Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)

Suami Pengganti (Menikah Dengan Calon Kakak Ipar)
Perkara Mimpi.


__ADS_3

Dimas yang mengantarkan Renata kembali ke Mansion milik Tuan Adipura Sanjaya menolak ajakan Renata untuk mampir sejenak dengan alasan harus segera menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda siang tadi.


Dimas hanya mengantar Renata sampai di depan gerbang mansion.


Renata nampak menghela napas berat saat mengingat percakapannya dengan sang kekasih di restoran tadi.


"Selamat sore Nona Renata." ucap salah seorang pria dengan pakaian serba hitam saat membuka gerbang rumah untuk Renata.


"Selamat sore" jawabnya dengan wajah tak bersemangat.


"Aku perhatikan setelah mengenal kekasihnya itu Nona Renata lebih sering terlihat tidak bersemangat seperti biasanya." ucap salah seorang pria berseragam serba hitam pada salah rekan seprofesinya, saat Renata telah melangkah jauh meninggalkan mereka.


"Aku perhatikan juga seperti itu." jawab pria lainnya


Dengan wajah tak bersemangat Renata meletakkan tasnya di atas nakas sebelum merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang di atas ranjang king size miliknya.


Perlahan Gadis itu memejamkan matanya dan kini kembali terlintas dipikirannya wajah pria yang sudah beberapa bulan terakhir mengisi relung hatinya.


"Apa mas Dimas tidak benar-benar mencintai aku??." batin Renata mengingat sikap Dimas kerap kali menolak dengan berbagai alasan jika dirinya membahas tentang pernikahan.


"Sepertinya mas Dimas menyembunyikan sesuatu dariku??." berbagai macam pertanyaan kini melintas di benak dan pikiran Renata tentang sang kekasih. "Aku harus mencari tahu, jika benar mas Tidak sungguh sungguh mencintaiku akan lebih baik aku tahu dari sekarang daripada terlambat." lanjut batin Renata sebelum gadis itu memutuskan menenangkan pikiran dengan merendam tubuhnya dengan air hangat di bathtub.


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Hantara nampak merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. "Sayang...apa kamu tidak ingin mencari tahu keberadaan orang tua kandung Asyifa??." tanya Hantara dengan hati hati karena tidak ingin merubah mood istrinya menjadi buruk.


"Kenapa mas bertanya seperti itu, jika mas keberatan untuk memenuhi kebutuhan Asyifa aku bisa melakukannya sendiri." benar saja dugaan Hantara, Kini istrinya itu malah salah paham dengan maksud ucapannya barusan.


"Bukan seperti itu sayang, mas cuma berpikir jika Asyifa berhak tahu siapa sebenarnya orang tua kandungnya. apalagi jika dia sudah dewasa nanti sayang." Hantara mencoba menjelaskan agar Gita tak salah paham akan maksud dan tujuan dari ucapannya.

__ADS_1


Hantara bangkit dari pangkuan Gita lalu menuntun sang istri ke dalam pelukannya lalu berkata."Sayang, bagaimana seandainya mas katakan jika saat ini mas mengetahui keberadaan orang tua kandung Asyifa??." ucap Hantara sembari mengelus lembut puncak kepala istrinya.


Sedangkan Gita langsung mendongak menatap wajah suaminya saat Hantara berucap demikian."Dari mana kamu tahu tentang keberadaan orang tua kandung Asyifa mas??." tanya Gita dengan tatapan menuntut jawaban dari suaminya.


"Mas hanya bilang seandainya, seandainya bukan berarti mas sudah mengetahuinya bukan." Dusta Hantara yang belum siap mengatakan yang sebenarnya pada istrinya. dan untungnya Gita langsung mengangguk seolah percaya dengan ucapan Hantara.


"Mas..." panggil Gita dengan suara mendayu dan itu terdengar begitu menggoda di telinga Hantara.


"Ada apa Hemt...??." tanya Hantara dengan senyum manis sembari menatap intens wajah istrinya.


Bisa di pastikan jika istrinya bersikap manja seperti ini pasti ada maksud di baliknya.


Dengan jemari lentiknya Gita mulai mengelus dada bidang suaminya yang masih dilapisi sebuah kaos berwarna putih yang menampakkan tubuh atletis milik Hantara.


"Apa beberapa hari ke depan aku boleh kembali bekerja seperti biasa???" pertanyaan Gita membuat Hantara spontan menghela napas dalam kemudian menghembusnya perlahan.


"Sekarang tugas utama kamu hanya istirahat yang cukup dan jaga calon anak kita dengan baik, setelah melahirkan nanti kamu boleh kembali bekerja seperti keinginan kamu, sayang." ucap Hantara lembut namun tersirat ketegasan di dalamnya.


"Baiklah..." jawab Gita Dengan wajah pasrah.


"Pintar..." Hantara kembali mengelus lembut rambut panjang istrinya saat berucap.


Setelahnya Hantara beralih mengusap lembut perut Gita." Papa jadi kangen ingin menjenguk anak papa, apa Dede juga kangen pengen di jenguk sama papa ya??." ucapan Hantara membuat pria itu mendapat cubitan kecil di pinggangnya.


"Arrggggtttt....Sakit sayang." Hantara berpura pura meringis meski pada kenyataannya cubitan tangan mungil istrinya sama sekali tidak terasa sakit.


"Habisnya, anak masih di dalam perut saja sudah di ajarkan hal me_sum." ujar Gita dengan tatapan sebal.

__ADS_1


"Mas hanya bercanda sayangku, lagi pula mana tega sih mas melakukan sesuatu yang membahayakan istri dan calon anak mas sendiri." ucap Hantara.


"Huuuuuhhhh..... sepertinya mas akan cukup lama berpuasa." keluh Hantara saat teringat pesan dari Atala selaku dokter kandungan Gita, yang memberi kode keras untuk tidak dulu melakukan hu_bungan suami istri.


"Sepertinya dokter si_alan itu sengaja ingin menyiksaku." umpat Hantara dalam hati saat merasakan Bara_kuda miliknya mulai bereaksi padahal sang istri hanya sesekali mengelus dada bidang miliknya.


Gita yang kini merasa matanya mulai terasa berat tersebut segera beranjak ke ranjang kemudian mulai memejamkan matanya tak butuh waktu lama kini napas Gita terdengar teratur pertanda wanita itu telah masuk ke alam mimpi. sedangkan Hantara memilih mandi tengah malam untuk mendinginkan has_ratnya yang mulai memanas, karena Hantara bukan tipe pria yang gemar bermain solo.


Setelah merasa lebih baik Hantara pun segera keluar dari kamar mandi. setelah mengenakan piyama miliknya dia segera menyusul sang istri ke alam mimpi.


Perlahan Hantara mengerjapkan matanya saat mendengar sayup-sayup suara tangisan.


"Ada apa sayang, kenapa kamu menangis?? apa perutmu sakit??." tanya Hantara sebelum mengalihkan pandangannya sejenak ke arah jam dinding.


Waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari saat Hantara menatap ke arah jam dinding yang menggantung di dinding kamarnya.


Bukannya menjawab, tangis Gita semakin terisak sehingga membuat Hantara menjadi bingung sendiri.


"Kamu jahat mas...kamu tega selingkuh di belakang aku." mata Hantara sontak membulat sempurna, kantuk yang tadi masih terasa Seketika Sirna begitu saja saat mendengar tudingan istrinya.


"Kamu bicara apa Gita?? mas tidak pernah mengkhianati pernikahan kita." jelas Hantara dengan wajah panik.


"Darimana kamu mendengar kabar seperti itu?? jangankan untuk selingkuh sayang, melirik wanita lain saja tidak pernah mas terpikirkan." lanjut Hantara sembari mengusap rambutnya kebelakang tidak habis pikir dengan tudingan istrinya.


"Tapi buktinya Tadi aku bermimpi kalau mas itu selingkuh di belakangku." masih dengan Isak tangis Gita menjawab.


"Haaaahhh.... jadi perselingkuhan mas itu terjadi di dalam mimpi kamu???." tanya Hantara memastikan dan dengan cepat Gita mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


"Oh astaga......" Kini Hantara Nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal Sama sekali. sebelum beberapa saat kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. "Baiklah... kalau begitu mas minta maaf karena sudah berani berselingkuh di dalam mimpi kamu." lanjut Hantara tidak habis pikir dengan perubahan mood istrinya selama hamil. dan Gita pun menerima permintaan maaf dari suaminya


__ADS_2