
Sejenak Renata di buat tertegun saat melihat kondisi wanita yang usianya hampir seumuran dengan ibunya kini tengah duduk di sisi ranjang dengan tatapan matanya yang kosong.
"Selamat pagi dokter.. selamat pagi tuan dan Nona." sapaan dari seorang perawat wanita yang baru saja usai membantu nyonya Veronica untuk mengganti pakaiannya seolah membuyarkan lamunan Renata.
Renata pun membalas sapaan tersebut dengan senyum serta anggukan kepala."Pagi sus." ucapnya.
Kini Pandangan Renata fokus memandang ke arah Dimas yang terlihat mulai mengajak ibunya berkomunikasi.
"Pagi mah,,,, bagaimana kabar mama pagi ini?? Sebentar lagi Dimas akan menikah dan Hari ini Dimas datang untuk memperkenalkan calon istri Dimas pada mama. Dimas ingin meminta restu mama." Suara Dimas terdengar begitu lembut saat berucap sambil menggenggam tangan ibunya, tetapi nyonya Veronica nampaknya tidak menggubris, wanita itu justru sibuk membolak-balik foto seorang anak kecil yang kini berada di genggaman tangannya.
Renata yang melihatnya memilih diam, membiarkan Dimas terus mengajak ibunya berkomunikasi meskipun nyatanya tidak mendapatkan respon dari ibunya.
"Mama tahu, sebentar lagi Dimas akan segera menjadi seorang Daddy dari anak yang kini ada di dalam kandungan Renata." ucap Dimas dengan suara tercegat seolah tengah menahan tangisnya agar tidak pecah, saat wanita yang merupakan cinta pertamanya tersebut seolah tidak mendengar ucapannya.
Renata yang masih fokus memandang interaksi di antara keduanya mencoba mendekati Dimas, wanita itu mengusap lembut punggung calon suaminya itu seolah ingin menguatkan ayah dari anak dalam kandungannya tersebut.
Dimas menoleh saat merasakan elusan di punggungnya.
"Kamu yang sabar, aku percaya kamu laki-laki yang kuat dan aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini." entah karena rasa tidak tega atau karena cintanya yang masih begitu besar kepada ayah dari anak yang ada di dalam kandungannya tersebut Renata merangkul Dimas dalam pelukannya.
Untungnya posisi Dimas saat ini tengah duduk di sisi ranjang bersama ibunya sehingga tidak sulit bagi Renata untuk membawa tubuh Dimas ke dalam pelukannya, karena tinggi badan Renata hanya sampai sebahu Dimas.
Di dalam pelukan Renata akhirnya tangis dengan susah payah di tahan oleh Dimas akhirnya pecah sudah. tangisan Dimas terdengar begitu menyayat hati.
__ADS_1
Selama mengenal sosok Dimas barukali ini Renata melihat pria itu menangis.
Renata yang mendengarnya pun mengelus lembut rambut pria itu."Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih baik!!." ucapnya dengan suara lembut.
Setelah merasa cukup tenang Dimas pun melerai dari pelukan Renata kemudian beranjak dari posisinya.
Renata yang melihat Nyonya Veronica terus memandang dirinya itu pun mencoba mengajak wanita itu untuk berkomunikasi."Selamat pagi Tante...kenalkan saya Renata calon menantu Tante, Rena senang bisa bertemu dengan Tante. Rena juga berharap Tante juga senang bertemu dengan Rena." tidak di sangka, Nyonya Veronica seperti memberikan respon setelah mendengar ucapan Renata.
"Kamu gadis yang ada di foto ini, iya kamu pasti gadis kecil itu." nyonya Veronica terdengar merespon ucapan Renata meskipun dengan jawaban yang tidak jelas arahnya.
Hal itu membuat Abimanyu memiliki sedikit harapan, karena ini kali pertama wanita itu sedikit kooperatif saat di ajak komunikasi meski masih tidak jelas ke mana arahnya. bahkan saat Dimas hendak mencegah Renata untuk kembali bersuara, Abimanyu nampak mencegahnya dengan sorot mata.
Untuk sejenak Renata terdiam karena bingung harus menjawab apa, namun setelahnya gadis itu pun kembali mengucapkan kalimat dengan harapan bisa sedikit membuahkan hasil."Maaf Tante, gadis di foto ini bukannya Rena, tetapi Rena mengenal gadis itu jika ingin bertemu dengannya Rena bisa mempertemukan Tante dengan gadis itu." mendengar kalimat Renata yang semakin jauh tak masuk akal membuat Dimas hampir kehabisan kesabaran, ingin segera membawa gadis itu menjauh dari Ibunya.
Namun lagi lagi Abimanyu mencegahnya.
"Tapi Abi_" ucapan Dimas terhenti begitu saja saat tiba-tiba mendengar suara canda tawa dari dalam ruangan mamanya.
Kening Dimas terlihat berkerut bingung."Apa yang di bicarakan Renata pada mama sehingga membuat raut wajah mama sepertinya begitu bahagia??." gumam Dimas namun masih dapat di dengar oleh Abimanyu.
"Apa yang kau lakukan??." nada ucapan Dimas terdengar sewot saat Abimanyu mencegahnya untuk masuk.
"Aku tidak akan membiarkanmu masuk jika kau tidak bisa bersikap lebih tenang." tegas Abimanyu.
__ADS_1
"Tapi dia mamaku, aku berhak menemuinya." jawaban Dimas masih terdengar ketus.
"Tapi kau jangan lupa, aku adalah dokter yang selama ini menanggani mama kamu dan saya juga berhak memutuskan siapa saja yang boleh menemui pasienku." jawaban tegas Abimanyu membuat Dimas akhirnya memilih mengalah.
"Baiklah aku berjanji tidak akan bertindak gegabah, aku hanya akan melihat interaksi antara mama dan Renata." ujar Dimas dan Abimanyu pun mengizinkan dirinya untuk kembali memasuki ruangan ibunya.
"Kau janji akan mempertemukan Tante dengan anak yang ada di dalam foto ini kan??." baru saja masuk, Dimas sudah mendengar pernyataan ibunya yang kini di tujukan kepada Renata.
"Iya Tante....Rena janji, tetapi sekarang Tante juga harus janji sama Rena untuk menurut sama dokter Abi, Tante harus tetap minum obat biar cepat sembuh supaya kita berdua segera menemui gadis yang ada di dalam foto ini." dengan begitu lembut Renata memperlakukan calon ibu mertuanya. dan nyonya Veronica nampak mengangguk pasti seolah akan melakukan semua yang baru saja di ucapakan Renata padanya.
"Baiklah, kalau begitu Tante makan dulu ya!!!." Renata mulai mengarahkan sendok yang telah terisi nasi dan juga lauk ke mulut calon ibu mertuanya, dan hal itu hampir membuat kedua bola mata Dimas hampir keluar dari tempatnya.
Bagaimana tidak, sudah hampir empat tahun terakhir semenjak kondisi depresi yang di alami ibunya semakin parah, wanita itu bahkan tidak pernah mau berkomunikasi dengan orang lain kecuali Dimas, putranya, tetapi hari ini sebuah senyum bahkan terbit di wajah wanita paru baya tersebut.
Sebuah senyuman bahagia bukannya tawa tak jelas yang sering di lakukan olehnya sebelumnya.
Dimas yang menyaksikannya di buat terenyuh melihat sikap baik dan tulus Renata kepada ibunya.
Tidak terasa sudah satu jam berlalu, kini Renata pun pamit kepada calon ibu mertuanya tersebut meski awalnya wanita itu melarang Renata untuk pergi meninggalkannya pada akhirnya Renata kembali berhasil membujuknya dengan berbagai alasan.
"Kau benar-benar pandai memilih calon menantu untuk mama kamu." Abimanyu memuji Dimas saat keduanya menyaksikan interaksi di antara Nyonya Veronica dan Renata.
"Sepertinya sebentar lagi Depresi yang di derita Tante Vero akan segera sembuh dan sedikit banyaknya atas bantuan calon istrimu, Renata. kalau aku boleh tahu, di mana kau mendapatkan calon istri seperti Renata, aku juga mau satu jika stoknya masih ada." Awalnya Dimas merasa berada di atas angin saat sahabatnya itu memuji kepandaiannya dalam mencari calon istri, namun akhir kalimatnya membuat senyum di wajah Dimas perlahan pudar.
__ADS_1
"Enak saja!!!."sembur Dimas dan Abimanyu hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.
Jangan lupa like, koment, vote, hadiah dan jangan lupa untuk mengikuti akun recehku ya,,,,,🙏🙏🙏🙏 agar dapat notifikasi pesan jika author membuat karya baru nantinya,,,,😘😘😘😘😘😍😍😍😍🥰🥰🥰🥰🥰 .