
Tanpa mempedulikan keterkejutan di wajah Abimanyu, Dimas berlalu begitu saja meninggalkan ruangan pria itu dengan niat menemui Renata untuk mempertanyakan kebenarannya pada mantan kekasihnya tersebut.
"Siapa wanita itu, sewaktu menjalin hubungan asmara dengan Maura, wanita itu mengatakan Dimas bahkan enggan berciuman kenapa sekarang anak itu justru menghamili anak gadis orang???." gumam Abimanyu tidak habis pikir.
"Sepertinya kali ini anak itu benar benar sudah jatuh hati pada gadis itu, Semoga saja kau tidak sampai babak belur di hajar oleh ayah dari gadis itu, karena sudah berani menghamili anak gadisnya." lanjut gumam Abimanyu.
Sementara Di perjalanan, Dimas menyadari jika mobil yang saat ini berada di belakang mobilnya seperti sedang membuntutinya.
"Arrgggh....Si_alan, siapa mereka??." Dimas mencoba menyalip kendaraan di depannya agar bisa menghindari mobil yang berada di belakang mobilnya.
Rupanya usaha Dimas tidak membuahkan hasil karena mobil yang berada di belakang mobilnya masih saja berhasil membuntuti mobilnya, hingga mobil tersebut berhasil menyalip mobil yang di kendarai Dimas. dengan terpaksa Dimas menginjak pedal rem dengan mendadak.
Duar ...duar....duar...
Beberapa orang Pria dengan postur tubuh tinggi besar terlihat menggedor gedor kaca mobil Dimas, sehingga mau tidak mau Dimas pun membuka pintu mobilnya.
"Siapa kalian?? ada urusan apa kalian membun_" pertanyaan Dimas melayang begitu saja di udara saat salah seorang dari pria tersebut melayangkan bogem mentah ke arah Dimas. Dimas yang tidak siap akhirnya terhuyung hingga menabrak mobilnya.
Dimas yang merasa tidak terima pun langsung membalas dengan melayangkan tinjunya ke arah pria tersebut, sehingga mengakibatkan perkelahian tak seimbang.
Tidak melihat salah seorang dari pria tersebut melayangkan sebuah balok dari arah belakangnya sehingga membuat tubuh Dimas terkapar di aspal.
Dan ke empat pria itu pun berhasil membawa Dimas dengan kondisi di ikat tangan dan kakinya serta mata dan mulutnya yang di bekap.
Tiba di tujuan ke empat pria tersebut menarik tubuh Dimas agar keluar dari mobil lalu membawa tubuh Dimas ke sebuah ruangan yang penerangannya cukup minim.
Setibanya di ruangan tersebut penutup mata dan mulut Dimas pun di buka oleh salah satu di antara ke empat pria tadi.
"Siapa yang memerintahkan kalian dan Apa tujuannya kalian membawaku ke sini??." tanya Dimas, tak sedikitpun rasa takut terlihat dari sorot matanya.
"Sebentar lagi Anda juga akan segera tahu siapa dan mengapa kami membawa anda ke tempat ini." jawab salah seorang pria di antaranya dengan nada suara tegasnya.
tap
tap
tap
__ADS_1
Suara langkah sepatu seseorang mengalihkan perhatian Dimas ke sumber suara.
"Anda??." dengan wajah terkejut Dimas berucap.
"Tidak perlu terkejut seperti itu, saya rasa anda sudah tahu alasan saya menyeret anda ke sini." mendengar kalimat yang di ucapkan Hantara membuat Dimas tersadar jika pria itu telah mengetahui kebenaran dirinya.
"Lalu apa yang anda inginkan sekarang??." tanya Dimas dengan raut wajah datar tak nampak ketakutan di wajah pria itu meski kini anak buah Hantara ada yang memegang senjata api.
"Ternyata selama ini saya sudah salah menilai anda tuan Dimas Satria Prayoga, saya pikir anda pria berpendidikan tinggi ternyata anda tidak lebih dari seorang pengecut yang berani mencelakai seorang wanita dan juga anak kecil." sindiran Hantara membuat Dimas nampak mengepalkan kedua tangannya.
"Mengapa anda ingin mencelakai istri saya??? cecar Hantara dengan nada suara yang mulai meninggi, sehingga suara Hantara kini menggema memenuhi seluruh ruangan.
Namun sepertinya Dimas nampak tak gentar mendengarnya."Karena istri anda memang pantas mendapatkannya." jawab Dimas tanpa merasa bersalah sedikitpun sehingga membuat Hantara semakin tersulut emosi.
"Breng_sek." umpat Hantara sebelum kemudian melayangkan bogem mentah ke wajah tampan Dimas.
"Saya pikir anda akan meminta maaf dan menyesali perbuatan anda pada istri saya, ternyata justru sebaliknya anda justru membuat saya semakin emosi." dengan wajah merah padam Hantara berucap.
Dengan sudut bibir yang kini mulai mengeluarkan darah segar tanpa rasa takut sedikitpun Dimas berkata." Jika anda sangat membenci seseorang yang menjadi penyebab istri anda terluka bagaimana dengan saya, apakah anda pikir saya akan membiarkan begitu saja seseorang yang telah menjadi penyebab hancurnya harapan hidup dari wanita yang paling saya cintai??." papar Dimas dengan Wajah berubah sendu saat teringat wajah ibunya.
"Apa maksudmu??." dengan gurat bingung Hantara kembali bertanya.
Deg.
Untuk sesaat Hantara terpaku mendengar pengakuan Dimas. sebelum beberapa saat kemudian Hantara kembali menampilkan wajah dingin saat menatap pria yang kini masih terikat kaki dan tangannya sudah tidak berdaya di hadapannya.
"Saya bisa saja menghabisi anda sekarang juga, agar anda tidak lagi bisa membahayakan istri dan anak anak saya." ancam Hantara dengan tatapan dingin dan mematikan. namun bukannya takut Dimas justru membalas tatapan Hantara dengan wajah datarnya.
"Silahkan saja jika anda ingin melakukannya, mungkin dengan begitu penderitaan saya akan segera berakhir dan saya tidak akan lagi tersiksa karena harus menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, di mana ibu kandung saya menderita depresi akibat perbuatan ibu kandung dari istri anda di masa lalu." teringat sosok ibunya membuat ketegaran di wajah Dimas berubah sendu.
Perhatian Hantara teralihkan pada suara ponselnya yang kini berdering.
"Mama." kata Hantara saat melihat nama seseorang yang tertera di layar ponselnya.
Sejenak Hantara meninggalkan ruangan tersebut untuk menerima panggilan dari ibunya.
Tak berapa lama Hantara pun kembali.
__ADS_1
"Aku harus segera pergi, Renata di larikan ke rumah sakit." ucapan Dimas pada Armada masih terdengar oleh beberapa orang yang juga berada di ruangan tersebut tidak terkecuali Dimas.
Dalam kondisi yang memprihatinkan, Dimas masih mempedulikan mantan kekasihnya terbukti saat pria itu terdengar bertanya." Apa yang terjadi pada Renata??." tanyanya dengan gurat wajah berubah khawatir.
"Bukan urusanmu." jawab Hantara ketus
"Jaga Dia, jangan sampai dia melarikan diri!! titah Hantara sebelum berlalu meninggalkan tempat tersebut. dan Armada nampak mengangguk patuh.
****
Di rumah sakit.
Renata nampak menangis sendu di atas tempat tidur pasien dengan posisi setengah duduk sembari memeluk lututnya seperti seseorang yang sedang ketakutan.
"Maafkan Rena mah." Dengan berurai air mata Renata berucap. melihat kekecewaan di wajah mamanya membuat Renata tak mampu membendung air matanya.
"Siapa ayah dari bayi itu Renata??.". Meksipun begitu kecewa namun Nyonya Merina tetap bersikap tenang meski kini air matanya tak hentinya membasahi wajahnya yang masih nampak cantik di usianya yang memasuki Lima puluh tahun. nyonya Merina bertanya demikian mengingat putrinya tersebut telah memutuskan hubungannya dengan Dimas.
Ceklek.
Pandangan nyonya Merina maupun Renata yang kini berada di ruangan tersebut segera beralih ke arah pintu yang baru saja di buka oleh seseorang.
"Jangan katakan jika ayah dari bayi yang kau kandung itu adalah Dimas, Renata." dengan wajah berubah dingin Hantara bertanya.
Tadi Saat hendak menekan handle pintu, Hantara menghentikan langkahnya sejenak saat mendengar pertanyaan ibunya pada Adik perempuannya.
"Jawab Renata!!."Seru Hantara dengan suara yang mulai meninggi saat Renata masih saja diam, hanya Isak tangis yang terdengar dari bibirnya.
Nyonya Merina nampak mengelus lengan putranya mencoba untuk menenangkan tanpa berniat melontarkan sepatah kata pun, karena baru kali ini ia melihat putra sulungnya itu begitu marah.
Dengan tubuh yang semakin bergetar ketakutan Renata mengangguk sebagai jawaban, membenarkan dugaan kakaknya bahwa ayah dari bayi yang kini bersemayam di rahimnya adalah milik mantan kekasihnya, Dimas.
Hantara yang melihat anggukan adiknya kini mengusap sudut matanya yang mulai basah."Mas sudah gagal menjagamu Renata." ucapnya, kini Hantara nampak mengusap wajahnya kasar, merasa telah gagal menjaga adik perempuannya satu-satunya.
Terlebih lagi saat mengetahui jika ayah dari calon keponakannya tersebut adalah Dimas, pria yang menaruh dendam pada istrinya.
Beberapa saat kemudian." Kamu mau kemana nak??." tanya Nyonya Merina saat melihat Hantara hendak pergi.
__ADS_1
"Melakukan sesuatu yang seharusnya Tara lakukan Mah." jawab kemudian berlalu pergi.