
Setelah kepergian anak buahnya, kepala Dimas kembali terasa berdenyut bahkan kini disertai dengan pusing yang mendera."Ada apa dengan kepalaku??." Dimas bermonolog, seraya memijat kepalanya berharap rasa sakit serta pusing yang dirasakannya sedikit reda.
Namun sepertinya usaha Dimas sia sia karena kepalanya justru semakin pusing, sehingga pria itu meminta sekretarisnya untuk segera menghubungi dokter pribadinya.
Kurang dari tiga puluh menit seorang pria yang mengenakan jas putih kebanggaannya tiba di perusahaan Dimas.
"Selamat siang, tuan Dimas." ucap dokter bernama Abimanyu. dokter Abimanyu merupakan dokter pribadi Dimas. sudah sejak beberapa tahun yang lalu pria itu melayani keluarga Dimas, bahkan Dimas memercayakan kesehatan ibunya pada Abimanyu.
"Selamat siang." jawab Dimas dengan mata terpejam sebab pria itu masih merasakan pusing di kepalanya. kini Dimas merebahkan tubuhnya di ranjang yang berada di kamar pribadinya, sebuah ruangan khusus yang masih berada di dalam ruang kerjanya.
Tidak menunggu lama, Abimanyu pun segera memeriksa kondisi Dimas dengan peralatan medis seadanya yang kini ia bawa di dalam tas kerjanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganku, kenapa kepalaku terasa pusing sekali??." tanya Dimas setelah Abimanyu baru saja melepaskan stetoskop dari Indra pendengarannya.
Baru saja Abimanyu hendak menjawab tiba tiba Dimas merasa perutnya seperti di aduk.
"Anda mau kemana tuan Dimas??." tanya Dimas dengan dahi berkerut saat melihat Dimas berlalu begitu saja menuju kamar mandi.
"Perutku seperti di aduk.".jawab Dimas dengan sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Abimanyu yang berada di luar kamar mandi.
Cukup lama Dimas berada di dalam kamar mandi, Sebelum ia keluar kembali menemui Abimanyu.
"Saya akan meminta beberapa petugas lab untuk datang ke sini untuk mengambil sampel darah anda guna pemeriksaan lebih lanjut. setelah ini, jika kondisi anda sudah lebih baik sebaiknya segera ke rumah sakit untuk melakukan CT scan serta pemeriksaan lainnya untuk lebih memastikan lagi. untuk saat ini saya tidak berani mendiagnosa penyakit apa sebenarnya yang anda derita,tuan. tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan saya untuk sementara ini, sepertinya kondisi anda baik baik saja tuan bahkan suhu tubuh anda terbilang normal." terang Abimanyu sesuai dengan hasil pemeriksaan yang ia lakukan tadi pada tubuh Dimas.
Mendengar penjelasan dari Abimanyu membuat Dimas berpikir negatif tentang kondisi kesehatannya saat ini.
Namun beberapa saat kemudian pria itu kembali teringat akan dua Minggu yang lalu, saat ia berangkat ke Singapura guna kepentingan kerja ia sempat mampir ke salah satu rumah sakit ternama di negara tersebut untuk medical check up dan hasilnya menunjukkan kondisi kesehatannya baik baik saja tidak ada masalah.
Tidak ingin terlalu banyak berpikir hingga membuat kepalanya kembali pusing, Dimas pun memilih memejamkan matanya sembari menunggu petugas lab yang bekerja di rumah sakit milik Abimanyu tiba.
__ADS_1
Mungkin karena reaksi obat yang di Berikan Abimanyu tadi guna meredakan rasa pusingnya, Dimas pun mulai tertidur sampai dengan dua orang petugas yang di maksud tiba.
Tidak lama setelah kedatangan dua orang pria yang berseragam putih tiba, Dimas pun mulai membuka matanya.
"Bagaimana tuan, apa anda masih merasakan pusing???." tanya Abimanyu saat Dimas mulai membuka matanya. Dimas nampak menggeleng pelan sebagai jawaban jika pusing di kepalanya mulai mereda.
"Permisi tuan, kami akan mengambil sampel darah anda." ucap salah satu dari petugas lab pada Dimas, dan Dimas pun kembali mengangguk sebagai tanda mempersilahkan petugas tersebut melakukan tugasnya.
Setelah melakukan tugas mereka baik Abimanyu maupun kedua petugas lab yang di tugaskan untuk mengambil sampel darah Dimas segera kembali ke rumah sakit.
Dimas yang merasa mulai enakkan segera bangkit dari tempat tidur dan kembali ke ruang kerjanya, karena ada pekerjaan yang harus segera ia selesaikan secepatnya. mengingat berkas tersebut akan di gunakan dalam meeting bersama dengan salah satu perusahaan ternama yang akan bekerja sama dengan perusahaan miliknya.
Satu jam kemudian ponsel Dimas berdering pertanda seseorang tengah melakukan panggilan.
Dimas nampak menghela napas sebelum menerima panggilan dari Abimanyu."Bagaimana hasilnya??." tanya Dimas tanpa basa basi.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi kesehatan anda baik baik saja tuan, kadar gula darah, kolesterol serta yang lainnya pun semuanya normal." jawaban Abimanyu selaku dokter pribadinya membuat Dimas menghela napas berat kemudian berkata."Jika hasil pemeriksaan darah menunjukkan tidak ada masalah, lalu kenapa akhir-akhir ini kepala saya sering sekali pusing dan tadi saya bahkan merasakan perut saya terasa sangat mual??." tanya Dimas dengan kening berkerut meski bisa di pastikan Abimanyu tak dapat melihatnya.
"Baiklah saya akan ke rumah sakit jam sepuluh besok." putus Dimas sebelum mematikan sambungan telepon.
Kini Dimas harap harap cemas akan kondisi kesehatannya saat ini.
Waktu kini telah menunjukkan pukul dua siang waktu istirahat siang baru saja Usai Beberapa saat yang lalu.
"Selamat siang tuan,,,,." ucap Sekretaris Dimas yang baru saja masuk ke ruang kerjanya.
"Siang." jawab Dimas.
"Sebaiknya kita segera berangkat, saya tidak ingin membuat kesan buruk di awal pertemuan kita dengan pemilik perusahaan Sanjaya group." lanjut Dimas seraya bangkit dari kursinya kemudian mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja kerjanya.
__ADS_1
"Baik tuan."
Dimas yang di temani Asisten pribadinya dan juga sekretarisnya segera berangkat menuju Sanjaya group.
****
Di perusahaan Sanjaya group.
"Apa anda tetap akan mewakili tuan besar untuk meeting sebentar lagi,Nona??." tanya seorang wanita yang berprofesi sebagai sekretaris pimpinan, mengingat wajah Renata nampak pucat.
"Of course...saya hanya kurang enak badan saja, setelah selesai meeting nanti saya akan segera pulang." kekeh Renata kemudian tersenyum, seolah mengisyaratkan jika dirinya baik baik saja tidak perlu khawatir.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi Nona." pamit Wanita itu sebelum meninggalkan ruang kerja Renata.
Sepuluh menit kemudian Sekertaris ayahnya kembali lagi ke ruangannya dan mengatakan sebentar lagi meeting akan segera di mulai dan itu artinya dirinya harus segera menuju meeting room.
Renata nampak memejamkan matanya sejenak seiring dengan hembusan napas panjang lalu menghembusnya perlahan, sebelum mulai melangkah menuju meeting room.
Sudah seminggu terakhir Renata merasa kurang enak badan, tetapi demi profesionalitas kerja ia harus tetap harus menghadiri meeting untuk menggantikan ayahnya yang kini tengah berada di luar kota.
Setibanya di depan pintu masuk meeting room, sekretaris ayahnya telah berdiri menunggu kedatangannya.
"Silahkan masuk Nona..!! pimpinan dari perusahaan Satria Prayoga telah menunggu di dalam." mendengar nama perusahaan yang baru saja di ucapkan sekretaris ayahnya membuat Renata merutuki kebodohannya karena tidak bertanya sebelumnya pada wanita yang kini tengah berdiri menatapnya bingung."Apa ada masalah Nona??." tanyanya saat melihat Renata masih diam mematung.
"Tidak ada apa apa." dusta Renata yang kini kembali menampilkan wajah tenang sebelum menekan handle pintu.
Ceklek.
Cukup lama Dimas terpaku saat melihat kedatangan Renata.
__ADS_1
Berbeda dengan Renata yang baru mengetahui beberapa saat yang lalu jika ia akan meeting bersama Dimas, sebaliknya Dimas telah mengetahui jika hari ini Renata lah yang akan menggantikan ayahnya untuk meeting bersamanya.
Dan hal itu pula yang membuat Dimas begitu bersemangat mendatangi gedung Sanjaya group.