Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Pil kontrasepsi.


__ADS_3

Hari ini pasien nampaknya tidak begitu banyak. Gita terlihat duduk di kursinya seraya memeriksa beberapa status reka medik pasien begitu pun dengan Anis.


"Permisi Nona.". kedatangan Armada mengejutkan Gita.


"Pak Armada...apa anda sedang sakit??." pikirnya.


"Maaf nona saya baik baik saja.... kedatangan saya ke sini justru ingin menjemput anda sesuai dengan perintah dari tuan Hantara." ucap Armada datar. gurat yang sudah seperti sahabat di wajah pria itu.


Gita segera memandang sekeliling berharap tidak ada orang yang berada di sekitar mereka yang mendengar ucapan pria itu, selain sahabatnya Anis.


Tidak ingin Armada bercerita lebih banyak lagi dan sampai ada yang mendengarnya, Gita memilih mengikuti instruksi dari pria itu setelah sebelumnya pamit pada Anis yang kebetulan memiliki jadwal jaga yang sama dengan dirinya.


Saat berada di dalam mobil yang tengah di kendarai Armada menuju ke sebuah tempat, begitu banyak pertanyaan yang melintas di benak Gita.


Ada apa dengan suaminya??? Apa dia telah berbuat kesalahan di luar kesadarannya?? tapi kesalahan apa, sehingga membuat Hantara sampai memerintahkan asistennya untuk menjemput dirinya di saat jam kerja seperti ini???." setidaknya pertanyaan itu yang kini melintas di benak dan pikiran Gita.


"Kita mau ke mana???" tanya Gita saat menyadari jalan yang di lalui mobil Armada berbeda dengan arah ke rumah mewah milik suaminya.


"Tuan Hantara sedang menunggu di apartemen." jawab Armada seadanya.


"Apartemen??." ulangnya dengan tatapan bingung.


Setelahnya Armada memandang Gita melalui pantulan spion yang berada di depannya. Armada bisa menyaksikan gurat kebingungan di wajah Gita yang kini nampak memilin ujung kemejanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, tidak biasanya mas Hantara bersikap seperti ini??." gumam Gita namun masih terdengar oleh Armada yang duduk di balik kemudi. namun pria itu memilih diam tak berniat menjawab rasa kebingungan Gita.


"Semoga saja tuan Hantara tidak sampai berbuat kasar pada anda Nona." batin Armada saat menyaksikan Gita dari pantulan spion di depannya. meski merasa yakin jika tuannya itu sangat mencintai Sang istri namun tetap saja Armada merasa khawatir.


Beberapa saat kemudian mobil yang di kendarai Armada tiba di basemen gedung Apartemen. Gita turun dari mobil mengikuti langkah Armada. saat melintas berada di lobi apartemen Gita seolah tak sanggup melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Entah apa yang tengah terjadi namun yang jelas saat ini Gita merasa jantungnya berdetak tak karuan.


Sebelum beberapa saat kemudian Gita kembali mengikuti langkah Armada hingga kini berada di depan pintu apartemen yang pernah ia tempati bersama Armada sebelumnya.


"Gleg." Dengan susah payah Gita berusaha menelan salivanya saat Armada mulai menekan angka sebagai akses masuk ke apartemen. setelah pintu apartemen terbuka Pria itu mempersilahkan istri tuannya itu untuk segera masuk, sedangkan pria itu sendiri tidak berniat mengikuti langkah Gita.


Perlahan Gita melangkah memasuki apartemen sebelum pintu apartemen kembali di tutup oleh Armada dari arah luar. meski khawatir akan terjadi sesuatu, namun Armada memilih tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga tuannya.


deg.


Jantung Gita rasanya ingin meloncat dari tempatnya saat menyadari kedatangannya di sambut tatapan tajam dari suaminya, tatapan bak seekor elang yang hendak menerkam mangsanya hidup hidup.


Meski tangan dan kakinya mulai nampak bergetar, namun Gita berusaha menampilkan wajah tenang.


Hantara yang tengah duduk di sofa perlahan melangkah ke arah Gita masih dengan tatapan tajam. tatapan yang mampu membuat siapapun akan bergidik ngeri melihatnya, tidak terkecuali Gita.


"Ma_s_" ucapan Gita melayang begitu saja saat Hantara menyela.


"Sejak kapan kamu mulai mengkonsumsinya??." sela Hantara dengan tatapan menggentarkan.


Untuk beberapa saat Gita diam sembari menghela napas panjang seolah saat ini dia membutuhkan pasokan oksigen lebih, sebelum menjawab pertanyaan suaminya.


"Se_jak beberapa bulan yang lalu." Gita terbata, dari nadanya terdengar bergetar. sedangkan Hantara sendiri spontan mengusap wajahnya kasar saat mendengar jawaban istrinya.


Gita nampak menundukkan wajahnya tak berani menatap manik mata suaminya.


Hantara nampak tersenyum penuh arti sehingga Gita yang sekilas melirik pun lebih memilih pria itu memarahinya bahkan di caci maki pun Gita terima, daripada harus melihat senyuman mengerikan yang saat ini terukir di wajah suaminya.


"Sepertinya selama ini aku sudah terlalu baik padamu sampai sampai kau sudah berani bertindak di luar batas di belakangku." lanjut Hantara. meski terkesan tidak emosi dalam berucap namun dari nadanya terdengar mengerikan.

__ADS_1


"Aku melakukan semua itu hanya untuk melindungi hatiku." entah keberanian dari mana yang membuat Gita sampai berani menjawab ucapan suaminya.


"Apa maksudmu??." tanya Hantara dengan kening berkerut bingung.


Raut wajah Gita berubah sendu.


"Aku sadar mas, kamu terpaksa menikahi aku hanya karena amanah dari mas Lesmana. tapi kamu juga harus tahu, aku hanya wanita biasa yang tidak mampu terus menahan perasaanku saat suamiku selalu memberi perhatian." Kalimat Gita terjeda saat wanita itu nampak menghela napas dalam. "tapi kamu tidak perlu khawatir mas, aku juga cukup tahu diri jika suatu saat kamu ingin menceraikan aku, aku bisa apa mas.". lanjutnya. sedangkan Hantara nampak diam seolah sedang mencerna setiap kata yang baru saja keluar dari mulut Istrinya.


Untuk beberapa saat Gita menjedah ucapannya, mengusap sudut matanya yang kini nampak basah akibat air mata yang luruh begitu saja meski empunya sudah berusaha untuk menahannya.


"Tapi setidaknya ketika saat itu tiba, aku hanya butuh menata kembali hatiku tanpa harus menangis karena terpisah dengan anakku." Kini Gita mengeluarkan semua isi hati yang selama ini dipendamnya. dan Secara tidak langsung wanita itu juga telah mencurahkan perasaannya terhadap Hantara.


deg.


Secara tidak langsung Gita telah mengakui perasaannya terhadap suaminya dan hal itu membuat jantung Hantara berdebar tak menentu. perasaan kecewa yang tadi di rasakan pria itu seketika Sirna begitu saja.


Sedangkan Gita sesekali masih terlihat mengusap wajahnya yang nampak di basahi air mata."Maaf.... karena sudah lancang berani jatuh hati padamu mas, tapi aku janji perasaanku tidak akan menyusahkan kamu mas. aku juga tidak akan memaksa kamu untuk terus terbelenggu dalam pernikahan yang tidak pernah kamu inginkan." lanjutnya. Gita kembali menundukkan pandangannya seolah tidak berani melihat reaksi Hantara setelah mengetahui perasaannya. marah, tentu saja Gita takut jika pria itu akan marah setelah mengetahui perasaannya selama ini.


Ucapan Gita terdengar begitu menyayat hati sehingga membuat hati Hantara terasa begitu nyeri mendengarnya.


Tanpa sepatah katapun Hantara kemudian menarik istrinya ke dalam pelukannya. beberapa saat keheningan tercipta, keduanya nampak diam seolah menyelam dalam pemikiran masing masing. sebelum kemudian Hantara memecah keheningan.


"Bukankah sudah pernah aku katakan, tidak ada yang melarang seorang istri untuk jatuh hati pada suaminya sendiri. teruslah mencintaiku sampai kapanpun...!!! dan satu yang harus kamu ingat baik baik, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan dirimu." Gita yang kini tengah berada di pelukan suaminya nampak menangis pilu. "Kamu egois mas...kamu ingin aku tetap mencintaimu sementara kamu sendiri tidak mencintaiku." ucap Gita dengan tangis tercegat.


Hantara mengusap lembut rambut panjang istrinya seolah menyalurkan rasa cintanya pada sang istri seraya berucap"Anggaplah seperti itu!!." jawab Hantara.


Hantara menengadahkan wajah istrinya, kini tatapan keduanya bertemu sebelum beberapa saat kemudian."Cup." Hantara mengecup bibir istrinya. kecupan penuh cinta bisa di rasakan Gita melalui kecupan yang cukup lama di berikan suaminya.


"Jangan pernah berpikir jika aku akan menceraikanmu, karena selama aku masih bernapas itu tidak akan pernah terjadi." ucap Hantara setelah menyudahi kecupannya. "Dan berhenti mengkonsumsi pil kontrasepsi itu!!." lanjutnya dan Gita pun perlahan mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


__ADS_2