan sudah mengetahui kebenaran Tiara, mungkin lelaki itu sudah mendatanginya sekarang. Ini semua karna Sekretarisnya itu, awas saja aku akan membalasnya jika terjadi sesuatu pada Tiara.".


"Bulan, bisa antar ibu ke Rumah Herman?"


"Ibu di sini saja, biar aku yang akan ke Rumah Om Herman, dan akan membawa pulang Intan."


Bulan membantu Bu Lastri kembali masuk ke dalam.


"Ibu jangan khawatir dan tetep tunggu di sini, aku akan berusaha membawa Intan kembali."


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Tolong lepaskan saya pak, biarkan saya bersama ibu saya, bapak mau membawa saya kemana?"


Intan terus saja merengek pada pria yang duduk di sebelahnya,


yaitu Herman.


Saat ini Herman tengah berada di dalam Mobilnya, berniat membawa Intan ke Rumah Merlin.


Herman sebenarnya, tengah merasakan sesek di dada mendengar Intan, tidak memanggilnya Ayah.


Tapi Herman memaklumi itu, karna Intan memang belum pernah bertemu dengannya, tapi mulai dari sekarang Herman akan merubah itu, Herman akan meminta bila perlu memaksa Intan untuk memanggilnya Ayah dan mengakuinya sebagai Ayah.


"Intan, panggil saya Ayah! Saya ini ayah mu."


Intan menggeleng cepat.


"Tidak! Kata ibu dan kak Tiara, Ayah saya sudah meninggal dunia," sahut Intan.


"Jangan dengarkan kakak dan ibu mu, Ayah mu masih hidup dan itu adalah saya," tegas Herman.


Membuat Intan semakin takut dengannya.


Melihat Intan yang ketakutan dengannya, Herman merasa bersalah.


Ia mengulurkan tangan dan mengusap lembut rambut gadis kecil yang masih berusia 10 tahun itu.


Bukannya merasa tenang, Intan malah semakin ketakutan dan ia terdiam tak mau mengeluarkan sepatah kata pun.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Di tengah meriahnya pesta.


Dansa pun akan segera dimulai.


Tiara menepi karena ia ingin menghubungi Lastri ibunya, tiba-tiba ia merasa tidak tenang dan selalu terpikir oleh Intan.


("Intan baik-baik saja Nak, dia tengah beristirahat.") Sahut Bu lastri di seberang sana, menutupi kejadian yang sebenarnya, ketika Tiara menanyakan kabar Intan.


"Syukurlah aku lega mendengarnya. Ya sudah Bu, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya besok aku akan hubungi Ibu lagi, aku ingin bicara dengan Intan."


Setelah panggilan usai Tiara kembali pada Jay.


Tapi langkahnya terhenti karena adanya seorang wanita yang memberikannya topeng.


"Maaf, ini untuk apa?"tanya Tiara bingung karena tiba-tiba orang itu memberikannya topeng berwarna silver.


"Topeng ini untuk menutupi sebagian wajah anda karena pesta Dansa akan segera dimulai."


"Maaf, tapi saya tidak bisa berdansa, jadi saya rasa tidak memerlukan ini, karena saya tidak mengikutinya."Tiara menyerahkan topeng itu kembali.


"Maaf Nona, tapi semua tamu diharuskan menutup sebagian wajahnya, anda jangan khawatir jika anda tidak bisa berdansa. Karena nanti pasangan Dansa anda yang akan membimbingnya."


"Baiklah! Terima kasih."


Akhirnya Tiara mau tidak mau menerima benda yang menurutnya aneh itu.


"Baiklah, aku akan mengambil dan mengenakannya saja, tapi tetep aku tidak mengikuti Dansanya.".


πŸ‚


Dansa akan dimulai dalam waktu 2 menit lagi, dan penerangan benar-benar akan dipadamkan setelah 2 menit.


Jay tengah kebingungan mencari Tiara yang berpamitan ingin ke Toilet, tapi belum kembali juga.


Sedangkan panitia tengah meminta para tamu untuk membagi 2 kelompok.


Kelompok 1 untuk wanita


Dan Jay pun terpaksa mengurungkan niatnya untuk mencari Tiara karena dia sudah ditarik terlebih dahulu untuk menuju kelompok 2.


"Kau mau ke mana Jay, Dansanya akan segera dimulai. Inilah Acara yang sangat dinanti-nanti, karna ini bisa menjadi ajang pencarian Jodoh juga, beruntung Om Raymond mengadakan di pesta pembukaan Restoran baru nya, gadis-gadis di sini sungguh sangat cantik-cantik, sepertinya aku tidak perlu memilih dan menebak-nebak lagi, karena aku sudah ikhlas dapat pasangan yang manapun,"ucap seorang lelaki, dan ia adalah teman Jay.


"Aku sudah membawa pasanganku sendiri, dan kau tau itu kan?"sahut Jay, yang masih mengedarkan bola matanya mencari keberadaan Tiara.


CEPLEK!


Semu lampu di padamkan, dan hanya ada cahaya remang-remang dari beberapa lilin yang di pasang di ujung Aula, dan itu sama sekali tidak bisa membantu untuk siapapun mengenali seseorang.


Jay beberapa kali melafalkan mantranya, berharap jika wanita yang ia tarik adalah Tiara.


Sedangkan teman yang ada di sebelahnya sudah pasrah, seperti yang ia katakan, ia tidak perlu memilih Karena siapapun gadis yang ia dapat ia sudah ikhlas menerimanya.


Tiara yang berada di pojok aula merasa sedikit ketakutan karena suasana yang sangat gelap.


"Kenapa harus ada Dansa seperti ini, bukannya romantis ini malah terkesan menyeramkan bukan!"gerutunya.


Tiara meraba-raba langkahnya ingin keluar dari aula.


"Kalau aku keluar dari sini tentu tidak akan ada yang mengetahuinya kan, biar nanti aku akan mengirim pesan pada Jay jika aku pulang duluan, agar dia tidak mencariku,"gumamnya.


Tapi.


Belum ada dua langkah Tiara maju.


Seseorang dengan tangan besar menarik pinggangnya terlebih dahulu.


"Hey siapa kau!"Pekik Tiara yang terkejut!


Namun seseorang yang sudah pasti lelaki itu, meletakkan jari telunjuknya pada bibir Tiara, bertanda menyuruhnya untuk diam, karna aturan main Dansa di sini tidak boleh mengeluarkan suara sepatah katapun.

__ADS_1


"Apa-apaan ini! lepaskan saya, saya bukan peserta di acara ini karena saya akan segera pulang,"kata Tiara tapi dengan suara, nyaris berbisik.


Namun lelaki itu seolah tuli dan tidak mau mendengar kata-kata Tiara.


Ia menarik Tiara untuk maju ke tengah-tengah Aula dalam kegelapan.


Minimnya pencahayaan membuat Tiara tidak mengetahui siapa lelaki yang menariknya itu.


Dan sekarang mereka sudah berada di tengah-tengah Aula, bergabung dengan peserta yang lainnya.


Lelaki itu memulai aksinya.


Pertama-tama,


ia meraih tangan Tiara dan meletakkan di pundaknya,


Lalu ia meletakkan kedua tangannya di pinggang Tiara.


Dan mulai menuntun Tiara untuk bergerak sesuai alunan musik yang dimainkan.


Tak ada suara di antara mereka berdua, hanya ada hembusan nafas yang saling bersahutan di antara keduanya.


Tiara merasa tidak asing dengan tangan yang melingkar di pinggangnya, dan dia juga merasa nyaman dengan lelaki yang tidak ia ketahui siapa.


"Kenapa aku tidak merasa asing dengan orang ini, apa dia Jay!"


Tiara meraba pundak lelaki itu memastikan jika itu Jay atau bukan.


"Dia tinggi sekali. Apa ini benar-benar Jay."


Di saat Tiara masih meraba-raba pundak kokoh lelaki yang berdansa dengannya, lelaki itu malah meraih tangan Tiara, dan mendaratkan Kecupan singkat di tangan Tiara.


Tiara yang terkejut! Reflek menarik tangannya, lalu mengumpat lelaki itu.


"Anda jangan kurang ajar! Saya bisa berteriak di sini, dan anda akan menjadi bulan-bulanan puluhan orang yang ada di pesta ini,"ancam Tiara.


Namun lelaki itu malah terkekeh dalam gelap, tak memperdulikan Tiara sama sekali.


Tapi ia membisikkan beberapa kata pada Tiara.


"Bukankah anda yang lebih dulu kurang ajar! Karna telah meraba-raba pundak saya, padahal saya hanya mengajak anda untuk menjadi partner Dansa saja, tapi sepertinya anda mengharapkan Hal yang lebih, tapi sayang Nona, saya sudah menikah."


DEG!


"Suara ini!"


Tiara menurunkan tangannya dari pundak lelaki itu.


"Dia bukan Jay,"gumam Taira namun sangat jelas terdengar oleh lelaki yang ada di hadapannya.


Tapi dengan cepat Lelaki itu menahan tangan Tiara, dan malah semakin mendekatkan tubuh Tiara dengannya, sehingga membuatnya tak berjarak sama sekali.


Tangan lelaki itu bukan hanya merengkuh pinggang Tiara, tapi satu tangannya sudah mulai naik ke atas bahkan menyentuh pipi Tiara.


"Maaf tuan, saya harus pergi,"Tiara cepat menepis tangan yang tidak mempunyai sopan santun itu, lalu mendorongnya.


Tapi lelaki itu semakin erat merengkuh pinggang Tiara, bahkan sekarang malah memeluknya, sambil berbisik tepat di telinga Tiara.


"Kenapa kau ribut sekali, bahkan kau sampai mengira jika aku adalah si berengsek itu."


Tiara membulatkan matanya dengan penuh, karna ia tau siapa pemilik suara itu.


πŸ‚πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ‚


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini πŸ™


Mohon dukungannya ya πŸ™πŸ™


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya πŸ€—

__ADS_1


Love banyak-banyak untuk semuanya ❀️❀️❀️


__ADS_2