Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Menemui titik terang.


__ADS_3

Andika baru saja tiba di rumah sakit, hendak menemui seseorang setelah sebelumnya telah membuat janji terlebih dahulu.


"Selamat pagi dokter." sapa Andika ramah saat memasuki ruangan dokter.


"Selamat pagi tuan Andika Mahendra, silahkan duduk!!." jawab dokter tak kalah ramah.


Jantung Andika mulai berdebar tak menentu saat dokter laki-laki tersebut membuka laci nakas miliknya, hendak mengambil amplop coklat yang berisikan sesuatu yang begitu ingin di ketahui Andika.


"Silahkan tuan, itu hasil pemeriksaan kemarin dan anda boleh membukanya sendiri, jika ada yang kurang anda pahami maka silahkan bertanya!!." ucap pria itu dan Andika pun mengiyakannya.


Andika nampak menghela napas dalam sebelum kemudian membuka segel dari amplop coklat lalu mengeluarkan sebuah kertas dari dalamnya.


Deg


Jantung Andika seolah berhenti berdetak saat membaca dengan teliti hasil pemeriksaan tersebut.


"Kami telah melakukan pemeriksaan sesuai dengan prosedur yang berlaku dan bisa di pastikan tidak terjadi kesalahan dengan hasil tes tersebut, tuan." ucap Dokter seolah menjawab sorot mata Andika.


"Astaga, ternyata ucapan mama selama ini benar adanya." batin Andika, merasa Dimas telah salah paham akan masa lalu yang pernah terjadi di dalam keluarganya, namun Andika tidak sepenuhnya mempersalahkan Dimas dalam hal ini mengingat saat itu Dimas pun masih anak anak belum begitu paham dengan kejadian yang menimpa rumah tangga ayah dan ibunya.


Setelahnya, Andika pun pamit undur diri.


Saat melintas di salah satu lorong rumah sakit, karena pikiran sedang tidak fokus tanpa sengaja Andika bertabrakan dengan seseorang sehingga membuat amplop di tangannya tergeletak di lantai, namun untungnya kertas di dalamnya tidak sampai keluar dari amplop tersebut.


"Maaf saya tidak sengaja." ucap Andika tanpa memandang ke arah seseorang yang kini bertabrakan dengan dirinya karena pria itu sibuk memungut amplop miliknya yang terjatuh di lantai.


"Andika." ucap seorang pria yang begitu mengenal suara bariton milik Andika meski tidak melihat wajahnya.

__ADS_1


Sementara Andika sendiri yang mendengar namanya di sebutkan oleh seseorang yang suara juga tidak asing di telinganya segera mengangkat pandangannya."Dimas, apa yang kau lakukan di sini??." ujar Andika saat menyadari keberadaan adik sepupunya itu, tidak bisa di pungkiri saat ini wajah Andika terlihat cukup terkejut.


"Aku sedang mengantar istriku untuk memeriksakan kandungannya, kau sendiri apa yang sedang kau lakukan di sini, apa kau sedang sakit??." tanya Dimas dengan raut wajah berubah cemas.


"Tidak, aku baik baik saja, hanya ada sedikit urusan dengan salah satu temanku yang bekerja di rumah sakit ini." dusta Andika sesuai dengan apa yang terlintas begitu saja di pikirannya.


"Oh, syukurlah jika kau baik baik saja, kalau begitu aku pergi dulu kasian Renata menunggu terlalu lama." ucap Dimas sebelum kemudian beranjak menuju ke arah Renata yang tengah menunggu antrean di depan poli kandungan.


"Semoga saja Dimas tidak sampai menaruh curiga padaku." gumam Andika saat menyaksikan punggung Dimas yang semakin menjauh darinya.


Tadi Dimas baru saja ke toilet, itulah mengapa pria itu sampai tidak sengaja bertabrakan dengan Andika saat melintas di salah satu lorong rumah sakit.


Setelahnya Andika kemudian berjalan menuju parkiran rumah sakit di mana Armada menanti di mobil sejak tadi.


"Sebaiknya sekarang kita segera menemui tuan Hantara!!." ajak Andika, tanpa banyak tanya Armada segera menghidupkan mesin kemudian mulai melajukan mobilnya menuju perusahaan Putra Adipura Sanjaya group.


Di perjalanan Andika terus merutuki kebodohannya, mengapa tidak sejak dulu dirinya mencoba membuktikan ucapan mamanya."Kenapa aku begitu bodoh, jika saja aku mencoba membuktikan ucapan mama tentu saja Dimas tidak akan berbuat sejauh itu untuk membalaskan dendam yang tidak berdasar itu." batin Andika ketika di perjalanan menuju perusahaan milik Hantara.


Ketika melihat raut wajah Andika, Hantara bisa menebak akan hasil pemeriksaan medis tersebut.


"Rupanya apa yang di ucapkan mama kamu memang terbukti." ucap Hantara setelah membaca secarik kertas yang berada di dalam amplop coklat tersebut. dan Andika pun mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Hantara.


"Sepertinya semua bukti sudah cukup membuktikan Fakta yang terjadi di masa lalu." kata Hantara setelah berpikir sejenak.


"Aku ingin segera membawa bukti bukti ini ke hadapan pria itu, agar dia berhenti melakukan kebodohan yang akan membuatnya menyesal suatu saat nanti." lanjut Hantara seraya memasukkan kembali kertas tersebut ke dalam amplop, baik Andika atau pun Armada nampak setuju dengan keputusan Hantara.


***

__ADS_1


Di tempat yang berbeda, Renata mengalihkan pandangan ke sumber suara saat seorang perawat menyerukan namanya.


"Nyonya Dimas Satria Prayoga."perlu beberapa kali perawat tersebut menyerukan namanya barulah Renata paham, bagaimana tidak, selama ini dirinya selalu menggunakan namanya sendiri namun kali ini berbeda karena saat ini dirinya telah berstatus sebagai istri dari seorang Dimas satria Prayoga.


"Iya, saya sus." ucap Renata seraya melangkah menuju ruangan dokter spesialis kandungan dan di susul oleh Dimas di belakang langkahnya.


"Selamat pagi nyonya dan tuan Dimas silahkan duduk!!." ucap dokter wanita dengan senyum ramah.


"Pagi dokter." hanya Renata yang menanggapi sapaan dari dokter sementara Dimas masih terlihat diam dengan wajah datarnya. hanya anggukan kecil yang di tampilkan Dimas untuk membalas sapaan dokter spesialis kandungan tersebut.


"Apakah anda merasakan mual muntah di awal kehamilannya anda Nyonya??." Di sela aktivitasnya mengoles jeli di perut Renata dokter bertanya.


"Saya sama sekali tidak merasakan mual muntah dok."


"Istri saya memang tidak merasakan mual muntah dokter karena semua itu saya yang merasakannya." Dimas turut menimpali obrolan dokter dan istrinya.


Dokter yang mendengarkannya nampak tersenyum." Kasus seperti ini biasa terjadi tuan, dan biasanya di sebut dengan kehamilan simpatik." terang dokter.


"Biasanya dalam kasus Seperti ini raut wajah calon anak akan lebih mirip dengan ayah si bayi." lanjut dokter mejelaskan, hal itu membuat Dimas dan Renata saling memandang satu sama lain.


Berbeda dengan raut wajah Dimas yang terlihat berseri mendengarnya, Renata justru nampak mengerucutkan bibirnya."Bagaimana bisa seperti itu, sementara aku yang mengandung dan sebentar lagi aku juga yang akan melahirkan." batin Renata yang kini nampak memasang wajah sebal.


Deg


Kini perasaan haru kembali di rasakan Dimas kala melihat calon anaknya yang masih berada di dalam perut Renata melalui layar monitor.


"Bagaimana kondisi anak kami Dok??." pertanyaan Dimas seolah membuyarkan lamunan Renata yang galau akibat penjelasan dokter tentang kemiripan wajah calon anaknya nanti yang tidak menutup kemungkinan akan lebih mewarisi wajah Dimas.

__ADS_1


"Alhamdulillah,,,, kondisi bayinya juga sehat sama dengan ibunya. tetapi saya menyarankan untuk tetap meminum vitamin serta susu ibu hamil secara rutin!!." tutur dokter.


Setelah beberapa saat kemudian akhirnya seluruh prosesi konsultasi pun berakhir, sepasang suami istri tersebut pun meninggalkan rumah sakit.


__ADS_2