Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Hamil.


__ADS_3

"Sebaiknya kamu cari waktu yang tepat untuk segera menyampaikan kabar ini pada istrimu, pastikan cara penyampaian kamu pada Gita tak membuat istrimu berpikir yang aneh aneh antara dirimu dan Reva di kemudian hari nanti." Tuan Adipura menasehati putranya dan Hantara pun mengiyakan ucapan ayahnya.


Sebagai sahabat, Riko pun merasa lega sekaligus turut bahagia karena sekarang sahabatnya itu telah menemukan keberadaan putri keduanya.


"Istrimu wanita yang baik aku yakin dia pasti akan bisa menerima kenyataan ini meski berat, mengingat selama ini Gita lah telah merawat Asyifa sejak kecil" Timpal Riko yang sejak tadi lebih banyak diam menyaksikan perbincangan ayah dan anak tersebut. sementara Hantara hanya mengangguk kecil kemudian berucap." aku harap juga begitu." jawabnya penuh harap.


Di sela perbicangan ketiganya tiba tiba ponsel Hantara bergetar tanda seseorang telah melakukan panggilan.


"Mama." kata Hantara sekilas menatap ayahnya sebelum kemudian menerima panggilan tersebut.


Wajah Hantara berubah panik usai menerima panggilan dari mamanya.


"Ada apa??." tanya ayahnya.


"Gita kembali muntah muntah pa." jawab Hantara sesuai dengan ucapan mamanya barusan.


Bukan hanya Hantara yang di buat panik namun ayahnya pun begitu. kini Hantara dan ayahnya segera meninggalkan cafe menuju rumah sakit begitu juga Riko yang ikut bersama dengan keduanya.


Dengan langkah lebar Hantara kembali ke rumah sakit sampai ayahnya dan Riko pun tertinggal beberapa langkah di belakang pria itu.


Kurang dari sepuluh menit Hantara tiba di ruang perawatan Asyifa namun tak menemukan keberadaan istri serta ibunya di sana yang ada hanya seorang baby sitter yang menemani Asyifa.


"Di mana istri saya??."


" nyonya sedang bersama dengan nyonya besar mengantri di Poli tuan."


Tidak menunggu lama Hantara segera menuju poli yang letaknya di lantai dasar sementara ayahnya memilih menemani Asyifa di ruangan. Riko yang tidak ingin nampak seperti kambing congek berdiam diri segera menyusul langkah Hantara yang hendak memasuki lift.


Hantara menghembus napas lega saat melihat keberadaan istrinya. kedatangan Hantara bersamaan giliran nama Gita di panggil oleh salah seorang perawat.

__ADS_1


Dengan langkah lebar Hantara menyusul istrinya hingga kini dia ikut masuk bersama sang istri menggantikan ibunya.


"Mas." ucap Gita saat menyadari kedatangan suaminya.


"Maaf sayang sudah meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini." ucap Hantara merasa bersalah mengingat sejak pagi tadi istrinya terus mual dan pusing.


"Tidak apa apa mas." jawab Gita sebelum keduanya berlalu memasuki ruangan, di mana seorang dokter telah menunggu kedatangannya.


Hantara nampak terkejut saat baru saja masuk ke dalam ruangan saat melihat seorang pria yang kini tengah mengenakan jas kebanggaannya duduk di kursinya.


"Selamat pagi tuan dan nyonya Hantara.... silahkan duduk!!."dengan profesional Dokter Atala Mahendra selaku Dr SpOG mempersilahkan keduanya untuk duduk.


"Terima kasih dok." jawab Gita Formal sebelum menarik sebuah kursi yang berhadapan dengan pria itu sedangkan Hantara masih berdiri mematung.


"Apa tidak ada dokter spesialis kandungan yang lain selain pria ini??." batin Hantara kesal menyadari keberadaan Atala.


"Eehemt." suara deheman Atala membuat Hantara tersadar dari lamunannya.


"Silahkan duduk tuan Hantara!!."


Hantara pun dengan terpaksa mengangguk kecil sebelum ikut duduk di kursi yang bersebelahan dengan sang istri.


"Apa anda sudah sering mual dan muntah di pagi hari nyonya Hantara??."tanya Atala setelah membaca status reka medik milik Gita. Meksi cukup dekat dengan Gita namun Atala tetap bersikap profesional mengingat saat ini mereka adalah dokter dan pasien apalagi saat ini wanita itu Hadir bersama dengan pawangnya.


"Iya Dok, sudah hampir seminggu terakhir saya sering pusing dan mual-mual." mendengar jawaban Gita saat menceritakan keluhannya Atala nampak tersenyum kecil. sebagai seorang profesional dalam bidangnya pria itu tahu betul gejala apa yang kini di alami Gita.


"Baiklah... untuk lebih jelasnya sebaiknya kita lakukan pemeriksaan USG." ucap Atala.


Sedangkan yang masih diam ikut mendampingi sang istri. mata Hantara hampir keluar dari tempatnya saat mendengar Anis yang bertugas sebagai asisten dr spesialis kandungan meminta Gita untuk sedikit menaikkan bajunya sebelum melakukan proses USG.

__ADS_1


"Untuk apa anda melakukannya??." tanya Hantara dengan tatapan tidak suka saat Anis hendak menyingkap sedikit baju yang di kenakan Gita untuk mengoleskan gel sebelum dilakukannya USG.


"Maaf tuan, saya ingin mengoleskan ini pada perut pasien." jawab Anis dengan memperlihatkan gel di tangannya dengan perasaan dongkol. bagaimana tidak dongkol, Sebagai seorang duda beranak tidak mungkin Hantara tidak tahu tentang itu semua. lalu kenapa masih bersikap seperti itu, setidaknya itu yang kini ada di benak Anis.


Bahkan butuh waktu beberapa menit untuk membuat pria itu mengerti.


Sebenarnya Hantara bukannya tidak paham karena dulu dia sering menemani Mantan istrinya untuk USG, tetapi entah mengapa kali ini rasanya Hantara sangat tidak rela jika bagian tubuh istrinya di lihat oleh pria lain meski pria itu merupakan seorang dokter.


Jika dokter tersebut bukanlah Dr Atala Mahendra yang notabene nya pernah menaruh hati pada sang istri mungkin ceritanya akan berbeda.


Sedangkan Dr Atala hanya bisa menghela napas panjang lalu menghembusnya perlahan sebelum memulai proses USG.


Wajah murung Hantara berubah seketika saat menyaksikan layar monitor.


"Selamat tuan Hantara istri anda tengah dan saat ini usia kandungannya memasuki Minggu ke enam." penjelasan dari dr Atala semakin meyakinkan Hantara jika istrinya kini telah mengandung anaknya. "Terima kasih sayang." Tanpa banyak bicara Hantara menghujani wajah Gita dengan ciuman.


"Terima kasih juga mas, karena kamu sudah membuat aku bisa merasakan menjadi calon ibu." jawab Gita saat kecupan Hantara mendarat di puncak kepalanya.


Gita yang sejak awal sudah bisa menebak berdasarkan keluhan yang selama ini dia tanpa terasa buliran kristal mulai membasahi pipinya. sebuah air mata Haru karena sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu dari anak yang lahir dari rahimnya sendiri.


"Assalamualaikum anak papa...jangan rewel di perut mama, jangan membuat mama kamu kesulitan ya nak!!." ucapan Hantara saat mengelus perut Gita yang masih nampak rata tersebut membuat Dr Atala kagum.


"Iya papa." jawab Gita menirukan suara anak kecil dan hal itu membuat Hantara tersenyum sebelum memeluknya yang kini masih berbaring di atas brankar.


"I Love you mas." kata Gita saat memeluk pinggang suaminya.


"I love you more, baby." kini sebuah kecupan cukup lama mendarat di kepala wanita tercintanya tanpa peduli dengan keberadaan Anis dan Atala yang kini saling pandang. seolah Atala dan Anis saat ini hanyalah sebuah pajangan dunia.


Seorang pria yang terkenal begitu dingin baik di kalangan sesama pengusaha maupun di mata para wanita di luar sana, ternyata bisa bersikap begitu hangat pada sang istri.

__ADS_1


"Ternyata bukan hanya anda yang beruntung bisa mendapatkan Gita, tetapi Gita juga sangat beruntung bisa memiliki suami seperti anda, Tuan Hantara." batin Dr Atala saat menyaksikannya interaksi di antara sepasang suami istri tersebut.


__ADS_2