
Sudah seminggu Yanto bertugas sebagai security di perusahaan Putra Adipura Sanjaya group, sejak pertama bekerja pria itu selalu menunjukkan sikap baik dan patuh.
Pagi ini Seperti biasa, Yanto yang tengah bertugas menjaga keamanan berkeliling area gedung perusahaan untuk memastikan kondisi aman dan terkendali.
Saat kembali ke pos penjagaan yang berada di area depan, Yanto pun menyambut kedatangan seseorang yang menggunakan mobil mewah miliknya. dari penampilannya Yanto bisa menebak jika pria tersebut merupakan salah satu rekan bisnis dari Hantara.
"Selamat pagi tuan." sapa Yanto dengan nada ramah. dan pria yang duduk di kursi belakang nampak mengangguk kecil menanggapi sapaan dari Yanto, sebelum mobil tersebut kembali melaju menuju area parkiran gedung.
Untuk sesaat Yanto nampak tertegun seolah pernah bertemu sebelumnya dengan pria yang tadi mengendarai mobil itu.
"Sepertinya aku pernah bertemu dengan pria itu, tapi di mana??." gumam Yanto sembari mencoba mengingat ingat.
"Hei...apa yang kau lakukan dengan berdiri di terik matahari, apa kau pikir dirimu itu turis." kelakar salah seorang rekan sesama security sekaligus membuyarkan lamunan Yanto tentang sosok pria tadi
"Kau bisa saja." jawab Yanto ikut tersenyum pada rekan kerjanya itu, setelahnya mereka pun segera kembali ke pos jaga.
Di ruang meeting milik perusahaan Putra Adipura Sanjaya group, Armada yang di temani oleh Sela nampak menggantikan posisi Hantara untuk meeting bersama dengan Dimas dan juga Sekretarisnya.
Tidak terasa sudah satu jam berlalu, meeting di antara kedua belah pihak pun usai. Dimas segera pamit pada Armada dan juga Sela untuk segera kembali ke perusahaan miliknya.
"Terima kasih atas sambutannya pagi ini tuan Armada, ternyata anda tidak kalah menyenangkan dengan tuan Hantara." pujian Dimas tidak serta Merta membuat Armada membusungkan dada. pria itu sepertinya tidak menanggapi pujian Dimas, terbukti dari sikapnya yang nampak diam seolah Pujian Dimas hanyalah sebuah angin lalu.
Namun begitu Armada tetap menyambut uluran tangan Dimas.
Ingin memastikan kondisi kesehatan istrinya sudah dua hari terakhir Hantara tidak datang ke perusahaan, pria itu meminta Armada untuk menghandle semua urusan di perusahaan untuk sementara ini, termasuk meeting untuk menggantikan posisi dirinya.
Dimas yang kini melintas di loby tidak sengaja berpapasan dengan Renata yang baru saja tiba di gedung perusahaan milik kakaknya.
Berbeda dengan Dimas yang nampak menghentikan langkahnya sejenak saat menyadari keberadaannya, Renata justru nampak Acuh tidak mempedulikan keberadaan Dimas sama sekali.
Dimas yang kesal dengan sikap acuh Renata segera mencekal lengan wanita itu, sehingga mau tidak mau Renata pun menghentikan langkahnya namun memalingkan wajahnya ke arah lain.
__ADS_1
Dimas memberikan kode pada asisten pribadinya untuk lebih dulu menuju mobilnya berada, melalui tatapan matanya.
"Sepertinya kau memang ingin melupakanku dalam hidupmu Renata." ucap Dimas dengan nada datar seraya mencekal lengan mantan kekasihnya itu.
"Maaf tuan Dimas saya sedang sibuk ada yang harus saya selesaikan, jadi sebaiknya lepaskan tangan saya!!." dusta Renata dengan nada dingin.
Dimas terlihat menyunggingkan senyum saat mendengar kalimat Formal yang terlontar dari bibir mantan kekasihnya itu, lebih tepatnya sebuah senyuman seringai yang di tampilkan Dimas.
"Apa kau yakin ingin melupakan seorang pria yang telah membuatmu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu??." ucap Dimas dengan suara berbisik namun terdengar jelas oleh Renata.
Mendengar kalimat yang baru saja di katakan Dimas, secara spontan Renata memandang ke kelilingnya untungnya saat ini kondisi loby perusahaan milik kakaknya nampak sepi, semua pegawai nampaknya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Lupakan semua itu, anggap Saja semua itu tidak pernah ter_!!!." ucapan Renata berhenti begitu saja saat menyadari tangan kekar Dimas kini berada di perutnya.
"Bagaimana jika aku tidak ingin melupakannya." jawab Dimas. dari nadanya tersirat makna yang dalam. apalagi saat ini Dimas nampan mengelus perut Renata. dengan spontan Renata menepis tangan kekar Dimas agar menjauh dari perutnya.
Hal itu membuat Dimas mengeryit."Jangan bilang saat ini kau tengah menyembunyikan sesuatu dariku Renata??." ucap Dimas dengan tatapan curiga.
Deg
"Stop it.... sudah cukup, berhenti bicara omong kosong di hadapan saya!!! jika tidak ada keperluan lagi, silahkan pergi dari sini !!!" seru Renata dengan nada datar seolah ucapan Dimas barusan tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi dirinya.
Menyadari kedatangan Armada yang baru saja keluar dari lift membuat Dimas terpaksa melepas cekalan tangannya pada lengan Renata dan sedikit menjauh untuk memberi jarak.
Namun bukan Armada namanya jika tidak bisa membaca situasi yang baru saja terjadi.
Meskipun tidak tahu pasti apa yang baru saja di bicarakan oleh kedua insan yang di ketahui Armada sebagai mantan sepasang kekasih tersebut, namun pria itu bisa memastikan bahwa baru saja terjadi pembicaraan serius di antara keduanya.
"Kalau begitu saya permisi duluan." pamit Dimas sebelum melangkah meninggalkan Renata dan juga Armada yang masih berada di loby dan hendak melangkah menuju pintu lift.
Di depan gedung nampak pintu mobil telah dibuka oleh asisten pribadinya. Dimas masuk ke mobil dengan gurat wajah yang tidak bisa di tebak.
__ADS_1
"Apa kita kembali ke perusahaan tuan??." tanya Asisten pribadinya dengan hati hati mengingat saat ini ekspresi wajah Dimas tidak seperti awal mereka tiba di sana.
"Ke ruang sakit milik keluarga Abimanyu." titah Dimas dan asisten pribadinya nampak mengangguk patuh.
Kini mobil Dimas melaju menuju salah satu rumah sakit ternama di ibukota, rumah sakit ternama milik sahabatnya.
Setibanya di rumah sakit milik keluarga Abimanyu, Dimas segera menuju ruangan Abimanyu.
"Saya pikir anda tidak jadi datang hari ini tuan Dimas." ucap Abimanyu dengan bahasa Formal sehingga membuat Dimas yang mendengarnya berdecak kesal.
"Ck... hanya ada aku dan kau di sini, tidak perlu memanggilku dengan embel-embel tuan!!." ucapan Dimas dengan wajah kesalnya tersebut membuat Abimanyu spontan tersenyum renyah.
"Baiklah....Dimas Satria Prayoga." Seloroh Abimanyu menyebutkan nama lengkap sahabatnya itu.
Abimanyu mulai membuka laci nakas miliknya lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat yang berisi hasil pemeriksaan CT scan serta hasil Rontgen milik Dimas.
Abimanyu terlihat menghela napas sebelum membuka amplop tersebut, sebagai sahabat tentunya Abimanyu berharap tidak ada masalah dengan kesehatan sahabatnya itu.
"Bagaimana hasilnya??." tanya Dimas dengan perasaan was-was saat Abimanyu usai membaca hasil pemeriksaan miliknya.
Abimanyu nampak menghela napas lega sebelum menjelaskan hasil pemeriksaan milik Dimas."Hasil pemeriksaannya menunjukkan kesehatanmu baik baik saja tidak ada penyakit apapun yang kini kau derita." Di satu sisi Dimas merasa lega saat mendengar penjelasan Abimanyu namun di sisi lain ia Semakin Bingung.
"Jika hasilnya menunjukkan tidak ada masalah dengan kesehatanku, lalu kenapa akhir-akhir ini aku sering merasa mual dan pusing??." tanya Dimas dengan kening berkerut.
"Kasus seperti ini biasa terjadi pada pria beristri jika istrinya tengah mengandung." sejenak Abimanyu menjedah penjelasannya.
Deg
Jantung Dimas berdebar tak karuan saat mendengar penjelasan Abimanyu tentang kasus yang kini di alaminya.
"Tentu saja kau tidak termasuk di dalamnya, karena saat ini kau masih sing_." kalimat Abimanyu terhempas begitu saja di udara saat Dimas menyela dengan pengakuan mengejutkan.
__ADS_1
"Aku pernah ber_cinta dengan kekasihku beberapa bulan yang lalu, lebih tepatnya mantan kekasihku karena dia sudah memutuskan hubungan kami. jika dugaanmu benar itu artinya saat ini Renata mengandung anakku." pengakuan Dimas membuat kedua bola mata Abimanyu membulat sempurna.