Suami Antagonis

Suami Antagonis
Bab 52. Surat Gugatan Cerai!


__ADS_3

Keesokan harinya.


Merlin menyampaikan soal pendonoran antara Herman dan Intan pada Berlian.


"Apa Mamah sudah gila! Mamah membiarkan Papah untuk mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada anak itu?" Merlin mendapatkan protes keras dari putrinya.


"Ini semua demi kamu Nak."


"Tapi kenapa harus mengorbankan Papah Mah? Mamah tahu kan, Papah sering sakit-sakitan, bagaimana jadinya jika papah harus mendonorkan Sumsum tulang belakangnya."


"Sudah! Kau tidak usah memikirkan papahmu, yang terpenting sekarang kau bisa merebut Arkan kembali dari Tiara."


Berlian terdiam.


Ia memang sangat menginginkan Arkan kembali padanya, ia tidak rela jika Arkan bersama dengan Tiara.


Tapi di sisi lain.


Ia juga tidak tega jika papahnya harus melakukan pendonoran itu, karena itu akan berpengaruh pada kesehatan papanya kelak.


Tapi karena Merlin terus mendesak dan membujuknya.


Akhirnya Berlian pun setuju dengan keputusan Merlin.


Dan saat ini, wanita itu tengah membujuk suaminya, Herman, agar bersedia melakukan pendonoran pada Intan.


Tentu Herman tidak keberatan jika ia harus mendonorkan sumsumnya pada Putri bungsunya, karna ia menganggap itu memang harus ia lakukan sebagai ayah dari Intan.


Dan Herman merasa itupun masih belum bisa untuk menebus semua kesalahannya pada Rossa.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pukul 09.00 pagi Operasi dilakukan.


Tanpa Tiara di sana, karena Gadis itu sudah terbang ke luar Negeri.


Hanya Bu lastri dan Bulan yang menunggu di depan pintu Operasi sambil memanjatkan ratusan Doa untuk keselamatan Putrinya.


Berulang kali Tiara mengirimkan pesan pada Bulan dan Ibunya itu menanyakan kabar Intan.


Dan ibu Lastri selalu menghibur putrinya bahwa Intan akan baik-baik saja.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Di tempat lain.


Arkan tengah bersiap-siap untuk menjemput Tiara pulang.


Ia kesal karena sejak semalam pesannya tidak dibalas oleh Tiara bahkan Gadis itu mematikan ponselnya.


"Tuan,"Ken masuk ke dalam kamar Arkan sambil membawa sebuah amplop di tangannya.


"Ada apa Ken? Apa kau juga ingin ikut?"sahut Arkan tanpa menoleh karena ia tengah sibuk mengemasi pakaiannya.


Karena niat Arkan bukan hanya menjemput Tiara, tapi ia ingin tinggal beberapa hari di sana sekaligus menemani istrinya itu sampai adiknya sembuh.


Dan Arkan juga sudah membulatkan hatinya untuk mengatakan semuanya pada Tiara!


Tentang semua masa lalunya dengan Vino yang mengharuskan dia bersama Berlian.


Arkan bertekad akan mengakhirinya dan memulai hidup baru bersama Tiara, tanpa harus dihantui dengan bayang-bayang kematian Vino.


Dan Arkan pun Sudah menyampaikan kejujuran yang selama ini ia tutupi Berlian.


Arkan juga akan mengatakan Cinta pada istrinya itu.

__ADS_1


Tapi sepertinya itu sudah terlambat!


Itu bisa diprediksi dari raut wajah Ken yang dari tadi hanya tertunduk dan sedih.


Mendapati tidak ada sahutan dari Ken, membuat Arkan menoleh pada Sekretarisnya itu.


"Ada apa Ken, Kenapa wajahmu muram seperti itu? Apa ada masalah?"tanya Arkan yang menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi melihat dari ekspresi wajah Ken.


Ken maju beberapa langkah lebih dekat dengan tuannya.


Lalu ia menyerahkan amplop putih yang sejak tadi ia genggam pada Arkan.


"Apa ini?"tanya Arkan bingung sambil meneliti amplop putih besar itu.


Arkan sedikit terkejut karena amplop itu ternyata dari Pengadilan Negeri.


"Apa ini Ken?"


"Anda bukan saja tuan, dan tenangkan hati anda."


Dengan gerakan cepat Arkan menyobek amplop itu dan membaca isinya.


Bagai disambar Petir.


Lalu di hantam dengan Batu besar.


Dan diterjang oleh Tsunami!


Hati Arkan remuk bercampur marah ketika membaca kertas di dalam amplop itu.


Itu adalah surat gugatan cerai dari Tiara Istrinya.


Ia meremasnya dengan kuat kertas itu, menggambarkan betapa remuknya hati dan perasaannya saat ini.


Lalu ia melemparkannya di hadapan Ken.


"Maaf tuan, itu benar-benar dari Nona Tiara, Nona Tiara melayangkan gugatan cerai pada anda, dan Nona pun memohon agar anda segera menandatanganinya."


BRAK!


Arkan menggulingkan koper yang berisi pakaiannya sampai berhamburan di lantai.


Lalu ia berjalan menginjak semua pakaian yang berhambur, dan keluar dari kamarnya.


"Tuan Anda mau ke mana?"Ken berlari menyusul Arkan.


"Tidak usah mengikutiku Ken, aku akan menyeret wanita itu untuk pulang ke sini."


"Tapi tuan!"


"Aku bilang diam! dan jangan mengikutiku, Apa kau tidak dengar!"Maki Arkan.


Ken terdiam dan menghentikan langkahnya.


Ia harus mengalah karena tuannya ini benar-benar sedang murka.


Ia membiarkan Arkan masuk ke dalam mobilnya dan melaju dengan kencang keluar gerbang rumahnya.


Tapi Ken tidak tinggal diam!


Ia segera mengikuti Arkan menggunakan mobilnya.


Bi Imah yang panik, dan tahu jika ada masalah besar dengan Arkan segera menghubungi Tri.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Arkan melajukan mobilnya dengan sangat kencang.


Ia menuju ke Rumah Lastri.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Di Rumah Sakit!


Setelah beberapa jam lamanya melakukan Operasi.


Dokter keluar dengan membawa kabar baik.


jika operasinya berjalan dengan lancar.


Ucap syukur tak henti-hentinya keluar dari mulut Bu lastri dan Bulan.


Bagi Lastri, tak ada kabar yang membahagiakan selain kabar kesembuhan putrinya.


Intan sudah dipindahkan di Ruang rawat, begitupun dengan Herman.


Setelah operasi ini, dan kondisi Intan pulih, Lastri akan membawa Intan pergi sejauh mungkin dari kota ini, untuk menghindari orang-orang di masa lalu mereka.


Lastri juga tidak mengizinkan Herman bertemu dengan Intan bahkan Hanya untuk satu detik pun.


Ia akan menjauhkan putrinya dari pria itu.


"Bu, Aku tinggal dulu ya, aku akan menyampaikan kabar baik ini pada Tiara."pamit Bulan pada Bu lastri yang tengah menemani Intan di kamarnya.


"Iya nak, tolong katakan pada Tiara untuk tidak mengkhawatirkan ibu dan adiknya di sini, katakan padanya jika kami akan baik-baik saja, dan dia harus menjaga dirinya dengan baik di sana."


"Iya Bu."


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Di Rumah Sakit yang sama tapi di Ruangan yang berbeda.


Berlian tengah menggenggam tangan Herman yang masih belum sadar.


"Papah, Maafkan aku pah,"sesal Berlian.


"Sudahlah sayang, kau jangan merasa bersalah seperti itu, papah mu memang harus melakukan itu demi kebahagiaanmu kan! dia harus bisa melakukan apa saja demi kebahagiaan mu."


Berlian terdiam sambil terus memegang tangan Herman.


"Sayang! Apa kau sudah menghubungi Arkan?"tanya Merlin.


"Semalam Arkan menemuiku mah."


"Lalu apa yang dia katakan?"


"Arkan memintaku untuk melupakannya, dan Arkan juga bilang padaku bahwa selama ini dia tidak Mencintaiku, dia bersamaku itu semata-mata hanya karena Vino. Arkan merasa bersalah atas kematian Vino lalu ia menggantikan posisi Vino untuk menjagaku,"kata Berlian dengan wajah yang sangat sedih,


bahkan ia sampai meneteskan air mata ketika mengatakan! Jika Arkan sebenarnya tidak mencintainya selama ini.


"Apa! dia berani bicara seperti itu padamu!"geram Merlin.


"Sayang! kau jangan percaya dengan kata-kata Arkan, Arkan itu mencintaimu, karena Tiara sudah menghasut dan mencuci otaknya, sampai ia bisa bicara seperti itu,


dan sekarang kau tenang saja! Gadis itu sudah pergi jauh dan tidak akan pernah muncul lagi di hadapan Arkan, dan kau bisa kembali pada kekasihmu itu dan Arkan juga akan kembali menyayangimu seperti dulu."


πŸ‚πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ‚πŸ‚


Terimakasih sudah mau membaca cerita ini πŸ™πŸ€—


Mohon dukungannya ya πŸ™πŸ™

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya πŸ€—


Love banyak-banyak untuk semuanya ❀️❀️


__ADS_2