Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Melahirkan.


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, Hantara telah tiba di ibu kota bersama dengan Armada yang selalu setia menemani tuannya tersebut. meski pada kenyataannya selama berada di perjalanan kembali ke ibu kota pria itu harus menjadi sasaran ocehan Hantara yang tidak sabar ingin segera menemui istrinya.


Sebagai asisten pribadi yang patuh pada tuannya, tentunya Armada membiarkan Hantara mengoceh sepuasnya. Armada bisa mengerti hal itu adalah sebuah pelampiasan Hantara akibat kepanikannya terhadap kondisi istrinya saat ini, mengingat Hantara sebenarnya bukanlah pria yang cerewet seperti saat ini.


Mungkin jika dirinya ada di posisi Hantara saat ini, Armada mungkin akan melakukan hal yang lebih dari sekedar mengoceh karena di balik sikap dinginnya selama ini, Armada juga terkenal memiliki kesabaran setipis tisu. hanya bersama dengan Hantara saja hal itu tidak berlaku.


*


"Tara." Nyonya Merina sengaja menunggu kedatangan putranya di depan ruang bersalin.


"Di mana Gita, mah??."


"Istri kamu ada di dalam Tara, sebaiknya kamu segera masuk ke dalam karena sejak tadi dia terus memanggil nama kamu Tara."


Tidak ingin membuang waktu lebih lama, Hantara pun mengikuti permintaan mamahnya dengan segera menemui istrinya di dalam ruang bersalin, sementara Nyonya Merina terpaksa tidak ikut masuk karena dokter hanya mengizinkan satu orang yang menemani pasien selama proses persalinan yaitu suaminya.


"Sakit mas...." keluh Gita saat kini Hantara menggenggam erat tangannya, seolah memberikan kekuatan kepada istrinya untuk berjuang melahirkan buah cinta mereka ke dunia ini.


"Kamu harus kuat sayang demi Putra kita !!!."


Dalam kondisi yang tak kalah paniknya dengan mamahnya tetapi Hantara masih mengunakan akal sehatnya untuk tetap bersikap tenang di hadapan istrinya.


Hantara tidak ingin kecemasan berlebihan yang tunjukkannya nantinya justru semakin membuat keadaan menjadi tidak kondusif, mengingat ini adalah pengalaman pertama bagi istrinya.


Cukup lama Gita berjuang menahan rasa sakit akibat kontraksi dan juga proses persalinan. sampai Dengan suara tangisan seorang bayi laki-laki seolah mampu menghilangkan rasa sakit yang di rasakan ibunya.


"Terima kasih sayang..."

__ADS_1


Hantara menghujani ke_cupan di wajah istrinya seakan tidak peduli dengan beberapa pasang mata milik bu dokter serta beberapa orang bidan yang membantu persalinan istrinya.


Bukannya sewot apalagi iri, justru yang melihat adegan tersebut ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang kini dirasakan oleh pasangan tersebut. " sepertinya bayi anda sangat mirip sekali dengan papanya, Nyonya." kata salah seorang bidan yang membantu proses menyusui dini saat menyadari kemiripan bayi tersebut dengan wajah Hantara.


Gita hanya tersenyum saja, karena apa yang di katakan bisa tersebut memang nyata adanya. wajah putranya begitu mirip dengan wajah ayahnya, Gita bahkan tidak kebagian sedikitpun.


"Mama yang ngidam, mama yang hamil, mama juga yang melahirkan, tetapi kenapa wajah kamu sangat mirip dengan papa kamu sih nak??." dengan posisi bayinya berada di dadanya Gita seolah tengah mengajak anak laki-lakinya tersebut mengobrol meski tahu putranya tersebut sama sekali tidak akan paham dengan ucapannya.


Gita berucap dengan nada gemas pada putranya sehingga membuat Hantara tersenyum melihatnya.


Tak lama kemudian seorang bidan mengambil kembali bayi laki-laki tersebut untuk di bersihkan serta di ukur berat serta tinggi badannya.


Kepergian bidan menuju ruang bayi bersamaan dengan Nyonya Merina yang hendak melihat kondisi menantunya yang baru saja melahirkan cucu laki-lakinya.


"Cucu... nenek sangat tampan sekali." puji nyonya Merina saat melihat ketampanan cucunya yang berada di gendongan salah seorang bidan.


***


Beberapa saat kemudian Gita telah di pindahkan ke ruang perawatan VVIP usai persalinan.


Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki tersebut kini berada di gendongan neneknya, setelah selesai di bersihkan serta di lantunkan kalimat adzan di telinga kanannya oleh sang ayah, Hantara.


Sementara Gita duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Gita begitu bahagia saat melihat semua anggota keluarga berbahagia menyambut kelahiran putranya, terutama sang suami. sesuatu yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari pikirannya saat pertama kali menikah dengan pria Dingin bernama Hantara Putra Adipura Sanjaya.


Sebagai seorang gadis yang menikah Karena terpaksa oleh keadaan, membuat Gita sempat berpikir jika anaknya kelak tidak akan mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya, Hantara, mengingat Hantara menikahinya hanya karena sebuah amanah.


Karena kekhawatirannya terhadap nasib anaknya kelak, Sampai sampai saat itu Gita sengaja mengkonsumsi pil penunda kehamilan karena tidak sanggup melihat anaknya berada dalam posisi seperti tak di harapkan oleh ayahnya kandungnya sendiri.

__ADS_1


Teringat akan semua itu membuat Gita tersenyum seperti orang bodoh sehingga membuat Hantara yang sejak tadi memperhatikan dirinya yang tengah melamun segera mendekati istrinya itu.


"Ada apa sayang??." tanyanya dengan wajah bingung melihat ekspresi wajah istrinya. pertanyaan Hantara sekaligus membuyarkan lamunan Gita. "Tidak ada apa apa mas, aku hanya teringat akan tindakan bodohku dulu yang sempat mengkonsumsi pil penunda kehamilan." jawabnya penuh penyesalan.


Hantara yang mendengarnya semakin mendekat ke arah istrinya kemudian mengelus lembut puncak kepala istrinya.


"Tidak perlu di sesali yang telah terjadi yang terpenting sekarang kamu sudah memberikan hadiah terindah untukku, sayang. seorang putra yang begitu tampan."


Hantara membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Terima kasih istriku sayang." ucapnya tulus sebelum kembali mengecup penuh sayang puncak kepala Gita.


Nyonya Merina yang tengah menggendong cucunya nampak terharu melihat kehangatan hubungan rumah tangga Putra dan menantunya tersebut.


"Ya tuhan... terima kasih karena engkau telah mendengarkan doa hambamu ini, dengan menghadirkan cinta dan kasih sayang di dalam biduk rumah tangga putraku." dalam hati nyonya Merina. tanpa sadar wanita paru baya tersebut menitihkan air mata untungnya dengan cepat wanita itu mengusap wajahnya sehingga tak nampak oleh Hantara maupun Gita.


"Ceklek." terdengar suara pintu ruangan terbuka dari luar setelah sebelumnya terdengar ketukan beberapa kali.


Baik Gita, Hantara maupun nyonya Merina sontak memandang ke arah datangnya Anis dan juga Rahma. jika Anis tadi sempat menemani Gita sebelum kedatangan suaminya, berbeda dengan Rahma yang baru saja tiba setelah selesai bekerja di salah satu Puskesmas di daerah terpencil yang berada di pinggiran ibu kota.


Maklum setelah menikah dengan Riko beberapa bulan yang lalu, Rahma memutuskan untuk resign dari rumah sakit tempatnya bekerja sebelumnya.


Maksud dan tujuan Rahma tak lain karena ingin menjaga perasaan sang suami. itulah mengapa dirinya memutuskan untuk tidak berada di lingkungan kerja yang sama dengan Dr Atala.


Tetapi sepertinya sampai detik ini usaha Rahma terkesan sia sia karena sampai dengan detik ini sikap suaminya tersebut padanya masih saja sedingin es.


"Maaf aku terlambat." ucapan tersebut yang pertama kali terlontar dari mulut Rahma karena merasa tak enak pada sahabatnya, Gita.


Sayang sayangku mohon maaf karena terlambat update karena kemarin diriku sedang kurang sehat. 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2