Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Obrolan santai mengandung sindiran halus.


__ADS_3

Anis terus melirik ke arah depan berharap seseorang akan tiba, namun sepertinya harapan Anis sia sia karena sudah beberapa menit berlalu yang di harapkan tak kunjung tiba.


"Sepertinya pak Armada tidak akan datang." batin Anis, dengan body language berubah tak bersemangat.


Sementara Damar yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Anis pun bersuara." Sahabat saya yang satu ini memang seperti itu, sikapnya memang sedikit dingin tetapi sebenarnya Riko orangnya baik kok." ucap Damar yang menyangka jika perubahan sikap Anis di sebabkan oleh sikap dingin Riko, saat gadis itu menyapanya tadi.


"Ti_Tidak masalah tuan Damar." Anis yang mendengarnya hanya terlihat tersenyum kaku saat berucap, akan kesalahpahaman Damar atas perubahan sikapnya.


"Sebagai sahabatnya saja saya sangat penasaran dengan gadis yang akan menjadi istrinya sebentar lagi, seandainya gadis itu tahu jika sikap sahabat saya ini begitu dingin mungkin dia akan membatalkan rencana pernikahan mereka." meski mendapat tatapan tajam dari Riko namun Damar tetap melanjutkannya ucapannya, apalagi di akhir kalimat Damar terlihat tertawa puas, kala teringat akan ucapan Riko beberapa hari lalu yang mengatakan sebentar lagi ia akan segera menikah dengan gadis pilihan ayahnya.


"Untungnya gadis itu tidak lebih dulu bertemu denganku, kalau tidak, bisa jadi gadis itu malah memilih aku yang akan menjadi calon suaminya. haaaahaahaa...." lanjut kelakar Damar yang di akhiri tawa lepas tanpa peduli dengan raut wajah Riko yang kini berubah memerah.


Uhuk....uhuk....uhuk....


Rahma yang tengah menyesap teh buatan Bi Ela seketika tersedak, saat mendengar semua ucapan Damar yang secara tidak langsung di tujukan padanya.


Gita yang melihat sahabatnya tersedak segera mengusap punggung Rahma karena kebetulan saat ini jarak keduanya tidak begitu jauh.


"Maaf." ucap Rahma merasa tidak enak karena menjadi pusat perhatian, termasuk Riko yang saat ini juga memandang ke arahnya.


Sedangkan Hantara yang mengetahui penyebab Rahma sampai bisa tersedak hanya Bisa menggeleng, melihat sikap Damar yang tidak mengetahui jika gadis yang ia maksud kini berada diantara mereka.


"Sebelumnya saya minta maaf nona Rahma jika pertanyaan saya sedikit pribadi, apa anda sudah memiliki seorang kekasih??." bukannya berhenti, Damar malah beralih bertanya kepada Rahma.

__ADS_1


"Berhenti bertanya, kau membuatnya takut!!." bukannya Rahma yang menjawab melainkan Riko yang menimpali kalimat Damar.


Sehingga membuat Damar yang mendengarnya nampak berdecak kesal."Ck,,,, Apa kau pikir aku ini singa sampai membuatnya ketakutan." ujar Damar dengan wajah sebal.


"Bukan singa tapi buaya darat." jawab Riko dengan ekspresi datar di wajahnya.


Ucapan Riko kembali membuat Damar berdecak kesal."Dasar sahabat tidak punya pengertian, tidak bisa melihat sahabatnya menggunakan kesempatan dengan baik." ujarnya dengan nada kesal. sementara yang berada di ruangan tersebut hanya nampak tersenyum sembari menggeleng saat mendengar umpatan kesal Damar pada Riko.


Tidak ingin pria itu terus merasa penasaran atau di anggap sombong bahkan tidak sopan, akhirnya Rahma pun bersuara."Sebentar lagi saya akan segera menikah." ucap Rahma seraya mengangkat tangannya ke udara, untuk memperlihatkan sebuah cincin yang kini terpasang di jari manisnya. cincin pertunangan yang sebulan lalu di sematkan Riko di jari manisnya yang di saksikan oleh keluarga mereka masing masing.


Sontak tatapan Riko tertuju pada Rahma ketika gadis itu tengah berucap, karena secara tidak langsung gadis itu ingin mengatakan pada Damar bahwa saat ini dirinya telah menjadi tunangan dari seorang pria.


"Oh astaga... ternyata aku kalah cepat dengan pria itu, btw selamat semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. tetapi aku berharap calon suami anda nanti tidak memiliki sifat seperti sahabat saya ini nona." jawab Dama yang di akhir katanya pria itu menunjuk ke arah Riko yang kini tengah duduk di sampingnya.


"Kau lihat saja nona Rahma, sifat Sabahat saya ini begitu datar dan dingin. jika suami anda nanti sampai memiliki sifat Sepertinya, tidak menutup kemungkinan anda akan beku di buatnya." ucap Damar tanpa beban sedikitpun yang nampak di wajahnya.


"Dasar sahabat laknat." dalam hati Riko mengumpat Damar, sebelum ia meraih segelas jus miliknya berharap rasa panasnya akibat ucapan Damar tentang dirinya sedikit berkurang.


Sedangkan Rahma hanya menanggapi ucapan Damar dengan sebuah senyum kecil kemudian berkata." Sepertinya tembakkan anda tentang calon suaminya saya nyaris benar semua tuan Damar, hanya kurang satu saja, selain memiliki sikap datar dan dingin calon suami saya juga sedikit angkuh." ucap Rahma sembari melirik sejenak ke arah Riko.


Sedangkan Riko yang mendengar serta menyadari lirikan Rahma sontak tersedak.


Uhuk....uhuk....uhuk....

__ADS_1


Riko sampai batuk batuk mendengarnya.


"Hei...ada apa denganmu kawan??." kata Damar sembari memberikan beberapa kali tepukan di punggung Riko. sedangkan Hantara yang menyaksikan hal itu hanya bisa menahan tawanya agar tidak pecah.


Berbeda dengan sang suami yang memilih diam tidak berniat menimpali obrolan Damar, Gita justru menampilkan wajah sebal saat mendengar pengakuan Rahma tentang sosok calon suami yang pernah diceritakannya sebelumnya. namun sayangnya Gita tidak mengetahui jika calon suami yang di maksud sahabatnya tersebut adalah Riko, salah satu dari sahabat suaminya.


"Tidak perlu khawatir, wajahmu sangat cantik jika kau sudah menikah nanti buat suamimu itu sampai bertekuk lutut di hadapanmu !!! jika dia tetap bersikap dingin padamu, sepertinya tidak ada salahnya mengikuti usulan tuan Damar, dengan menggantinya dengan yang baru." berbeda dengan yang lainnya yang kini nampak tertawa mendengar ucapan asal yang terlontar dari mulut Gita, Riko justru terlihat menelan salivanya dengan susah payah.


Hantara pun langsung tersenyum mendengar ide gila istrinya sebelum berkata." Istriku memang luar biasa, tidak ada salahnya jika suatu saat nanti mempraktekkan usulan istri saya Nona Rahma." ucap Hantara seraya melirik ke arah Riko dan secara kebetulan saat itu Riko pun melirik kearahnya.


"Kenapa aku sampai bisa bersahabat dengan dua orang rubah seperti mereka." ucap Riko dalam hati saat melirik ke arah Hantara.


Tidak terasa sudah satu jam mereka mengobrol tidak jelas dan kini waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang sudah waktunya makan siang.


Baik Gita dan Hantara kemudian mengajak mereka untuk segera menuju meja makan untuk makan siang.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka pun selesai makan siang, namun masih memilih duduk sejenak di meja makan.


"Bagaimana, sudah berapa persen persiapan pernikahanmu??." tanya Hantara pada Riko.


"Sudah hampir sembilan puluh lima persen, hanya tinggal menyiapkan beberapa lagi saja, karena aku ingin semuanya tersusun sempurna sesuai dengan impian calon istriku." jawaban Riko membuat seseorang yang mendengarnya meleleh di buatnya, namun itu bukan Rahma tetapi Anis.


"Ternyata di balik sikap dingin yang anda miliki, sebenarnya anda sangat romantis ya tuan Riko, bukan begitu Rahma??." puji Anis sembari menyenggol lengan Rahma yang kini tepat di sebelah kursinya dan hal itu spontan membuat Rahma gelagapan menjawab ucapan Anis.

__ADS_1


__ADS_2