Suami Antagonis

Suami Antagonis
BAB 71. Membeli Makan.


__ADS_3

"Jika kami pergi lalu ibu dan Intan bagaimana?"Ragu Tiara jika harus meninggalkan Ibu dan Adiknya.


"Ibu dan adik mu tidak apa-apa nak, sebentar lagi Pak RT dan bu RT datang ke sini tadi mereka menghubungi Ibu katanya ada yang ingin mereka bicarakan, kalian pergilah! sekalian mengajak suamimu dan Ken, agar mereka lebih mengenal dan mengetahui jalan yang ada di kampung ini,"ujar Bu Lastri.


"Aku ikut ya Kak!"pinta Intan.


"Jangan sayang, ini sudah malam udara di luar sangatlah dingin, tidak baik untuk kesehatanmu, bukankah besok Intan ingin ke makam Ibu Rossa, jadi malam ini Intan harus istirahat yang cukup,"kata Bu Lastri mencoba mencegah keinginan anak itu.


"Iya sayang! Besok siang kakak akan mengajakmu jalan-jalan bagaimana?"sahut Tiara.


Intan tersenyum antusias lalu mengangguk.


"Iya kak, aku mau!"


"Anak pintar!"Tiara mengusap rambut adiknya itu.


πŸ‚


πŸ‚


Setelah berpamitan.


Mereka berempat pun keluar Rumah menuju lapak nasi goreng dan pecel lele yang sudah sangat dirindukan dua wanita itu.


Mereka menuju Lokasi tentu tidak menggunakan mobil karena jalan menuju ke sana sangatlah sempit, dan terpaksa mereka berempat harus memanfaatkan kaki mereka.


πŸ‚


πŸ‚


15 menit kemudian.


Keempat orang yang tengah menahan lapar itu sampai di Lokasi.


Aroma nasi goreng dan, goreng lele langsung melambai-lambai dan mengorek-ngorek indra penciuman Tiara dan Bulan.


"Sungguh aku sangat kelaparan!"kata Bulan dan dengan kalap Gadis itu mengambil beberapa menu di sana.


Sementara Arkan tengah memperhatikan di sekeliling tempat itu, ia menghela nafas dengan sangat panjang.


"Apa tidak ada tempat lain! Seperti Cafe atau Restoran mungkin?"tanya Arkan pada Tiara.


"Tidak ada! Di sini mana ada Restoran, sudah di sini saja, aku jamin makanan di sini tidak kalah enak dengan Restoran mewah yang ada di Kota,"kata Tiara sambil mengulas senyum terbaiknya agar Lelaki itu mau makan di sana.


"Baiklah!"pasrah Arkan, yang langsung luluh dengan senyum manis yang istrinya berikan.


"Lalu kau mau makan apa! Nasi goreng atau Pecel lele?"tanya Tiara.


"Kau sendiri mau makan apa?"sahut Arkan yang malah balik bertanya pada Istrinya.


Tiara berpikir sejenak ia tengah bingung harus menentukan dua makanan nikmat itu.


"Aku mau dua-duanya,"jawab Tiara dengan sangat yakin yang membuat lelaki itu terkejut.


"Aah, sepertinya kau memiliki Hobi makan yang sangat baik,"ujar Arkan.


"Tentu saja!"sahut Tiara.


"Kalau begitu aku pun sama, mau dua-duanya,"kata Arkan.

__ADS_1


"Baiklah!"


Kemudian Tiara melirik Ken, yang tengah mematung tak berkutik seperti Manekin yang dipajang di depan Toko baju.


"Ken, kau mau makan apa?"


"Sudah! Kau tidak usah mengkhawatirkannya mau makan apa, dia sudah dewasa bisa pilih sendiri!"kata Arkan yang memutar pandangan Tiara dari Ken, agar menatap dirinya saja.


"Terimakasih Nona, saya bisa mengambil makanan saya sendiri,"sahut Ken, dengan pandangan kesal pada Bosnya itu.


Tiara menyenggol lengan Bulan mengisyaratkan agar ia membantu dan menemani Ken yang terlihat bingung.


"Aku tidak sudi!"bisik Bulan dengan sangat pelan di telinga Tiara, membuat Tiara menghembuskan nafasnya, sambil menggelengkan kepala.


Ketika dua wanita itu tengah memilih menu yang mereka inginkan.


Ken mendekati Arkan.


"Tuan apa anda Ok!"tanya Ken khawatir, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam ia tengah meledek, dan mentertawakan lelaki itu.


"Mau bagaimana lagi, tentu saja aku harus Ok kan!"sahut Arkan cepat, tapi dengan wajah yang sangat kesal.


"Anda memang harus seperti ini Tuan, karena sesungguhnya cinta itu membutuhkan pengorbanan dan perjuangan, ini belum seberapa, saya dulu pernah mendaki Bukit dan Gunung, lalu menyeberangi lembah Samudra dan Hutan belantara, demi bertemu dengan Kekasih saya,"kata Ken dengan penuh haru, mengingat perjuangannya dulu.


"Itu salahmu sendiri. Kenapa harus berkencan dengan Tarzan,"sahut Arkan.


"Tarzan! Anda tidak pantas mengatakan Gadis itu Tarzan Tuan. Dia Gadis yang Cantik, yang masih alami dan Asri yang pernah saya temui selama hidup saya Tuan!"ucap Ken dengan wajah yang ia buat sesedih mungkin, karena mantan kekasihnya disebut Tarzan oleh teman sekaligus atasannya itu.


"Sudah cukup Ken! Kau jangan terlalu banyak membual, cepat pilih makanan mu, setelah itu kita langsung pulang aku tidak betah berlama-lama di tempat seperti ini,"kata Arkan yang mulai kesal dengan kelakuan Sekretarisnya itu.


"Anda Sungguh kejam Tuan!"


Meskipun sambil menggerutu lelaki itu mulai memilih makanan apa yang ia kehendaki.


πŸ‚


πŸ‚


Bulan menyempatkan diri untuk bertanya soal Mas-mas ganteng yang biasa mengurus pesanan di sana.


"Maaf Bi, Kalau boleh tahu di mana Mas Wisnu! Bukankah biasanya dia yang menjaga tempat ini?"tanya Bulan dengan hati-hati pada bibi yang tengah menggoreng ikan pesanannya.


"Ooh.. Wisnu, dia tengah mengantarkan pesanan di pelanggan, mungkin sebentar lagi kembali,"sahut bibi itu.


"Ah, syukurlah! Aku kira dia sudah berhenti menjaga pecel lele dan nasi goreng, karena beralih profesi menjadi Aktor,"ujar Bulan.


"Jadi aktor bagaimana! Wisnu itu pemuda kampung mana bisa menjadi Aktor."Timpal bibi penjual.


"Tapi wajahnya itu loh bi, sudah sangat cocok jika harus menjadi seorang Aktor."


Mendengar ocehan Bulan, membuat Ken menjadi kesal sendiri.


"Dasar wanita, sudah punya kekasih tapi masih sempat-sempatnya bertanya tentang pria lain, apa mereka kurang puas menyakiti hati pasangannya, karana berhalu pada Aktor-aktor di Drama Korea," gumam Ken di dalam hatinya.


"Hey! Bukankah kau sudah punya kekasih, Kenapa masih bertanya lelaki lain?"kata Ken, yang akhirnya bertanya secara langsung, setelah beberapa detik bergumam.


"Aku sudah putus dengannya, dan itu semua gara-gara kamu,"sahut Bulan dengan sangat ketus.


"Putus! kenapa aku menjadi senang mendengarnya."

__ADS_1


"Dia nya saja lelaki pengecut!"kata Ken.


Dan mendapat tatapan tajam dari kedua bola mata Bulan.


*


*


Sementara itu,


Arkan tengah menempel erat di lengan Tiara.


Ia menundukkan wajahnya, karena beberapa ibu-ibu dan para Gadis di sana memandangi dirinya.


"Kau ini kenapa!"kata Tiara yang risi, karena Arkan begitu erat merengkuh lengannya.


"Kenapa mereka semua menatapku seperti itu?"tanya Arkan.


"Itu karna kau yang paling menonjol di sini, wajah mu terlalu langka di kampung ini, hingga mereka melihat mu seperti sebuah batu permata yang berada dia antara tumpukan kerikil." Batin Tiara.


"Bukankah kau sudah terbiasa diperhatikan dengan para Gadis-gadis,"kesal Tiara.


"Tapi kali ini aku tidak mau, tatapan mereka seperti ingin memakan ku!"Bisik Arkan.


Dan tiba-tiba mereka di kejutkan dengan suara.


"Hay! Tiara! Ini benar kau kan! Tiara?"sapa seorang gadis berambut panjang dan lurus, yang langsung menghampiri Tiara.


Tiara mengangguk sembari mengingat-ingat Gadis itu siapa, dan tak butuh waktu lama ia mengingat Gadis itu dengan baik.


"Ah. Indah! Iya ini aku Tiara,"balas Tiara.


"Ah aku sampai pangling melihat mu, Kau terlalu betah tinggal di Kota sampai lupa pada kampung halaman sendiri."


Gadis itu berbicara pada Tiara tapi matanya fokus pada lelaki yang ada di sebelah Tiara yaitu Arkan.


"Dia siapa? Apa dia Bosmu di Kota?"tanya Gadis yang bernama Indah itu.


Tiara langsung membuka lebar matanya, memelotot di Gadis itu.


"Bos ku! astaga! apa aku terlihat seperti asistennya, ketika bersanding seperti ini!"


Dan tanpa menunggu jawaban dari Tiara Indah langsung mengulurkan tangannya pada Arkan.


"Perkenalkan, Nama saya Indah permata biru, Saya anak satu-satunya Pak RT di kampung sini,"ucapnya dengan suara manja.


Membuat Tiara mendengus kesal.


"Apa dia tengah menggoda suami ku!"


PLAK!


Tiara menepis kuat tangan Gadis yang terulur pada Suaminya itu.


πŸ‚πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ‚πŸ‚πŸ‚


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini πŸ™


Mohon dukungannya ya πŸ™

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya πŸ€—


Love banyak-banyak untuk semuanya ❀️


__ADS_2