Suami Antagonis

Suami Antagonis
Bab 46. Anggap Saja Berkencan.


__ADS_3

Setelah beberapa jam mengelilingi jalanan Kota kini mereka mampir di sebuah Cafe untuk makan.


"Apa kita makan di sini?"tanya Tiara yang berdiri di depan pintu Cafe, enggan untuk masuk.


"Iya, kau lapar kan?"


"Bagaimana kalau kita makan di sana saja?"


Tunjuk Tiara pada sebuah gerobak mie ayam yang ada di seberang jalan.


Arkan mengarahkan pandangannya mengikuti tangan Tiara dan ia sedikit mengerutkan keningnya.


"Apa tidak sebaiknya di sini saja?"


"Tapi aku maunya di sana, tidak apa-apa kalau kau mau di sini, biar aku makan di sana."


"Tidak-tidak, aku ikut kesana."


Dan lelaki itu pun mengalah.


Duduk berdua di bangku kecil sambil menunggu pesanan Mie Ayam.


Membuat hati Tiara berdebar-debar, bukan Karna menunggu pesanannya, tapi karena seseorang yang ada di sebelahnya itu yang membuat hatinya berdebar.


Momen seperti ini tentu belum pernah Tiara bayangkan sebelumnya.


Bahkan dalam mimpi pun, rasanya tidak mungkin ia bisa berkencan seperti ini dengan suaminya.


"Kencan! apa kita sedang berkencan?"


Setelah pesanan selesai mereka pun segera memakannya.


"Bagaimana, ini enak kan?"tanya Tiara.


Arkan mengganggu kecil.


"Biasa saja."


"Rasanya aku tidak pernah mendengar ia memuji makanan yang ia makan "


Setelah menghabiskan dua mangkuk Mie Ayam.


Di sini Arkan yang menghabiskan 2 mangkuk Mie Ayam.


"Katanya, biasa saja. Tapi ia sampai menghabiskan Dau Mangkuk, dasar! ucapan dan tindakan selalu tidak sinkron."


Mereka kembali berkeliling dan menikmati pemandangan Sore.


"Apa kau senang!" Tanya Arkan.


Tiara mengangguk tanpa menoleh, karna ia tengah Fokus melihat kumpulan anak-anak Remaja yang tengah bernyanyi bahagia.


Tiara melihat raut bahagia di wajah para Remaja itu,


menandakan bahwa mereka sangat bahagia tanpa memikirkan beban hidup seperti dirinya.


"Andai aku bisa berekspresi dan sebahagia mereka."


Namun kita tidak pernah tau tingkat kebahagiaan orang itu seperti apa!


Ada orang terlihat bahagia, tapi sebenarnya itu hanya kamuflase untuk menutupi luka dan kesedihannya saja.


Saat ini mereka berdua Tengah berada di taman Kota,


yang jika sore hari dipenuhi dengan para Remaja maupun orang dewasa.


Yang sedang bercengkrama dengan teman, sahabat, keluarga, bahkan anak-anak mereka.


"Ternyata jika Sore hari di sini rame ya!"ucap Tiara.


Sementara Arkan fokus pandangannya bukan pada orang-orang yang tengah berbahagia itu.


Tapi ia tengah memandangi wajah Tiara yang tersenyum bahagia, melihat kebahagiaan orang yang ada di depannya.


Sepertinya Tiara sudah bisa melupakan kesedihannya,


meskipun itu hanya sejenak tapi Arkan sudah cukup puas karena bisa melihat Tiara Tersenyum.


Setelah dari Taman Kota.


Mereka berpindah ke tempat yang tidak jauh dari taman.


Dan Tempat itu merupakan Arena bermain para anak-anak,


bukan hanya anak-anak orang Dewasa pun berhak bermain di sana karena orang dewasa juga butuh hiburan setelah seharian lelah dengan semua aktivitas mereka.


Dengan Antusias Tiara dan Arkan menaiki semua wahana yang ada di sana.


Mereka berdua seperti mengulangi masa kecil yang sudah terlewat beberapa tahun silam.


Ada sedikit kesamaan di antara Arkan dan Tiara.


Mereka berdua sama-sama tumbuh dewasa sebelum waktunya.

__ADS_1


Jika masa Kecil dan Remaja Tiara dihabiskan untuk mencari uang, untuk Ibu dan Adiknya yang sakit.


Arkan harus melewatkan masa kecil dan remajanya dengan belajar Bisnis, karena ia harus meneruskan Perusahaan Wilson.


πŸ‚


Teriakan dan tawa hadir di wajah Arkan dan Tiara ketika mereka menaiki wahana yang cukup Ekstrem.


"Apa kau mau mencoba naik itu?"tunjuk Tiara pada wahana terbesar di situ yaitu Bianglala.


Arkan membelalakkan matanya.


Jantungnya sudah berdegup kencang melihat Wahana super Ekstrem itu.


"Bagaimana kalau kita naik yang lain saja, seperti itu misalnya?"tunjuk Arkan pada Wahana kuda-kudaan.


"Itu untuk anak-anak."


"Anggap saja kita masih anak-anak."


Tiara melipat kedua tangannya, mengamati Arkan.


"Kenapa kau melihat ku seperti itu?"Arkan langsung bersedekap, menutupi tubuhnya dari pandangan mata Tiara.


"Kau pasti takut kan menaiki itu?"


"Hahaha... Seorang Arkan tidak kenal kata takut."Sombongnya.


"Kalau begitu ayo cepat kita kesana."


Tiara langsung menarik tangan Arkan untuk membeli tiket Wahana tersebut.


Dan beberapa menit kemudian mereka berdua sudah berada di atas ketinggian yang Ekstrem dan sangat mengerikan di mata Arkan yang memiliki Fobia ketinggian.


Wajah pucat dan keringat sebesar Biji Jagung sudah memenuhi wajah Arkan.


"Apa kau takut? Kalau kau takut kita bisa turun!" Kata Tiara yang melihat wajah pucat Arkan.


"Tidak! Sudah kubilang tidak ada kata takut dalam diri Arkan."sahut Arkan dengan yakin, tapi tangan dan kakinya bergetar hebat!


"Baiklah, kalau begitu."


Dalam hitungan 10 Bianglala diputar!


Mulai dari ritme pelan, sedang, kencang,


dan super kencang.


Membuat semua orang yang ada di dalam keranjang-keranjang itu berteriak Histeris.


Ada yang berteriak karena ketakutan.


Dan itu tidak bisa dibedakan.


Termasuk Tiara dan Arkan.


Tiara berteriak sekencang-kencangnya, seolah ingin melepas semua kesedihan dan beban hidupnya selama ini.


Sedangkan Arkan!


ia juga berteriak sekencang-kencangnya,


tapi bukan karena ingin melepaskan kesedihan atau beban hidupnya.


Ia berteriak karena rasa takut yang luar biasa.


Dalam hatinya terus berdoa memohon ampun dan keselamatan! sambil mencekram kuat tangan Tiara.


Setelah 10 menit berputar-putar di udara sana mereka berdua turun terlebih dahulu.


Karena Arkan.


UEK...


UEK...


UEK...


Ia menyerah.


Bahkan ia sampai muntah-muntah karena menahan rasa takut dan pusing secara bersamaan.


"Kau baik-baik saja!"Tiara khawatir, dan ia menepuk-nepuk punggung Arkan.


"Minum ini,"Tiara menyodorkan botol minum pada Arkan dan lelaki itu segera meminumnya.


"Kenapa kau tidak bilang jika takut ketinggian harusnya kan kita tidak usah naik."


"Aku hanya sedang tidak enak badan! dan tidak ada yang aku takuti,"kilah Arkan.


"Masih bisa menyombongkan diri juga!"


Senja sudah mulai nampak dan hari pun akan segera malam .

__ADS_1


πŸ‚πŸ‚


Mereka kembali ke Kontrakan Tiara.


Setelah seharian berkencan!


Ya!


Kita Anggap saja mereka Berkencan.


Arkan sudah tidak merasa pusing dan ia sudah membaik meskipun wajahnya masih sedikit pucat.


Mereka berdua duduk di atas Kasur busa, dengan perasaan was-was dan tak karuan.


"Ya Tuhan kenapa aku gugup seperti ini!" Tiara.


"Astaga! jantungku serasa mau lepas, apa yang harus aku lakukan dengan situasi seperti ini,"Arkan.


Mereka hanya diam, karena tengah sibuk dengan suara hati masing-masing.


"Apa dia akan mengatakan sesuatu!" Tiara.


Namun sudah beberapa menit Tiara menunggu, Arkan tidak mengatakan apapun.


Tiara bangun dari duduknya.


"Aku mau ambil minum dulu."


Dan Arkan pun ikut bangkit dari duduknya, menghalangi langkah Tiara.


"Ada apa?"bingung Tiara.


Arkan tak mengatakan apapun.


Lelaki itu tiba-tiba menangkup wajah Tiara dan menciumnya.


Tiara kembali di buat terkejut karna Arkan selalu menciumnya dengan tiba-tiba.


Ciuman yang menuntun dari Arkan membuat Tiara tersengal.


Dan Arkan melepaskan sejenak tautan bibir mereka.


Hanya beristirahat beberapa detik, Arkan kembali melanjutkan aktivitas bibirnya.


Ciuman lembut dan mesra membuat Tiara terbuai.


Ia mulai mengimbangi dan sedikit membalas ciuman itu.


Hingga beberapa menit,


membuat jiwa keperkasaan Arkan bangkit.


Ia semakin gencar mencium istrinya itu bukan hanya di bibir tapi di seluruh wajahnya, tak sedikitpun ia lewati.


Semakin memanas!


Hingga Arkan pun sudah tidak bisa menahan sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya.


Bibirnya mulai turun ke leher Jenjang Tiara, serta aktivitas tangan lelaki itu sudah bergerilya kemana-mana.


Sebagai wanita dewasa, tentu Tiara menyadari situasi ini.


Dan Tiara juga tahu, jika Arkan mengharapkan lebih dari sekedar ciuman saja.


Ia kembali mengumpulkan kesadarannya untuk bisa berfikir jernih dari situasi yang membuat dirinya memanas karna sentuhan sensitif dari Arkan.


Seketika bayangan Berlian dan surat perjanjian kontrak mereka hadir di benak Tiara.


Dan akalnya merespon,


jika ia tidak boleh melakukan hal yang lebih jauh dengan lelaki ini, jika ia tidak mau terluka terlalu dalam.


"Sadar Tiara, Arkan bukan milikmu, meskipun status nya suamimu, tapi hatinya milik wanita lain, dan itu Saudari mu sendiri Putri dari wanita dan pria yang menyebabkan Ibumu meninggal!" Suara hati Tiara, menghasut sekaligus menyadarkan pikirannya.


Tiara menyadari kenyataan itu, karna selama ini Arkan tidak pernah mengatakan apapun tentang perasaannya.


"*Lelaki ini ini hanya menginginkan tubuh mu saja. Tapi d*ia sama sekali tidak mencintai mu, apa pernah dia mengatakan cinta padamu?"


Tiara mendorong Arkan, yang sudah hampir membuka semua kancing bajunya.


Lelaki itu menatap Wajah Tiara dengan sayu, karna tengah menahan gejolaknya yang tiba-tiba di hentikan Tiara.


Arkan kembali meraih wajah Tiara dan mendaratkan bibirnya.


Tapi Tiara menghindar dan kembali menjauhkan Arkan darinya.


"Pulanglah, ini sudah malam."


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ‚πŸ‚πŸ‚


Terimakasih sudah mau membaca cerita ini πŸ™πŸ™


Mohon dukungannya ya 😘

__ADS_1


Tolong koreksi jika anda kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya πŸ€—


Love banyak-banyak untuk semuanya ❀️❀️.


__ADS_2