Suami Antagonis

Suami Antagonis
Bab 9. Sakit Perut.


__ADS_3

Arkan benar-benar menghabiskan nasi goreng buatan Tiara tanpa sisa sedikitpun.


"Sepertinya kau sangat menyukai masakan ku sampai kau benar-benar menghabiskannya?"ucap Tiara.


"Aku memang selalu menghabiskan makananku sekalipun itu tidak enak,"sahut Arkan.


"Terserah kau saja."


Tiara mengulurkan tangannya untuk meminta kunci pada Arkan, dan sesuai perjanjian Arkan pun memberikannya.


Setelah kunci didapat Tiara segera pergi menuju kamarnya.


Ia sudah tidak sabar ingin mengguyur tubuhnya yang sudah lengket dan berkeringat dengan air.


"Kenapa lampunya tidak menyala,"Tiara berulang kali menekan saklar lampu tapi tidak kunjung nyala, "apa mati lampu? Tapi di luar tidak, aku akan menanyakan Nanti pada bibi."


Tiara tak permasalahkan soal lampu yang tak menyala, dan sekarang ia bergegas menuju kamar mandi.


Dan di bilik itu pun nampak gelap bahkan tidak ada air yang mengalir di sana.


"Apa-apaan ini! Air pun tidak ada,"Tiara bergegas Kembali keluar dan menemui Arkan yang masih duduk di meja makan, ia sangat yakin jika ini semua ulah lelaki itu.


"Kenapa lampu kamarku padam dan tidak ada air yang mengalir di sana?"tanya Tiara dengan nada tinggi sambil menahan amarahnya.


"Apa?"sahut Arkan tanpa dosa.


"Apa kau tidak dengar! Kenapa lampu di kamarku padam dan tidak ada air yang mengalir di sana,ini pasti ulah mu kan?"Tiara sudah sangat geram rasanya ia ingin mencakar-cakar habis wajah Arkan yang menyebalkan itu.


"Aku kan sudah bilang Ini rumahku dan itu pun kamarku, jadi terserah aku dong mau memadamkan lampu atau air di kamar itu."


"Sungguh keterlaluan, tapi aku kan sudah melakukan syarat Yang Kau minta?"


"Itu hanya untuk kuncinya saja bukan untuk fasilitas yang ada di kamar itu!"


"ARKAN!"geram Tiara.


"Apa?"sahut Arkan menantang!


"Dasar lelaki kejam semoga saja kau mendapatkan balasannya!"umpat Tiara, lalu pergi menemui Bi Imah.


Sungguh lelaki itu benar-benar menguji kesabaran yang Tiara miliki, Arkan tertawa kecil menatap punggung Tiara yang mulai menghilang di balik pintu.


"Ini balasan yang setimpal untukmu karena berani mengadu pada mamah."


Sepertinya Arkan salah paham.


Arkan masuk ke dalam kamarnya, setelah ia puas membuat Tiara kesal, kini ia ingin memanjakan tubuhnya dengan berbaring di kasur terbaiknya.


Tapi, belum ada 10 menit Arkan berbaring ia merasakan ada yang bergejolak di perutnya dan itu semakin hebat hingga ia tidak sanggup lagi untuk menahan sesuatu yang akan meluncur dari tubuhnya.


Arkan lari menuju toilet yang ada di kamarnya, dan kalian pasti sudah tahu apa yang di lakukan Arkan di dalam sana.


Bukan cuma satu kali, tapi Arkan sudah berkali-kali mundar-mandir ke dalam toilet untuk menuntaskan mulasnya.


"Kenapa perutku sakit, ini pasti dari nasi goreng yang dibuat dia, awas kau!"


Arkan sudah siap untuk keluar kamar dan memaki Tiara.


Tapi perutnya kembali sakit dan mulas menghentikan langkah kakinya untuk turun ke bawah, malah beralih menuju toilet kembali.


Beberapa menit kemudian.

__ADS_1


"Perutku sakit sekali,"keluh Arkan, yang entah Sudah berapa kali ia ke toilet.


Ken yang baru pulang mengetuk kamar Arkan untuk menanyakan beberapa hal soal pekerjaan.


Tok.


Tok.


Tok.


"Tuan, ini saya!"


"Masuk Ken."


Pintu tidak di kunci dan kan segera masuk ke dalam kamar Arkan.


"Tuan, Anda kenapa?"khawatir Ken, yang melihat Arkan dengan wajah pucat Tengah bersandar di pintu kamar mandi.


"Perutku sakit dan mulas!"


"Apa anda makan dengan baik hari ini, Kenapa bisa mulai seperti ini?"cemas Ken.


"Ini semua gara-gara dia!"


"Dia?"


"Dia, Tiara."


"Apa yang dilakukan Nona Tiara?"


"Dia membuatkan nasi goreng untukku dan sudah pasti ia menambahkan sesuatu dalam makanan itu hingga membuatku sakit perut seperti ini."


"Tidak perlu, ambilkan saja aku obat sakit perut."tolak Arkan, dan ia kembali lagi ke dalam toilet.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Keesokan harinya!


BRAK!


Arkan mendorong dengan kuat pintu kamar Tiara, membuat Tiara yang tengah bersiap-siap menjadi terkejut.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?"kesal Tiara, yang melihat Arkan dengan wajah pucat tapi sangar tengah berdiri di ambang pintu.


Arkan tidak peduli ia melangkahkan kakinya mendekati Tiara dan mencengkram kuat lengan gadis itu.


"Lepaskan! Ini sakit tau!"


"Sakit? Kau masih bisa merasakan sakit juga?"ucap Arkan dengan melebarkan mata menatap Tiara penuh amarah.


"Lepaskan!"Tiara berhasil menghempaskan tangan Arkan yang mencengkram tangannya,"aku bisa melaporkan tindakan ini sebagai KDRT,"ancam Tiara.


Hahaha....


Arkan malah tertawa terbahak-bahak, dan kembali mencengkram tangan Tiara.


"Melaporkan? KDRT?"bukankah seharusnya aku yang melakukan semua itu karena kau sudah memasukkan racun pada makananku yang membuat perutku sakit semalaman,"teriak Arkan tepat di wajah Tiara.


Tiara diam, dia memang memasukkan obat pencahar di nasi goreng yang Arkan makan kemarin sore.


Dengan kuat Tiara menghempaskan tangan Arkan dan mendorong laki-laki itu sampai membentur tembok!

__ADS_1


"Itu balasan untuk lelaki kejam sepertimu!"


"Kejam kau bilang?" Bentak Arkan.


"Tentu saja apa kau tidak merasa? Memadamkan listrik di Kamar ku, dan mematikan Air, apa itu masih kurang kejam!"kesal Tiara.


"Itu semua karena salahmu yang sudah berani mengadu pada mamah!"Arkan kembali berteriak.


"Mengadu? Apa maksudmu?"


"Kau mau pura-pura bodoh, atau kau anggap aku yang bodoh? Kau kan yang mengadu pada Mamah, jika aku yang mengusirmu dari kamarku, agar kau bisa mendapat perhatian dari mamah."


"Maaf tuan Arkan, aku tidak seperti itu, dan aku juga sama sekali tidak pernah bicara apapun pada mamah mu."


"Aaah.. sudahlah, kau jangan sok polos Aku muak melihatnya."


"Ada apa ini?"


Karena Arkan bicara dengan berteriak, membuat Bi Imah dan Ken datang ke kamar Tiara.


"Tuan Arkan, Kenapa Anda bicara dengan nada seperti itu pada Nona Tiara?"tegur Bi Imah.


"Memangnya kenapa? Aku bebas bicara apapun pada dia!"tunjuk Arkan pada Tiara, sementara Tiara hanya diam saja memperhatikan Arkan yang tengah marah-marah.


"Tuan tenangkan diri Anda tidak baik untuk kesehatan anda Jika marah-marah seperti ini,"Ken menyahut.


"Kalian tidak usah ikut campur ini urusanku dengan wanita ini,"sahut Arkan yang kembali meninggikan dan menajamkan mata serta suaranya, ia sudah siap untuk menerkam Tiara.


"Tuan kendalikan diri Anda!"ucap Ken, dan Bi Imah secara bersamaan.


Tak perduli dengan nasehat dua orang yang masih berdiri di ambang pintu, Arkan kembali mendekati Tiara sambil menggerak-gerakkan tangannya.


Arkan menyunggingkan senyum sambil terus menatap Tiara yang masih tidak bergeming di posisinya.


"Kenapa ? Apa kau takut?"ucapkan.


Tiara menggeleng.


"Tidak!"


"Benarkah! Sepertinya kau belum tahu seperti apa kemarahan ku!"


Arkan semakin dekat dan saat ini sudah berada tepat di hadapan Tiara, dengan wajah merah dan mata yang menyala bagai Elang.


Akan mulai mengangkat tangannya dan mencengkram perutnya.


Kenapa perut ku sakit lagi.


Tiba-tiba Arkan lari menuju kamar mandi yang ada di kamar Tiara.


"Tuan, Apa kau akan menuntaskan sakit perutmu di situ? Sepertinya kau lupa jika tidak ada air di sana,"ujar Tiara dengan senyum tipisnya.


"Sial!"umpat Arkan, dan ia langsung berlari keluar dari kamar Tiara, sambil memegangi perutnya.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Terimakasih sudah berkenan mampir ke cerita ini.


Mohon dukungannya ya πŸ™πŸ™


Love banyak-banyak untuk semuanya ❀️😘

__ADS_1


__ADS_2