Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Kayazhar Putra Hantara Sanjaya.


__ADS_3

Rahma yang baru saja tiba merasa gemas melihat putra dari sahabatnya yang kini berada di gendongan sang nenek kemudian meminta izin kepada nyonya Merina untuk menggendong bayi laki laki yang di beri nama Kayazhar Putra Hantara Sanjaya.


Nama yang telah dipersiapkan oleh Hantara sejak mengetahui jika sang istri tengah mengandung anak laki-laki.


Bayi laki-laki yang di beri nama panggilan Kay tersebut membuat Rahma tanpa terasa menitihkan air mata haru saat menatap bayi mungil yang kini berada di gendongan nya tersebut.


"Putra kalian sangat tampan." puji Rahma, saat mengelus lembut pipi Kay yang masih nampak merah di dalam bedongnya.


"Wajahnya sangat mirip dengan wajah papanya."


Gita tersenyum seolah mengiyakannya, sementara Hantara hanya menampilkan wajah datarnya saat mendengarnya, tidak merasa besar kepala sedikit pun walau pada kenyataannya Kay memang mewarisi wajah tampan darinya.


"Jika nanti kamu punya anak, pasti akan secantik dan setampan ayah dan ibunya."


Perlahan senyum di wajah Rahma memudar kala mendengarnya untungnya hal itu tidak sampai menimbulkan kecurigaan Gita. Berbeda dengan sang istri, Hantara justru dapat membaca situasi tak biasa dari perubahan sikap Istri dari sahabatnya tersebut.


"Bagaimana aku hamil jika suamiku saja tidak Sudi menyentuhku." dalam hati Rahma, teringat akan sikap dingin Riko selama ini kepada dirinya.


Beberapa saat suasana hening sampai suara ketukan dari balik pintu memecah keheningan.


Bersamanya dengan pintu ruangan terbuka dari arah luar menampilkan wajah pria yang sudah hampir seminggu tak bertatap muka dengannya.

__ADS_1


Meski tinggal satu atap namun Riko dan Rahma jarang sekali berinteraksi semenjak mereka menikah. lebih tepatnya Riko sengaja menghindari istrinya.


"Selamat atas kelahiran putra Kalian."


Riko yang baru saja tiba di ruangan itu kemudian memberikan ucapan selamat kepada Hantara dengan melewati Rahma begitu saja, seolah Rahma merupakan makhluk tak kasat mata.


Sakit... tentu saja sakit, terluka tentu saja terluka. Wanita mana yang tidak sakit dan terluka hatinya, jika tidak dianggap oleh suami sendiri.


Rahma bisa mengerti jika Riko masih merasa marah bahkan benci padanya, tetapi sebagai seorang suami apa tidak bisa Riko sedikit menghargai dirinya sebagai seorang istri, walaupun hanya sebatas memperlakukan dirinya layaknya seorang istri di hadapan orang lain.


Rasanya tenggorokan Rahma terasa tercegat melihat sikap dingin Riko padanya namun dengan susah payah Rahma tetap menampilkan senyum, lebih tepatnya sebuah senyuman palsu. Karena di saat tersenyum hatinya justru ingin menjerit.


"Thank you." kata Hantara saat mereka berpelukan untuk sejenak saat Riko memberi ucapan selamat atas kelahiran putranya.


Melihat tatapan tak biasa nyonya Merina kepada dirinya membuat Riko tersadar akan sikapnya barusan terhadap Rahma di depan orang lain.


Melangkah mendekati sang istri merupakan tindakan yang secepat kilat di tempuh Riko.


Cup.


Kedua mata Rahma terbelalak seolah tidak percaya jika saat ini Riko melayangkan sebuah kecupan di keningnya.

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang jika kamu juga akan datang ke sini sayang." Riko sengaja menekan kata sayang saat berucap, sebelum pria itu merengkuh pinggang ramping istrinya.


Dengan mulut yang tidak tertutup sempurna Rahma sedikit mendongak menatap pria yang sudah beberapa bulan terakhir menjadi suaminya tersebut.


Namun sepersekian detik kemudian Rahma seakan tersadar dengan sandiwara yang kini dimainkan Riko agar tidak menimbulkan kecurigaan di hati yang lainnya.


***


Riko terpaksa kembali dari rumah sakit bersama dengan sang istri. Saat berada di mobil Riko dan Rahma hampir tidak terlibat pembicaraan sampai dengan suara Rahma terdengar memecah keheningan.


"Berhenti di depan !!."


Tanpa banyak bertanya Riko menepikan mobilnya, dengan tatapan dingin Riko menoleh pada Rahma. sebuah tatapan yang hampir menjadi santapan sehari-hari bagi Rahma.


"Maaf sudah membuat harimu tidak nyaman." dengan perasaan bercampur aduk Rahma berkata demikian sebelum turun dari mobil milik Riko, hendak mencari taksi untuk kembali ke apartemen.


Seperti biasa, saat berucap kepada Riko sikap Rahma selalu nampak tenang tak sedikitpun wanita itu menampilkan gurat kecewa apalagi terluka. sudah cukup menjalani hidup menjadi istri tak di anggap oleh Suami sendiri, Rahma tak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Riko.


Tanpa di sangka sebelumnya saat Rahma baru saja turun dari mobil milik suaminya secara kebetulan sepeda motor Anis melintas.


Anis menepikan sepeda motor yang baru beberapa bulan di belinya tersebut.

__ADS_1


Awalnya tentu saja menyembunyikan kebenaran dari Anis, tetapi bukan Anis namanya jika tidak berhasil membuat Sahabatnya tersebut mengaku padanya akan kebenaran rumah tangganya, dengan berbagai cara dan usaha.


__ADS_2