
Tanpa terasa air mata mengalir begitu saja membasahi wajah cantik nyonya Sonia, saat menceritakan kisah masa lalu yang terjadi di dalam rumah tangga adiknya. sebagai seorang kakak sedikit banyak nyonya Sonia tahu apa yang pernah terjadi pada rumah tangga adiknya, karena dirinya cukup dengan adik yang akrab dipanggilnya Vero tersebut.
Sementara Dimas memilih diam hanya air mata yang menjadi luapan atas perasaannya saat ini, perasaan marah serta penyesalan kini menyatu di benak Dimas. marah karena ternyata ibunya lah yang menjadi penyebab kepergian ayahnya, perasaan menyesal karena dirinya hampir saja mencelakai adiknya sendiri di sebabkan oleh rasa dendamnya.
"Maaf karena Tante tidak menceritakan semua ini sejak awal, Tante melakukan semua itu karena saat itu kamu masih sangat kecil untuk memahami semua yang terjadi, Dimas. lagi pula Tante tidak ingin adik Tante terlihat jelek di mata orang lain, terlebih lagi di mata putranya sendiri." tutur nyonya Sonia dengan berurai air mata. tidak jauh berbeda dengan Dimas, tangis pria itu nampak tercegat.
"Sekarang Tante bahkan tidak tahu apakah keponakan perempuan tante masih hidup atau tidak." dengan wajah penuh penyesalan wanita itu kembali berucap.
Dengan wajah nampak memerah menahan tangisnya Dimas berucap."Dia masih hidup Tante, untungnya adik kandung Dimas masih hidup setelah hampir saja mengalami kecelakaan yang sengaja di sebabkan Dimas sendiri. jika bukan karena seorang pria yang begitu mencintainya selalu ada untuk melindunginya, mungkin saat ini Dimas sudah menyesal seumur hidup karena menjadi penyebab kematian adik kandung Dimas sendiri, Tante." Ucap Dimas dengan raut wajah penuh penyesalan.
Sedangkan nyonya Sonia nampak menyipitkan kedua matanya saat mendengar pengakuan Dimas, seolah tidak percaya dengan apa yang pernah dilakukan oleh keponakannya tersebut terhadap adik kandungnya.
Bukannya ingin membenarkan apa yang telah di lakukan keponakannya, tetapi Nyonya Sonia dapat memaklumi apa yang pernah dilakukan keponakannya itu, mengingat selama ini Dimas telah salah paham dengan kejadian yang terjadi di masa lalu kedua orang tuanya, apalagi kondisi ibunya yang mengalami depresi berat sehingga membuat Dimas hilang kendali.
"Jadi nama keponakan perempuan tante, Gita..... Apa Dia sekarang sudah menikah??." tanya Nyonya Sonia dan Dimas mengangguk sebagai jawaban.
"Dia menikah dengan tuan Hantara putra Adipura Sanjaya, mah." Andika yang menjawab.
Nyonya Sonia yang mendengarnya nampak mengeryit."Hantara putra Adipura Sanjaya.... Bukannya pria itu adalah kakak iparmu, Dimas??." meski tak sempat hadir di pernikahan Dimas karena saat itu dirinya berada di luar kota menemani sang suami, bukan berarti Nyonya Sonia tidak tahu siapa sosok wanita yang akan dinikahi oleh Keponakannya.
Dimas pun mengiyakannya dengan anggukan.
__ADS_1
"Jadi, kau menikah dengan adik dari tuan Hantara putra Adipura Sanjaya dan tuan Hantara putra Adipura Sanjaya menikahi adikmu??." tutur nyonya Sonia dan Dimas kembali mengangguk sebagai jawaban, dan itu sontak membuat nyonya Sonia memijat kepalanya yang mulai terasa berdenyut.
"Bagaimana mungkin dunia begitu sempit dengan mempertemukan kalian seperti ini??." gumam Nyonya Sonia, seperti tidak percaya dengan kenyataan yang ada.
Namun setelahnya wanita itu tak lagi terlalu mempermasalahkan hal itu, mungkin itu semua sudah menjadi kehendak yang kuasa.
"Terima kasih..... Tante sudah mau menceritakan semuanya pada Dimas." ucapnya seraya berdiri dari duduknya.
"Kau mau kemana Dimas??." bukannya menjawab wanita itu justru balik bertanya, saat melihat keponakan seolah tak sabar ingin segera beranjak.
"Dimas ingin menemui tuan Hantara, semoga saja tuan Hantara tidak keberatan jika Dimas ingin menemui istrinya." ujar Dimas penuh harap, mengingat dirinya hampir saja mencelakai Gita tempo hari mungkin Hantara akan keberatan jika dirinya hendak menemui Gita.
Sungguh hal itu membuat Dimas sangat menyesal, di tambah lagi dengan kesalahpahaman Renata terhadap dirinya yang berpikir sang suami menaruh hati terhadap kakak iparnya, semakin mau pecah rasanya kepala Dimas saat ini.
Sementara pria yang sejak tadi di sebutkan namanya kini tengah melakukan donor darah yang rutin di adakan oleh perusahaannya setiap sebulan sekali, terhadap semua pegawainya termasuk dirinya selaku pimpinan.
"Sudah selesai tuan." ucap seorang dokter wanita pada Hantara saat kantong darah yang berisikan 250 CC darah tersebut telah terisi penuh.
Setiap kali melakukan donor darah, selaku pimpinan Hantara selalu menjadi yang pertama melakukan donor darah dan selanjutnya di ikuti oleh Armada kemudian para staf dan pegawainya yang lain.
Seperti biasa, setelah Hantara kini giliran Armada selaku asisten pribadi Hantara untuk melakukan donor darah.
__ADS_1
"Saya bahkan belum menyentuh anda tuan." cetus dokter perempuan yang tidak lain adalah Anis, saat mendengar Armada meringis ngilu seolah tengah menahan rasa sakit.
"Badan tegap, dengan jarum suntik saja takut." Gumam Anis lirih namun masih terdengar jelas di telinga Armada.
"Arrrggghhh..... apa yang anda lakukan tuan??." Anis di buat terkejut saat tangan kiri Armada yang bebas, menuntun tangannya yang tengah menggenggam jarum suntik sehingga kini jarum suntik tersebut telah menancap sempurna di lengan Armada tanpa kesalahan sedikit pun.
Armada hanya diam saat melihat keterkejutan di wajah Anis, berbeda dengan Hantara yang kini nampak menahan senyumnya.
"Sampai kapan kau akan terus diam seperti orang bodoh begitu??." cetus Armada saat melihat Anis masih juga diam mematung akibat terkejut.
"Ahh... maaf...." ucapnya sebelum kembali melanjutkan tugas dengan memasang selang guna aliran darah menuju kantong darah.
"Ternyata pak Armada jauh lebih mengagumkan dari yang aku kira." batin Anis, tanpa sadar gadis itu terlihat senyum sendiri sehingga membuat Armada yang melihatnya mengeryit bingung, namun selanjutnya pria itu memilih tidak memusingkan hal itu.
Sebenarnya pengambilan donor darah bisa di lakukan oleh tim yang bertugas, tetapi berhubung pemimpin perusahaan memiliki saham terbesar di rumah sakit tersebut maka seperti biasa pihak rumah sakit akan mengirim tim dokter untuk melakukannya, dan hari ini Anis termasuk di antaranya.
Satu jam berlalu akhirnya semua proses donor darah yang di lakukan di perusahaan Putra Adipura Sanjaya group pun usai, Anis yang ternyata masih berada di toilet tanpa sadar ketinggalan rombongan yang kini telah meninggalkan gedung perusahaan Hantara putra Adipura Sanjaya group.
Anis yang baru saja dari toilet terlihat berlari kecil, karena tak lagi menemukan keberadaan rombongannya saat telah berada di loby.
"Astaga... bagaimana mungkin mereka tidak menyadari jika aku tidak ada bersama mereka saat ini." dengan wajah sebal Anis nampak mondar mandir di depan gedung perusahaan, sementara Armada yang saat ini tengah berada di lantai dua puluh tepatnya di ruang kerja Hantara tidak sengaja melihatnya tatkala pria itu berdiri di tepi jendela kaca.
__ADS_1
"Dasar gadis aneh."batinnya saat melihat tingkah Anis yang kini mondar mandir bak setrikaan di depan gedung perusahaan. nampak jelas di pandangan Armada mulut gadis itu yang nampak komat Kamit, Armada bisa menebak jika saat ini gadis itu tengah mengumpat rekannya yang tanpa sengaja meninggalkannya di sana.
"Lebih tepatnya, Unik." timpal Hantara yang sejak tadi melihat Armada terus memperhatikan ke bawah atau lebih tepatnya memperhatikan seorang gadis yang kini mondar mandir di depan gedung.