Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Bertemu.


__ADS_3

"Namanya tuan Riko." ucap Gita saat mengikuti arah pandang kedua sahabatnya.


"Jadi nama pria itu Riko, dia bersahabat dengan suaminya Gita." ucap Rahma tentunya itu hanya di dalam hati.


Anis seketika tertawa tanpa sebab sehingga membuat Rahma dan Gita nampak mengeryit heran.


"Aku teringat sikap konyol pria itu tempo hari." Anis seolah menjawab sorot mata kedua sahabatnya.


"Maksudnya??." tanya Rahma dengan wajah bingung. sedangkan Gita kini nampak sibuk membalas sebuah pesan dari suaminya yang baru saja terkirim di aplikasi hijau miliknya.


Anis pun menjawab kebingungan di wajah Rahma dengan menceritakan kejadian Tempo hari di rumah sakit, saat pria bernama Riko tersebut modus demi mendapatkan nomor ponsel Gita namun bukannya berhasil, Gita malah mengerjainya dengan memberikan nomor telepon berbeda.


"Jadi selain arogan pria itu juga buaya." batin Rahma menuding karakter Riko. pria yang telah membuatnya ketinggalan pesawat dua hari yang lalu saat hendak kembali ke Jakarta.


"Kau sendiri apakah kau mengenal pria itu??." tanya Anis mengingat Rahma lah yang pertama kali memandang ke arah Riko.


"Bagaimana aku bisa lupa pada seseorang yang telah membuat Hariku sial." jawab Rahma dengan wajah sebal. setelahnya Rahma pun menceritakan tentang kejadian yang menimpanya di Surabaya beberapa hari lalu.


"Oh...jadi pria sombong yang kamu maksud kemarin itu tuan Riko??." tanya Anis kembali memastikan dan Rahma mengangguk malas sebagai jawaban.


Ketiganya pun berhenti membicarakan tentang Riko di saat Gita kembali menceritakan tentang kejadian lucu yang pernah terjadi di cafe itu beberapa tahun yang lalu.


Obrolan ketiganya terus berlanjut sampai tidak terasa waktu kini telah menunjukkan pukul sebelas siang. Gita segera pamit karena ingin menjemput kedua putrinya di sekolah.


Yang tadi menjadi Salah satu topik pembicaraan ketiga wanita itu adalah tentang rencana pernikahan Rahma dengan seorang pria yang merupakan anak dari rekan bisnis ayahnya.

__ADS_1


Gita yang kini merasa berada di posisi menikah tanpa di awali cinta menyarankan Rahma untuk mengenal lebih dulu calon suaminya. biar bagaimanapun Gita Tidak ingin ada Sahabatnya yang merasakan apa yang kini dia rasakan.


Di satu sisi Gita merasa sakit karena sang suami yang tak pernah mengungkapkan isi hatinya namun di sisi lain Gita merasa bahagia saat mendapat perhatian serta perlakuan manis dari suaminya.


Namun untuk saat ini Gita mencoba untuk menerima kenyataan jika sang suami belum juga mengungkapkan perasaannya, semua itu di lakukan Gita untuk tetap mempertahankan kewarasannya.


Bahkan Gita sampai melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan Hantara demi menjaga hatinya agar tidak terlalu hancur jika suatu saat pria itu berniat menceraikannya.


Saat ketiganya bersiap meninggalkan cafe tanpa sengaja tatapan Rahma dan Riko bertemu untuk sesaat, sebelum Rahma meraih tasnya di atas meja kemudian menyusul langkah Anis dan Gita. saking malasnya berbagi udara dengan pria itu Rahma sampai tak menyadari jika ponselnya masih tergeletak di atas meja cafe.


"Ternyata gadis itu berteman dengan istrinya Hantara??." batin Riko. tebak Riko yang tadi sempat melihat interaksi diantara ketiganya. namun begitu Riko tidak dapat mendengar obrolan mereka berhubung mejanya yang di tempati Anis, Rahma, dan Juga Gita berada cukup jauh dari mejanya.


Fokus Riko kembali pada ayahnya. meski nampak tak bersemangat namun Riko tetap menuruti permintaan ayahnya untuk bertemu dengan rekan bisnisnya.


"Ayah, berapa lama lagi kita akan menunggu di sini??." tanya Riko malas.


Sepuluh menit kemudian seseorang yang di nanti pun tiba dengan di dampingi oleh seorang pria yang berpenampilan layaknya bodyguard. "Maaf sudah membuat anda menunggu tuan Abraham." ucap pria yang hampir seumuran dengan ayahnya Riko.


"Tidak perlu sungkan tuan, lagi pula kami belum terlalu lama menunggu." jawab tuan Abraham.


"Belum lama kata ayah....Kita bahkan sudah menunggu tiga puluh menit." batin Riko yang kini ikut berdiri bersama ayahnya menyambut kedatangan pria itu. Riko seperti tidak habis pikir dengan ayahnya. biasanya ayahnya paling tidak suka membuang buang waktu apalagi dengan menunggu, namun sepertinya kali ini ada pengecualian. hal itu membuat Riko sempat bertanya tanya.


Beberapa saat kemudian Tuan Abraham mempersilahkan rekan bisnis yang sebentar lagi akan menjadi besannya tersebut. kini ketiga pria itu duduk sementara seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam berdiri siap di belakang tuannya. Riko pun memperkenalkan diri begitu pun sebaliknya. setelahnya Riko nampak sibuk dengan ponselnya membiarkan kedua pria paru baya itu mengobrol sesuka hati mereka.


Tuan Abraham serta rekan bisnisnya yang bernama tuan Roland memilih menu makanan berhubung kini waktunya makan siang.

__ADS_1


Sembari menunggu pesanan datang tuan Abraham pun memulai dengan obrolan santai .


"Sebelumnya saya minta maaf tuan karena anak saya tidak bisa ikut datang hari ini karena ada urusan." ucap tuan Roland merasa tak enak. sedangkan Riko yang tengah sibuk dengan ponselnya seolah tak mengindahkan ucapan pria itu.


Baru saja tuan Roland usai berkata demikian pandangan pria itu tak sengaja tertuju pada seseorang yang begitu familiar. "Rahma." suara yang sangat di kenalnya itu membuat Rahma menoleh ke sumber suara. "Ayah." ucapnya.


Tadi saat di perjalanan pulang tiba-tiba Rahma menyadari jika ponselnya tak ada di dalam tasnya. dengan cepat Rahma memutar balik motornya kembali ke cafe.


Riko di buat terkejut saat gadis itu memanggil pria yang kini duduk di hadapannya dengan sebutan ayah. namun secepatnya dia kembali menampilkan wajah datar.


Rahma menghampiri meja yang kini di tempati ayahnya serta beberapa orang pria berbeda generasi.


Rahma tersenyum ke arah tuan Abraham yang kini juga tengah tersenyum padanya. "Ternyata calon menantu saya sangat cantik." pria itu dengan mudah menebak sebab sepengetahuannya rekan bisnisnya tersebut hanya memiliki anak tunggal. Jadi tidak salah lagi jika gadis cantik yang kini berada di hadapannya pasti calon menantunya.


Baik Rahma maupun Riko nampak membulatkan mata sempurna. "Apa??." ujar keduanya hampir bersamaan saking terkejut. real keduanya membuat tuan kedua orang tua mereka mengeryit. "Apa kalian sudah saling kenal." tuan Abraham mewakili pertanyaan yang kini juga terlintas di benak tuan Roland.


Dengan spontan keduanya menggeleng.


"Oh....saya pikir kalian sudah saling mengenal." lanjut tuan Abraham yang kembali menampilkan senyum di wajahnya.


Kini Rahma pun duduk di sisi kanan ayahnya tepat berhadapan dengan Riko, keduanya nampak diam dengan pemikiran masing masing.Rahma masih nampak syok saat ini tuan Abraham memanggilnya dengan sebutan calon menantu tadi. tidak jauh berbeda dengan Rahma kini Riko pun tak kalah syoknya saat mengetahui jika gadis pilihan ayahnya tak lain adalah gadis yang pernah membuatnya ketinggalan pesawat saat di Surabaya Tempo hari.


"Yang benar saja ayah akan menikah kan aku dengan pria arogan ini, apa ayah tidak tahu jika pria pilihannya ini buaya." batin Rahma sambil menatap sinis ke arah Riko.


Obrolan mereka terus berlanjut sampai dengan membahas pernikahan di Antara kedua anak mereka.

__ADS_1


Namun tiba tiba senyum di wajah tuan Roland perlahan memudar saat mendengar permintaan putrinya. Rahma bersedia menikah dengan pria pilihan ayahnya namun dengan syarat mengundur hari pernikahan mereka sampai dengan tiga Bulan mendatang.


Awalnya tuan Roland menolak tapi di saat calon besanan tidak merasa keberatan pria itu pun terpaksa mengiyakan permintaan putrinya.


__ADS_2