
Pagi harinya.
Wajah Gita nampak berseri. Hari ini Gita akan kembali bekerja di rumah sakit seperti biasa, karena telah mendapatkan izin dari suaminya.
"Akhirnya aku bisa kembali bekerja." Gita bermonolog di depan cermin saat merapikan penampilannya.
Hantara baru saja keluar dari walk in closed dengan mengenakan setelan jas lengkapnya. pria itu berjalan ke arah Gita yang masih berdiri di depan cermin untuk merapikan penampilannya. "Nanti malam kita akan ke mansion. papa dan mama sengaja mengundang kita untuk makan malam karena Renata akan mengenalkan teman prianya." ucap Hantara yang kini tengah memasang arloji branded di pergelangan tangan kirinya.
Gita pun mengiyakan.
"Aku jadi penasaran siapa pria beruntung yang mampu meluluhkan hati Renata." Gita mengembangkan senyumnya, teringat akan watak adik iparnya yang tak mudah takluk pada pria.
"Aku juga belum tahu, tapi siapapun pria itu aku harap dia bisa mencintai dan menjaga adikku dengan baik." Harapan Hantara.
Setelah memastikan penampilannya sempurna, Hantara menoleh ke arah istrinya. melihat istrinya telah siap dengan pakaian kerjanya Hantara pun segera mengajak Gita turun untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat.
Seperti biasa sebelum mengantarkan Gita ke rumah sakit keduanya terlebih dahulu mengantar Akila dan Asyifa ke sekolah.
Gita yang kini duduk di samping suaminya yang tengah mengemudi, menoleh ke arah Akila dan Asyifa yang duduk di bangku belakang saat mendengar suara Akila memanggil namanya. "Ada apa sayang??." tanyanya.
"Mah kemarin teman Akila di jemput sama mamanya di sekolah." ucap Akila. "Lalu??". tanya Gita.
"Mamahnya teman Akila perutnya buncit banget mah, kata teman Akila di perut mamahnya ada Dede bayi makanya perut mama buncit, mah." Akila bercerita seraya membulatkan tangannya ke depan perutnya.
"Akila jadi gemas deh lihatnya. kalau nanti di perut mamah ada Dede bayinya apa perut mamah juga akan buncit mah??." pertanyaan Akila sontak membuat Gita dan Hantara saling pandang.
Glek.
Gita seakan sulit menelan salivanya saat mendengar pertanyaan putri sambungnya.
__ADS_1
"Mah." Akila nampak menggoyang goyangkan tangan Gita seolah menunggu Jawaban. "Iy_iya sayang tentu saja." jawab Gita merasa bersalah karena telah memberikan harapan palsu pada putrinya sedangkan ia sendiri tahu kemungkinan besar harapan itu tidak akan terjadi mengingat apa yang dilakukannya selama ini.
Gita nampak gugup ketika beberapa saat tatapan suaminya tertuju padanya, sebelum pria itu kembali fokus menatap jalanan.
Pembicaraan di antara ibu dan anak sambungnya itu terpaksa harus usai ketika mobil yang di kendarai Hantara telah tiba di depan gerbang sekolahan Akila dan Asyifa.
Gita turun dari mobil begitu pun dengan Hantara, keduanya turun dari mobil untuk membantu kedua putrinya turun dari mobil.
Gita nampak mengusap puncak kepala Akila dan Asyifa bergantian setelah kedua putrinya itu mencium punggung tangannya. "Anak anak mama tidak boleh nakal ya!!! harus jadi anak yang pintar biar jadi kebanggaan mama dan papa." Gita nampak menasehati keduanya sebelum masuk ke dalam sekolah.
"Ok mah." jawab Akila dan juga Asyifa seperti biasa sembari memperagakan tangan berbentuk O ke udara. Gita mengembangkan senyumnya melihat tingkah kedua putrinya pun dengan Hantara.
"Pintar." puji Gita sebelum keduanya berlalu masuk ke halaman sekolah.
Hantara dan Gita kembali masuk ke mobil, setelahnya Hantara kembali menghidupkan mesin mobil kemudian mulai menginjak pedal gas. mobil yang di kendarai Hantara kembali memecah padatnya jalanan ibukota menuju rumah sakit tempat istrinya bekerja.
Tiga puluh menit kemudian Mobil mewah milik Hantara tiba di depan gerbang rumah sakit. setelah mencium punggung tangan suaminya Gita pun pamit turun dari mobil. Hantara terus menatap punggung istrinya hingga tidak lagi terlihat olehnya, barulah pria itu kembali melajukan mobilnya menuju perusahaannya, Putra Adipura Sanjaya group.
Hantara yang baru saja hendak turun dari mobil tiba-tiba melihat keberadaan tas milik istrinya yang tertinggal di mobil. "Astaga... bagaimana bisa dia meninggalkan tasnya di mobil." Hantara nampak bermonolog.
Hantara ingin segera mengantarkan tas milik istrinya, namun pagi ini pria itu ada metting penting dengan dewan direksi. maka Hantara pun memilih membawa tas Gita bersamanya dan berencana akan mengantarkan tas itu saat waktu makan siang nanti.
Mengingat sebentar lagi meeting akan segera di mulai Hantara segera melanjutkan langkahnya turun dari mobil, di mana Armada telah berdiri di depan pintu mobil.
Armada yang kini menerima kunci mobil dari Hantara, nampak heran saat melihat tuannya itu menenteng sebuah tas jinjing di tangannya. Armada bahkan sampai mengucak matanya untuk memastikan penglihatan. pria itu bisa memastikan tas jinjing yang kini berada di tangan tuannya merupakan milik istrinya, lagi pula siapa lagi wanita yang bisa membuat seorang Hantara Putra Adipura Sanjaya menenteng sebuah tas wanita.
"Anda luar biasa Nona Gita." batin Armada menahan tawanya. sebelum pria itu menyerahkan kunci mobil milik Hantara pada seorang security yang bertugas, untuk memarkirkan kendaraan tersebut. setelahnya dengan langkah lebar Armada menyusul Hantara.
Tanpa peduli dengan pandangan para pegawainya yang melihat dirinya berjalan sambil menenteng tas wanita, Hantara terus melangkah melintasi lobi menuju lift khusus petinggi perusahaan.
__ADS_1
Sementara Armada yang melangkah di belakang Hantara nampak memberikan tatapan tajam, pada beberapa orang pegawai yang memandang penuh tanya ke arah pemilik perusahaan yang hari ini nampak berbeda atau lebih tepatnya aneh.
Sebelum menuju ruang metting Hantara lebih dulu mampir ke ruang kerjanya, untuk menyimpan tas milik istrinya. sementara tas kerja miliknya di serahkan pada Armada tadi bersamaan dengan kunci mobil.
"Apa semua dewan direksi sudah berkumpul di ruang metting???" tanya Hantara pada Armada ketika baru saja masuk ke rumah kerjanya. "Iya tuan.... semua sudah berkumpul sejak sepuluh menit yang lalu." jawab Armada.
"Baiklah...kita ke ruang meeting sekarang!!" titah Hantara setelah sebelumnya meletakkan tas jinjing Milik istrinya di atas meja kerjanya.
🌹🌹🌹
Sementara di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Gita nampak menepuk pijatnya seolah merutuki dirinya. "Bagaimana bisa sampai aku tidak menyadari tas ku ketinggalan di mobil mas Hantara." gumamnya.
Gita ingat betul saat masuk ke mobil suaminya tadi ia membawa tasnya, itu sebabnya wanita itu sangat yakin jika benda miliknya itu ketinggalan di mobil suaminya.
"Apa sebaiknya aku menghubungi mas Hantara." Gita kembali menepuk jidatnya saat teringat jika ponselnya juga berada di dalam tasnya. "Astaga Gita ada apa denganmu??." gumamnya pada diri sendiri.
🌹🌹🌹
Di perusahaan Putra Adipura Sanjaya.
Hantara baru saja keluar dari meeting room segera berjalan menuju ruang kerjanya dengan di ikuti oleh Armada di belakang langkahnya.
Melihat waktu masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, Hantara memilih untuk memeriksa beberapa berkas penting sebelum menuju rumah sakit untuk mengantarkan tas milik istrinya sekaligus mengajak istrinya makan siang.
Namun saat meraih salah satu map yang berada di atas meja kerjanya, Hantara tidak sengaja menyenggol tas milik istrinya hingga terjatuh dan menyebabkan beberapa benda yang berada di dalamnya berserakan di lantai.
"Astaga..." ucap Hantara saat menyadari kecerobohannya. pria itu kemudian merunduk untuk memungut benda itu, begitu pun dengan Armada segera beranjak untuk membantu. namun tiba tiba pandangan keduanya tertuju pada sebuah benda berbentuk persegi yang teronggok di lantai.
Hantara segera meraih benda tersebut kemudian menatapnya dengan intens.
__ADS_1
Setelah membaca tulisan yang tertera benda tersebut Seketika tatapan Armada berubah tajam bak seekor elang yang siap menerkam mangsanya, Armada yang kini bersamanya pun bisa merasakan aura kemarahan di wajah tuannya.
"Kelihatannya anda terlalu berani Nona Gita, Semoga saja tidak akan terjadi sesuatu pada anda." batin Armada merasa prihatin pada istri tuannya.