
"Halo Ber!"
("Kau masih mengingat untuk menghubungiku") suara kesal dan marah terdengar di seberang sana.
"Maafkan Aku Ber."
("Maaf, kau tahu berapa lama aku menunggumu dan kau tidak memberi kabar apapun padaku")
"Aku tahu aku salah dan aku minta maaf."
("Apa kau tengah bersama Tiara Sampai Kau melupakan janjimu padaku?") Tanya Berlian dengan penuh curiga di seberang sana.
Arkan sejenak terdiam lalu Ia memutuskan untuk jujur pada Berlian.
"Iya, Aku tengah berbelanja dengan Tiara."
("Apa! Kau sungguh keterlaluan Ar")
Berlian langsung memutuskan panggilannya.
"Halo Ber! Berlian."
Arkan mengacak-ngacak rambutnya ia tahu, pasti kekasihnya itu tengah marah besar padanya, tapi entah kenapa Arkan enggan untuk kembali menghubungi Berlian.
Jika dulu, pasti ia akan segera berlari mendatangi gadis itu dan merayu Berlian agar memaafkannya, tapi kali ini Arkan menundanya sampai esok hari dan ia lebih memilih untuk mandi dan beristirahat.
ππππ
Keesokan harinya.
Tiara bangun pagi-pagi sekali karena ia harus menyiapkan keberangkatannya ke luar kota jam 09.00 pagi nanti.
"Apa Nona akan selama itu di luar kota?"tanya Bi Imah yang tengah membantu Tiara membuat sarapan untuk Arkan.
"Iya Bi, karena memang biasanya membutuhkan waktu 1 minggu untuk melakukan kegiatan itu, tapi bibi tidak perlu khawatir aku sudah izin pada Arkan dan Mamah Tri."
"Apa Anda tidak meminta Tuan Arkan untuk menemani anda di sana?"
"Tidak perlu Bi, aku sudah terbiasa sendiri, lagi pula di sana banyak teman-temanku kok, Arkan juga pasti sangat sibuk."sahut Tiara.
"Baiklah kalau begitu berhati-hatilah anda si sana."
"Terimakasih Bi."
π
Arkan yang sudah siap untuk berangkat bekerja turun dari kamarnya, ia duduk di kursinya dan tiara menyiapkan sarapan untuk sang suami.
Arkan melihat Tiara yang sudah rapih dan Arkan pun melihat koper besar di depan pintu kamar Tiara, Arkan tau jika hari ini Tiara akan pergi ke luar kota.
Di sela-sela sarapan, Tiara kembali memberi tahu Arkan jika hari ini ia akan keluar kota untuk kegiatan yang rutin dilakukan Restoran tempatnya bekerja.
"Baik tidak masalah,"jawab Arkan singkat dan tidak mengatakan apapun lagi.
Selesai sarapan Arkan pun segera berangkat ke kantor bersama Ken.
Dan Tiara, ia masih menunggu mobil yang akan menjemputnya.
ππππ
Di kantor.
Arkan nampak terlihat gelisah entah apa yang ia pikirkan sampai membuat lelaki itu tidak tenang.
Bahkan ia sampai lupa untuk menghubungi Berlian yang tengah marah padanya.
Sampai membuat gadis itu nekad mendatanginya di kantor.
"Berlian Apa yang kau lakukan di sini?"kejut Arkan yang melihat Berlian masuk begitu saja di ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dan kebetulan saat itu sedang tidak ada Ken kantor.
"Menurutmu apa yang akan aku lakukan?"sahut Berlian, dengan tangan sebal pada Ken.
"Ber, kita bisa bertemu di tempat lain jangan di kantor bagaimana jika ada yang mencurigai kita."
"Aku sampai datang ke sini semua karena mu Ar!"
Arkan mendekati Berlian dan Gadis itu segera memeluk tubuh Arkan dengan erat.
"Ber Jangan begini bagaimana jika ada yang masuk,"Arkan mencoba mengurai pelukan dari Berlian.
"Aku tidak peduli Ar, biarkan saja mereka tahu, karena kenyataannya kita memang masih saling mencintai,"Berlian benar-benar enggan untuk melepaskan rengkuhannya dari tubuh Arkan.
π
Sementara di luar kantor, Tiara baru saja turun dari taksi online yang ia pesan, keberangkatan Tiara diundur sampai jam 02.00 siang karena ada berapa hal yang belum siap di lokasi.
Dan saat ini ia Tengah memenuhi permintaan sang Mamah mertua untuk mengantarkan makan siang pada Arkan.
"Padahal ini baru jam 10.00 pagi, kenapa Mama sudah memintaku untuk mengantarkan makan siang pada Arkan, apa dia makan siang di jam segini,"gumam Tiara.
__ADS_1
Tiara sudah memasuki kantor besar itu, ia sampai berdecak kagum ketika melihat isi di dalam gedung itu.
"Ternyata desas-desus yang beredar selama ini benar,"batin Tiara.
Di tengah kekaguman Tiara tiba-tiba seorang karyawan wanita datang menghampirinya.
"Selamat pagi menjelang siang nona,"
Tiara terkejut!
"Iya Selamat pagi Mbak!"
"Apa nona ini, Nona Tiara Azzahra?"
"Iya benar saya Tiara dan saya ingin bertemu dengan Tuan Arkan?"
"Nyonya Tri sudah memberitahu saya jika anda akan datang ke kantor Tuan Arkan, jadi, mari saya antar ke ruangan tuan Arkan,"tawar karyawan wanita itu dengan sopan.
"Baik Terima kasih banyak!"
Dan Tiara pun mengikuti karyawan wanita itu menuju lift khusus.
Tanpa mengetahui adanya Berlian di ruangan Arkan, karyawan wanita itu mengantar Tiara sampai depan pintu ruangan sang tuan.
"Ini ruangannya nona, Anda bisa langsung masuk saja silakan!"
"Terima kasih banyak."
"Anda tidak perlu sungkan ini sudah menjadi tugas saya, kalau begitu saya permisi Nona Tiara."
Tiara mengangguk dan karyawan wanita itu pun berlalu.
Tiara ragu jika harus langsung masuk dan ia rasa itu pun sangat tidak sopan.
Tok.
Tok.
Dan Tiara memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan itu namun ia mengantuk dengan sangat pelan.
Bagaimana jika ia marah, karena aku datang ke kantornya.
"Nona Tiara!"
Suara Ken mengejutkan Tiara.
"Ken!"
"Mamah Tri, meminta ku untuk mengantarkan makan siang untuk Arkan."
"Kalau begitu masuklah, Tuan Arkan pasti senang karena Anda mengantarkan makan siang untuknya."
Senang! kalau marah bagaimana?
"Bagaimana kalau kau saja yang memberikannya pada Arkan?"pinta Tiara.
"Nona Tri yang menyuruh anda bukan?"
"Aah... Iya, aku hampir saja lupa,"sahut Tiara sambil tertawa kecil.
"Mari, Nona silakan masuk!"
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena memang itu sudah kebiasaannya, Ken langsung mendorong pintu ruangan Arkan.
"Tuan, Nona Tiara datang untuk....!"
Ken menggantungkan perkataannya karena ia terkejut melihat pemandangan yang ada di dalam ruangan Arkan.
Secepat kilat Ken Ingin menutup kembali pintu ruangan itu tapi terlambat, Tiara yang persis berada di belakangnya pun ikut melihat pemandangan itu karena Ken membuka pintu dengan sangat lebar.
Mata Tiara membelalak sempurna ketika melihat Berlian yang sedang memeluk erat Arkan bahkan wanita itu Tengah mencium pipi suami nya.
Tiara langsung membuang pandangannya ke arah lain, Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa nyeri melihat pemandangan di depan matanya meskipun tidak ada cinta di antara mereka, tapi Tiara bisa merasakan sesak juga di dadanya ketika melihat wanita lain mencium suaminya.
Sama seperti Ken dan Tiara Arkan pun sangat terkejut begitupun dengan Berlian,tapi gadis itu malah semakin mengencangkan pelukannya.
"Ken!"Arkan melihat seseorang yang ada di belakang punggung Ken,"Tiara!"
Dengan cepat Arkan mencoba melepaskan rengkuhan Berlian.
Tiara mencoba menetralkan nafas dan hatinya kemudian ia berkata.
"Maaf, sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat jadi mengganggu kalian berdua,"Tiara memberikan paper bag yang berisi makan siang pada Ken,"ini dari mama Tri, aku permisi dulu!"
Tiara langsung keluar dari ruangan Arkan.
"Tiara!"panggil Arkan.
"Kau mau ke mana? Apa kau ingin mengejarnya? Tidak perlu bukan Ar, dia pasti mengerti karena Tiara sudah mengetahui hubungan kita kan,"Berlian mencegah Arkan yang ingin mengejar Tiara.
__ADS_1
Ken, maju beberapa langkah mendekati kedua Sejoli itu.
"Baru saja saya tinggal beberapa menit, kelakuan anda sudah seperti ini!"Ken berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kau katakan Ken? Jangan berkata macam-macam."sahut Arkan.
"Apa anda akan membiarkan Nona Tiara salah paham begitu saja?"tanya Ken.
"Tentu saja tidak!"
"Kenapa kau bicara seperti itu Ar? Tiara tidak akan salah paham Karena dia sudah tahu hubungan kita,"sahut Berlian.
"Tapi aku harus tetap bicara dengan Tiara Ber, agar dia tidak salah paham,"Arkan melepaskan tangan Berlian dari pelukannya, dan segera keluar dari ruangannya untuk mengejar Tiara.
"Ar!"Teriak Berlian dan ingin mengusul Arkan.
Tapi kan menahannya.
"Lepaskan aku kan! Jangan bersikap tidak sopan seperti ini padaku,"maki Berlian sambil menepis tangan Ken yang mencekal lengannya.
"Anda sungguh tidak tahu malu nona, berani datang ke kantor dan masuk ke ruangan Tuan Arkan."
"Kenapa aku harus malu? Arkan itu kekasihku dan seharusnya yang malu itu Tiara karena sudah merebut kekasihku,"balas Berlian yang tak terima.
πππ
Tiara sudah keluar dari lift dan ia berjalan dengan cepat menuju pintu keluar.
Secara bersamaan.
"Tiara!"
Jay, yang baru masuk berteriak memanggil gadis yang sedang dalam suasana hati sangat tidak baik.
"Jay!"
Jay berlari kecil mendekati Tiara.
"Aku tidak menyangka jika akan bertemu denganmu di sini,"ucap Jay sambil tersenyum.
"Iya, aku juga tidak menyangka jika bisa bertemu denganmu di sini,"Tapi Tiara tidak ingin berlama-lama bicara dengan Jay,"kalau begitu aku permisi dulu."ucap Tiara dengan tergesa-gesa.
"Kenapa terburu-buru begitu! Kita baru saja bertemu."
Sebelum Tiara menjawab kembali pertanyaan Jay, Arkan muncul di belakangnya.
"Tiara!"panggilnya dan langsung mendekat pada gadis itu, lalu tatapan Arkan beralih pada Jay.
"Apa yang kau lakukan di sini?"tanyanya tidak suka.
"Aku ada janji dengan Ken untuk membahas soal kerjasama perusahaanmu dan restoranku yang ada di luar negeri,"sahut Jay, yang mengutarakan maksud kedatangannya ke kantor Arkan.
"Kalau begitu kalian lanjutkan saja pembicaraan kalian, Aku harus pergi."Tiara menyela di tengah-tengah pembicaraan Jay.
"Tiara, Aku ingin bicara sebentar denganmu,"kata Arkan.
"Apa ada yang serius?"Jay yang menyahut dan langsung mendapat tatapan tidak suka dari Arkan.
"Baiklah kalau begitu aku tunggu di ruanganmu saja,"kata Jay yang menyadari kehadirannya tidak diinginkan oleh Arkan.
Jay pun langsung berlalu tapi lelaki itu tidak menuju ke ruangan Arkan ia justru merasa penasaran dengan kedua pasutri itu.
Pasti ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua Dan aku harus mengetahuinya, begitulah kira-kira isi hati Jay.
Dan dengan naluri ke Kepoan nya, Jay mengikuti Arkan yang mengajak Tiara ke tempat yang tidak terlalu banyak dilalui orang.
"Ada apa? cepat katakan aku sedang buru-buru,"ucap Tiara yang membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Kenapa kau datang ke kantor? Bukankah kau seharusnya pergi ke luar kota?"tanya Arkan.
"Keberangkatanku diundur sampai jam 02.00 siang, dan kenapa aku ada di sini? Karena mama Tri memintaku mengantarkan makan siang untukmu."
Arkan tiba-tiba merasa sangat bersalah pada Tiara.
"Tiara, aku harap kamu tidak....!"
Arkan tidak meneruskan perkataannya karena Tiara sudah memotong terlebih dahulu.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan mengatakan apapun pada Mama Tri,"Tiara melihat mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Aku harus pergi, permisi."dan tanpa mengatakan apapun lagi Tiara langsung pergi tanpa menoleh pada Arkan.
Sedangkan Arkan masih terdiam di tempat, Tengah menetralkan hatinya yang entah kenapa tiba-tiba merasa sakit melihat Tiara pergi begitu saja.
Sebenarnya masih banyak yang ingin Arkan katakan pada Tiara, dan yang ingin Ia katakan tadi, bukan meminta Tiara untuk merahasiakan kejadian di ruangannya pada Tri, tapi Arkan meminta Tiara untuk tidak salah paham dengannya, tapi entah kenapa bibir Arkan terasa berat untuk mengatakan itu pada Tiara.
ππππππππ
Trimakasih sudah berkenan membaca cerita iniππ
__ADS_1
Mohon dukungannya ya ππ€