Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Mengantarnya Pulang.


__ADS_3

"Ada apa denganmu kawan??? Nampaknya malam ini kau sangat aneh." tanya Damar saat dirinya duduk berdua dengan Riko di sebuah bangku taman rumah milik Hantara.


"Tidak ada apa apa, mungkin saja aku terlalu lelah akhir akhir ini sangat banyak pekerjaan di kantor." dusta Riko tentang penyebab sikap anehnya tadi.


"Oh ya..." jawab Damar seolah percaya begitu saja ucapan Riko.


"Sudahlah tidak perlu di pikirkan!!" ucap Riko tidak ingin sahabatnya itu terus membahas tentang kejadian tadi.


Obrolan keduanya terpaksa terhenti saat melihat Hantara yang kini tengah melangkah ke arah mereka.


Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam Anis telah pamit lebih dulu begitu juga dengan Renata dan Dimas. kini tinggallah Riko, Dr Atala dan juga Rahma. sementara Armada sendiri tengah mengantarkan Anis kembali ke rumahnya sesuai perintah dari tuannya, mengingat tak aman jika anak gadis menggunakan taksi di jam segini.


Rahma yang kini duduk di teras depan dengan di temani oleh Gita sesekali melihat ke arah gerbang barangkali sopir ayahnya sudah tiba. namun sudah lebih dari satu jam yang di nanti tak kunjung tiba.


Hantara bersama Riko yang di ikuti oleh Dr Atala baru saja keluar dari dalam usai membahas tentang beberapa pekerjaan di ruang kerja Hantara.


Ketika hendak berjalan ke arah mobil Riko yang di parkir pandangan Dr Atala tertuju pada Rahma. pria itu nampak menghentikan langkahnya. " Apa kamu sedang menunggu jemputan??." tanya Dr Atala saat pandangannya bertemu dengan Rahma. dan Rahma pun mengiyakan pertanyaan Pria itu.


Sedangkan Riko yang kini mengikuti arah pandang adik sepupunya pada Rahma memilih diam seraya memasang wajah datar.


"Sebaiknya kamu ikut saja dengan kami lagi pula sekarang sudah jam sebelas malam, tidak baik anak gadis terlalu malam kembali ke rumah." tawar Dr Atala tanpa bertanya lebih dulu pada pemilik mobil, setelah melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul sebelas malam. sedangkan Riko tetap tak bergeming.


Sejujurnya Rahma pun enggan pulang terlalu malam mengingat besok hari pertama dia bekerja di rumah sakit yang sama dengan kedua sahabatnya, namun begitu Rahma tak langsung menerima tawaran Dr Atala.


"Ikutlah dengan kami, Bang Riko pasti tidak akan keberatan." Dr Atala seolah menjawab sorot mata Rahma. setelahnya pria itu kembali berucap." Benar begitu kan bang." lanjut Dr Atala seraya menatap ke arah Riko. dan dengan terpaksa Riko mengangguk kecil.

__ADS_1


Bisa di bilang saat ini Rahma bak buah simalakama serba salah. jika menolak sudah pasti dia akan telat kembali ke rumah bisa jadi menyebabkan dirinya bangun terlambat besok pagi, namun jika di terima maka sudah pasti ia akan berada satu mobil dengan Riko dan belum tentu juga pria itu iklhas mengantarnya pulang.


Setelah menimbang nimbang akhirnya Rahma memilih menerima tawaran Dr Atala tanpa peduli lagi dengan wajah Riko yang masih nampak datar.


Setelah membukakan pintu mobil untuk Rahma, Dr Atala hendak menyusul gadis itu dengan ikut duduk di bangku belakang.


"Kau mau kemana??." tanya Riko saat menyaksikan pergerakan Atala dari spion depan mobil.


"Mau masuk mobil bang memangnya mau kemana lagi??." jawab Dr Atala. namun ucapan Riko selanjutnya membuat Dr Atala segera mengurungkan niatnya.


"Duduk di depan...!! kau pikir aku ini sopir kalian." titah Riko pada Adik sepupunya dengan nada ketus.


"Iya iya...." jawab Dr Atala pasrah melihat gurat tak bersahabat di wajah Riko. Dr Atala pun segera menuruti perintah Abang sepupunya dengan duduk di samping kemudi.


Interaksi keduanya membuat Rahma tersenyum kecil. bagaimana tidak, seorang pria yang di kenalnya dengan sikap tegasnya bak seekor macan. kini nampak seperti anak kucing yang patuh pada induknya.


"Kenapa pria itu melihatku seperti itu, jika bukan karena aku menumpang sudah kuco_ngkel biji matanya." gerutu Rahma dalam hati.


Saat berada di mobil Rahma tak banyak bicara hanya sesekali ia nampak menjawab pertanyaan Dr Atala.


Empat puluh menit mobil yang di kendarai Riko pun tiba di depan gerbang sebuah rumah mewah sesuai dengan petunjuk dari Rahma.


Riko nampak mengeryit saat melihat adik sepupunya turun dari mobil, namun beberapa detik setelahnya Riko nampak berdecak kesal saat melihat ternyata Dr Atala turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Rahma.


"Tidak perlu berlebihan kak, saya bisa sendiri." ucap Rahma merasa sungkan dengan perlakuan Dr Atala yang menurutnya berlebihan.

__ADS_1


"Tidak masalah." jawab Dr Atala seraya mengembangkan senyum terindah yang di milikinya. sedangkan Riko yang nampak semakin dongkol melihat itu segera mengalihkan pandangannya, sebelum pria itu meraih ponselnya di atas dasbor mobil. pria itu seperti sedang mengetik sesuatu di aplikasi hijau miliknya. setelah menekan enter pada ponselnya secara bersamaan dengan ponsel Rahma yang kini bergetar menandakan sebuah pesan baru saja masuk.


Rahma yang kini baru saja masuk ke dalam gerbang setelah seorang pria berseragam hitam membukakan pintu, segera merogoh ponselnya di dalam tasnya.


"Jangan terlalu mudah menerima perlakuan manis dari seorang pria, ingat sekarang kamu calon istri seseorang!!." Rahma nampak mengeryit saat membaca pesan dari nomor tak di kenal masuk di aplikasi hijau miliknya.


"Pesan dari siapa ini??." batin Rahma namun setelah beberapa detik kemudian Rahma memilih tidak lagi memperdulikannya dan segera masuk ke dalam rumah.


Di waktu yang sama, Riko yang kembali melajukan mobilnya meninggalkan sebuah kawasan elit usai mengantar Rahma, melirik ke arah Adik sepupunya yang kini nampak senyum sendiri.


"Ada apa denganmu?? apa kau sedang memenangkan lotre??." tanya Riko dengan dahi berkerut.


"Ini lebih dari sekedar menang lotre bang." jawaban Dr Atala semakin membuat Riko bingung di buatnya.


"Apa maksudmu??" tanyanya.


"Besok Rahma akan mulai bekerja di rumah sakit yang sama denganku, bagaimana aku tidak bahagia." jawab Dr Atala masih dengan mengembangkan senyum di wajahnya.


"Duar." entah mengapa jawaban Atala seperti sebuah petir menyambar dadanya.


Riko bukan pria yang bodoh, sebagai seorang pria tentunya dia tahu reaksi yang kini ditunjukkan Atala merupakan sebuah rasa ketika seorang pria merasa tertarik pada seorang wanita.


"Jangan bilang kalau Atala tertarik pada Rahma??." batin Riko yang kini melirik ke arah adik sepupunya.


Entah mengapa saat berpikir Atala tertarik pada gadis itu membuat hati Riko mulai tak tenang. padahal ia sendiri kekeh tidak memiliki perasaan apapun apalagi sampai tertarik pada calon istrinya itu. tapi kenapa saat merasa ada seorang pria yang merasa tertarik pada Rahma, perasaan aneh mulai muncul di benak Riko.

__ADS_1


"Sepertinya saat ini aku membutuhkan bantuan dari Hantara." batin Riko tiba tiba teringat akan sosok sahabatnya yang cukup berpengaruh di rumah sakit tempat Atala mencari nafkah.


Sepersekian detik kemudian Riko tersadar. "Tapi....Atas dasar apa aku harus melakukan itu??." batinnya, tidak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri.


__ADS_2