
Herman masih setia dengan posisi tangannya yang mencengkeram leher Merlin.
Dan semakin lama pria itu semakin menguatkan cengkramannya seiring dengan tubuh Merlin yang semakin melemah.
Beberapa menit kemudian Wanita itu sudah tidak bergerak lagi.
Tubuhnya kaku dan ia pun sudah tidak bernafas.
Herman terkejut ketika menyadari apa yang telah ia lakukan pada istrinya.
Ia menepuk-nepuk pipi Merlin sambil berteriak agar istrinya itu bangun.
"Mah bangun mah! Bangun mah, Maafkan papah mah, papah tidak sengaja melakukan ini, papah khilaf."
Herman panik.
Ia gemetar dan mondar-mandir di dalam ruang kerja itu, dan tidak tahu harus melakukan apa.
Herman ingin berteriak meminta tolong pada para pekerja yang ada di rumahnya tapi ia tidak berani melakukan itu karena jika ia melakukan itu sama saja ia menyerahkan diri dan sudah pasti ia akan dihukum, Herman belum siap untuk itu.
Herman mengatur nafasnya agar tidak gugup dan panik.
Ia mendudukkan diri di sofa untuk menenangkan pikiran dan hatinya sambil menatap tubuh Merlin yang tergeletak tak bernafas di lantai.
Setelah beberapa menit Herman bisa menguasai emosinya.
Dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa pria itu keluar dari ruang kerja lalu menutup pintu itu kembali.
Dia berjalan dengan santai menuju kamarnya dan mengambil sesuatu yang berharga dan memasukkannya ke dalam tas berukuran besar.
Ya..
Pria itu memutuskan untuk kabur dan tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan pada istrinya.
Di saat Herman hendak keluar lewat pintu depan ia berpapasan dengan Bibi Asisten Rumah tangga.
Bibi itu sempat bertanya pada tuannya karena tumben sekali tuannya itu pergi dengan membawa tas besar.
Herman beralasan Jika ia ada pekerjaan di luar kota dan harus berangkat pada saat itu juga.
Bibi tidak menaruh curiga sedikitpun pada tuanya dan membiarkan Herman pergi begitu saja meninggalkan rumah.
Hingga beberapa jam kemudian.
Merlin baru diketahui sudah tidak bernyawa oleh Berlian yang membuka pintu ruang kerja Herman.
Gadis itu sempat mendengar ribut dan teriakan karena posisi ruang kerja Herman bersebelahan dengan kamarnya.
Namun Berlian menutup telinga karena ia pikir kedua orang tuanya itu hanya bertengkar seperti biasa.
Karena memang akhir-akhir ini mereka sering terlibat cekcok.
Berlian histeris Ketika menemukan Merlin.
Dan pada hari itu juga lah Merlin dinyatakan meninggal dunia karena kehabisan nafas akibat cekikan yang kuat di lehernya.
Berita kematian Merlin tersebar ke seluruh kota, mengingat wanita itu memanglah sangat tersohor.
Begitu juga dengan Tri dan Lastri yang mendengar berita kematian wanita itu.
Mereka cukup iba dengan nasib yang menimpa Merlin, lebih-lebih lagi karena Merlin tewas di tangan suaminya sendiri.
Suami yang ia rebut secara paksa dari wanita lain malah membunuhnya dengan cara yang sadis.
❤️❤️❤️
Herman menjadi buronan.
Polisi mencari-cari keberadaannya di seluruh kota bahkan di luar kota wajahnya sudah tersebar sebagai buronan kasus pembunuhan pada istrinya sendiri.
❤️❤️❤️
Di tempat lain.
Arkan tengah bersiap-siap mengemasi barang-barangnya karena hari ini ia ingin kembali.
__ADS_1
Niatnya yang ingin berbulan madu selama 2 bulan di Pulau itu pupus karena hari ini Tiara dalam kondisi kurang sehat.
Bukan cuma hari ini saja, sudah beberapa hari istrinya itu selalu mual, pusing dan mengeluh kalau ia tidak nyaman dengan segala macam yang ada di sekitarnya.
Dirasa tidak akan baik jika Tiara terus berada di pulau dengan kondisi yang seperti itu,
Arkan pun memutuskan untuk pulang lebih cepat.
❤️❤️
Mereka disambut oleh Tri dan juga Lastri.
"Astaga kenapa menantu kesayangan Mamah ini pucat sekali, apa yang terjadi! Kenapa istrimu bisa seperti ini Arkan?"kata Tri yang panik melihat Tiara yang pucat dan terlihat lesu.
"Aku tidak tahu mah, sudah berhari-hari Tiara seperti ini, dia selalu muntah-muntah setiap hari dan tidak mau makan. Padahal aku sudah membujuknya dengan berbagai cara tapi dia tetap tidak mau makan Mah."kata Arkan menjelaskan pada mamanya.
Tri dan Lastri saling pandang ketika mendengar penjelasan dari Arkan, Setelah itu mereka mengulas senyum secara bersama-sama.
"Jadi istrimu ini sering mual-mual?"
"Iya Mah terutama di pagi hari, dia juga selalu mengeluh tidak nyaman dengan aroma-aroma yang ada di sekitarnya bahkan dia pernah memintaku untuk tidur terpisah hanya karena aku memakai parfum padahal dia sangat suka dengan parfum itu tapi entah kenapa tiba-tiba dia Jadi tidak suka."Keluh Arkan.
Tri dan Lastri kembali mengulas senyum sambil mendengarkan ucapan Arkan.
"Kenapa mama malah tersenyum seperti itu? Aku tengah khawatir mah, Tiara sakit."
"Kalau begitu kita panggil dokter sekarang untuk memeriksa istrimu."
❤️❤️
Tak lama.
Dokter yang dihubungi oleh Bi Imah pun tiba di Rumah.
Dokter wanita yang berwajah lembut itu mengulas senyum bahagia setelah beberapa menit melakukan pemeriksaan pada Tiara.
Dan senyuman dokter itu membuat Arkan kesal.
Kenapa semua orang tersenyum, padahal istrinya sedang sakit apa mereka semua sedang tidak waras?
"Apa maksudmu! Kenapa kau mengucapkan selamat sementara istriku sedang sakit. Aku kan sudah bilang mah jangan memanggil dokter lihat Tiara sakit saja dia malah tertawa dan mengucapkan selamat."
"Tenang dulu Ar, kamu dengarkan dulu penjelasan dokter jangan marah-marah seperti ini."kata Tri.
Arkan pun menurut dan dia lebih memilih duduk di samping istrinya yang terbaring di kasur sambil membelai rambutnya.
"Maafkan saya tuan, yang sudah membuat anda merasa panik. Tuan Arkan tidak perlu khawatir karena sebenarnya Nona Tiara tidak sakit."
Arkan dan Tiara masih menatap dokter itu. Menunggu penjelasan selanjutnya dengan tidak sabar.
Kenapa ia bisa bilang jika Tiara tidak sakit padahal sudah jelas-jelas kalau istrinya itu selalu muntah dan tidak mau makan setiap hari.
"Nona Tiara, tengah hamil 3 minggu dan di usia kandungan seperti ini sangat wajar sekali Jika Nona Tiara mengalami mual di pagi hari dan jarang sekali mau makan."
"Hamil!"Arkan mengulangi kata itu sambil menatap melekat dokter itu untuk memastikan jika ia tidak salah dengar.
"Benar tuan, istri anda Nona Tiara tengah hamil 3 minggu, selamat! sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah dan Nona Tiara akan menjadi seorang ibu, saya akan memberikan resep dan beberapa vitamin untuk Nona Tiara."
Arkan masih diam tak bisa berkata apa-apa mungkin otaknya sedang Loading karena mendengar kabar bahwa istrinya hamil.
Melihat reaksi Arkan yang mematung membuat Tiara, dokter dan Bu lastri sedikit panik, tapi Tri langsung mengulas senyum dan menenangkan tiga orang itu.
Dia mengatakan dengan pelan jika Arkan memang seperti itu jika merasakan kebahagiaan yang luar biasa di hatinya.
Setelah menuliskan resep dan meminta para keluarga untuk mendampingi dan membujuk Tiara agar mau makan, supaya asupan nutrisinya terjaga saat hamil.
Sang Dokter wanita pun pamit.
Tapi sebelum dokter itu melangkah keluar Arkan menghentikannya.
Si dokter berbalik dan bingung. Ia sudah takut setengah mati kalau-kalau Ia melakukan kesalahan di pemeriksaan tadi
"Iya tuan!"Si dokter sudah bergetar.
"Terimakasih!"
__ADS_1
Dan satu kata itulah yang keluar dari mulut Arkan.
Dokter mengangguk senang sekaligus lega.
"Itu sudah menjadi tugas saya tuan, sekali saya ucapkan selamat! untuk anda dan Nona Tiara."
Dokter keluar di antar oleh Bi Imah.
Dan di dalam kamar tinggallah Tiara, Arkan, Tri dan Bu Lastri.
Arkan segera memeluk istrinya dan menciumi seluruh wajah yang nampak pucat itu.
"Terimakasih sayang!"ucapanya yang masih belum melepaskan pelukannya.
"Arkan, kau jangan terlalu kencang begitu memeluk istrimu, kau ingat ada cucu mamah di sana."Kata Tri.
Arkan menguraikan pelukannya dan beralih pada Tri.
Ia berhambur memeluk Mamahnya itu dengan mata yang berkaca-kaca karna bahagia.
"Mah, beri aku selamat! beri putra kesayanganmu ini selamat! karena aku sebentar lagi menjadi seorang ayah."
Tri mengusap lembut punggung Arkan.
"Iya sayang! Selamat! kau akan segera menjadi ayah, pesan mamah jaga dan cinta istri dan anakmu, jangan pernah melukai perasaannya. Kau mengerti?"
Arkan mengangguk.
"Aku mengerti mah, dan aku berjanji akan menjaga Tiara dan anakku dengan baik."
Lastri dan Tiara tersenyum bahagia.
Dan wanita itu langsung memeluk putrinya.
"Terimakasih sayang. Kau sebentar lagi memberikan cucu untuk ibumu yang semakin tua ini."Ucap Lastri.
"Iya Bu, apa menurut ibu, ibu Rossa juga akan bahagia di sana?"
"Tentu saja, ibumu Rossa pasti sangat bahagia dan bangga denganmu."
Tri juga ikut memeluk Tiara.
"Selamat ya sayang! mamah bahagia dan sangat berterimakasih padamu, papah pasti sangat senang mendengarnya kabar ini."
❤️❤️❤️❤️
Beberapa Minggu berlalu.
Herman masih menjadi buronan.
Ia bersembunyi di segala tempat untuk menghindari kejaran polisi.
❤️❤️
Sedangkan Berlian.
Saat ini gadis itu. Tengah dalam perjalanan menuju rumah Arkan dan Tiara.
Ya.
Berlian ingin menemui kakaknya itu.
Ia ingin minta maaf atas semua kesalahannya.
Karena saat ini Berlian sadar, jika Tiara lah keluarga dia saat ini.
🍂❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🍂
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Sampai Sini Cerita sudah selesai ya.
Hanya tinggal 2 Bab lagi untuk Final Episode.
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️
__ADS_1
Terimakasih yang sudah menemani Arkan dan Tiara.