Suami Antagonis

Suami Antagonis
BAB 74. Kembali Meraih Mimpi!


__ADS_3

"Kenapa kau ketus seperti itu,"kata Arkan sambil memeluk Tiara dari belakang, sambil mencium tengkuk dan rambutnya.


"Itu karna kau sungguh sangat-sangat menyebalkan!" umpat Tiara, tapi dalam hati.


πŸ‚


πŸ‚


"Kenapa Bulan dan Ken belum kembali di jam segini?"tanya Tiara pada Arkan.


Saat ini mereka tengah berbaring di ranjang yang sama,


ya! Karena Arkan tidak mau jika harus disuruh satu kamar bersama Ken.


"Sudah! Kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka berdua, mereka sudah sama-sama dewasa,"sahut Arkan malas karena saat ini ia tengah fokus dan asik pada kegiatan tangan dan bibirnya yang menyentuh setiap sudut tubuh Tiara.


"Tapi aku khawatir dengan Bulan, karna...!! Aakhh.. Kenapa kau menggigit nya?" Pekik Tiara, karena tiba-tiba Arkan menggigit lehernya.


"Apa dia keturunan vampir!"


"Itu hukuman karena kau masih saja memikirkan orang lain padahal ada aku di sisimu,"sahut Arkan tanpa merasa bersalah.


"Aku hanya khawatir dengan mereka, karena sudah jam segini belum kembali."


"Kau tenang saja! Ken itu lelaki yang dapat dipercaya meskipun dia seorang Playboy yang sering bergonta-ganti teman kencan, dia pasti akan menjaga temanmu itu dengan baik."kata Arkan.


"Tapi....!"


"Sudahlah sayang! Tidak perlu membahas mereka berdua lagi, lebih baik kita melakukan apa yang harus kita lakukan setiap malam,"kata Arkan, yang semakin mengaktifkan pergerakan tangannya.


"Bukankah semalam sudah!"


"Memang sudah, dan malam ini kita akan melakukannya lagi, dan di malam-malam berikutnya pun akan melakukannya lagi."


"Apa setiap hari?"


"Tentu saja!"


Arkan kembali mencium seluruh wajah istrinya itu dengan sangat lembut, hingga membuat Tiara tidak bisa menolak sentuhan itu lembut itu.


"Kau cukup diam dan berbaring saja jika lelah, biar aku yang akan bekerja keras malam ini,"bisiknya.


Arkan kembali meneruskan kecupannya, dan kini sudah mulai turun ke tengah dan bawah.


"Jika mau mendesah, mendesahlah , jangan di tahan,"kata Arkan yang tengah bermain-main di lahan favoritnya.


"Dasar! memangnya dia kira ibu tidak akan mendengarnya, tapi bagaimana ini! aku benar-benar tidak tahan jika harus diam , kalau dia terus seperti ini."


*


*


*


*


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pagi hari sudah menjelang.


Dan saat ini Bu Lastri dan Bulan tengah membuat sarapan.


Bulan sudah kembali ke Rumah, dan dia kembali bersama Ken di tengah malam.


Entah apa yang membuat mereka pulang di tengah malam seperti itu.


Baik Bulan atau Ken, mereka sama-sama tidak memberikan alasan yang jelas pada Bu Lastri yang bertanya pada dua insan itu.


"Apa Tiara belum bangun Bu?"

__ADS_1


"Sepertinya belum, mungkin dia lelah,"sahut Bu lastri.


"Lelah! Memangnya apa yang dia lakukan sampai membuatnya lelah seperti itu,"gumam Bulan namun sangat terdengar jelas di telinga Bu Lastri.


"Sudahlah! lebih baik kau cepat mandi sana lalu kita sarapan bersama-sama, apa kau mau langsung pulang ke Rumah orangtuamu?"


"Tidak Bu! Aku ikut mau ikut ke makam Ibu Rossa dulu."


"Baiklah, kalau begitu kau bersiap-siaplah."


"Baik bu, aku akan bersiap-siap setelah menyusun sarapan ini di meja makan, Bu Lastri beristirahatlah dulu sambil menunggu yang lainnya bangun,"kata Bulan.


πŸ‚


Arkan dan Tiara yang masih berada di dalam Kamarnya.


Tiara perlahan membuka mata.


Sebenarnya Arkan sudah bangun beberapa jam yang lalu, tapi ia malas beranjak karena suasana yang super dingin,


lalu ia memilih untuk kembali berbaring dan memeluk istrinya yang masih tidur nyenyak.


"Ini jam berapa!"Tiara langsung beranjak dan meraih ponselnya untuk melihat waktu.


"Astaga!" ia melirik Arkan yang masih memejamkan matanya, lebih tepatnya berpura-pura memejamkan matanya.


Tak ingin mengganggu suaminya Tiara bangun terlebih dahulu tanpa membangunkan Arkan.


Tapi dengan cepat tangan Arkan menahannya.


"Mau ke mana! ini masih pagi, tidurlah sebentar lagi temani aku, aku masih mengantuk dan kedinginan,"ucap Arkan dengan suara seraknya.


"Ini sudah jam 8, sudah siang, aku harus pergi ke makam Ibu untuk menemani Intan, jika kau masih mengantuk tidurlah!"sahut Tiara yang tetep menurunkan kakinya dari atas Ranjang.


Dan Arkan pun ikut beranjak.


"Kau tidak jadi tidur lagi! Katanya masih mengantuk!"


"Baiklah ayo cepat bangun, ini sudah siang."


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Setelah semuanya siap.


Mereka berempat pergi menuju makam Ibu Rossa yang ada di pemakaman umum di kampung itu.


Di sana Tiara dan Intan mencurahkan semua kerinduan mereka pada almarhumah Ibunya yang sudah 10 tahun lebih meninggalkan mereka.


"Ibu, akhirnya aku bertemu kembali dengan Ayah! tapi apa masih pantas pria itu di sebut ayah dengan apa yang sudah ia lakukan pada kita, jika aku membencinya apa ibu akan marah padaku? tapi entah mengapa aku juga tidak bisa benar-benar membenci pria jahat itu. Ibu, pria jahat itu sudah menyelamatkan Intan, apa aku harus berterimakasih padanya! tapi bukankah itu wajar di lakukan oleh seorang ayah pada putrinya, tapi kenapa ia meminta timbal balik dari pengorbanannya itu. Oya! apa ibu senang jika ternyata aku menikah dengan anak sahabat ibu, dia berjanji padaku akan selalu mencintaiku dan menyayangiku, dia berjanji tidak akan menyakitiku, apa ibu senang? Ibu tenanglah di sana aku dan Intan akan baik-baik saja." Kata Tiara, yang hanya bisa ia ucapkan dalam hatinya.


"Ibu! Intan sudah sembuh dan sehat, ada orang baik yang mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya padaku, dan karena orang itu aku sekarang sudah sehat dan tidak lagi merepotkan kak Tiara dan ibu Lastri, setelah ini aku berjanji akan rajin belajar dan pergi ke sekolah agar aku bisa membantu kakak dan ibu,"ucap gadis kecil itu sambil mengelus pusara Ibunya.


Sampai saat ini Intan belum tahu jika yang mendonorkan sumsum tulang belakangnya adalah Ayah kandungnya sendiri.


Bulan dan Bu lastri yang melihat, hanya bisa diam menahan sedih, baik Arkan Tiara atau Bu lastri, mereka sudah sepakat tidak akan memberitahu Intan siapa Herman sebenarnya.


Dan Intan pun tidak mempercayai sekalipun Herman mengaku bahwa ia adalah Ayah kandungnya, jika bukan Tiara atau Bu lastri yang berkata.


Setelah 2 jam lamanya mereka menuangkan rasa rindu kepada pusara Almarhumah ibunya , Tiara dan Intan memutuskan untuk pulang.


Karena sore itu juga mereka harus kembali ke Kota.


Dan di hari berikutnya Tiara harus kembali terbang ke luar Negeri untuk meraih mimpinya.


πŸ‚


πŸ‚


Saat ini mereka dalam perjalanan untuk menuju ke Kota.

__ADS_1


Dan setelah menempuh perjalanan beberapa Jam akhirnya mereka sampai di kediaman Arkan.


Tiara dan Bi Imah segera membantu Bu Lastri dan Intan ke Kamar mereka untuk beristirahat.


Sementara Arkan,


dia langsung menuju ke ruang kerjanya bersama Ken, karena sejak di jalan tadi Ken mendapatkan beberapa laporan dari orang kepercayaannya


*


*


"Ada apa Ken?"


"Tuan, Tuan Herman dan Merlin sudah mulai bertindak dan mereka sudah menyewa beberapa pengacara handal untuk merebut hak asuh Nona Intan, jadi minggu depan persidangan akan dimulai, apa kita harus memberitahu ini pada Nona Tiara dan Bu Lastri?"


"Aku akan bicara pada mereka, kau urus aja semuanya dan kau atur sebisa mungkin agar dua orang itu kalah dalam persidangan."


"Baik Tuan! Kalau begitu saya permisi, karena ada sesuatu yang harus saya selesaikan."


*


*


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


keesokan harinya


Arkan pun menceritakan soal ini pada Bu Lastri dan ketika ia ingin membicarakannya pada Tiara wanita itu mencegahnya.


"Jangan beritahu apapun pada Tiara soal masalah ini, karena besok dia akan terbang ke luar Negeri kan. Jika ia sampai mengetahui Herman mau merebut Intan, ia pasti akan mengundurkan diri dari kompetisi itu dan lebih fokus untuk mengurusi masalah ini, jadi biarkan Ibu saja yang melawan Herman dan istrinya yang licik itu, karna Ibu tidak akan membiarkan Tiara kembali menunda cita-citanya yang sudah lama ia impikan dan selalu gagal dan tertunda, karena Tiara selalu di hadapi dengan beberapa masalah yang terjadi di keluarga kita,"kata Bu lastri.


Arkan mengangguk setuju.


"Baik bu, besok aku akan mengantar Tiara ke luar Negeri. Dan Ken, beserta Tina akan mengurusi semuanya, minggu depan persidangan akan dimulai, kita akan ke pengadilan bersama-sama dan saya akan memastikan jika kita yang akan memenangkan persidangan itu."


"Terima kasih nak."


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Keesokan harinya.


Dan inilah waktu yang sangat dinantikan oleh Tiara.


Ia akan kembali berangkat ke luar Negeri untuk mengejar mimpinya selama ini.


Setelah berpamitan dan mohon doa pada Ibunya dan Mamah mertua.


Tiara Pergi di antar oleh Arkan dan Ken, tapi kali ini dia tidak berjuang sendiri karena Bulan pun ikut serta bersamanya untuk mengikuti Kompetisi itu.


Nyonya Tri dan Tina yang mengurus semua urusan Intan, selama Ken dan Arkan di Luar Negri.


"Berhati-hatilah di sana, Jangan memikirkan apapun yang ada di sini, Mamah dan ibumu akan menjaga Intan dengan sangat baik,"kata Tri.


"Iya sayang, Fokus lah dengan semua tujuan dan mimpimu,"Sambung Bu Lastri.


"Kakak pasti menang!" seru Intan, memberi semangat pada kakaknya.


"Tentu saja Nona Tiara pasti menang! karna Nona Tiara Koki yang Hebat!" sahut Bi Imah.


Itulah beberapa semangat, dari orang-orang terkasih yang mengiringi perjalanan Tiara.


πŸ‚πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ‚πŸ‚


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini πŸ™


Mohon dukungannya ya πŸ™πŸ€—


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya πŸ€—

__ADS_1


Love banyak-banyak untuk semuanya ❀️❀️❀️


__ADS_2