Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Mengalami Depresiasi berat.


__ADS_3

Hantara nampak mengusap wajahnya Frustrasi usai seorang dokter memeriksa kondisi istrinya.


"Sepertinya istri anda terlalu banyak pikiran tuan sehingga membuatnya sampai pingsan" terang dokter usai memeriksa dan memastikan kondisi Gita.


"Tidak perlu khawatir tuan, sepertinya istri anda sedang terlelap karena reaksi obat yang baru saja saya berikan. jangan lupa untuk Segera menebus beberapa vitamin yang baru saja diresepkan, satu lagu tuan demi kesehatan ibu dan anak di dalam kandungan istri anda sebaiknya jangan sampai istri anda banyak pikiran apalagi sampai stres!!! kalau begitu saya permisi untuk kembali ke rumah sakit, jika terjadi sesuatu segera hubungi kami!!! ." ucap dokter sebelum beranjak dan Hantara nampak mengangguk kecil dan berkata."Terima kasih dokter." ucapnya.


Hantara memandang ke arah Armada yang juga berada di dalam kamarnya seolah mengisyaratkan pria itu untuk mengantarkan dokter ke depan.


Setelahnya Armada segera kembali menemui Hantara.


"Sepertinya kau harus lebih serius untuk mencari tahu siapa sebenarnya dalang di balik semua kejadian ini, tidak mungkin hasil DNA tersebut datang dengan sendirinya ke rumahku." ujar Hantara dengan tatapan penuh makna.


"Maafkan saya tuan." ucap Armada karena secara tidak langsung merasa bersalah akan kejadian itu, seandainya saja ia telah berhasil menemukan siapa sebenarnya yang berada di balik semua ini tidak mungkin semua ini akan terjadi. setidaknya itulah yang kini di rasakan Armada selaku asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Hantara.


"Tidak perlu minta maaf, ini bukan sepenuhnya kesalahanmu semua ini adalah keteledoranku yang tidak segera berterus terang pada istriku sejak awal." jawab Hantara seadanya.


Hantara kembali menghela napas dalam saat teringat bagaimana istrinya yang terus menangis hingga jatuh pingsan.


Armada segera menuju ke kantor polisi dengan harapan ada sedikit titik terang yang akan ia dapatkan dari pria yang kini menjadi tersangka penabrakan Asyifa dan juga Gita.


Di kantor polisi, Armada nampak mengepalkan kedua tangannya saat berhadapan dengan pria yang bernama pak Yanto tersebut, namun begitu Armada berusaha bersikap tenang.


"Sekali lagi maafkan atas kesalahan saya tuan, dan Tolong sampaikan rasa terima kasih saya terhadap tuan Hantara Karena telah banyak membantu biaya pengobatan anak saya." dengan wajah penuh penyesalan atas apa yang pernah dilakukannya sebelumnya.

__ADS_1


Armada nampak menghela napas berat sebelum menjawab kalimat pria tersebut.


"Tidak perlu berterima kasih lagi pula tuan Hantara tidak membutuhkan itu, lebih baik sejak saat ini anda berubah menjadi pria yang lebih baik lagi dengan tidak menerima begitu saja perintah dari seseorang, apalagi seseorang yang tidak anda kenal!!!. " ucap Armada, dari kalimatnya tersirat makna dalam.


Mendengar kalimat Armada membuat Pria itu semakin merasa bersalah dengan pandangan tertunduk.


"Seandainya saja ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan tuan Hantara, pasti akan saya lakukan." ucap Pria itu dengan sungguh sungguh.


Melihat kesungguhan di wajah pria bernama Yanto tersebut membuat Armada berharap keputusan Hantara mencabut laporan atas kasus yang menjerat Yanto adalah keputusan yang tidak akan di sesali oleh tuannya itu.


Setelah urusannya di tempat itu, Armada segera meninggalkan kantor polisi dan secara bersamaan ponsel Armada berdering pertanda seseorang telah melakukan panggilan telepon.


Beberapa saat berbicara melalui sambungan telepon yang ternyata dari salah satu orang kepercayaannya, Armada mengajak serta Yanto bersamanya, setelah mencabut laporan polisi atas kasus yang menimpanya berdasarkan perintah dari Hantara.


Sebagai tulang punggung keluarga tentunya Yanto sangat di butuhkan kehadirannya oleh istri dan juga anak anaknya. selain mencabut laporan atas kasus yang menjerat Yanto, Hantara juga meminta Armada untuk memberikan pekerjaan untuk pria itu di perusahaannya.


Sehubungan dengan pendidikan terakhir Yanto yang hanya tamatan SMP maka Armada memberi posisi sebagai seorang security di perusahaan kepada pria itu. dan tentunya hal itu membuat Yanto tak henti hentinya merasa bersalah karena pernah melakukan hal tercela kepada anggota keluarga dari pria sebaik Hantara.


Dari hati terdalam Yanto berjanji pada dirinya sendiri untuk bekerja dengan sepenuh hati, serta jika memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu pastinya akan dilakukannya untuk membalas semua kebaikan yang telah di berikan Hantara padanya dan juga keluarganya.


Di tempat yang berbeda, Dimas nampak tak sanggup melihat kondisi kesehatan ibunya yang semakin hari semakin memprihatinkan.


Anak mana yang akan tega melihat kondisi ibunya yang tengah mengidap depresi berat. bahkan depresi yang kini di alami oleh ibunya telah berangsur sejak sepuluh tahun terakhir.

__ADS_1


"Mah, Dimas mohon jangan bersikap seperti ini, mama harus makan agar mama segera sembuh dan kita bisa bersama Sama lagi!!." pinta Dimas dengan berurai air mata. saat Abimanyu menghubungi dirinya dan mengatakan jika ibunya sudah dia hari tak mau makan. bahkan wanita paru baya tersebut pun sering mengamuk dan sering mengatakan hal hal yang pernah terjadi di masa lalunya, Dimas bergegas menuju rumah sakit tempat ibunya di rawat.


"Mamah tidak lapar Dimas, mama hanya ingin bertemu dengannya, mama ingin bertemu dengan anak itu, mama ingin meminta maaf padanya. Mama telah jahat padanya Dimas..." dengan meninggikan suara ibunya berujar pada Dimas, bahkan sesekali wanita itu nampak tertawa kemudian juga menangis tanpa sebab yang jelas.


"Anak siapa yang mama maksud mah??." tanya Dimas dengan wajah Bingung, karena hampir selama sepuluh tahun terakhir mamahnya terus mengatakan hal demikian.


Bukannya menjawab wanita itu malah tertawa terbahak-bahak kemudian sepersekian detik kemudian ia pun menangis.


"Jangan semakin membuat ibumu merasa tertekan Dimas, sebaiknya kamu bersabar!!." Abimanyu yang sejak tadi melihat interaksi di antara Dimas dan ibunya pun meminta pada Dimas untuk lebih bersabar, walaupun menurut Abimanyu semua itu tidak mudah bagi Dimas.


"Sampai kapan aku harus terus bersabar Abi... sepuluh tahun Abi, sudah sepuluh tahun tapi kondisi mama masih saja sama belum ada perkembangan." Dengan mengusap wajahnya Dimas berujar.


"Aku tahu kamu pasti tidak tega melihat kondisi ibu kamu yang masih seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, sebagai tim medis kami sudah melakukan semua yang kami bisa, tapi sepertinya kondisi ibu kamu belum mengalami perkembangan." penjelasan Abimanyu semakin membuat Dimas benci akan seseorang yang menjadi penyebab ibunya sampai seperti ini.


"Tetapi_." Abimanyu menghentikan kalimatnya saat melihat tatapan Dimas berubah tajam.


Abimanyu yang merupakan sahabat Dimas sejak SMA dulu kini mencoba mengajak Dimas berbicara layaknya seorang sahabat pada sahabatnya.


"Dimas, tidak ada salahnya kita mencari tahu siapa sebenarnya anak kecil yang sering di katakan olah mama kamu, mungkin saja keberadaan anak kecil yang di maksud Mama kamu bisa sedikit membantu memulihkan serta mengembalikan ingatan mama kamu." Sebenarnya kalimat ini kerap kali di ucapakan Abimanyu selaku dokter yang menangani kondisi kesehatan ibunya, namun Dimas selalu saja menolak dengan alasan tidak mengerti dengan anak yang di maksud ibunya berhubung ia merupakan anak tunggal.


"Tetapi di mana saya bisa menentukan anak yang di maksud oleh mamaku itu??." Tetapi kali ini sepertinya Dimas mulia melunak, terbukti pria itu hanya diam tidak seperti reaksinya sebelum sebelumnya saat Abimanyu mengusulkan hal demikian.


Abimanyu menanggapi ucapan Dimas dengan sebuah senyuman." Jangan khawatir aku akan membantumu, kita akan mencari keberadaan anak yang di maksud oleh mama kamu bersama sama." ucap Abimanyu seraya menepuk pundak sahabatnya dan Dimas pun nampak mengangguk kecil.

__ADS_1


__ADS_2