Suami Antagonis

Suami Antagonis
BAB 78. Berlian Harus Bisa Menerima Kenyataan.


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di sini Ber?"tanya Arkan ketika sudah berada tepat di hadapan Berlian.


Berlian tidak langsung menjawab pertanyaan Arkan, karena matanya masih fokus menatap tangan Arkan yang melingkar sempurna di pinggang Tiara.


"Lepaskan tanganmu darinya Ar!"pinta Berlian yang tak tahan melihat kemesraan mereka berdua.


"Memangnya kenapa, dia istriku, aku bebas memeluknya di manapun dan kapanpun,"sahut Arkan seolah tak peka dengan perasaan Gadis yang pernah menjadi kekasihnya itu.


"Tidak Ar! Kau tidak boleh melakukannya, karena kau tidak mencintai Tiara! Kau hanya pura-pura kan! Aku yakin semua yang kau lakukan ini hanyalah pura-pura, karena sebenarnya kau sangat mencintaiku kan Ar, akulah satu-satunya wanita yang kau cintai di dunia ini, itu benar kan Ar!"kata Berlian sedikit histeris, dengan nafas yang memburu.


Namun Arkan seolah tak perduli dengan Gadis itu, dan kali ini dia benar-benar harus bersikap tegas pada Berlian.


Arkan mendekat tapi ia tidak melepaskan pelukannya dari Tiara.


"Ber, aku sudah bilang padamu kan, jika selama ini aku tidaklah mencintaimu, aku bersamamu itu semua karena Almarhum Vino bukan karena aku mencintaimu."


"Tidak mungkin Ar! Mana bisa kau mengatakan tidak mencintaiku sedangkan kau sudah bersamaku selama 2 tahun lebih."


"Sudah kubilang itu semua karena Vino. Aku kira, aku bisa mencintaimu jika kita terus bersama, itu sebabnya aku masih bertahan sampai 2 tahun lebih bersamamu, tapi kenyataannya tidak Ber. Sekuat apapun aku mencoba, tapi aku tetap tidak bisa mencintaimu, dan sekarang aku sadar, jika aku benar-benar tidak pernah mencintaimu."


"Tidak Ar, kau mencintaiku, aku tahu kau sangat mencintaiku, tapi setelah kehadiran Tiara, kau jadi berpaling dariku, kau menghapus rasa cintamu padaku hanya karena wanita yang baru kau kenal Ar,"Berlian sudah mulai terisak. Ia benar-benar terluka untuk yang kedua kalinya karena pengakuan Arkan.


"Cukup Ber! Sepertinya aku benar-benar harus bersikap tegas padamu, kau tidak berhak menyalahkan Tiara atau siapapun perkara berakhirnya hubungan kita, itu karena memang aku sama sekali tidak mencintaimu, aku tentu tidak bisa bertahan denganmu jika aku tidak mencintaimu."


"Lalu, apa kau mau bilang jika kau mencintai Tiara?"tanya Berlian, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Sementara Tiara hanya diam saja tak mengeluarkan sepatah katapun, dari lubuk hatinya yang paling dalam, Tiara sangat mengerti dengan perasaan saudarinya itu.


"Iya! Aku mencintai Tiara, dan sangat mencintainya. Jadi mulai sekarang, jangan pernah datang dan mengganggu hubunganku dan Tiara, aku sudah jujur padamu bahwa aku tidak mencintaimu dan tentu kau harus menerimanya kan! Apa mungkin kau bertahan dengan seseorang yang sama sekali tidak mencintaimu! setiap hari aku harus berpura-pura menyayangimu, melindungimu dan mencintaimu hanya karena rasa bersalah ku pada Vino, dan sekarang, aku tidak mau hidup dengan kepura-puraan dan bayang-bayang kesalahan ku pada Vino."


"Tidak Ar, aku tidak terima, pokoknya Kau Tetap milikku, dari dulu sampai sekarang Kau Tetap milikku. Aku tidak peduli kau mau mencintaiku atau tidak yang terpenting kau harus tetap bersamaku, dan jika kau tidak mau bersamaku karena Tiara, terpaksa aku akan bertindak kasar pada dia,"kata Berlian yang sudah kehilangan akal, dia menatap marah dan penuh murka pada Tiara.


Arkan melepaskan rengkuhannya tangannya dari pinggang Tiara, kemudian ia maju selangkah menghadap Berlian.


"Dengarkan ini baik-baik. Jika sekali saja kau berani menyentuh Tiara, akan ku pastikan kedua tanganmu ini tidak dapat berfungsi lagi, bukan cuma kedua tangan mu, bahkan kaki dan kedua bola matamu akan aku pastikan tidak ada di tempatnya lagi jika kau berani macam-macam. Ingat itu baik-baik!"kata Arkan, setengah berbisik pada Berlian, dan bisikan itu penuh penekanan.


Berlian meremas kuat jari-jarinya.


Saat ini ia benar-benar sudah berada di batas kesabarannya, ia sudah tidak bisa bermain cantik dan bermanis-manis seperti Berlian yang anggun.


Dan sekarang dia akan mengambil cara yang lain agar bisa memisahkan Arkan dan Tiara.


Matanya memerah dan dadanya masih bergemuruh menatap Arkan dan Tiara.


"Kenapa kau masih di sini? Apa aku harus meminta Security untuk mengusirmu dari depan pintu kamar Hotelku?"kata Arkan.


"Kau tega padaku Ar?"


"Tentu saja, Kenapa tidak? Aku akan tega pada siapapun orang yang berani mengancam istriku!"


Berlian benar-benar hancur, ya! hatinya hancur berkeping-keping.


Sudah tidak ada harapan lagi, Arkan benar-benar sangat mencintai Tiara.

__ADS_1


Dan lelaki itu pasti akan melakukan apapun demi melindungi wanitanya.


Arkan sudah meraih Ponselnya ingin menghubungi petugas keamanan Hotel, Tapi Tiara mencegahnya.


"Berlian!"panggil Tiara dengan lembut.


"Apa!" Namun di balasan dengan bentakan oleh Berlian,"apa kau ingin menertawakan kekalahanku! Apa kau ingin memamerkan kemenanganmu yang sudah berhasil mencuci otak Arkan hingga dia meninggalkanku begitu saja, meninggalkan wanita yang sudah ia temani selama 2 tahun lebih, kau benar-benar Benalu Tiara!"


"BERLIAN! JAGA UCAPANMU!"bentak Arkan dengan suara yang menggelegar.


Dengan wajah merah padam dan rahang bawah mengeras, Arkan mencengkeram lengan Berlian.


"Sekali lagi kau meninggikan suaramu di depan istriku, apalagi sampai menghina dan memakainya. Aku tidak akan segan-segan untuk menutup mulutmu rapat-rapat dan kau tidak akan pernah bisa bersuara lagi di sepanjang hidupmu,"kata Arkan dengan mata yang melotot di hadapan Berlian.


Gadis itu ketakutan sekaligus meringis karena cengkeraman Arkan yang benar-benar sakit di lengannya.


"Cukup Arkan! Lepaskan!"pinta Tiara yang menarik tangan Arkan dari cengkraman di lengan Berlian.


Namun Arkan enggan melepaskan cengkeramannya, bahkan ia menambahkan tekanan dari cengkraman itu sampai membuat tangan Berlian hampir remuk dibuatnya.


"Sakit Arkan!"Pekik Berlian.


"Arkan cukup! Kau bisa mematahkan tangannya jika terus begini,"Tiara masih terus berusaha melepaskan cengkraman Arkan dari lengan Berlian.


Setelah berusaha membujuk akhirnya lelaki itu mau melepaskan cengkramannya.


Berlian terhempas ke Kebelankan. karena Arkan melepaskan cengkramannya dengan begitu kasar.


Jika dulu ia akan bersikap manis, baik, lembut di depan Berlian.


Tapi hari ini, lelaki itu dengan tega menyakitinya.


Berlian mengusap lengannya yang terasa sakit dan ngilu.


Tentu saja sakit dan ngilu. Karena di lengan Berlian, terlukis jelas warna merah yang membiru di sana.


"CEPAT PERGI DARI SINI! ATAU KAU MAU, AKU YANG MENENDANGMU DARI SINI!"Arkan kembali meninggikan suaranya, mengusir mantan kekasihnya itu.


Begitulah Arkan.


Dia akan sangat kejam pada siapapun Jika sesuatu yang berharga dalam hidupnya diganggu.


Inilah sifat tersembunyi Arkan, lelaki itu sebenarnya kejam dan tak mengenal ampun bahkan pada seorang wanita sekalipun.


"Cukup Arkan!"pinta Tiara kembali.


Karena teriakan-Arkan yang begitu nyaring, mengundang perhatian para tamu Hotel yang ada di sana.


Tiara menundukkan kepalanya, meminta maaf pada para tamu yang terganggu dengan keributan ini.


"Sorry!"kata Tiara sambil menunduk.


Tanpa menunggu Berlian pergi terlebih dahulu, Tiara sudah membawa masuk Arkan ke dalam kamar Hotelnya.

__ADS_1


Di dalam kamar, Tiara berusaha menenangkan lelaki yang masih di tahap emosi itu.


🍂❤️❤️🍂


Setelah Arkan merasakan ketenangannya, ia berbicara pada Tiara.


"Kau jangan dengarkan apa yang di katakan Berlian. Percayalah padaku, jika aku mencintaimu sangat mencintaimu, apapun kondisi dan keadaan kita saat ini aku akan tetap mencintai mu, "kata Arkan sambil menatap mata istrinya.


Tiara tersenyum.


"Aku percaya padamu!"


🍂❤️❤️❤️❤️❤️🍂


Sore hari.


Dan sosok Berlian sudah tak terlihat lagi di Hotel itu.


Entah ke mana Gadis itu, mungkin Ia memutuskan untuk pulang karena misinya untuk merebut Arkan gagal begitu saja.


"Arkan tengah berkutat dengan Laptopnya, karena ia harus tetap bekerja dan mengurusi beberapa bisnisnya di Tanah air, meskipun sudah ada Ken yang mengaturnya di sana, tapi Ken tidak akan sanggup untuk menyelesaikannya sendiri karena bisnis yang Arkan miliki sangatlah besar.


Setelah beberapa menit, lelaki itu meregangkan otot-ototnya.


Dia melirik Tiara yang tidak ada di atas kasur, pandangannya mengedar mencari sosok wanitanya.


"Tiara! Sayang kau di mana?"panggil Arkan.


"Aku di sini!"sahut Tiara yang ternyata, suaranya ada di dalam kamar mandi.


.


"Apa yang kau lakukan di sana?"


"Apalagi! Tentu saja mandi."


Arkan bangkit dari duduknya berjalan menuju kamar mandi dan mendorong pintu itu.


Dikunci!


"Kenapa kau mengunci pintunya? Cepat buka!"teriakan Arkan.


Sepertinya akhir-akhir ini Arkan gemar sekali berteriak, mungkin ia tidak takut jika urat-urat di lehernya akan putus, kalau dia terus-terusan berteriak seperti itu.


🍂❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🍂


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Mohon dukungannya 🙏


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya 🙏❤️


Love Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2