
Di sebuah cafe terlihat dua orang insan yang berlawanan jenis tengah duduk saling berhadapan. pandangan keduanya nampak berbeda. Jika pria tersebut menatap penuh kerinduan pada sosok wanita itu namun tidak demikian dengan wanita yang tak lain adalah Reva. tatapan Reva nampak nyalang serta penuh kebencian.
Tadi saat Reva hendak terjatuh di saat kakinya tidak sengaja tersandung ada seorang pria yang menolongnya, namun wanita itu sungguh tidak menyangka jika pria yang telah menolongnya tersebut adalah sosok pria yang pernah hadir di masa lalunya.
Sosok pria yang bahkan telah membuatnya melakukan sesuatu yang kini begitu di sesali oleh Reva yaitu meninggalkan suami dan anaknya.
Reva yang tidak ingin pembicaraannya dengan pria itu di dengar oleh orang lain terpaksa menerima ajakan pria itu untuk bicara di sebuah cafe yang tidak jauh dari perusahaan Putra Adipura Sanjaya group.
"Apa lagi yang ingin kau bicarakan??." tanya Reva dengan nada ketus. dari nadanya terdengar Reva begitu benci dengan sosok pria yang kini tengah menatapnya dengan sorot mata penuh kerinduan.
"Kenapa sikapmu begitu berubah padaku Reva??? apa kau sudah tidak lagi mencintaiku??." rentetan pertanyaan dari pria yang bernama Andika Mahendra tersebut membuat Reva tersenyum miring.
"Setelah apa yang kau lakukan padaku, kau masih bertanya bagaimana dengan perasaanku." Reva nampak tersenyum miring menanggapi pertanyaan dari Andika.
"Asal kau tahu semua ini karena perlakuanmu padaku dulu, jika saja aku tidak termakan janji manismu dulu aku tidak akan mungkin sampai berpisah dari suamiku saat itu." lanjut Reva dengan nada dan sorot mata penuh kebencian. sedangkan Andika sendiri nampak menghela napas panjang lalu menghembusnya perlahan untuk menetralisir perasaannya yang kini campur aduk rasanya.
"Kau tahu betul jika aku sangat mencintaimu. kau tahu, bukan perkara mudah bagiku saat mengetahui jika ternyata kau sudah memiliki suami dan juga anak. bukan karena tidak bisa menerima statusmu, tapi yang membuat aku berat adalah saat tahu kau baru saja menggugat cerai suamimu terlebih lagi akulah yang menjadi penyebab itu sampai terjadi ." Andika mencoba memberikan penjelasan agar Reva bisa mengerti dengan sikapnya selama ini.
Reva nampak mengangkat wajahnya untuk menghalau air matanya agar tak jatuh di hadapan pria itu. pria yang pernah membuatnya merasakan indahnya jatuh cinta, perasaan yang bahkan tidak pernah di rasakan Reva sebelumnya saat bersama dengan Hantara. namun karena sikap pria itu tiga tahun yang lalu membuat perasaan Reva padanya seakan mati begitu saja.
Beberapa saat keheningan tercipta sebelum pria itu kembali mempertanyakan sesuatu yang membuat Reva naik pitam.
"Bagaimana kabarnya?? dia pasti sudah besar sekarang, sampaikan padanya bukannya aku menolak keberadaannya namun aku hanya ingin dia dilahirkan di tengah keluarga yang utuh, lahir di tengah tengah ibu dan ayah kandungnya." ucapan pria itu benar-benar membuat Reva naik pitam, hingga membuat wanita itu seketika bangkit dari duduknya.
"Pria seperti dirimu tidak pantas bertanya tentangnya, aku bahkan kehilangannya karena dirimu." Reva yang tidak sanggup menahan perasaannya kini nampak meledak ledak seperti tengah meluapkan sesuatu yang telah lama dipendam. sampai membuat wanita itu menjadi pusat perhatian pengunjung cafe lainnya.
__ADS_1
Sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian pengunjung cafe lainnya, Reva pun segara meraih tasnya yang di letakan di atas meja sebelum beranjak meninggalkan Andika yang nampak duduk dengan perasaan bersalah.
Dengan sesekali mengusap wajahnya yang di basahi air mata Reva berjalan menuju mobilnya yang tengah di parkir.
Reva menjatuhkan bokongnya di balik kemudi sembari memejamkan kedua matanya. wanita itu merasa jika pria dari masa lalunya itu kini datang dengan membuka luka lama serta suatu hal yang sampai detik ini membuatnya merasa menjadi wanita yang paling jahat di muka bumi.
Cukup lama Reva menangis seorang diri di dalam mobilnya, tangisan wanita itu terdengar begitu pilu dan menyayat hati. setelah merasa sedikit lega dengan menumpahkan air matanya, Reva pun menghidupkan mobilnya untuk kembali membelah padatnya jalanan ibukota menuju apartemennya.
Sedangkan Andika masih setia duduk sambil memperhatikan mobil wanita itu sampai Dengan Reva mengendarai mobilnya meninggalkan pelataran cafe. "Aku sangat mencintaimu tapi saat itu aku juga tidak ingin menjadi pria egois yang tega merebut milik pria lain, apalagi saat itu kau sedang mengan_" Gumaman Andika melayang begitu saja saat seorang pelayan cafe datang menghampiri dirinya.
"Apa anda ingin memesan sesuatu tuan??." tanya pelayan tersebut mengingat sejak tiba tadi Andika bahkan belum memesan apapun.
"Maaf... saya sedang buru buru." jawab Andika kemudian bangkit dari duduknya namun sebelum itu Andika meletakkan beberapa lembar uang merah di atas meja. meski tak sempat memesan apapun karena perdebatan keduanya tadi, namun Andika tetap tahu diri dengan tetap meninggalkan beberapa lembar uang merah yang di letakan di atas meja mengingat dirinya telah menggunakan fasilitas cafe tersebut.
"Terima kasih tuan." ucap pelayan cafe pada Andika yang kini telah melangkah. sedangkan Andika hanya nampak mengangguk tanpa suara.
🌹🌹🌹
Keesokan harinya.
Gita telah di izinkan dokter untuk pulang. Hantara terlihat sedang sibuk mengemas barang barang istrinya, karena sebentar lagi Armada akan segera datang menjemput sesuai dengan perintah Hantara.
Armada yang baru saja tiba di ruangan tersebut hendak membantu Hantara yang tengah sibuk berkemas. "Biar saya bantu tuan." pinta Armada yang merasa tidak sopan jika membiarkan tuannya mengerjakan hal itu sendiri di depan matanya. "Tidak perlu." tolak Hantara dengan tegas, mengingat saat ini ada beberapa pakaian dalam istrinya yang ikut di kemas olehnya. Tentu saja Hantara tidak rela jika benda pribadi milik istrinya terlihat oleh pria lain.
Padahal tadi Gita sudah berniat berkemas mengingat sangat memalukan jika pakaian dalamnya sampai terlihat oleh suaminya, namun dengan tegas Hantara menolak dan meminta sang istri untuk duduk saja di sofa sembari menunggu kedatangan Armada.
__ADS_1
Dengan wajah menahan malu Gita membayangkan saat benda pribadi miliknya berapa di genggaman suaminya. meski sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, namun Gita masih saja merasa malu.
Setelahnya Armada segera menarik koper tersebut menuju mobil dengan di ikuti Hantara dan juga Gita di belakang pria itu. awalnya Hantara berniat mendorong Gita mengunakan kursi roda, namun dengan wajah memelas Gita menolak dan akhirnya Hantara pun mengalah.
Mobil yang di kendarai Armada kini mulia membelah padatnya jalanan ibukota, mengingat di sore seperti ini jalanan akan terlihat padat dengan pengendara yang berlalu lalang, banyak orang orang yang baru kembali usai melakukan rutinitas masing masing. sehingga membuat mereka lebih lama di perjalanan menuju rumah.
Kurang lebih satu jam mobil yang di kendarai Armada memasuki gerbang yang menjulang tinggi yaitu kediaman yang di tempati Hantara bersama keluarga kecilnya.
Setibanya di rumah setelah beberapa hari tidak menginjakkan kaki di rumah tersebut yang pertama kali di kunjungi Gita adalah kamar kedua putrinya. kedua putrinya yang sudah sangat dirindukan wanita itu.
Akila dan Asyifa yang menyadari kepulangan Gita nampak berlari menyambut kedatangannya dengan wajah sumringah.
Gita pun segera merentangkan kedua tangannya seraya mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil kedua putrinya.
"Mama.... kangen." ucap Keduanya saat berada di pelukan Gita. Hantara yang melihat itu pun nampak tertegun. "Meksi mereka tidak lahir dari rahim kamu tapi kamu terlihat begitu menyayangi mereka dengan tulus. aku sangat beruntung bisa mendapatkan wanita sepertimu sayang." batin Hantara kala menyaksikan interaksi di antara Gita ,Akila dan juga Asyifa.
Beberapa saat kemudian Hantara terdengar berdehem sehingga membuat dirinya menjadi pusat perhatian dari tiga wanita kesayangannya itu.
"Jadi Rindunya sama mama saja nih, sama papa tidak??." ucap Hantara dengan wajah berpura-pura cemberut.
Akila dan Asyifa nampak tersenyum saat melihat wajah ayah mereka yang sedang cemberut.
"Kangen papa Juga." ucap keduanya hampir bersamaan kemudian berganti memeluk tubuh Hantara yang kini telah memposisikan dengan tinggi badan keduanya.
"Papa juga kangen sama anak anak papa." jawab Hantara kemudian mengecup puncak kepala Akila dan Asyifa bergantian. sedangkan Gita yang hanya diam, nampak tersentuh menyaksikan sikap Hantara yang tidak membedakan antara Akila dan Asyifa.
__ADS_1
"Terima kasih mas karena telah membuat Asyifa bisa merasakan kasih sayang seorang ayah." dalam hati Gita.