
Malam harinya.
Gita yang baru saja usai mandi nampak memutar tubuhnya di depan cermin sembari menelisik dengan seksama bagian tubuhnya yang kini terekspos di balik balutan lingerie yang nampak menerawang.
Saking fokusnya Gita sampai tidak menyadari jika saat ini ada seseorang di Balik pintu baru saja memutar handle pintu.
"Glek" Hantara yang baru saja kembali dari kantor nampak terpesona dengan penampilan istrinya. pria itu dengan susah payah menelan salivanya ketika melihat pemandangan indah tersaji di depan mata. dan hal itu belum juga di sadari oleh Gita.
Untungnya buket bunga di tangan Hantara tak sampai terjatuh ke lantai ketika melihat pemandangan yang menggetarkan hati. sebuket bunga yang sengaja di pesannya khusus di hari spesial sang istri. Hantara meletakkan buket bunga di atas nakas sebelum kembali memperhatikan penampilan istrinya intens.
"Cantik." mendengar pujian Hantara membuat Gita spontan berbalik arah ke sumber suara.
"Kamu sudah pulang mas." Gita terkesiap saat menyadari keberadaan suaminya.
Gita yang merasa malu bukan main berniat mengganti lingerie yang tengah ia kenakan dengan sebuah piyama seperti biasa.
Namun baru selangkah Hantara nampak mencekal lengannya. "Mau kemana??." tanyanya. "Mau ganti baju mas takut masuk angin." jawab Gita dengan pandangan tertunduk malu. Gita merasa malu karena merasa seperti wanita penggoda di depan suaminya.
"Kenapa harus di ganti??." tanya Hantara dengan tatapan penuh arti, masih dengan posisi mencekal lengan istrinya.
Dengan sekali tarikan Hantara mampu mengikis sempurna jarak di antara keduanya. spontan Gita meletakan Kedua tangannya pada dada bidang milik Hantara dengan posisi tubuh mereka yang tak lagi berjarak.
Bulu kuduk Gita terasa meremang saat tangan kekar suaminya mulai mengelus lembut punggungnya yang kini di balut kain tipis. sementara satu tangan yang lainnya mulai menelisik setiap inci wajahnya.
Dalam posisi seperti ini Gita bisa merasakan hembusan napas suaminya. meski sudah sering melakukan hal lebih intim dari itu namun tetap saja membuat jantung Gita berdetak maraton.
"Tidak perlu di ganti!!." Hantara berbisik tepat di telinga Gita, hal itu semakin membuat Gita merasakan sensasi sen_sual.
__ADS_1
Keromantisan keduanya tiba tiba terhenti saat pandangan Gita tertuju pada sebuket bunga yang di letakkan di atas nakas. Gita menarik diri dari pelukan suaminya kemudian melangkah menuju ke arah buket bunga di atas nakas.
"Happy birthday my wife." Gita membaca ucapan di buket bunga. "Ini buat aku mas??." tanya Gita ragu.
"Memangnya istri saya ada berapa???" bukannya menjawab Hantara malah balik bertanya.
Dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya Gita berjalan mendekati suaminya. dengan sedikit berjinjit Gita mengecup lembut bibir suaminya. sebuah kecupan yang cukup lama yang mampu membuat Hantara memejamkan kedua matanya menikmati kecupan hangat istrinya.
"Thank you mas." ucap Gita setelah menyudahi kecupannya. wanita itu nampak terharu. dia tidak menyangka jika ternyata suaminya tahu hari ulang tahunnya.
"Hanya terima kasih???" tanya Hantara dengan tatapan dalam yang mampu membuat siapapun yang di pandang jadi salah tingkah, tak terkecuali Gita.
Hantara yang sadar jika saat ini sang istri tengah salah tingkah itu pun menarik Gita ke dalam dekapannya. merasakan usapan lembut di rambutnya membuat Gita memeluk pinggang suaminya masih dengan memegang buket bunga pemberian Hantara.
Gita menghela napas dalam menikmati aroma tubuh suaminya. aroma manley yang sudah beberapa bulan terakhir menjadi favoritnya. tidak terbayangkan bagaimana rasanya jika suatu saat nanti tak lagi bisa ia nikmati. membayangkannya saja sudah membuat mata Gita nampak berkaca kaca.
"Jika seandainya suatu saat kita tak lagi bersama, apa mas tidak akan merindukan aku??." pertanyaan Gita membuat raut wajah Hantara berubah seketika.
Hantara mengurai pelukannya kemudian memandang wajah Gita intens, sedangkan yang di pandang menundukkan pandangannya. seperti tidak sanggup menatap manik mata suaminya. "Kenapa kamu bicara seperti itu??." tanya Hantara dengan nada tak suka.
Gita menggeleng."Maaf mas...tapi Aku hanya ingin bertanya saja." Masih dengan pandangan tertunduk Gita menjawab pertanyaan suaminya.
"Apa Reva mengatakan hal yang tidak tidak??." tebak Hantara saat teringat ancaman Reva beberapa hari lalu yang di sampaikan pada Armada.
Namun tanpa di sadari pertanyaannya justru menjadi bumerang baginya. Gita mengangkat pandangannya. "Jadi benar kamu mengatakan rahasia pernikahan kita pada mantan istri kamu mas." batin Gita, dari sorot matanya nampak kecewa, karena berpikir suaminya itu telah mengatakan sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia rumah tangga mereka.
Bukan tanpa alasan Gita bertanya seperti itu, siang tadi dia tidak sengaja bertemu dengan mantan istri dari Hantara di sekolahnya Akila.
__ADS_1
Reva sengaja mengatakan tentang alasan Hantara sampai menikahi Gita. sebuah pernikahan yang terjadi karena sebuah amanah. dan Reva juga mengaku pada Gita jika kabar tersebut di dengarnya langsung dari mulut Hantara tentunya itu bohong, karena Hantara tak pernah sekalipun bicara seperti itu padanya. wanita itu juga mengatakan jika Hantara pernah mengutarakan jika dia ingin berencana menyudahi pernikahan mereka.
Untuk alasannya tentu saja Reva berbohong dengan mengatakan Hantara ingin kembali memperbaiki hubungan dengan dirinya.
Sejujurnya Gita bukanlah gadis bodoh yang mudah terhasut omongan orang terlebih lagi omongan dari Reva yang notabenenya merupakan mantan istrinya Hantara. tetapi Gita juga sadar, meski apa yang di katakan Reva tidak sepenuhnya benar, namun tidak menutup kemungkinan ucapan Reva akan terjadi.
Sejak malam ini Gita semakin yakin dengan keputusan untuk melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan suaminya.
Meski merasa kecewa pada Hantara namun Gita tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dengan melayani kebutuhan biologis suaminya.
Berbeda dengan malam sebelumnya, Gita yang lelah usai melayani permainan suaminya biasanya dengan mudahnya terlelap, namun malam ini Gita belum memejamkan matanya meski waktu telah menunjukkan pukul satu malam.
Wanita itu menatap wajah teduh suaminya yang kini terlelap. "Apa benar ragamu ada bersamaku tetapi tidak dengan hatimu mas??."Batin Gita. tanpa sadar buliran bening mulai membasahi sudut mata indahnya saat Gita mengusap lembut wajah suaminya.
Ingin rasanya Gita menangis sejadi jadinya ketika mengingat nasib miris yang menimpanya, namun hal itu urung dilakukannya.
Beberapa saat kemudian mungkin karena lelah atau mengantuk kini Gita mulai memejamkan matanya hingga terdengar hembusan napasnya yang mulai teratur pertanda wanita itu telah masuk ke alam bawah sadarnya.
Hantara perlahan membuka kedua matanya saat mendengar hembusan napas istrinya mulai teratur. sejak tadi Hantara hanya berpura pura tidur "Apa yang sebenarnya kamu pikirkan sayang, Kenapa hari ini sikapmu sangat aneh. kamu bahkan sampai mengucapkan kata perpisahan, satu kata yang paling aku tidak suka" Gumam Hantara di depan wajah istrinya sebelum mendaratkan sebuah kecupan di pipi istrinya.
Perlahan pandangan Hantara jatuh pada perut rata Gita yang berada di bawah balutan selimut putih.
"Hampir setiap malam kita melakukannya tapi kenapa kamu belum juga hamil??." Hantara nampak berpikir. "Apa kamu terlalu banyak pikiran sehingga sulit untuk hamil???." Hantara mulai menerka dengan wajah bersalah.
"Sweet dream baby...mulai besok aku janji akan mengizinkan kamu kembali bekerja seperti biasa." gumam Hantara tak ingin egois.
Setelah puas memandangi wajah lelap istrinya, Pria itu kemudian merapikan selimut yang menutupi tubuh polos istrinya sebelum kembali merebahkan kepalanya.
__ADS_1
Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Hantara tidur dengan posisi memeluk istrinya, mengingat hampir setiap malam pemandangan itu terlihat.