Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Kesadaran serta penyesalan Dimas.


__ADS_3

Merasa kondisi tubuhnya baik baik saja usai melakukan donor darah Hantara kembali menyibukkan diri dengan memeriksa beberapa berkas penting.


"Di luar ada tuan Dimas, beliau ingin bertemu dengan anda tuan." tutur Armada saat baru saja masuk ke ruang kerja Hantara.


Raut wajah Hantara masih terlihat datar seperti biasanya, seperti tidak terkejut dengan kedatangan Dimas karena sesuai dengan dugaannya sebelum meninggalkan gedung perusahaan milik pria itu, Hantara bisa menebak jika pria itu pasti akan datang padanya.


"Persilahkan dia masuk!!!." titah Hantara seraya menutup berkas terakhir yang di periksanya.


"Baik tuan." Armada segera meninggalkan ruang kerja Hantara untuk kembali menemui Dimas.


"Tuan Hantara menunggu anda di ruangannya." kata Armada, kemudian mempersilahkan Dimas untuk segera menemui Hantara di ruangannya.


Setibanya di ruang kerja Hantara, Dimas seolah tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun, pria itu terlihat diam namun dari raut wajahnya nampak jelas gurat penyesalan.


"Silahkan duduk!!." Hantara mempersilahkan Dimas untuk menempati sofa yang berada di ruang kerjanya sebelum kemudian ia pun bangkit dari kursi kebesarannya untuk bergabung bersama Dimas di sofa.


"Sudah aku duga kau pasti akan datang menemuiku." kata Hantara dengan bahasa santai setelah menjatuhkan bokongnya di salah satu sofa yang ada.


Hantara sengaja tidak menggunakan bahasa Formal mengingat di ruangan tersebut hanya ada dirinya dan juga Dimas.


"Maafkan aku." hanya itu yang dapat di ucapkan Dimas setelah apa yang telah diperbuatnya terhadap istri dari Hantara sekaligus adik kandungnya sendiri.

__ADS_1


Hantara yang mendengar permintaan maaf Dimas terlihat menghela napas dalam kemudian menghembusnya perlahan.


"Aku tahu tidak mudah bagimu untuk menjalani semua ini apalagi kejadian di masa lalu keluargamu Sampai membuat kondisi ibumu jadi seperti ini. tetapi kau juga harus ingat, bukan hanya kau yang menderita di sini, istriku bahkan jauh lebih menderita darimu. jangankan untuk mendapatkan kasih sayang dari wanita yang melahirkannya ke dunia ini, bahkan kehadirannya saja tidak di harapkan." tutur Hantara seolah ingin menyampaikan kepada Dimas bukan hanya pria itu yang menjadi korban di sini tetapi istrinya juga menjadi korban, bukan hanya perpisahan orang tuanya tetapi korban dari keegoisan seorang wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.


"Sekali lagi maafkan aku." Hantara melihat suami dari adiknya tersebut meminta maaf dengan tulus bahkan kini Dimas terlihat mengusap sudut matanya yang mulai basah, Hantara menjadi tak tega melihatnya.


"Bahkan saat aku menghajarnya hingga babak belur dia tidak mengeluarkan air mata." dalam hati Hantara yang kini menatap dalam pada Dimas.


"Saya sangat mengerti jika saat ini anda belum bisa memaafkan kesalahan saya. meski rasanya tidak pantas saya mengatakan ini, tetapi saya tetap ingin menyampaikannya kepada anda tolong tetap menjaga dan melindungi adik saya dengan sepenuh hati anda!!! cukup saya yang tidak berguna sebagai seorang kakak." lanjut tutur Dimas, bahkan dari suaranya nampak jelas pria itu menahan tangisnya agar tidak pecah.


"Kau tidak perlu cemas untuk itu karena selagi ragaku masih bernyawa selama itu juga aku akan selalu menjadi perisai untuk istriku. saat ini adikku salah paham dengan perasaanmu kepada istriku, Gita, aku harap kau bisa segera meluruskannya dengan mengatakan tentang yang sebenarnya kepada Renata!!. sama seperti dirimu saat ini yang mencemaskan adikmu, aku pun begitu. aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan sampai terjadi terhadap adik dan calon keponakanku." ucap Hantara dan sepertinya Dimas paham akan maksud ucapan Hantara.


Beberapa saat kemudian Hantara nampak tersenyum kecil.


Setelah mengobrol cukup lama, kini Dimas pamit kepada Hantara karena baru saja dirinya mendapat panggilan dari istrinya, Renata.


Namun saat hendak memutar handle pintu ruang kerja milik Hantara, Dimas kembali menoleh saat mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan pria itu."Aku akan mencoba menceritakan semua ini pada istriku, setelah itu aku akan mencoba mengatur pertemuan kalian." Spontan Dimas menoleh saat mendengar kalimat yang membuatnya seolah sedang bermimpi.


Dimas tersenyum kecil lalu berkata."Thank you so much for everything." ucapnya seraya menoleh, sebelum beberapa saat kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


Sementara Hantara hanya menanggapi ucapan terima kasih Dimas dengan sebuah anggukan kecil seraya menyaksikan pria itu menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Setelah menyaksikan Dimas baru saja keluar dari ruang kerja Hantara, Armada kemudian masuk ke ruangan Hantara untuk memastikan jika tuannya tersebut baik baik saja setelah kepergian Dimas.


"Anda baik baik saja tuan??." Armada yang baru saja masuk keruangan Hantara nampak bertanya untuk memastikan keadaan pria itu, sontak sikap Armada yang menurut Hantara sedikit over protective membuatnya menggelengkan kepalanya.


"i'm ok. Memangnya apa yang bisa di lakukan pria itu sampai membuat aku tidak baik baik saja. haaah???" jawab Hantara tidak habis pikir dengan sikap protective asisten pribadinya itu.


"Lagi pula jika aku sampai kenapa Napa, ada istriku yang akan selalu ada untuk merawat suaminya." lanjut Hantara seolah sedang membanggakan sang istri.


Sedangkan Armada yang mendengarnya memilih diam tak lagi bersuara, bisa jadi di akhir obrolan nanti tuannya itu akan menyindir dirinya mengenai pasangan hidup.


"Berapa usiamu sekarang??." belum sempat Armada menjawab Hantara kembali melanjutkan kalimatnya. "Bukankah kita hampir sebaya??? aku bahkan sudah dua kali menikah sedangkan dirimu kekasih saja tidak punya, Armada." Sengaja memilih diam agar tidak mendengar kalimat keramat yang akan terlontar dari mulut Hantara, tetapi kenyataannya pria itu tetap melanjutkan pembahasan ke arah sana.


Kalau pembahasan Hantara sudah ke arah pernikahan atau semacamnya, ingin rasanya Armada segera menghilang dari muka bumi ini untuk sementara waktu.


"Wajahmu tidak jelek, kenapa kau tidak mencari seorang wanita untuk di jadikan kekasih, atau mungkin diam diam kau sudah memiliki seorang kekasih." lanjut tebak Hantara dengan tatapan curiga.


Armada yang mendengarnya dengan cepat menepis."Tidak ada tuan, lagi pula saya tidak punya waktu untuk itu semua." jawaban Armada membuat Hantara mengeryit.


"Tidak punya waktu??." Hantara mengulang jawaban Armada, Hantara diam sejenak seolah mencerna setiap kata yang di ucapkan Armada sebelum kemudian berkata."Mulai besok aku memberimu waktu untuk berlibur bekerja!!!" ucapan Hantara membuat kedua mata Armada sempat membola karena salah paham.


"Apa anda memecat saya tuan??." tanya Armada dengan wajah berubah cemas.

__ADS_1


"CK...aku bukan ingin memecat dirimu, aku hanya ingin kau punya waktu untuk mencari seorang wanita untuk di jadikan kekasih, lagi pula aku tidak ingin asisten pribadiku terus hidup menyendiri." mendengar jawaban Hantara membuat Armada hanya bisa menghela napas berat, lagi lagi tuannya itu membahas tentang pasangan hidup.


"Astaga bagaimana aku sampai lupa jika besok lusa hari pernikahan Riko." Di sela obrolannya bersama Armada tiba tiba Hantara teringat akan pernikahan Riko yang akan di langsungkan besok lusa.


__ADS_2